Kukis Coklat Jadi Makanan Pertama yang Dimasak di Luar Angkasa

- Editor

Rabu, 29 Januari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah berhasil berkebun di luar angkasa, antariksawan berhasil memasak kukis di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Kukis yang dimasak menggunakan oven khusus ini akan diawetkan untuk dipelajari lebih lanjut.

Pengetahuan manusia untuk bertahan hidup di luar angkasa bertambah. Kini, manusia tahu bagaimana cara memasak di luar angkasa. Pengetahuan ini diharapkan membantu manusia untuk melakukan perjalanan antariksa jangka panjang, termasuk ke Mars.

KOMPAS/NASA/SPACE.COM–Kukis bertabur butiran coklat menjadi makanan pertama yang dimasak di luar angkasa. Kukis ini dipanggang dengan panggangan khusus yang mampu bekerja dalam ruang dengan gravitasi mikro di Stasiuan Luar Angkasa Internasional (ISS).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kukis dengan taburan butiran coklat atau choco chip di atasnya menjadi makanan pertama yang berhasil dimasak menggunakan oven khusus di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Antariksawan yang memasak kukis tersebut adalah Luca Parmitano mewakili Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Christina H Koch dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA).

Pembuatan kukis itu berlangsung beberapa hari pada akhir Desember 2019, saat ISS mengorbit pada ketinggian sekitar 400 kilometer di atas Bumi. Sebanyak tiga kukis dari lima kukis yang dimasak dikirim ke Bumi menggunakan kantong tersegel menggunakan wahana kargo Dragon milik SpaceX. Kukis itu tiba di Bumi pada 7 Januari 2020.

Selanjutnya, kukis-kukis itu akan menjalani uji keselamatan makanan untuk memastikan kue-kue itu aman dimakan manusia. ”Kukis itu akan segera menjalani uji tambahan dari para ahli makanan profesional untuk menentukan hasil akhir dari percobaan tersebut,” kata seorang juru bicara DoubleTree, Hilton, perusahaan yang memasok adonan kukis kepada BBC, Jumat (24/1/2020).

Teknik pemanggangan
Selama percobaan, lima kukis dipanggang dengan waktu yang berbeda untuk menentukan suhu pemanggangan dan waktu memasak yang ideal. Di Bumi, pemanggangan kukis dari DoubleTree biasanya hanya membutuhkan 16-18 menit untuk dipanggang pada suhu 150 derajat celsius. Namun, di ruang gravitasi mikro seperti di ISS, pemanggangan kukis membutuhkan waktu lebih lama.

Kukis pertama dipanggang selama 25 menit dan hasilnya kue kurang matang hingga tidak mengeluarkan aroma layaknya hasil panggangan kukis di Bumi. Baru kukis kedua hingga kelima yang dimasak lebih lama mengeluarkan aroma wangi yang memenuhi ISS.

KOMPAS/TWITTER/CHRISTINA H KOCH–Antariksawan Badan Antariksa Eropa (ESA), Luca Parmitano, (kiri) serta antariksawati Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat, Christina H Koch (kanan), menunjukkan kukis bertabur butiran coklat hasil panggangan mereka yang menjadi makanan pertama yang dimasak di luar angkasa.

Dalam ruang dengan gravitasi mikro maupun tanpa gravitasi, seperti dikutip dari space.com, Jumat (24/1/2020), bebauan menyebar melalui gerak individual molekul aroma. Molekul aroma itu bergerak ke mana saja sesuai gerak molekul. Sementara di Bumi, molekul aroma itu bergerak ke segala arah karena bertabrakan secara acak dengan molekul udara.

Kukis kedua dipanggang selama 75 menit. Sementara kukis keempat dipanggang selama 120 menit dan didinginkan selama 25 menit serta kukis kelima dipanggang pada suhu 165 derajat celsius selama 130 menit dan didinginkan 10 menit. Kukis kelima adalah yang dianggap paling berhasil.

”Bahkan di Bumi sekalipun, menyempurnakan hasil panggangan membutuhkan waktu. Kami senang, sepertinya hasil panggangan kukis di ISS memiliki bentuk dan aroma yang sama dengan yang dipanggang di hotel kami,” tambah Shawn McAteer selaku Wakil Presiden Senior DoubleTree kepada space.com.

KOMPAS/NASA/SPACE.COM–Antariksawati Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), Christina H Koch, mengecek bahan kukis pertama yang akan dipanggang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Kukis bertabur butiran coklat itu menjadi makanan pertama yang dimasak di luar angkasa.

Meski aromanya sangat menggoda, antariksawan di ISS tidak diperkenankan untuk memakan langsung kukis tersebut. Selama di luar angkasa, antariksawan memakan makanan yang dibentuk dan dikemas khusus untuk dimakan di ISS dan dikirim dari Bumi.

Meski demikian, antariksawan tersebut sudah mendapat kiriman kukis bertabur butiran coklat hangat yang dikirimkan bersama oven khusus dan bahan pembuat kukis untuk percobaan menggunakan wahana kargo Cygnus dari Virginia, AS, pada 2 November 2019.

Oven khusus
Kukis-kukis itu dipanggang menggunakan oven khusus yang mampu bekerja di lingkungan dengan gravitasi mikro atau mendekati nol. Purwarupa oven itu dibuat oleh NanoRacks dan Zero G Kitchen.

Zero G Kitchen menggambarkan oven khusus itu sebagai wadah berbentuk tabung yang terisolasi dan didesain mampu menampung dan memanggang sampel makanan di ruang dengan gravitasi mikro. Pemanggang itu bekerja mirip dengan oven yang dikenal di Bumi, yaitu memanaskan makanan melalui elemen pemanas listrik.

”Kami sangat tertarik untuk memahami hasil panggangan yang diperoleh. Sementara kami memperoleh laporan dari para antariksawan di ISS soal tampilan dan aroma kukis yang dipanggang,” kata Mary Murphy, salah seorang manajer NanoRacks.

KOMPAS/NASA/SPACE.COM–Antariksawan dari Badan Antariksa Eropa, Luca Parmitano, memindahkan hasil panggangan kukis kedua dan memasukkan kukis ketiga dalam oven khusus yang mampu bekerja di ruang dengan gravitasi mikro.

Sementara pihak DoubleTree berencana untuk mengawetkan kukis tersebut hingga dapat dilihat oleh wisatawan atau dipelajari lebih lanjut. Setelah proses uji keamanan, satu kukis direncanakan untuk disimpan di Museum Udara dan Antariksa Nasional Smithsonian di Washington DC, AS.

Percobaan ini akan membantu menyiapkan eksplorasi antariksa jangka panjang yang lebih ramah bagi manusia. Makanan tak hanya berfungsi sebagai sumber energi antariksawan, tetapi juga bisa jadi penyemangat, peredam stres, hingga pelepas kerinduan akan kampung halaman di Bumi.

Semua itu akan menjadi bermakna saat eksplorasi ke Mars yang diperkirakan membutuhkan waktu 30 bulan berlangsung, yakni 9 bulan perjalanan berangkat, 12 bulan di Mars, dan 9 bulan perjalanan pulang. Dengan perjalanan sepanjang itu, kemampuan memasak di ruang gravitasi mikro akan sangat membantu antariksawan bertahan.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 28 Januari 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB