Home / Artikel / Fenomena Vaginismus, antara Psikis dan Fisik

Fenomena Vaginismus, antara Psikis dan Fisik

FILM  Honeymoon mulai tayang di Indonesia sejak 05 Juni 2013 (Suara Merdeka, 05-06-2013). Sebuah kisah layar lebar tentang sekelumit fenomena vaginismus tatkala mulai mengarungi dinamika relasi intim dengan pasangan yang dicintainya, sang suami. Vaginismus merupakan sejenis penyakit yang tertidur (dormant disease) atau asimtomatis.

Dari aspek medis, vaginismus merupakan sejenis gangguan kejang pada organ vagina wanita yang terjadi di luar kemauannya (involunter). Kekejangan terjadi  diantaranya dilatari oleh pengalaman hubungan seksual masa silam yang mungkin menimbulkan rasa sangat nyeri saat kejadian kekerasan seksual dan perkosaan pada masa kanak, atau riwayat trauma psikis maupun fisik lainnya.

Vagina yang lebih dikenal sebagai jalan lahir, merupakan struktur anatomi alat genital dalam pada wanita yang berbentuk seperti kantong kempes atau kolaps. Vagina menempati posisi antara serviks uteri dengan vulva (genital eksterna wanita). Kebalikannya dengan vaginismus. Meskipun tidak setara, sebagai analogisme, wujud vagina diibaratkan dengan kantong berbahan kulit elastis yang diperuntukkan sebagai wadah telepon genggam. Andaikan, kulit kantong menjadi kaku, otomatis tidak memungkinkan lagi untuk wadah telepon genggam.

Hubungan intim adalah peristiwa penis (alat kelamin pria) menerobos masuk ke dalam vagina wanita. Bilamana terjadi kejang pada otot, dinding vagina menjadi kaku tidak elastis lagi sedemikian rupa sehingga tidak mungkin mewadahi penis pria saat aktivitas sanggama. Tentu menimbulkan trauma psikis pada wanita itu sendiri, juga bagi sang suami.

Karena itu, pada awalnya, vaginismus disebut sebagai penyakit pada wanita (the diseases of women) hingga 150 tahun silam.  Pada 1834, PC Huguier pertama kali mendefinisikan sindrom disfungsi vagina ini sebagai kondisi di mana terjadi kontraksi involunter dari otot dinding vagina. Kemudian dilekatkan istilah medis vaginismus oleh J.M. Sims pada 1861.

Vaginismus maupun dispareunia sama-sama penyakit yang tertidur dalam tubuh individu seorang wanita (dormant disease), tetapi tergugah saat kontak seksual. Baik vaginismus maupun dispareunia merupakan akibat interaksi yang kompleks antara faktor psikologis (psikogenik) dan organik (fisik biologis) pada tubuh individu seorang wanita. Dispareunia adalah rasa nyeri vagina yang timbul saat sanggama (koitus). Vaginismus adalah kejang otot vagina yang sudah termanifestasi sejak sebelum aktivitas kontak seksual berlangsung.

Rasa takut terhadap nyeri dispareunia merupakan motivasi primer bagi penyandang vaginismus untuk abstinensia atau menghindari secara aktif  hubungan seksual. Pasalnya, sebagian besar atau sekitar 80 persen kasus vaginismus menimbulkan rasa nyeri yang signifikan pada saat sanggama (sexual intercourse). Secara naluriah insan normal, rasa nyeri selalu dihindari oleh siapa pun.

Penegakan Diagnosis
Prevalensi vaginismus sulit diketahui pasti. Namun satu survei pengalaman klinis medis menunjukkan prevalensi berkisar antara 5-17 persen dari populasi wanita. Dalam ”The Fourth Edition of the Diagnostic dan Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM-IV), kriteria diagnosis untuk vaginismus adalah kejang involunter rekuren (berulang) atau persisten (menetap) pada otot polos dinding vagina saat hubungan seksual. Gangguan atau disfungsi ini menimbulkan distres yang signifikan atau kesulitan dalam relasi interpersonal.

Penegakan diagnosis perlu keikutsertaan pemeriksaan medis ginekologis, khususnya oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Tujuannya untuk mencari penyebab kelainan fisik organik yang memicu vaginismus. Bila ditemukan adanya kelainan fisik khususnya pada organ vagina maka dugaan diagnosis menjadi gugur (eksklusi), namun menjadi jalur untuk terapi penyakit fisik atau komorbiditas yang melatari dispareunia. Mengingat pada kasus vaginismus yang psikogenik, struktur anatomi organ reproduksi wanita dalam keadaan normal. Lantaran faktor psikis dan fisik (mind and body) berkontribusi penting, maka rekomendasi terapi akhir-akhir ini meliputi fisioterapi otot panggul, obat-obatan medis, psikoterapi, terapi kognitif tentang seksualitas atau kombinasi dari keempat terapi tersebut.

Fisioterapi otot panggul semata dapat mencapai kesembuhan pada sekitar 80 persen kasus. Pada sejumlah kasus yang refrakter (sulit disembuhkan), suntikan larutan pelumpuh otot botox (botulinum toxin) menunjukan efektivitasnya. Terpenuhinya kebutuhan kenyamanan jasmani dan psikologis dari kehidupan seksual merupakan salah satu elemen krusial bagi bahtera rumah tangga. Penanganan pada tahap penyakit masih belum parah, menyemaikan harapan kesembuhan.

Penyandang tidak menutup kemungkinan untuk melahirkan anak, sepanjang tidak terdapat kelainan anatomis dan gangguan fisiologis organ reproduksi wanita yang melatari infertilitas. Bayi tabung pun bisa ditempuh pada kasus vaginismus yang parah. Sebab, pada kasus tertentu, penyandang penyakit ini toleransi dengan pemeriksaan ginekologis (vaginismus situasional), namun intoleran dengan penetrasi penis. (11)

F Suryadjaja, dokter di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali
———-
Terhentinya Era Seks Bebas

DI negara maju, vaginismus memiliki kecenderungan melanda wanita berpendidikan tinggi dan sosioekonomi menengah ke atas. Vaginismus dan dispareunia merupakan problem seksual jangka panjang (long-standing) terkait pandangan negatif terhadap aktivitas seksual dan gangguan mental seperti depresi, gangguan cemas, gangguan kepribadian, dan skizofrenia.

Hambatan fungsi seksual (sexual disorder) dapat bersifat simptomatis dari kelainan fisik organ reproduksi, konflik intrapsikis, rusaknya relasi interpersonal, atau kombinasi dari faktor itu. Juga dipengaruhi oleh faktor stres, gangguan emosional, dan rendahnya pengetahuan seputar seksual.

Munculnya penyakit vaginismus tidak dapat dilepaskan dari pengalaman buruk psikoseksual yang traumatis, khususnya pada usia anak. Bahkan sedemikian parahnya terpatri memori buruk di mana penis pria dipahami sebagai senjata yang membahayakan (dangerous weapon).

Prevalensi seksual pada wanita sulit dikuantifikasi secara epidemiologi, lantaran keluhan tidak diutarakan tatkala problematik seksual belum menjadi berita buruk bagi kualitas kehidupan (quality of life) secara signifikan. Namun, survei di Amerika Serikat prevalensi vaginismus dan dispareunia yang menimbulkan distress pada wanita mencapai 7 persen.

Selain itu, seksualitas wanita merupakan interaksi kompleks antara faktor emosional dan fisik, serta relasi interpersonal. Sementara data Kinsey Institute terakhir menyebutkan bahwa ukuran parameter respons fisiologis selama aktivitas seksual bukanlah parameter prediktif untuk tingkat kepuasan dinamika kehidupan seksual bagi wanita, dan korelasi kesehatan emosional dengan kesehatan fisik keseluruhan.

Sifilis dan HIV
Kemerosotan moral terkait perilaku kehidupan seksual manusia umumnya merujuk pada riwayat kehidupan dunia barat. Pada era renaissance di Eropa, parahnya resesi ekonomi mendorong individu ke arah posisi kehidupan yang sulit dan tak jarang menjadikan gratifikasi seksual sebagai upaya untuk membangun relasi interpersonal.

Merebaknya penyakit sifilis atau lues di seluruh kawasan Eropa pada era renaissance menghentikan tradisi kebebasan seksual sekaligus menghadirkan reformasi kehidupan seksual. Agaknya menjadi proyeksi ke masa depan, tatkala beberapa dekade silam, ketakutan terhadap perilaku seks bebas di Amerika Serikat dipicu oleh pemunculan dan merebaknya penyakit infeksi HIV/AIDS.

Hingga kini, sekitar 40 persen warga Amerika peduli dan takut,  jikalau sampai tertular penyakit berbahaya ini. Ketakutan dikonversi yang berwujud respons terhadap upaya pencegahan penularan dalam wujud abstinensia hingga menjelang pernikahan dan penggunaan kondom.
Secara historis, problematik seputar konflik seksual dan disfungsi seksual masuk dalam ranah psikiatris. Sigmund Freuds menjadi salah satu pionir yang memfokuskan diri terhadap psikoanalisis seksualitas manusia, yang mana seluk beluk gangguan fungsi seksual (disfungsi seksual) secara khusus berpusat pada diri pasien.

Pada masa lampau, kehadiran pemahaman tradisi perjalanan hidup menikah sebagai suatu keharusan, berkonsekuensi sebagian kecil populasi pasangan suami istri dikejutkan oleh kehadiran fenomena vaginismus. Andaikan aktivitas seksual dalam pengertian terbatas dipahami (diasosiasikan) sebagai wujud dari rasa bersalah atau dosa, maka berpotensi terjadinya problematik dalam hubungan diadik (dyadic relationship) antara suami dan istri. Karenanya, pendekatan kultural tidak dapat dipisahkan dari ranah pemecahan masalah disfungsi seksual lewat pengetahuan psikiatris. Sekian. (F Suryadjaja, dari berbagai sumber-11)

Sumber: Suara Merdeka, 12 Juni 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: