Home / Artikel / Dehidrasi, Sinkop, dan Cedera Kepala

Dehidrasi, Sinkop, dan Cedera Kepala

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengalami dehidrasi akibat terpapar virus penyebab diare 09 Desember 2012. Kemudian mengalami dehidrasi hingga jatuh pingsan (sinkop) dan kepalanya terbentur benda keras.

Efeknya Hillary didiagnosis gegar otak pada 13-12-2012 di New York-Presbyterian Hospital dan tampaknya harus mengalami pemulihan bertahap (Suara Merdeka, 02-01-2013).

Diare merupakan salah satu penyebab dehidrasi yang penting. Dampak negatif diare semakin penting bila melanda usia anak dan lanjut usia. Lagipula, dibanding dengan pendarahan akut sehingga menyebabkan anemia, dehidrasi memberikan gangguan kesehatan yang lebih serius. Pasalnya, terkait dengan peningkatan hematokrit (hemokonsentrasi) yang berkontribusi bagi peningkatan risiko pembekuan darah intravaskular, terkhusus pada lanjut usia dan diabetesi.

Selain itu, diare yang parah dapat menyebabkan tubuh kehilangan elektrolit dalam jumlah masif terutama natrium dan kalium, sehingga tubuh mengalami hipokalemia, hiponatremia dan asidosis yang berisiko berakhir dengan syok hingga fatal. Khususnya hipokalemia menimbulkan gangguan pada sistem neuromuskular dengan gejala mengantuk, kelemahan otot yang dapat menyebabkan pasien rentan terjatuh, dan sesak napas.

Sinkop merupakan kejadian kehilangan kesadaran atau pingsan dalam jangka waktu singkat akibat penurunan aliran darah ke otak. Dehidrasi merupakan salah satu penyebab sinkop (pingsan) yang utama terutama pada lanjut usia. Pasalnya, bisa menyebabkan penurunan volume darah (hipovolemia) sehingga terjadi penurunan curah jantung yang selanjutnya mengakibatkan penurunan aliran darah ke organ otak.

Sesungguhnya sinkop sendiri bukanlah gangguan kondisi kesehatan yang berbahaya. Sebab bersifat pulih sempurna secara spontan dan tidak memerlukan pertolongan resusitasi medis yang spesifik. Namun, sinkop akan mendadak menjadi fokus perhatian medis sehubungan komplikasi serius berupa fraktur pangkal tulang paha dan cedera kepala akibat benturan kepala dengan lantai atau dinding rumah sehingga mengakibatkan pendarahan intrakranial.

Sinkop berpotensi terjadi pada anemia, hipotensi, hipoglikemia (kadar gula darah rendah). Selain itu, sinkop sering dijumpai pada gangguan irama denyut jantung (aritmia kordis), infark miokard, hipotensi ortostatik, dan hipertensi pulmonal.

Serangan sinkop pada lanjut usia cenderung berupa serangan jatuh mendadak, sehingga mudah terjadi cedera khususnya pada kepala. Insidensi sinkop meningkat seiring dengan meningkatnya umur. Sedangkan prevalensi sinkop sulit ditentukan, lantaran banyak kasus sinkop tidak menyentuh pusat pelayanan medis. Tambahan pula, hasil pemeriksaan medis neurologis, penderita sinkop sebagian besar normal. Bila ditemukan abnormalitas neurologis kebanyakan sebatas gangguan refleks ringan.

Pasien sinkop yang berusia di atas 65 tahun (lanjut usia), memiliki riwayat sinkop berulang serta gangguan jantung perlu dikedepankan untuk mendapat perawatan inap di rumah sakit. Selain ditujukan untuk antisipasi terulangnya kejadian cedera saat serangan sinkop, juga untuk evaluasi medis menemukan penyebabnya.

Tidak jarang penyebab sinkop bersifat multifaktorial. Karenanya, terapi dan pencegahan sinkop tergantung kepada penyebabnya. Pada usia di atas 60 tahun, lebih mengarah pada gangguan jantung (kardiogenik). Sedangkan pada usia di bawah 30 tahun cenderung terkait gangguan vasovagal (neurogenik).

Gegar Otak

Otak sendiri merupakan 2 persen dari berat tubuh manusia. Tetapi organ otak manusia menerima 20 persen dari curah jantung dan menggunakan 20 persen oksigen tubuh. Dalam waktu 3-10 menit organ otak tidak mendapat aliran darah yang memadai, sebagian besar jaringan saraf pada organ otak sudah kehilangan fungsi sehingga tubuh kehilangan keseimbangan dan kesadaran.

Kepala merupakan bagian tubuh manusia yang paling riskan untuk mengalami cedera bila terjatuh atau mengalami kecelakaan. Cedera dapat terjadi pada tulang tengkorak, selaput otak, jaringan otak, dan pembuluh darah otak. Cedera kepala berperan pada 50 persen kematian akibat trauma pada tubuh manusia.

Gegar otak (commotio cerebri) merupakan cedera otak ringan berupa kehilangan kesadaran dalam waktu tidak lebih 10 menit , namun tidak disertai oleh kerusakan jaringan otak. Sama halnya dengan sinkop, gegar otak kebanyakan pulih sempurna dalam waktu yang cepat, meskipun pada sedikit kasus menyisakan keluhan nyeri kepala, vertigo, pelupa, sensitif, dan sulit berkonsentrasi yang berlangsung beberapa bulan. Sedikit kasus yang mengalami amnesia retrograd dimana penderita lupa mengingat kejadian saat terjadi peristiwa trauma kepala.

Hematom  Epidural

Serangan stroke yang merupakan gangguan aliran darah pada stroke iskemik atau terjadi penumpukan bekuan darah dalam jaringan organ otak pada stroke hemorargik (pendarahan). Sebaliknya, hematom epidural atau ekstradural merupakan penumpukan bekuan darah antara tulang tengkorak dan selaput otak duramater. Hematom epidural umumnya dianggap sebagai komplikasi dari fraktur tulang tengkorak akibat kepala berbenturan dengan permukaan benda keras. Hematom epidural sering terjadi pada lokasi parietotemporal sekitar daerah telinga akibat robekan (ruptur) arteri meningea media yang berjalan di permukaan duramater.

Dugaan ke arah terjadi hematom epidural pada kasus trauma kepala apabila pasien mengalami nyeri kepala, muntah dan penurunan kesadaran. Penegakan diagnosis dilakukan terutama dengan pemeriksaan tomografi otak CT-scan. Pemeriksaan arteriografi serebral dilakukan jikalau pada pemeriksaan CT-scan tidak memberikan kepastian ke arah hematom epidural, serta untuk mengetahui arteri mana yang robek (ruptur).

Hematom epidural perlu mendapat pertolongan medis segera lantaran angka mortalitas yang mencapai 50 persen tergantung kepada usia penderita. Semakin dini pertolongan medis diberikan semakin tinggi pula angka kesembuhan total.

Kematian terjadi sehubungan hematom epidural yang memiliki volume yang sedemikan besar sehingga menimbulkan desakan mekanis signifikan pada organ otak yang berakhir dengan terjadinya herniasi batang otak yang berakibat henti napas.(11)
F Suryadjaja adalah dokter di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali

———————-

Hipotensi Ortostatik

HIPOTENSI atau intoleransi ortostatik merupakan kondisi tubuh kehilangan kontrol terhadap tekanan darah.  Pe­nyebabnya dapat kardiogenik (bersumber jantung) atau neurogenik (bersumber organ saraf). Kemungkinan intoleransi ortostatik tidak dapat disingkirkan tatkala terjadi kasus cedera kepala atau patah tulang akibat terjatuh pada orang tua. Begitu pula pada individu yang mengeluh sulit berkeringat, gangguan lambung (gastroparesis), inkontinensia (sulit menahan kencing), dan disfungsi ereksi.

Hipotensi ortostatik berdasarkan The Consensus Committee of the American Autonomic Society and the American Academy of Neurology merupakan penurunan tekanan darah sistolik sedikitnya 20 mmHg atau penurunan tekanan darah diastolik sedikitnya 10 mmHg dari posisi berbaring ke posisi duduk atau berdiri. Penurunan harus ada dalam waktu 3 menit setelah terjadi perubahan posisi tubuh.

Prevalensi hipotensi ortostatik sulit ditetapkan lantaran jarang kaus sampai ke pusat pelayanan medis. Padahal, 30 persen orang pernah mengalami sinkop dalam hidupnya terkait dengan hipotensi ortostatik. Namun, Setiati (2003) menemukan prevalensi hipotensi ortostatik 12,65 persen pada kelompok usia 40-94 tahun. Riwayat diabetes melitus, riwayat stroke, alkoholisme, malanutrisi, hipertensi sistolik maupun diastolik merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya hipotensi ortostatik.

Hipotensi ortostatik merupakan penyebab sinkop yang penting setelah hipovolemia, sebab  merupakan 30 persen dari seluruh kasus sinkop pada lanjut usia. Prevalensi intoleransi ortostatik semakin meningkat pada lanjut usia yang mengonsumsi obat penurun tekanan darah (vasodilator) dan antidepresi.

Pencegahan dan Terapi

Manifestasi gejala hipotensi ortostatik berupa kepala terasa ringan, pusing, gangguan penglihatan, tubuh terasa lemah (letargi), dan sinkop. Khusus pada otot rangka, intoleransi ortostatik bergejala sakit leher, nyeri pinggang bawah, dan nyeri betis. Sementara pada organ jantung hipotensi ortostatik memberikan manifestasi sering berdebar dan angina pektoris.

Penurunan tekanan darah mendadak lebih dari 50 mmHg dari tekanan darah sistolik 160 mmHg dapat memicu terjadinya hipotensi ortostatik dan sinkop.

Penegakan diagnosis hipotensi ortostatik berdasarkan pemeriksaan tekanan darah pada posisi tubuh berbaring dan berdiri tegak.

Serangan hipotensi ortostatik pada individu lanjut usia cenderung terjadi pada pagi hari tatkala bangun tidur dari posisi berbaring ke posisi berdiri. Karenanya, dianjurkan gerakan perlahan untuk beranjak dari tempat tidur saat bangun tidur.

Mengambil posisi tidur dengan kepala terangkat 30 sentimeter dari alas tidur dapat mengurangi risiko terjadinya hipotensi ortostatik. Hentikan penggunaan obat vasodilator dan antidepresan bila terkait sebagai penyebab hipotensi ortostatik. Aktivitas fisik jalan kaki secara teratur juga dapat mengurangi potensi serangan hipotensi ortostatik. Sekian. (dr. F. Suryadjaja, dari berbagi sumber-11).

Sumber: Suara Merdeka, 9 Januari 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: