Berkawan Kita dalam Riset

- Editor

Kamis, 31 Mei 2012

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertanyaan ”Mana hasil riset kita?” kerap dilontarkan. Jika hanya mengenai jumlah, jawaban dapat mengacu, misalnya, pada publikasi hasil riset dalam forum-forum bergengsi.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Indikator Iptek Indonesia, 2009), pada 2008 terdapat 1.416 artikel ilmuwan Indonesia yang dimuat dalam jurnal internasional, dibandingkan 766 pada 1999.

Namun, jawaban menjadi lebih sukar jika ditinjau aspek riset sebagai pemicu dan pendorong teknologi. Kementerian Riset dan Teknologi (Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia, 2010) menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun persentase teknologi tinggi dalam ekspor manufaktur kita tidak melebihi 16,3 persen, dibandingkan Thailand (31 persen) atau Filipina (74 persen). Menurut Dirjen Industri Kecil dan Menengah Euis Saedah (April 2012), dari 10 mobil yang berlintasan di Malaysia, tujuh di antaranya mobil nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini berbeda dengan Indonesia yang tak menunjukkan satu pun mobil nasional dari 10 yang terlihat. Di samping kemungkinan penyebab lain, pengamatan ini mengisyaratkan kurangnya dukungan riset kita ke arah teknologi.

Lembaga Intermediasi

Artinya pula, hanya sedikit hasil penelitian yang diindustrikan. Situasi ini sudah banyak diketahui dan lemahnya mata rantai antara riset dan industri dipandang sebagai masalah utama. Maka, sosialisasi hasil penelitian digelar sebagai salah satu usaha remedial.

Lembaga intermediasi, yang mempertemukan industriawan dengan peneliti beserta karyanya, didorong untuk dibentuk. Program pendanaan riset tertentu mensyaratkan kemitraan dengan industri yang harus dibuktikan dengan tanda tangan industriawan dalam proposal riset.

Semua upaya tersebut perlu, tetapi agaknya harus dilengkapi. Tak sedikit peneliti yang dengan segenap keahlian dan ketekunannya membuahkan hasil riset yang patut dibanggakan dari segi ilmiah, kebaruan, atau inovasi. Namun, ketika ditawarkan, tidak jarang pihak industri menanggapi: ”Bukan itu yang kami butuhkan”.

Pihak industri mempunyai alasan sendiri. Mereka mempertimbangkan kelangsungan pasokan bahan baku, peluang pemasaran, keandalan produk nantinya, neraca keuangan, dan sebagainya yang biasanya bermuara pada kesimpulan singkat: terlalu besar risikonya. Di pihak lain, peneliti terlatih secara akademik mengutamakan salah satunya sintesis pemikiran sebagai ukuran kualitas. Kedua kutub cara pendekatan yang berbeda ini tidak mudah dicairkan dalam wadah intermediasi.

Dapat saja peneliti ikut mempelajari persoalan industri. Namun, sebagaimana orang tidak bisa menjadi peneliti hebat hanya dengan belajar dari buku atau kursus singkat, ketangguhan menangani masalah industri pun memerlukan pula kesaratan pengalaman.

Di sini kita berbicara tentang kedalaman pandang (insight) dan kepekaan rasa (sense), belum tentang jenis dan jenjang pendidikan masing-masing. Tidak berlebihan jika kedua ”kubu”, peneliti dan industriawan, dikatakan memiliki kultur yang berbeda.

Saling Menyesuaikan

Timbul kesulitan jika hasil dari kultur yang satu mesti langsung diaplikasikan oleh kultur yang lain. Apalagi jika tanda tangan industriawan baru dibubuhkan pada proposal riset saat terakhir, gara-gara perkenalannya mungkin baru berusia dua minggu.

Sesungguhnya yang penting ialah membentuk kemitraan peneliti-industriawan jauh sebelum hasil riset dicapai, sebelum penelitian dimulai, sebelum proposal disusun, bahkan sebelum ide digagas.

Dibutuhkan pemahaman timbal balik tentang keinginan, jalan pikiran, dan cara pendekatan. Bukan dengan maksud meleburnya, melainkan untuk saling menyesuaikan dan memberikan masukan. Mulai dari topik riset harus dipilih dengan serius dan disepakati bersama.

Jika pertemanan dapat diwujudkan, pertama, pihak industri semestinya tak segan memberikan dukungan karena ada rasa ikut memiliki sejak awal, bukan kesan mendadak disodori hasilnya. Kedua, kepentingan yang sama menjurus pada saling mengoreksi secara kontinu, ditambah ikhtiar yang padu untuk mengatasi pembiayaan. Ketiga, manakala kemitraan sudah menjadi persahabatan, hambatan psikologis, seperti tentang latar belakang pendidikan, kalau ada, niscaya akan pudar.

Namun, syaratnya, perkawanan harus kental, tidak segan meniru kaum bisnis yang fasih menjalin relasi. Misalnya, saling mengundang pada seminar atau acara peluncuran produk pabrik, kunjung-mengunjungi, sore bersama ke kafe. Tidak lupa rajin bertukar bicara lewat telepon, mengirim pesan singkat (SMS), e-mail, atau media komunikasi lain, sekaligus membuat pemakaiannya yang marak menjadi lebih produktif.

Andrianto Handojo ; Ketua Dewan Riset Nasional

SUMBER :  KOMPAS, 31 Mei 2012

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB