Home » Berita

Universitas Pertahanan, Ajarkan Ilmu Militer, Terbuka untuk Sipil

27 June 2010 1,595 views No Comment

Ada Kuliah Terorisme dan Gerakan Bawah Tanah

Belum banyak yang tahu bahwa Indonesia memiliki universitas yang khusus berkonsentrasi dalam studi pertahanan. Selain menerima para perwira militer, Universitas Pertahanan (Unhan) memberikan kesempatan kepada warga sipil untuk menimba ilmu di sana. Gratis.

SOFYAN HENDRA F., Jakarta

GEDUNG seluas tak lebih dari dua lapangan futsal itu baru selesai dibangun. Bau cat masih menusuk hidung. Karena masih baru, belum banyak perabot yang melengkapi gedung tersebut. Ruang lobi masih kosong. Nama ruang juga belum dibuat permanen. Ruang ”Sekretaris”, ”Wakil Rektor I”, dan ruang pejabat lain dicetak dalam kertas putih dan dilekatkan di pintu.

”Iya, gedung ini memang masih baru,” kata Prof Dr Susanto Zuhdi, pelaksana tugas (Plt) sekretaris Unhan, yang menemani Jawa Pos berkeliling kampus tersebut pekan lalu.

Gedung baru itu adalah ruang rektorat yang berdiri pada Maret 2009. Di sampingnya sedang dibangun gedung perkuliahan dua lantai. Belasan pekerja masih sibuk menaikkan atap.

Kampus Unhan dibangun di kompleks pendidikan dan latihan Kementerian Pertahanan (Kemhan). Letaknya di Jalan Salemba Raya, bersebelahan dengan deretan kampus Universitas Indonesia dan Universitas YAI. Selama gedung milik sendiri belum dibangun, kegiatan perkuliahan sehari-hari menumpang di gedung Diklat Kemhan, di belakang kampus Unhan.

”Semua ini dalam proses melengkapi atau memenuhi kebutuhan standar. Lagi dikerjakan terus ini,” kata Susanto yang hingga kini masih aktif sebagai guru besar ilmu sejarah di Universitas Indonesia tersebut.

Saat Jawa Pos berkunjung sore itu, tidak ada aktivitas perkuliahan. ”Sedang program lapangan,” katanya.

Berbeda dengan kampus pada umumnya, Unhan hanya membuka program studi S-2. Kuliah juga cukup ditempuh dalam waktu sebelas bulan. ”Model pembelajaran dan metodenya yang membuat proses kuliah cepat itu bisa dilakukan. Tapi, nilainya tetap setara dengan SKS (sistem kredit semester) yang ditetapkan Ditjen Dikti,” kata Susanto. ”Lulusannya berhak menyandang gelar Magister Pertahanan,” tambahnya.

Ada dua ”sekolah” atau fakultas di Unhan. Yakni, Sekolah Strategi Perang Semesta (SSPS) dengan Program Studi Perang dan Sekolah Kajian Pertahanan Strategis (SKPS) dengan Program Studi Manajemen Pertahanan. Saat ini mahasiswa untuk masing-masing sekolah itu sekitar 40 orang.

Yang juga menarik adalah persyaratan menjadi mahasiswa di Unhan. Misalnya, di SSPS, para mahasiswa dari kalangan militer harus berpangkat kolonel ke atas dan dinominasikan oleh masing-masing angkatannya. Sedangkan calon mahasiswa dari kalangan sipil harus telah mencapai level profesional dan senior di departemen, organisasi, atau lembaga yang setara dengan calon-calon dari militer.

Calon dari sipil juga harus berada pada jalur menuju tingkat eksekutif.

Menurut Susanto, saat ini mahasiswa SSPS kebanyakan dari kalangan militer. ”Untuk SSPS, memang banyak dari perwira militer yang akan ditempatkan di pos-pos strategis,” katanya.

Untuk SKPS mulai diminati kalangan sipil. Ada 13 mahasiswa sipil di antara 39 mahasiswa. Mereka berasal dari LSM, PNS (pegawai negeri sipil) , hingga wartawan. ”Ada juga yang lepas (belum bekerja, Red) sama sekali,” kata Susanto.

Persyaratan mahasiswa untuk SKPS memang lebih longgar. Mereka dari kalangan militer cukup berpangkat kapten atau mayor, namun harus dinominasikan oleh angkatan masing-masing. Sedangkan untuk sipil, syaratnya cukup lulus S-1.

Namun, saringan masuk Unhan tidaklah ringan. Semua calon harus melalui seleksi ketat. Misalnya, tes TOEFL dengan skor minimal 550. Juga tes potensi akademik dan serangkaian wawancara. IPK minimal saat lulus S-1 adalah 3,0.

Yang jelas, jika lulus tes, seluruh mahasiswa tidak perlu mengeluarkan ongkos pendidikan alias gratis. ”Semua mahasiswa mendapat beasiswa asal lulus tes masuk,” kata Susanto.

Lalu, materi apa saja yang diajarkan di Unhan? Mata kuliah di Unhan mencoba menggabungkan pendekatan sosial dalam strategi-strategi militer. Pendekatan tersebut sulit ditemukan dalam pendidikan militer yang sudah ada. Apalagi, kata Susanto, perang tidak lagi bersifat konvensional yang berupa agresi dari pihak luar. Dengan demikian, di Unhan juga diajarkan kajian-kajian mengenai terorisme dan kontraterorisme.

”Juga ada mata kuliah gerakan bawah tanah dan radikalisme,” kata Susanto.

Dia lalu menceritakan mahasiswanya yang dibimbing dengan tesis mengenai bagaimana mendeteksi dan mencekal gerakan-gerakan radikalisme di sebuah Kodim. Pelajaran semacam itu tak pernah diajarkan secara mendalam di pendidikan militer biasa. ”Di sini mahasiswa dibekali ilmu pertahanan dengan pendekatan ilmu sosial,” katanya.

Selain itu, ada kajian wilayah. Misalnya, bagaimana strategi pertahanan di sebuah wilayah dilihat dari logistik dan geografinya. Posisi Indonesia sebagai negara maritim terbesar juga menjadi fokus kajian. ”Ini tentang bagaimana kedaulatan suatu bangsa bisa dijaga,” jelasnya.

Unhan juga terus mengembangkan bidang keilmuan yang diajarkan. Pada tahun ajaran baru nanti dibuka dua program studi baru. Yakni, ekonomi pertahanan dan manajemen bencana. Kajian ekonomi pertahanan dibutuhkan karena di masa kini dan mendatang, perang tak hanya memperebutkan wilayah geografis. Perang lebih fokus pada upaya memperebutkan tiga sumber daya yang makin terbatas atau FEW: food, energy, and water. Blokade ekonomi juga menjadi cara lebih ampuh dibanding serangan bersenjata.

Program studi manajemen bencana dinilai amat relevan dengan kondisi Indonesia yang rawan musibah. ”Ke depan musuh bukan hanya ketika koloni datang. Tapi, ketika lingkungan kita menghadapi bencana, yang diturunkan adalah kekuatan militer yang melakukan tugas-tugas penyelamatan,” katanya.

Susanto menambahkan, mata ajaran di Unhan bersifat multidisiplin. Yakni, mulai ilmu budaya, sejarah, ekonomi, hingga teknik persenjataan. Namun, karena masih baru, belum banyak dosen tetap di Unhan. Saat ini dosen tetap masih bisa dihitung dengan jari tangan. ”Terus terang, memang masih banyak yang outsourcing. Tapi, kami terus melengkapinya,” kata Susanto.

Ide berdirinya Unhan berawal dari salah satu program kursus di Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad). Ceritanya, pada 2006 Jenderal TNI Djoko Santoso, saat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), menugasi Komandan Seskoad kala itu, Mayjen TNI Syarifudin Tippe, untuk membuat Kursus Strategi Perang Semesta di Seskoad.

Kursus inilah yang menjadi cikal bakal ide berdirinya perguruan tinggi yang menekuni studi pertahanan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut dan mendukung pendirian Unhan. Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu I Prof Juwono Sudarsono termasuk salah seorang tokoh yang membidani lahirnya Unhan pada 2009.

Meski masih seumur jagung, Unhan sudah banyak bekerja sama dengan universitas di luar negeri. Antara lain, Cranfield University, National Defense University (Amerika Serikat), Rajaratman School of International Studies (Singapura), dan sejumlah universitas di Australia dan Jerman. Kerja sama dan bantuan dilakukan berupa pengiriman tenaga pengajar, kurikulum, beasiswa, serta studi banding.

”Modul kami banyak berasal dari Cranfield,” kata Susanto.

Selain beasiswa, studi banding mahasiswa dilakukan di luar negeri. ”Tahun ini ke Amerika Serikat dan Australia,” tutur Susanto.

Susanto berharap makin banyak mahasiswa dari kalangan sipil yang kuliah di Unhan. ”Sebab, ke depan makin banyak komponen yang harus dilibatkan dalam pertahanan.” (*/c2/ari)

Sumber: Jawa Pos, 28 Juni 2010

Minggu, 27 Juni 2010 ]

Universitas Pertahanan, Ajarkan Ilmu Militer, Terbuka untuk Sipil

Ada Kuliah Terorisme dan Gerakan Bawah Tanah

Belum banyak yang tahu bahwa Indonesia memiliki universitas yang khusus berkonsentrasi dalam studi pertahanan. Selain menerima para perwira militer, Universitas Pertahanan (Unhan) memberikan kesempatan kepada warga sipil untuk menimba ilmu di sana. Gratis.

SOFYAN HENDRA F., Jakarta

GEDUNG seluas tak lebih dari dua lapangan futsal itu baru selesai dibangun. Bau cat masih menusuk hidung. Karena masih baru, belum banyak perabot yang melengkapi gedung tersebut. Ruang lobi masih kosong. Nama ruang juga belum dibuat permanen. Ruang ”Sekretaris”, ”Wakil Rektor I”, dan ruang pejabat lain dicetak dalam kertas putih dan dilekatkan di pintu.

”Iya, gedung ini memang masih baru,” kata Prof Dr Susanto Zuhdi, pelaksana tugas (Plt) sekretaris Unhan, yang menemani Jawa Pos berkeliling kampus tersebut pekan lalu.

Gedung baru itu adalah ruang rektorat yang berdiri pada Maret 2009. Di sampingnya sedang dibangun gedung perkuliahan dua lantai. Belasan pekerja masih sibuk menaikkan atap.

Kampus Unhan dibangun di kompleks pendidikan dan latihan Kementerian Pertahanan (Kemhan). Letaknya di Jalan Salemba Raya, bersebelahan dengan deretan kampus Universitas Indonesia dan Universitas YAI. Selama gedung milik sendiri belum dibangun, kegiatan perkuliahan sehari-hari menumpang di gedung Diklat Kemhan, di belakang kampus Unhan.

”Semua ini dalam proses melengkapi atau memenuhi kebutuhan standar. Lagi dikerjakan terus ini,” kata Susanto yang hingga kini masih aktif sebagai guru besar ilmu sejarah di Universitas Indonesia tersebut.

Saat Jawa Pos berkunjung sore itu, tidak ada aktivitas perkuliahan. ”Sedang program lapangan,” katanya.

Berbeda dengan kampus pada umumnya, Unhan hanya membuka program studi S-2. Kuliah juga cukup ditempuh dalam waktu sebelas bulan. ”Model pembelajaran dan metodenya yang membuat proses kuliah cepat itu bisa dilakukan. Tapi, nilainya tetap setara dengan SKS (sistem kredit semester) yang ditetapkan Ditjen Dikti,” kata Susanto. ”Lulusannya berhak menyandang gelar Magister Pertahanan,” tambahnya.

Ada dua ”sekolah” atau fakultas di Unhan. Yakni, Sekolah Strategi Perang Semesta (SSPS) dengan Program Studi Perang dan Sekolah Kajian Pertahanan Strategis (SKPS) dengan Program Studi Manajemen Pertahanan. Saat ini mahasiswa untuk masing-masing sekolah itu sekitar 40 orang.

Yang juga menarik adalah persyaratan menjadi mahasiswa di Unhan. Misalnya, di SSPS, para mahasiswa dari kalangan militer harus berpangkat kolonel ke atas dan dinominasikan oleh masing-masing angkatannya. Sedangkan calon mahasiswa dari kalangan sipil harus telah mencapai level profesional dan senior di departemen, organisasi, atau lembaga yang setara dengan calon-calon dari militer.

Calon dari sipil juga harus berada pada jalur menuju tingkat eksekutif.

Menurut Susanto, saat ini mahasiswa SSPS kebanyakan dari kalangan militer. ”Untuk SSPS, memang banyak dari perwira militer yang akan ditempatkan di pos-pos strategis,” katanya.

Untuk SKPS mulai diminati kalangan sipil. Ada 13 mahasiswa sipil di antara 39 mahasiswa. Mereka berasal dari LSM, PNS (pegawai negeri sipil) , hingga wartawan. ”Ada juga yang lepas (belum bekerja, Red) sama sekali,” kata Susanto.

Persyaratan mahasiswa untuk SKPS memang lebih longgar. Mereka dari kalangan militer cukup berpangkat kapten atau mayor, namun harus dinominasikan oleh angkatan masing-masing. Sedangkan untuk sipil, syaratnya cukup lulus S-1.

Namun, saringan masuk Unhan tidaklah ringan. Semua calon harus melalui seleksi ketat. Misalnya, tes TOEFL dengan skor minimal 550. Juga tes potensi akademik dan serangkaian wawancara. IPK minimal saat lulus S-1 adalah 3,0.

Yang jelas, jika lulus tes, seluruh mahasiswa tidak perlu mengeluarkan ongkos pendidikan alias gratis. ”Semua mahasiswa mendapat beasiswa asal lulus tes masuk,” kata Susanto.

Lalu, materi apa saja yang diajarkan di Unhan? Mata kuliah di Unhan mencoba menggabungkan pendekatan sosial dalam strategi-strategi militer. Pendekatan tersebut sulit ditemukan dalam pendidikan militer yang sudah ada. Apalagi, kata Susanto, perang tidak lagi bersifat konvensional yang berupa agresi dari pihak luar. Dengan demikian, di Unhan juga diajarkan kajian-kajian mengenai terorisme dan kontraterorisme.

”Juga ada mata kuliah gerakan bawah tanah dan radikalisme,” kata Susanto.

Dia lalu menceritakan mahasiswanya yang dibimbing dengan tesis mengenai bagaimana mendeteksi dan mencekal gerakan-gerakan radikalisme di sebuah Kodim. Pelajaran semacam itu tak pernah diajarkan secara mendalam di pendidikan militer biasa. ”Di sini mahasiswa dibekali ilmu pertahanan dengan pendekatan ilmu sosial,” katanya.

Selain itu, ada kajian wilayah. Misalnya, bagaimana strategi pertahanan di sebuah wilayah dilihat dari logistik dan geografinya. Posisi Indonesia sebagai negara maritim terbesar juga menjadi fokus kajian. ”Ini tentang bagaimana kedaulatan suatu bangsa bisa dijaga,” jelasnya.

Unhan juga terus mengembangkan bidang keilmuan yang diajarkan. Pada tahun ajaran baru nanti dibuka dua program studi baru. Yakni, ekonomi pertahanan dan manajemen bencana. Kajian ekonomi pertahanan dibutuhkan karena di masa kini dan mendatang, perang tak hanya memperebutkan wilayah geografis. Perang lebih fokus pada upaya memperebutkan tiga sumber daya yang makin terbatas atau FEW: food, energy, and water. Blokade ekonomi juga menjadi cara lebih ampuh dibanding serangan bersenjata.

Program studi manajemen bencana dinilai amat relevan dengan kondisi Indonesia yang rawan musibah. ”Ke depan musuh bukan hanya ketika koloni datang. Tapi, ketika lingkungan kita menghadapi bencana, yang diturunkan adalah kekuatan militer yang melakukan tugas-tugas penyelamatan,” katanya.

Susanto menambahkan, mata ajaran di Unhan bersifat multidisiplin. Yakni, mulai ilmu budaya, sejarah, ekonomi, hingga teknik persenjataan. Namun, karena masih baru, belum banyak dosen tetap di Unhan. Saat ini dosen tetap masih bisa dihitung dengan jari tangan. ”Terus terang, memang masih banyak yang outsourcing. Tapi, kami terus melengkapinya,” kata Susanto.

Ide berdirinya Unhan berawal dari salah satu program kursus di Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad). Ceritanya, pada 2006 Jenderal TNI Djoko Santoso, saat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), menugasi Komandan Seskoad kala itu, Mayjen TNI Syarifudin Tippe, untuk membuat Kursus Strategi Perang Semesta di Seskoad.

Kursus inilah yang menjadi cikal bakal ide berdirinya perguruan tinggi yang menekuni studi pertahanan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut dan mendukung pendirian Unhan. Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Bersatu I Prof Juwono Sudarsono termasuk salah seorang tokoh yang membidani lahirnya Unhan pada 2009.

Meski masih seumur jagung, Unhan sudah banyak bekerja sama dengan universitas di luar negeri. Antara lain, Cranfield University, National Defense University (Amerika Serikat), Rajaratman School of International Studies (Singapura), dan sejumlah universitas di Australia dan Jerman. Kerja sama dan bantuan dilakukan berupa pengiriman tenaga pengajar, kurikulum, beasiswa, serta studi banding.

”Modul kami banyak berasal dari Cranfield,” kata Susanto.

Selain beasiswa, studi banding mahasiswa dilakukan di luar negeri. ”Tahun ini ke Amerika Serikat dan Australia,” tutur Susanto.

Susanto berharap makin banyak mahasiswa dari kalangan sipil yang kuliah di Unhan. ”Sebab, ke depan makin banyak komponen yang harus dilibatkan dalam pertahanan.” (*/c2/ari)

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.