Home / Artikel / Banjir dan Dam Bawah Tanah

Banjir dan Dam Bawah Tanah

Dam bawah tanah dapat digunakan untuk menyerap genangan air di setiap musim secara cepat, sehingga permukaan tanah terhindar dari banjir dan kecelakaan air, misalnya pecahnya bantaran sungai.

KOMPAS–Banjir di Bundaran Hotel Indonesia Thamrin, Jakarta 2013

Ibukota Jakarta adalah wilayah dataran landai yang dulu berupa lautan dan dibentuk oleh sedimentasi atau pengendapan dari butir-butir tanah yang terkumpul dari pegunungan di sekitar Cekungan Bandung hingga Bogor dari zaman Holosen dan Pliosen.

Hingga saat inipun sedimentasi di bagian barat dan timur Teluk Jakarta terus terjadi. Paling cepat sekitar 40 meter per tahun bertambah jauh garis pantai yang menjorok ke lautan, dan suatu saat nanti Teluk Jakarta akan jadi daratan.

Endapan utama yang membentuk wilayah ini menurut peta Puslitbang Geologi, terbentuk dari aluvial, endapan dataran banjir, endapan punggungan pantai, dan tuff Banten, sehingga banjir punya peran penting dalam pembentukan wilayah ini sejak dulu kala. Maka, “pesta alam tahunan” berupa banjir memberikan anugerah berupa pembentukan wilayah daratan yang disebut Jakarta saat ini.

Peta-peta lama tahun 1800-an koleksi pribadi penulis menunjukkan, wilayah utara Jakarta masih berupa rawa-rawa. Beberapa bagian wilayah Jakarta masih menggunakan nama atau toponimi “pulo”, disinyalir dulunya berupa pulau bagian dari Kepulauan Seribu, kemudian menjadi satu dengan daratan akibat dari sedimentasi di atas.

Kondisi fisik tanah berawa ini secara alami mempunyai risiko daya serap yang kurang, sehingga banjir merupakan kejadian tahunan yang harus siap dihadapi, setidaknya sejak berdirinya kota Jayakarta di wilayah Sunda Kelapa saat pasukan pimpinan Fatahillah dari Kesultanan Cirebon berhasil mengusir tentara Portugis dari pelabuhan itu 22 Juni 1527.

Pelabuhan ini terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Meski nama dan penguasa wilayah berubah dari Jayakarta (1527-1619) menjadi Batavia/Batauia, Jaccatra (1619-1942), Djakarta (1942-1972) dan Jakarta (1972-kini), banjir tetap saja terjadi tiap tahun di wilayah ini.

Kondisi fisik tanah berawa ini secara alami mempunyai risiko daya serap yang kurang, sehingga banjir merupakan kejadian tahunan yang harus siap dihadapi.

Cara konvensional tak lagi cukup
Pada tahun 1611 Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendapat izin membuka kantor dagang di Jayakarta, dan memperluas kantor di muara bagian timur Sungai Ciliwung sebagai komplek perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda di mana Jan Pieterszoon Coen menjadi gubernur jenderal (1618 – 1623).

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Warga melintas di titian kayu untuk menghindari limpasan air laut yang terjebak di sekitar gudang tepi barat di Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (23/2/2018).

Coen menghindari banjir tahunan dengan membangun tembok batu yang tinggi, di samping berfungsi untuk mempersiapkan penguasaan wilayah Jayakarta saat itu. Coen juga membangun sejumlah kanal dan sodetan Sungai Ciliwung untuk menghindari banjir di wilayahnya. Kanal Banjir Barat (Pintu Air Manggarai hingga Muara Angke) dibangun Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum tahun 1920 akibat banjir besar pada 1918.

Banjir terus menjadi perhatian pemerintah VOC hingga 1930-an, tahun berakhirnya pemetaan detail Indonesia, dan masa mulainya masa balas budi Belanda ke pribumi Indonesia untuk membangun wilayah Hindia Belanda, tapi malang dunia mulai masuk masa Perang Dunia II.

Setelah merdeka, Pemerintah Indonesia mulai konsentrasi pada masalah banjir sejak 1965. Gubernur Ali Sadikin membangun waduk dalam kota, saluran kolektor, normalisasi sungai, sodetan sungai, dan kanal baru, yaitu saluran Cengkareng dan Cakung. Tetapi banjir besar kembali terjadi 1976.

Banjir besar berikutnya terjadi 2002 dan 2007 di masa kepemimpinan Sutiyoso (1997-2007). Di masa Gubernur Joko Widodo mulai dilakukan normalisasi sungai dan meningkatkan fungsi waduk-waduk kota, belajar dari banjir-banjir di masa kepemimpinannya.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Sejumlah alat berat dikerahkan untuk melakukan pengerukan lumpur di Waduk Pluit, Jakarta, Rabu (4/9/2019). Waduk Pluit mengalami pendangkalan akibat sedimen yang mengendap di dasar waduk.

Di masa Gubernur Basuki Tjahaja Purnama terjadi banjir besar 2015. Lima tahun berikutnya, di era Anies Baswedan, awal 2020 ini terjadi lagi banjir besar di DKI.

Siklus lima tahunan banjir besar ini memerlukan pemikiran cerdas untuk menyelesaikan masalah ini. Setiap peristiwa banjir ini, gubernur dan kita mempunyai limit waktu lima tahun untuk mempersiapkan banjir lima tahun ke depan. Pemikiran konvensional dengan mengandalkan serapan alami pori-pori tanah di seluruh wilayah Jakarta tak mungkin kita harapkan lagi.

Menurut peta rupa bumi terbitan Badan Informasi Geospasial (BIG), hampir 80 persen wilayah Jakarta telah ditutup dengan lantai beton dan aspal, dan tanah rawa. Pada musim hujan jelas tanah cepat jenuh kandungan airnya, yang mengakibatkan menurunnya daya serap tanah terhadap air yang melimpah, akhirnya banjir terjadi.

Setiap peristiwa banjir ini, gubernur dan kita mempunyai limit waktu lima tahun untuk mempersiapkan banjir lima tahun ke depan.

Bila kita perhatikan data tahunan wilayah banjir di daerah genangan air banjir Jakarta menunjukkan ketinggian air sekitar 1-3 meter dengan wilayah yang sama, di mana wilayah ini berupa wilayah tampungan sementara air hasil dari air hujan langsung, dan luapan sungai kolektor maupun sungai besar yang melebihi daya tampung fungsi sungai dan saluran air di Ibukota.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Tidak tampak lampu dan tayangan pada layar videotron yang menghiasi sisi luar Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Senin (13/1/2020). Hingga memasuki dua pekan, operasional Mal Taman Anggrek masih terhenti akibat banjir di Jakarta pada awal tahun.

Bila air limpahan ini dapat ditampung sementara untuk menghindari genangan air atau banjir, maka banjir di permukaan tanah yang merusak harta benda masyarakat dan negara dapat dihindari.

Saat ini pemda melalui PDAM mengelola saluran air bersih saja, tetapi saluran air buangan tidak dikelola dengan baik. Kurang pengelolaan terhadap air buangan ini dapat kita lihat dari kondisi selokan buangan dari titik buang di setiap rumah yang dikelola oleh setiap pemilik bangunan sesuai tingkat ekonomi masing-masing keluarga, sehingga tidak ada standar yang baik dan sama.

Saluran buangan yang tak baik mengakibatkan tingkat higienis lingkungan pun tak terjaga, sehingga banyak lokasi kita dapatkan air comberan dan penyumbatan pada saat banjir. Air banjir dan comberan menjadi satu, sehingga seluruh anggota masyarakat tak memandang tingkat ekonomi, semua menanggung risiko itu.

Sudah saatnya pemda memulai pencanangan pengelolaan air buangan bawah tanah dan dikelola berbayar untuk pengolahan limbah rumah tangga dan industri. Bila kita amati kualitas permukaan air Teluk Jakarta dengan menggunakan citra satelit optik, terlihat wilayah ini seperti septik tank raksasa, alias sangat kotor sekali di banding kualitas air di perairan lain.

BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN–Presiden Joko Widodo mengunjungi Waduk Pluit, Jakarta Utara, Jumat (3/1/2020) pagi. Presiden memastikan semua alat dan rumah pompa berfungsi baik untuk mengatasi banjir.

