Home / Artikel / Gerhana Matahari Total 2016, Kegelapan di Pagi Hari

Gerhana Matahari Total 2016, Kegelapan di Pagi Hari

Kurang dari sebulan ke depan, gerhana matahari total akan berlangsung pada 9 Maret 2016.

Dari jalur yang akan dilalui pusat bayangan (umbra) Bulan, Matahari akan sekejap hilang dari pandangan warga yang tinggal di jalur gerhana itu.

Jalur gerhana mulai menyentuh muka Bumi pada suatu tempat tak berpenghuni di Samudra Hindia, 1.000 kilometer di sebelah barat Padang, pukul 05.00. Jalur gerhana matahari total (GMT) merambat cepat ke timur dengan kecepatan 1.200 km/jam. Perambatan terjadi karena gerak relatif Bumi dan Bulan mengelilingi Matahari, serta rotasi Bumi pada porosnya.

Jalur gerhana mulai menyentuh wilayah Indonesia di Pulau Siberut pukul 06.00. Awal perjalanan GMT di wilayah Bengkulu pukul 06.30. Seterusnya melaju ke timur, melewati Pulau Belitung menuju Kalimantan Barat, Kalimantan Timur lalu berbelok ke timur laut menjajagi Sulawesi Tengah.

Bumi Indonesia ditinggalkan GMT pukul 08.00 ketika bayangan meninggalkan wilayah Maluku sebelah utara. Totalitas gerhana, yakni tatkala piringan kelam Bulan menutupi sempurna cakram berkilau Matahari (sampai 95 persen) terjadi pada pukul 09.00, tampak dari suatu titik tanpa penduduk di tengah Lautan Teduh.

Gerhana dan mitos
GMT selalu hadir dalam kehidupan Bumi dibarengi dengan mitos dan kepercayaan manusia. Dulu kejadian akbar alami ini dapat menumbuhkan ketakutan. Kekurangpahaman sering membuat rasionalitas terabaikan.

Kita pernah mengalami disinformasi yang beredar menjelang GMT 1983. Beruntunglah, yang berani melawan anjuran tinggal di dalam rumah, dan bisa menyaksikan keindahan peristiwa yang luar biasa itu. Pada peristiwa GMT berikutnya, 1988, pasokan informasi yang benar membuat antusiasme untuk menyaksikan GMT tumbuh lagi. Pelajar dan masyarakat menyambut GMT tanpa rasa takut, sambil melengkapi dirinya dengan kacamata pelindung dan perlengkapan lainnya.

Penggerhanaan Matahari merupakan salah satu peristiwa mekanistik (gerak Bumi, Bulan, dan Matahari) alam biasa. Berlangsung tatkala Bulan menyilang garis hubung Matahari-Bumi di dekat titik simpulnya. Peristiwa itu tidak terjadi setiap saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi karena kemiringan bidang edar Bulan (sebesar 50 ) terhadap bidang ekliptika (bidang edar Bumi dan planet mengelilingi Matahari). Adalah kebetulan dalam alam bahwa diameter sudut Bulan (30 menit busur) hampir sama besar dengan diameter sudut cakram Matahari, walau jarak linier Bumi-Matahari 400 kali jarak Bumi-Bulan. Besaran sudut yang sama itu membuat piringan Matahari bisa terhalang sempurna oleh piringan gelap Bulan.

Seseorang, karena geometri lintasan Bumi-Bulan mengelilingi Matahari, tidak selalu dapat menyaksikan GMT. Saat berlangsungnya GMT piringan Matahari yang bercahaya sedikit demi sedikit teradang Bulan. Pada puncaknya kegelapan melanda suatu daerah yang kebetulan berada di daerah jalur GMT. Pada saat itulah pinggiran gelap Bulan menampilkan keindahan “mutiara Bailey” (Bailey beads), yang dibentuk oleh terobosan cahaya Matahari melalui lembah dan ngarai permukaan Bulan.

Lebar pita bayangan, yakni daerah yang dilewati oleh jalur GMT hanya 150-200 km (di permukaan Bumi). Dari sebelah utara dan selatan jalur GMT tidak terlihat lagi. Oleh karena itu, se tiap titik di permukaan Bumi hanya mempunyai peluang dilewati jalur gerhana sekali setiap 360 tahun. Ini suatu kala panjang untuk dapat menyaksikan episode gerhana serupa. Panjang GMT maksimum 7 menit 40 detik.

Kegelapan yang ditimbulkan oleh kerucut bayangan Bulan untuk tempat di dekat ekuator, dapat berlangsung selama 5 menit. Tergantung dari jarak Matahari-Bumi-Bulan panjang kala GMT bisa mencapai maksimum 7 menit 40 detik (untuk suatu titik di dekat ekuator). GMT 1983 mendekati kala maksimum, berlangsung 6 menit. Panjang kala gerhana itu sudah merupakan primadona bagi pemburu gerhana untuk dikejar dan diamati dari tempat yang sesuai, dalam artian tak akan terganggu oleh peristiwa meteorologi, seperti awan yang menghalangi pandangan.

Para profesional-astronom ingin memanfaatkan peluang emas itu untuk membuka dan meneguhkan interpretasi rahasia alam yang belum terpecahkan atau belum kukuh. Aspek fisika ruang antarplanet (di dekat Bumi) dan fisika Matahari, yakni gejala ubahan yang menyulut penampakan korona dan berpengaruh pada lapisan angkasa Bumi, merupakan incaran peneliti.

Daya tarik gerhana
Tidak hanya kala gerhana saja yang menjadi daya tarik pemburu gerhana. Saat berlangsung dan topografi jalur GMT menjadi parameter popularitas gerhana. Kecermatan memilih ini penting untuk menjamin keberhasilan upaya ilmiah, apalagi yang bersifat mendesak. GMT yang berlangsung pada musim kemarau mempunyai bobot tinggi untuk disasar menjadi obyek pengamatan, demi suksesnya suatu program ilmiah yang telah menyita waktu dan tenaga (dan tentu saja dana).

Sebagai contoh GMT 1983, yang dapat dilihat di tengah hari tatkala Matahari tinggi di langit. Di tempat yang kering seperti Tanjung Kodok, Tuban, memenuhi syarat untuk menjadi tujuan pemburu gerhana. Bagi para amatir keilmiahan, pemotret serius, dan penggemar lingkungan budaya pun, ini adalah atraksi yang bisa dikaitkan dengan keinginan mengamati GMT.

Tidak usah diutarakan bahwa Pulau Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya memperoleh kredensial cap itu. Jadi, tidak mengherankan kalau di samping para profesional, arus kunjungan pemburu gerhana berjumlah besar. Harapan penulis GMT 2016 juga harus bisa membangkitkan daya penarik peneliti maupun pengamat.

Nilai penting GMT bagi peneliti fisik Matahari dan lingkungannya sangat tinggi. Inti masalah adalah ubahan-ubahan yang disulut oleh berkurangnya sinar dan terang sesaat-memungkinkan melihat angkasa Matahari terluar. Manifestasi kegiatan Matahari terpancar keluar menginduksi plasma angkasa Matahari yang tidak tampak (kecuali melalui cara tertentu yang sangat spesifik: mengimitasi kejadian GMT).

Kedudukan Matahari sebagai poros tengah dalam tata surya, telah ikut membentuk kekhasan lingkungan ruang antarplanet, terutama lingkungan Bumi. Lapisan angkasa Bumi teratas peka terhadap ubahan kegiatan Matahari dan efek itu merambat.

Adonan mekanisme dan interaksi hasil kerja gelombang elektromagnetik, penjalaran gelombang dari sentra pembentukan energi di inti Matahari, tidak hanya mewarnai ujud angkasa luar Matahari (lapisan-lapisan korona), tetapi juga berdampak pada kemagnetan Bumi melalui medan listrik maupun medan magnetik. Angkasa bagian luar Matahari adalah manifestasi kejadian renik dalam badan Matahari, sebagian dari ubahan itu tersiram ke ruang antarbintang.

GMT 2016 merupakan wadah 3 tahun pasca maksimum Matahari aktif. Pada saat aktif bintik Matahari dan ikutannya, flare, sangat kuat menyemburkan energi bertenaga tinggi dalam ujud emisi sinar ultraviolet.

Matahari, walau merupakan bintang terdekat dengan Bumi, tetap sebagai bintang yang menyimpan enigma, belum semua rahasianya terpapar dan terbaca peneliti. Menyatunya tiga cabang keilmuan, Ilmu Keplanetan, Ilmu Kebumian, dan Astronomi, merupakan medan kerja sama yang menghadirkan soal saling terkait Kita tinggal di Bumi, lumrah kalau perhatian kita tertuju pada proses evolusioner lapisan angkasa Bumi.

Penyelidikan antardisiplin, untuk mengetahui efek yang timbul dari tautan Matahari-Bumi, umpama, efek terestrial GMT dalam aeronomi, termasuk penyelidikan kecerahan angkasa dan gelombang gravitasi angkasa yang mungkin tersulut oleh sentuhan sesaat ubahan kualitas dan kuantitas cahaya.

Daya tanggap serba hidup biasanya menjadi obyek penelitian karena keterubahan kualitas cahaya dan bahang. Tusukan luar sesaat itu barangkali masih bisa ditemui pada jenis flora di hutan Kalimatan atau di wilayah Sulawesi Tengah.

Untuk menghindari “verbalisme” alangkah baiknya jika ada uluran tangan untuk anak didik, pendidik, dan masyarakat yang memerlukan keilmuan. Program ilmiah remaja dengan kapal bisa diadakan untuk memupuk cinta laut dan alam. Dalam kapal bertamasya menuju ke pusat jalur GMT mereka diberi ceramah astronomi, geografi, meteorologi, biologi, dan seterusnya.

Setelah gerhana selesai, kapal pun bisa berlayar menuju ke selatan (Tambora, Bali) atau melihat geografi hutan basah tropika di Kalimantan. Usaha itu akan bermanfaat bagi pembangunan minat dan bakat penelitian dan kecintaan pada lingkungan.

Bambang Hidayat, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Februari 2016, di halaman 7 dengan judul “Kegelapan di Pagi Hari”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: