Home / Artikel / Gelombang Kedua Pandemi

Gelombang Kedua Pandemi

Narasi pengendalian Covid-19 di negara kepulauan sebesar Indonesia sangat diperlukan, tidak hanya di wilayah dengan intensitas penularan virus tinggi, tetapi termasuk di daerah hijau yang intensitas penularannya rendah.

Kasus-kasus baru kembali muncul setelah 24 hari tidak ada penularan Covid-19 di Selandia Baru atau setelah 50 hari tanpa kasus yang terdeteksi di China. Apakah terjadi gelombang kedua penularan Covid-19 di negara-negara tersebut? Selandia Baru dan China tidak menyebutnya demikian. Tidak ada kesepakatan tentang apa yang disebut ”gelombang kedua”.

Sejak pertengahan April, jumlah kasus baru kurang dari 30 orang per hari di Korea Selatan. Namun, mulai akhir Mei 2020, negara yang disebut sebagai model pengendalian Covid-19 terbaik itu melaporkan rata-rata kasus di atas 40 orang per hari.

Pemerintah Korsel menganggap gelombang kedua sedang berlangsung, terutama di daerah metropolitan Seoul. Pengetatan jarak fisik, pelacakan, testing, dan pengobatan kembali digalakkan di Korsel, yang tidak pernah melakukan karantina wilayah sampai sekarang.

Istilah ”gelombang kedua” pandemi tidak lepas dari sejarah bergejolaknya pandemi flu H1N1 pada 1918-1920. Selama bulan Maret 1918, penyakit flu H1N1 tampak ringan-ringan saja. Dari 1.000 kasus di antara pasukan tempur Amerika, hanya 35 orang meninggal. Flu H1N1 kemudian merajalela ketika pasukan dikerahkan ke Eropa untuk terjun dalam Perang Dunia I. Selama bulan Maret dan Mei tahun 1920, sepertiga pasukan Perancis dan separuh pasukan Inggris tertular virus flu.

Pada saat itu, flu H1N1 yang kemudian dinamakan flu Spanyol masih bersifat jinak, tidak menelan banyak korban meninggal. Baru pada akhir Agustus 1918, ketika kapal induk militer bertolak dari kota Plymouth, Inggris, membawa pasukan yang terinfeksi virus ke kota-kota besar di negara-negara sekutu, pola penularan dan tingkat kematian penyakit flu Spanyol berubah menjadi lebih ganas dengan kematian yang meliputi sebagian besar dari 50 juta orang di seluruh dunia selama pandemi berkecamuk.

Orang mengenang kejadian itu sebagai ”gelombang kedua”, yang diperkirakan akibat mutasi virus, walaupun belum dibuktikan secara ilmiah.

Gelombang kedua pandemi Covid-19?
Narasi ”gelombang kedua” pada Covid-19 dilatarbelakangi perubahan interaksi antara virus dan manusia, khususnya ketika pembatasan wilayah dan kegiatan publik dilonggarkan sehingga penularan virus meningkat lebih intensif.

Kenaikan jumlah kasus sejak awal Mei 2020 di Iran sering dianggap sebagai gelombang kedua wabah. Bukan sebagai akibat mutasi virus korona, melainkan karena banyak di antara masyarakat tidak lagi memakai masker dan berdesakan di sarana transportasi umum, sementara pemerintah memperlunak restriksi setelah bulan April sampai Mei 2020 telah sukses menurunkan jumlah kasus Covid-19 di Iran.

Sirkulasi virus korona tidak pernah meninggalkan Iran dengan laporan kasus harian selalu di atas 500 orang, dan sekarang tidak pernah di bawah 2.000 orang. Sebagaimana banyak negara lain, Iran masih berkutat dengan kasus-kasus gelombang pertama pandemi.

Pengalaman Singapura menghadapi ”gelombang kedua” pandemi Covid-19 bermula dari kepulangan warga Singapura dari pusaran pandemi, seperti New York dan London, sehingga pada 7 April negara berpenduduk hampir enam juta itu memberlakukan lockdown yang semakin diperketat sampai awal Juni.

Kehadiran diaspora warga Singapura yang kembali ke negaranya tak terlalu menimbulkan lonjakan kasus Covid-19, tetapi kemudian diketahui bahwa pekerja migran yang berjumlah 300.000 orang berasal dari India dan Bangladesh mengalami penularan lokal dalam waktu singkat. Singapura disebut tidak menghadapi gelombang kedua pandemi, tetapi memiliki dua wabah. Pertama, di antara pekerja migran (lebih dari 80 persen dari seluruh kasus). Dan, kedua, di masyarakat luas lainnya.

Gelombang Kedua Pandemi
Jepang berencana melonggarkan pembatasan wilayah secara bertahap, misalnya di Kitakyushu, sebuah kota di Fukuoka, yang selama berhari-hari tidak terdeteksi satu kasus pun. Pada akhir Mei, Kitakyushu melaporkan keseluruhan 119 kasus dalam 11 hari berturut-turut, di antaranya beberapa anak yang mulai masuk sekolah. Keadaan darurat diberlakukan kembali di Jepang, termasuk di Tokyo yang pada awal Juni mengalami lonjakan kasus tiga kali lipat dari minggu sebelumnya. Jepang tidak menyebut lonjakan kasus itu sebagai gelombang kedua.

Narasi pengendalian pandemi di Indonesia
Berbicara tentang gelombang kedua penularan Covid-19 di Indonesia tidak relevan ketika perjuangan mengendalikan penularan virus masih jauh dari selesai. Korsel menggunakan narasi bahwa mereka sedang mengalami ”gelombang kedua” pandemi untuk konsolidasi pengendalian penularan virus melalui pelacakan, pemeriksaan PCR di tengah masyarakat, dan pengobatan, dengan tetap menghindari penerapan karantina wilayah. Narasi ini tidak sesuai dengan kondisi banyak negara yang belum pernah terbebas dari penularan lokal Covid-19.

Menarik apa yang menjadi narasi Pemerintah Singapura untuk ”all out” melindungi mereka yang rentan (lansia dan berpenyakit), dan terus mengungkapkan apa yang terjadi walaupun kasatmata, dengan merencanakan 40.000 tes per hari supaya segera dapat mengendalikan penularan Covid-19. Pertama, menyelamatkan hidup dengan sekecil mungkin mengorbankan penghidupan, melalui paket-paket sosial-ekonomi dan pelonggaran lockdown dalam tiga tahap.

Narasi pengendalian Covid-19 di negara kepulauan sebesar Indonesia sangat diperlukan, tidak hanya di wilayah dengan intensitas penularan virus tinggi, tetapi termasuk pula di daerah hijau yang kurang terjamah oleh penularan virus. Perlindungan kepada kelompok rentan, yakni petugas kesehatan, penduduk usia lanjut, dan mereka yang mengidap penyakit kronik, merupakan prioritas. Memakai masker dan menghindari kerumunan lebih dari lima orang harus menjadi kebiasaan yang dibentuk melalui pendisiplinan.

Salah satu narasi di Iran mungkin berlaku bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, bahwa baru segelintir penduduk (kurang dari 10 persen) yang diduga memiliki kekebalan. Artinya, lebih dari 90 persen yang lain masih rentan terinfeksi, menderita sakit, menjadi sumber lonjakan kasus Covid-19 dan kematian di antara yang rentan.

Hari Kusnanto, Guru Besar Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas FKKMK Universitas Gadjah Mada.

Editor: HARI KUSNANTO

Sumber: Kompas, 1 Juli 2020

Share
x

Check Also

Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet ...

%d blogger menyukai ini: