Home / Tokoh / Dwi Wahyuni Ganefianti; Dari Cabai untuk Anggrek

Dwi Wahyuni Ganefianti; Dari Cabai untuk Anggrek

SEMAKIN ke sini, Dwi Wahyuni Ganefianti kian resah. Perempuan kelahiran Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, setengah abad lalu, itu sedih melihat lingkungan dan hutan yang rusak akibat desakan populasi atau alasan pembangunan. Sementara kepedulian masyarakat dan pemerintah pada kekayaan hayati yang terkandung di dalamnya sangat minim.

Salah satu dari kekayaan hayati dalam hutan yang mendapat perhatian penuh Ganefianti ialah tanaman anggrek. Karena ukurannya yang umumnya kecil dan menempel di pohon lain, spesies anggrek liar kerap tidak diperhatikan manusia ketika beraktivitas di hutan atau bahkan membuka hutan.

Dwi Wahyuni Ganefianti, pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (Unib), sangat mencintai anggrek. Bagi dia, tanaman anggrek memiliki keindahan yang luar biasa. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, spesies anggrek liar merupakan kekayaan hayati Nusantara yang tidak ternilai harganya. Dengan sentuhan teknologi, sumber daya hayati tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Ganefianti, yang akrab dipanggil Efi, mengoleksi puluhan jenis anggrek yang dipelihara di kebun belakang rumahnya. Saat ini, dia memiliki sekitar 50 spesies anggrek alam Bengkulu. Dia memperoleh semua tanaman anggrek itu dengan luar biasa. Nyaris setiap akhir pekan selama hampir 15 tahun Efi, yang ditemani dengan setia oleh suaminya, berburu anggrek ke berbagai pelosok Bengkulu.

Motivasi Efi hanya satu: menyelamatkan anggrek spesies atau anggrek liar dari Bengkulu. ”Jika tidak diselamatkan, kerusakan hutan akan membuatnya tinggal sejarah,” ujarnya. Padahal, lanjut Efi, Bengkulu yang nyaris separuh wilayahnya adalah hutan pasti memiliki keanekaragaman hayati anggrek yang luar biasa.

Sejauh ini, di antara 10 kabupaten/ kota di Bengkulu, koleksi anggrek Bengkulu-nya mayoritas berasal dari Kabupaten Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, dan Pulau Enggano (Kabupaten Bengkulu Utara).

Anggrek alam dari Bengkulu yang dimilikinya antara lain Bulbophyllum claptonense, Eria sp, Liparis Sp, Vanda hookeriana, dan Phalaenopsis sp dari Pulau Enggano.

Koleksi lainnya adalah anggrek dari Kalimantan (13 spesies), Papua (20 spesies), serta Halmahera, Filipina, dan Serawak, Malaysia.

Dari Kalimantan, ada empat anggrek langka yang menjadi koleksinya, yakni Paraphalaenepsis denevei atau anggrek bulan bintang, Paraphalaenepsis sarpintilingua atau anggrek bulan Kalimantan Barat, Paraphalaenepsis laycockii atau anggrek bulan Kalimantan Tengah, dan Paraphalaenepsis labukensis.
Peneliti cabai

Tidak sedikit pengorbanan yang dikerahkan untuk mendapatkan anggrek spesies di hutan Bengkulu. Misalnya, setiap kali ke pelosok Bengkulu, Efi harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Kebutuhan finansial ini ia penuhi dari honornya sebagai peneliti cabai, tunjangan sertifikasi dosen, dan menjual anggrek hibrida atau silangan.

Yang menarik, walaupun Efi memiliki kecintaan yang mendalam pada tanaman anggrek, ternyata penelitian yang selama ini dia tekuni sejak jenjang S-2 adalah mengenai cabai. Bersama dosen lain, dia telah menghasilkan satu varietas cabai Unib C GTS1 yang cocok untuk ditanam di dataran rendah yang tanahnya asam dan miskin hara.

Selain itu, Efi juga dalam waktu dekat akan mendaftarkan tiga cabai unggul lain ke Kementerian Pertanian. Cabai ini memiliki keunggulan tahan virus gemini yang kerap menyerang tanaman cabai dan memiliki produktivitas yang tinggi.

Dari sekian banyak anggrek yang dimilikinya, ia menaruh perhatian lebih pada satu jenis anggrek, yakni anggrek pensil atau Vanda hookeriana. Di habitatnya, di Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu, anggrek ini sudah musnah dijarah. Masyarakat berlomba-lomba mengambilnya untuk dijual. Padahal, tahun 1980-an anggrek ini masih bisa ditemukan di tepi danau yang berdekatan dengan jalan raya.

Efi pernah memiliki sekitar 40 batang anggrek pensil yang ia dapatkan tidak sengaja dari penjual bunga keliling. Semula, ia mengira tanaman anggrek yang dibelinya bukan anggrek pensil. Kini, tanaman anggrek pensil milik Efi tinggal tujuh batang yang sering berbunga. Sisanya habis dimanfaatkan rekan-rekannya sesama dosen penelitian.

Untuk menyelamatkan anggrek pensil di habitatnya dan memberdayakan masyarakat sekitar danau, istri dari Sorjum Ahyan ini tahun 2006 memberikan penyuluhan kepada masyarakat di sekitar Danau Dendam Tak Sudah. Ia mengedukasi masyarakat untuk peduli pada kelestarian ekosistem danau dan menjaga habitat asli anggrek pensil tersebut.

Efi juga memfasilitasi masyarakat sekitar danau dengan beberapa batang tanaman anggrek pensil untuk dipelihara. Maksudnya, untuk menanamkan kecintaan masyarakat pada anggrek. Selain itu, juga mengajarkan teknologi sederhana untuk membudidayakan anggrek sehingga nantinya bisa mengambil manfaat ekonomi. Ia berharap, suatu saat anggrek bertambah banyak dan bisa dikembalikan ke alam.

Namun, ternyata ia harus menelan kekecewaan. Tanaman-tanaman anggrek tersebut tidak terurus sama sekali. Kini Efi lebih mendorong kampus tempatnya beraktivitas untuk melakukan kultur jaringan terhadap anggrek pensil. Harapannya, populasi anggrek pensil bertambah. Anggrek hasil perbanyakan itu diharapkan bisa dikembalikan ke habitat aslinya.

Bagi Efi, anggrek yang keindahannya luar biasa itu merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga. Sebagai pemulia tanaman, ia berpendapat, wajib melestarikan sumber daya genetika dari anggrek spesies.
—————————————————————————
Dwi Wahyuni GanefiantiDwi Wahyuni Ganefianti

? Lahir: Curup, 14 November 1963
? Pekerjaan: Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
? Jabatan: Ketua Jurusan Budidaya Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
? Pendidikan:
– S-1 Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (1987)
– S-2 Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, lulus 1991
– S-3 Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, lulus 2010
? Suami: Sorjum Ahyan (49)
? Anak:
– Wahyu Sofitriza (23)
– Soraya Dwi Khairunnisa (20)

Oleh: Adhitya Ramadhan
Sumber: Kompas, 5 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: