Home » Sejarah Universitas

Unhas, Panggung Indonesia Timur

23 August 2001 1,218 views No Comment

DALAM pertemuan antara pimpinan Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan alumni dan sivitas akademika Unhas belum lama ini, Ketua Ikatan Alumni (Ika) Unhas Jusuf Kalla secara terbuka mengatakan, pimpinan Unhas jangan pernah terjebak dalam alam pikiran pabrik, yakni sebagai produsen massal sarjana. Perguruan tinggi ini seyogianya tidak perlu menerima terlampau banyak mahasiswa dan tidak pula mudah meluluskan mahasiswa.

Saran yang sama diutarakan sejumlah orang Unhas lainnya, di antaranya mantan Rektor (1972-1983) Prof Achmad Amiruddin Pabittei serta beberapa dosen Unhas, Dr Hamid Awaludin, Dr A Muis, Dr Andi Alifian Mallarangeng, dan Dr Laica Marzuki.

Soal kualitas universitas memang menjadi masalah pokok di Unhas kini. Sebagai universitas terbesar di Indonesia Timur, Unhas memang tampak tambun. Jumlah mahasiswa kini mencapai 28.600 orang dan mahasiswa pascasarjana 1.100 orang. Jumlah fakultas 12 buah, di antaranya fakultas kedokteran, kedokteran gigi, ekonomi, hukum, teknik, sospol, sastra, pertanian, MIPA, ilmu kelautan dan perikanan, serta kesehatan masyarakat. Ditambah satu program pascasarjana strata dua dan strata tiga.

Pokok soal lain yang cukup menggelisahkan ialah rendahnya mutu lulusan sekolah menengah umum di Sulawesi Selatan (Sulsel) (peringkat 20-an di Indonesia) dan sejumlah provinsi di Indonesia Timur. Buruknya mutu tersebut tampak ketika mereka sudah masuk Unhas. Para dosen kerap terpaksa memberi kuliah tambahan atau standardisasi mutu lebih dulu kepada para mahasiswa baru sebelum masuk ke kuliah pokok.

“Kalau memenuhi permintaan untuk menerapkan standar tinggi, maka tidak banyak orang Sulsel atau Indonesia Timur yang bisa masuk Unhas dan memperoleh pendidikan tinggi. Ini soal dilematis yang acap sangat memasygulkan kami,” tutur Rektor Unhas Prof Dr Ir Radi A Gany ketika dihubungi hari Sabtu (18/8).

cropped-unhas2Oleh karena itu, tambah Radi, Unhas akhirnya memilih formula yang banyak dilakukan perguruan tinggi di negara-negara maju, yakni meminta para guru besar, doktor, dan master “turun” mengajar para mahasiswa semester satu, dua, dan tiga. Cara ini diharapkan efektif, apalagi mengingat Unhas memiliki 110 profesor, lebih dari 400 doktor, dan 1.700 master.

Formula lain yang dikedepankan Unhas, menurut Radi, ialah menggugah alumni Unhas yang sudah meraih sukses di luar Kota Makassar untuk datang memberi pelajaran khusus kepada para mahasiswa. Adapun para dosen Unhas yang dipercaya pemerintah/perusahaan swasta menduduki pos penting di luar Makassar tetap memenuhi kewajibannya datang ke Makassar untuk mengajar.

Ajakan Radi Gany ini memperoleh sambutan hangat. Para dosen Unhas yang memegang jabatan penting di Jakarta dengan sukarela, rutin, dan biaya sendiri pulang ke Unhas mengajar. Mereka, sekadar menyebut contoh, di antaranya adalah Prof Dr Basri Hasanuddin (mantan Menko Kesra), Dr Laica Marzuki (hakim agung), Dr Hamid Awaludin (anggota Komisi Pemilihan Umum), Dr S Sinansari ecip (pakar komunikasi), Dr Andi Alifian Mallarangeng, dan Dr Sudirman Saad. Semasa hidupnya, mantan Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung almarhum Prof Baharuddin Lopa juga rutin menyempatkan diri mengajar di Unhas.
***
APAKAH dengan formula tersebut, masalah pokok Unhas sudah selesai? Atau apakah dengan tema besar soal mutu itu Unhas akan sejajar dengan perguruan tinggi sekelas UI, Gama, atau ITB? Rektor Unhas Radi Gany menyatakan, soal apakah Unhas sudah sejajar atau tidak dengan perguruan tinggi elite di Pulau Jawa, hal itu sangat relatif, tergantung hendak melihatnya dari mana. “Dalam pandangan saya, Unhas mempunyai misi lain, yakni sebagai sentra pengembangan sumber daya manusia di Indonesia Timur, pusat kajian pelbagai disiplin ilmu. Beberapa negara sahabat menjadikan Unhas sebagai benchmark beberapa penelitian dan berbagai riset unggulan,” tutur Radi.

Dr Hamid Awaludin berpendapat, apa yang dilakukan pimpinan Unhas memang ideal. Akan tetapi, ke depan, Unhas masih perlu membuktikan formula tersebut. Sementara itu, beberapa masalah krusial lain sudah mendesak untuk segera diselesaikan.

“Banyak dosen Unhas yang pulang dari sekolah S2 dan S3 di luar negeri datang dengan harapan memperoleh jabatan struktural. Padahal, mereka tidak perlu berharap demikian. Sebab, apabila mereka datang dengan ilmu, jabatan yang datang mencarinya,” katanya. Soal lain, tutur Hamid, sejumlah dosen setelah menyelesaikan program doktor atau master mengira tugasnya sudah selesai. Padahal, apa yang mereka raih baru merupakan sesuatu yang sangat permulaan. Pergulatan berikutnya ialah membuktikan “kelas”, menulis buku berbobot yang dibaca banyak khalayak, atau membuat riset yang mencengangkan para ilmuwan.

Hamid juga mengajak pimpinan lembaga kemahasiswaan Unhas tidak cepat merasa besar. “Saya melihat, banyak lembaga kemahasiswaan Unhas tidak lebih sebagai lembaga basic training dengan fokus politik praktis. Kalau sebagian di antara mereka berbicara di panggung, maka yang berisi hanya lima atau sepuluh menit pertama, selebihnya permainan kata-kata saja,” keluhnya.

Tugas Unhas sebagai benchmark dan panggung Indonesia Timur masih banyak dan berat. Perlu lebih banyak lagi terobosan besar di bidang keilmuan dan kualitas lulusan untuk membuktikan kelas Unhas. Perguruan tinggi ini pun perlu lebih banyak berkarya guna memberi warna bagi Indonesia Timur, yang dalam begitu banyak hal tertinggal dari Indonesia Barat, terutama Pulau Jawa. (Abun Sanda)

Kompas, Kamis, 23 Agustus 2001

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.