“Survival dam”
Berbagai ibukota negara di dunia punya metode tersendiri untuk menangani banjir sesuai karakteristik wilayahnya. Jakarta yang mempunyai karakteristik dasar sebagai tanah rawa, daya serap alami tanah di wilayahnya sangat buruk di musim hujan. Tidak bisa mengandalkan sistem pori-pori tanah saja. Ini diperunyam lagi dengan luas permukaan tanah terbuka yang sangat sedikit.

Jakarta yang mempunyai karakteristik dasar sebagai tanah rawa, daya serap alami tanah di wilayahnya sangat buruk di musim hujan. Tidak bisa mengandalkan sistem pori-pori tanah saja.

Selama ini, setiap gubernur memberikan solusi agar limpahan air cepat tersalur ke Teluk Jakarta dengan pembangunan kanal hingga normalisasi atau naturalisasi lebar dan aliran sungai utama yang melalui Ibukota. Hampir semua tak dapat mengurangi secara drastis banjir di Ibukota, bahkan banjir awal 2020 menunjukkan wilayah terdampak kian luas, hingga tak berfungsinya bandara Halim Perdanakusuma.

Maka, perlu dibuat sistem penyerap cepat sesuai pertambahan volume limpahan air hujan dan sungai saat musim hujan ekstrem seperti awal 2020 dengan membuat survival dam di lokasi terdampak sesuai kondisi alam, prioritas fasilitas negara, dan data banjir selama ini.

Dam konvensional di permukaan tanah yang sudah ada di Jakarta saat ini, tak memberikan efek cukup besar kepada lokasi terdampak banjir, karena jauh dari daerah terdampak. Mahalnya pembebasan tanah untuk pembuatan dam dalam kota juga jadi kendala tersendiri.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA–Warga mengeluarkan sisa genangan air dari dalam rumah di Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (7/1/2020). Hampir sepekan terjadinya banjir, genangan di sekitar rumah belum juga surut.

Maka kita dapat memanfaatkan utilitas bawah tanah dengan membuat dam bawah tanah tepat di bawah lokasi terdampak banjir. Teknologi pembuatan dam-dam ini dapat memanfaatkan teknologi pembuatan MRT selama ini.

Dam bawah tanah dapat digunakan untuk menyerap genangan air di setiap musim secara cepat, sehingga permukaan tanah terhindar dari banjir dan kecelakaan air, misalnya pecahnya bantaran sungai. Air yang terkumpul dapat digunakan pula sebagai sumber air minum, dinas pertamanan di musim kemarau untuk menyiram jalan dan trotoar, bahkan suatu saat bisa dimanfaatkan untuk pertanian dalam kota (city farming), pabrik tanaman (plant factory) dan lainnya.

Dam bawah tanah dapat digunakan untuk menyerap genangan air di setiap musim secara cepat, sehingga permukaan tanah terhindar dari banjir dan kecelakaan air, misalnya pecahnya bantaran sungai.

Pengelolaan fasilitas dan utilitas bawah tanah jadi konsentrasi pemerintah saat ini. BIG juga mulai melakukan pemetaan utilitas bawah tanah, agar ke depan tak terjadi kecelakaan atas pengelolaan bawah tanah Ibukota dan wilayah lain di seluruh Indonesia. Pengelolaan banjir berikut limbah perumahan dan industri di dalam kota juga perlu dikelola secepatnya, agar efek negatif banjir tak merugikan fisik harta benda penduduk saja, tetapi juga kesehatan mereka.

Dam bawah tanah kota dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan banjir di kota besar lain yang berlangganan banjir dan terjadi penurunan tanah seperti Semarang, Surabaya, Bandung. Air banjir dapat jadi air berkat bila kita kelola dengan sentuhan pemikiran dan teknologi manusia Indonesia.

(Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Guru Besar dan Kepala Departemen Penginderaan Jarak Jauh, Chiba University, Jepang, Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE))

Sumber: Kompas, 14 Januari 2020

Share
x

Check Also

Asap dari Australia Mencapai Amerika, Indonesia Masih Aman

Asap kebakaran hutan di Australia telah menyeberangi Samudra Pasifik hingga mencapai Benua Amerika. Arah aliran ...