Home / Artikel / Demam Sains Populer

Demam Sains Populer

Pada 2016, penulis dan sekaligus merupakan pustakawan Muhidin M. Dahlan menerbitkan buku yang berjudul Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor. Buku yang mengetengahkan hal-ihwal mengenai dunia tulis-menulis tersebut memaktub kondisi sains yang ada di Indonesia. Utamanya adalah siapa saja akademisi maupun intelektual Indonesia yang berkontribusi dalam dunia literasi sains populer. Muhidin menyebutkan beberapa nama, di antaranya Andi Hakim Nasution, Liek Wilardjo, Karlina Supelli, Sudjoko, serta Nirwan Ahmad Arsuka.

Apa yang dituliskan oleh Muhidin setidaknya menggambarkan kondisi riil yang ada di Indonesia. Singkatnya, perkembangan sains populer di Indonesia tidak banyak disambut oleh akademisi maupun intelektual yang tersebar dalam berbagai institusi, pemerintah maupun non pemerintah yang ada. Justru, yang terjadi adalah semakin mendominasinya buku-buku sains populer yang diterjemahkan dari bahasa asing. Praktis, sepanjang 2018 ini bisa dibilang merupakan momentum di mana masyarakat Indonesia banyak terdampak “demam” sains populer.

Kondisi tersebut bisa saja menjadi persoalan yang cukup serius. Kepedulian masyarakat akan sains tentunya membawa angin segar bagi kehidupan, terlebih pada perkembangan zaman ketika sains sangat berperan. Beberapa karya dari penulis ternama di dunia kemudian mewarnai khasanah sains di Tanah Air. Buku-buku karya Stephen Hawking, ahli fisika teoretis berkebangsaan Inggris yang meninggal pada 14 Maret yang lalu, misalnya, telah lama dipasarkan di Indonesia.

Awal tahun ini, Carlo Rovelli hadir melalui buku Tujuh Pelajaran Singkat Fisika Modern. Selain itu, ada buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari Carl Sagan, astronom Amerika Serikat, Kosmos. Jared Diamond, profesor Geografi Universitas California, hadir dengan bukunya Dunia Hingga Kemarin serta Collapse. Disusul belakangan, Yuval Noah Harari, profesor Departemen Sejarah di Universitas Ibrani Yerusalem dengan bukunya Sapiens dan Homo Deus.

Tak ketinggalan, Richard Dawkins, penulis kelahiran Kenya ahli dalam etologi, biologi revolusioner, dan ilmu pengetahuan umum dengan bukunya Selfish Gene, The Magic of Reality, dan The God Delusion. Serta, yang terbaru adalah Neil deGrasse Tyson dengan buku berjudul Astrofisika untuk Orang Sibuk, dan karya lain dari Carl Sagan The Demon-Haunted World.

Dua Kutub
Wacana yang berkaitan dengan sains populer pernah dituliskan oleh Liek Wilardjo dalam esainya yang berjudul Bahasa dalam Kerangka Keilmuan Populer (1986). Liek yang dikenal sebagai fisikawan dan juga pendekar bahasa tersebut menyampaikan bahwa keilmuan populer merupakan karangan keilmuan yang ditujukan kepada sidang pembawa awam. Apa yang disajikan oleh keilmuan populer adalah sains yang ditujukan kepada mereka yang notabene tidak menggeluti keilmuan tersebut tapi dapat menangkap, memahami, maupun menginterpretasikan apa yang termaktub dalam karangan keilmuan yang ada.

Dalam beberapa waktu terakhir kehadiran buku-buku yang tergolong sains populer di kalangan masyarakat terlihat signifikan. Ada dua hal penting yang kiranya menggambarkan kondisi tersebut. Pertama, kehadiran beberapa isu yang juga telah menyeruak di khalayak umum, terlebih ditambah dengan akumulasi informasi berasal dari media yang dapat diperoleh kapan pun dan di mana pun, seperti di antaranya isu mengenai revolusi industri.

Kedua, banyak masyarakat yang jengah dengan bias wacana mainstream yang hadir dalam setiap waktu. Hal tersebut menyebabkan sains populer menjadi pelampiasan sekaligus kemudian sebagai penunjang kebutuhan dalam hal pengetahuan.

Sayangnya, banyak perguruan tinggi di Indonesia belum menaruh perhatian penuh akan kondisi minat masyarakat terhadap sains populer. Sains populer tidak mendapatkan perhatian yang mendalam dalam aktivitas di perguruan tinggi. Padahal, dengan berbagai rupa aktivitas akademik intelektual yang berada di dalam ruang kelas, perguruan tinggi atau universitas memikul beban tanggung jawab berupa legitimasi akan berbagai perkembangan keilmuan yang terjadi, tak terkecuali yang berkembang di kalangan masyarakat secara umum. Atau, berupa konfirmasi akan kebenaran mengenai informasi-informasi yang mengenai pengetahuan yang berkembang.

Meski narasi yang dibangun dalam kerangka sains populer itu cenderung ringan, bernas, dan mudah dipahami, perlu digarisbawahi bahwa acapkali orang dalam membaca cenderung mudah hanyut dalam pesona narasi yang ada. Maka, kemampuan literasi dalam bidang sains itu sendiri sangat diperlukan. Kemampuan tersebut menjadi penopang dalam membangun kerangka paradigma yang kemudian berlanjut dalam praksis pemilahan buku-buku yang berkategori sains populer dalam siklus distribusi pasar buku. Sebab, tidak semua buku itu layak untuk dikonsumsi.

Menilik wacana-wacana sains yang menyeruak di publik, kerap hanyalah sebatas perdebatan kusir yang berakhir pada sebuah pendikotomian antara pro dan kontra. Satu di antaranya yang masih santer sampai sejauh ini adalah konsepsi mengenai “bumi datar”. Ada sebuah reduksi pengetahuan yang membahayakan dalam masyarakat yang belum begitu populer dengan gagasan tersebut. Tak mengherankan, ketika banyak dari mereka kemudian terjerembab dalam satu isu yang notabene secara kebenaran ilmiah sangat tidak tepat.

Demam sains populer di masyarakat pada akhirnya melahirkan dua kutub yang berseberangan. Di satu sisi merupakan kelebihan dalam akses informasi pengetahuan. Di sisi lain adalah beberapa kekurangan, di antaranya kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam ke depannya. Kita tentu masih banyak berharap kepada para akademisi maupun intelektual dari berbagai institusi maupun lembaga untuk memberikan kontrol maupun konfirmasi benar dan salahnya sebuah pengetahuan. Kita tidak ingin masyarakat terjerembab pada pengetahuan yang bersifat semu.

Joko Priyono menempuh studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta, penulis buku Bola Fisika (2018)

Sumber: Detik.com, Jumat 30 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: