Home » Berita

Wisata Ekologi; Rumah Nyaman untuk Burung

18 April 2011 1,014 views No Comment

Burung-burung dara jalan berjingkat dan sebentar berhenti. Paruhnya kemudian sibuk menyibak rerumputan untuk mencari butir-butir biji yang bisa dimakan. Sayapnya pun enggan dikepakkan, sedangkan kakinya lebih sibuk melangkah ke mana paruh mengarah.

Seketika burung-burung itu berpaling saat seorang pria muda datang membawa sekantong biji jagung. Mereka langsung menyerbunya, seakan burung-burung itu mengenal betul bahwa pria tersebut menyediakan apa yang dicarinya.

Sebagian masih ada yang menggunakan kaki untuk berlari menyerbu kedatangan pria tersebut sambil berdesakan dengan sesamanya. Sebagian lagi ada yang terbang dan langsung menguasai tangan pria yang sedang menggenggam penuh biji jagung itu.

Tak ada kemewahan dari gerak-gerik burung-burung dara ini. Namun, sebagai pengalaman, menyaksikan tingkah burung-burung ini adalah sebuah kemewahan hidup di Jakarta yang semakin disesaki dengan kemacetan, kekhawatiran ancaman bom, hingga segala hal yang membuat kota ini seolah tidak lagi ramah bagi penghuni dan lingkungan.

Dia adalah Anjar, pria yang dikepung burung dara itu. Dengan sabar, remaja 18 tahun ini menuruti apa maunya burung itu. Dia biarkan kepalanya juga dihinggapi burung-burung yang kalap berusaha merebut biji jagung dari tangannya.

Anjar mengatakan, ada 100 pasang burung dara yang sudah beberapa bulan ini menjadi penghuni tetap Eco Park di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Burung-burung itu dirawat dan hidup bergerombol pada dua rumah burung dara yang didirikan di salah satu sudut Eco Park.

”Sesuai kehidupan alamiahnya, burung ini tidak ada yang hidup sendiri. Semuanya berpasangan,” katanya, Minggu (17/4).

Di lahan seluas 33,6 hektar bekas lapangan golf ini, burung dara itu tidak hidup sendiri. Pada sudut lain dari Eco Park itu, juga hidup sepuluh ekor menjangan, beberapa ekor monyet ekor panjang yang dibiarkan hidup liar, dan ribuan ikan yang hidup di alur sungai yang membelah sebagian taman itu.

Kalau beruntung, menurut Budi Darma, pengunjung dapat menyaksikan burung belibis yang datang menghinggapi alur sungai di taman itu untuk menangkap ikan. ”Saya sempat menyaksikannya sekali. Burung itu datang menangkap ikan,” kata Budi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Taman Impian Jaya Ancol.

Rupanya ikan-ikan yang hidup di alur sungai itu memang sengaja dipelihara. Ikan itu dipelihara untuk dijadikan daya tarik agar burung dari berbagai penjuru berdatangan ke Eco Park.

Upaya lain adalah tinggal memperbanyak pepohonan sebagai tempat bertengger burung liar itu. Pohon yang bisa ditanam, di antaranya eboni, jinjing, dan trembesi. Setidaknya ada 6.000 pohon lagi yang harus ditanami.

Saat ini sudah ada 4.000 pohon yang ditanam di Eco Park, ditambah lagi dengan 2.000 pohon yang sudah tumbuh lebih dahulu semasa taman itu masih menjadi lapangan golf.

Tempat hinggap

Pantai Ancol selama ini menjadi salah satu tempat favorit untuk hinggap burung yang sedang bermigrasi dibandingkan pesisir lain di Jakarta. Burung trinil pantai, misalnya, kerap dijumpai di Pantai Ancol.

Koordinator Jakarta Birdwatcher’s Society Ady Kristanto mengatakan, setidaknya ada 34 jenis kawanan burung dari benua Asia dan Australia yang silih berganti hinggap di Pantai Ancol. Selain itu, 86 jenis kawanan burung lain yang juga berasal dari kedua benua itu banyak dijumpai hinggap di kawasan Monas dan Ragunan.

Jumlah jenis burung yang sering hinggap di Ancol ini, menurut Ady, sudah banyak berkurang dibandingkan 60 tahun lalu. Berdasarkan data yang dihimpun naturalis Belanda, setidaknya ada 256 jenis kawanan burung hinggap di Jakarta hingga tahun 1945, tetapi sekarang hanya tinggal 120 jenis.

Itu sebabnya, menurut Ady, pemerintah harus mendorong pihak swasta mengembangkan ruang terbuka hijau (RTH). Saat ini, RTH di Jakarta semakin sempit. Jumlah RTH tinggal 10,75 persen dari luas Jakarta. Padahal, sesuai rencana tata ruang wilayah, 30 persen wilayah Jakarta harus dijadikan RTH.

Direktur Institut Indonesia Hijau Slamet Daroyni mengatakan, pemerintah perlu melakukan intervensi terhadap upaya pemulihan lingkungan kawasan pesisir Jakarta. Pasalnya, kawasan itu sekarang semakin dipadati permukiman yang bisa mengganggu keseimbangan lingkungan pesisir Jakarta.

Saat ini dari 2.700 hektar hutan mangrove yang rusak di pesisir Jakarta, baru 400 hektar yang dihijaukan.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menganggap, penghijauan mangrove itu sudah cukup baik. (MDN)

———–

Kicau Burung dan Danau di Kampus UI

Lingkungan Kampus Universitas Indonesia, Depok, yang asri tidak hanya bisa dinikmati mahasiswa UI. Tidak sedikit masyarakat sekitar yang juga memanfaatkan keteduhan di lingkungan kampus ini untuk berolahraga ataupun sekadar bersantai bersama keluarga.

Ketika memasuki areal Kampus UI, Minggu (17/4) pagi, embusan udara sejuk hutan kota langsung terasa di wajah. Luas Kampus UI, Depok, yang mencapai 318 hektar, ditambah keberadaan enam danau yang berfungsi sebagai areal cadangan dan resapan air di lingkungan kampus, menjadikan Kampus UI terasa amat dekat dengan alam.

Nama keenam danau itu adalah Kenanga, Aghati, Mahoni, Puspa, Ulin, dan Salam. Danau Kenanga yang terletak di antara Gedung Rektorat Balairung dan Masjid UI ini dibangun tahun 1992 dengan luas 28.000 meter persegi.

Danau Aghati terhampar di antara Fakultas MIPA dan Politeknik Negeri Jakarta. Danau ini dibangun tahun 1995 dengan luas 20.000 meter persegi.

Danau Mahoni berada di sebelah utara dan selatan kampus, berbatasan dengan jalan utama lingkar selatan, atau sebelah timur Fakultas Ilmu Budaya dan di sebelah barat Fakultas Ekonomi. Danau ini dibangun tahun 1996 dengan luas 45.000 meter persegi.

Danau Puspa yang terletak di antara Danau Ulin dan Danau Mahoni dibangun tahun 1995 dengan luas 20.000 meter persegi.

Danau Ulin dibangun tahun 1998 dengan luas 72.000 meter persegi. Posisi danau ini di antara Danau Puspa dan Danau Salam.

Danau Salam sejajar aliran air dari selatan ke utara, sebagai bagian rangkaian Danau Ulin dan Danau Puspa. Danau seluas 42.000 meter persegi ini dibangun tahun 1998.

Kerindangan kampus semakin lengkap dengan kicau burung yang kerap terdengar di sekitar gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa ataupun di sekitar Perpustakaan Pusat UI. Suasana ini membuat jalan-jalan bersama anggota keluarga semakin menyenangkan dan bisa menjadi oase bagi warga kota.

Menurut Rektor UI Prof Gumilar R Somantri, kawasan hutan kota yang dikelola UI mencirikan ekosistem hutan tropis dengan tiga bentuk ekosistem unggulan, yaitu ekosistem pepohonan yang bersumber dari Indonesia bagian timur, ekosistem pepohonan wilayah Indonesia bagian barat, dan kompleks vegetasi asli Jabodetabek yang dipadu serasi dengan zoning hutan jati emas yang tumbuh hijau menghampar di antara Gedung Rektorat UI dan Fakultas Ilmu Komputer serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Kijang

Di Indonesia, mungkin hanya Kampus UI yang memiliki konservasi kijang. Kijang dilepas di dalam kandang yang luas di hutan rindang di depan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Keberadaan kijang-kijang ini juga menjadi daya tarik tersendiri yang membuat anggota keluarga betah berlama-lama memandangi polah sang kijang.

Selain kijang, penggemar sepeda juga dimanjakan dengan trek sepeda. Trek sepeda yang dibangun mengelilingi Kampus UI ini juga dilengkapi dengan sepeda yang bisa dipinjam oleh mahasiswa.

”Bersepeda itu tidak menambah polusi. Badan sehat. Masyarakat juga tidak malu lagi bersepeda karena sudah menjadi gaya hidup warga kota,” ujar Gumilar. (MAM)

Sumber: Kompas, 18 April 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.