Home » Artikel

Teknologi dan Sportivitas dalam Sepak Bola

27 September 2011 770 views No Comment

TEKNOLOGI telah merambah segenap sendi kehidupan. Termasuk bidang olahraga paling populer, sepak bola. Berkat teknologi, pada saat yang bersamaan, sepak bola yang digelar di belahan bumi Eropa dapat dilihat langsung masyarakat Indonesia. Berkat perkembangan dan kemajuan teknologi pula, sepak bola dapat ditonton lebih jelas dan nikmat.

Teknologi mampu memvisualiasi gambar bergerak dengan sejelas-jelasnya. Pemirsa yang menonton televisi di rumah serasa hadir di dalam stadion, tempat pertandingan berlangsung.

Namun teknologi belum mendapat ‘izin’ berada di tengah-tengah lapangan hijau saat para pemain mengadu skill. Hal ini terbukti dengan penolakan penggunaan video sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan di tengah lapangan oleh FIFA, organisasi sepak bola terbesar di dunia.

Kontroversi dan perdebatan penggunaan teknologi dalam sepak bola muncul akibat seringnya wasit mengambil keputusan yang tidak tepat. Seperti mengesahkan gol yang diawali pelanggaran, atau juga tidak mengesahkan gol, padahal bola sudah melewati garis gawang. Sebagai contoh, kasus handsball yang dilakukan pemain Prancis Thierry Henry saat pertandingan play off memerebutkan satu tiket untuk Final World Cup 2010 di Afrika Selatan. Juga keputusan wasit asal Uruguay, Jorge Lari Rionda, untuk tidak mengesahkan gol Frank Lampard kala Timnas Inggris berjumpa  Timnas Jerman, tembakan gelandang Chelsea itu telah melewati garis gawang Jerman setelah membentur mistar gawang. Jerman menang 4-1 pada babak perdelapan final World Cup 2010 itu.

Kemenangan Argentina 3-1 atas Meksiko pada pergelaran yang sama juga kontroversial, gol penyerang Manchester City, Carlos Tevez, disahkan meskipun ia dalam posisi offside saat ia menyundul bola dari umpan Lionel Messi.

Penuh Keluwesan

Juara Wimbledon, Roger Federer, menyatakan sudah tiba saatnya sepak bola mengikuti jejak tenis dan menggunakan teknologi untuk mencegah terulangnya skandal gol yang terjadi di Piala Dunia. Federer adalah penggemar berat sepak bola, dan terkejut melihat dua pertandingan babak kedua di Piala Dunia yang diwarnai oleh kesalahan jelas oleh para petugas pertandingan.

Di tenis, para pemain diberi tiga kesempatan setiap set untuk menggunakan teknologi tayangan ulang ‘Hawk Eye’ guna menentukan apakah bola itu di dalam atau di luar garis. Federer juga yakin tidak ada alasan mengapa FIFA, badan sepak bola dunia, tidak melakukan gagasan serupa.

Usulan lain muncul berupa sistem Cairos, dengan menggunakan chip yang dimasukkan dalam bola. Usulan ini cukup canggih namun agak riskan bila dipakai dalam sepak bola, dan juga operasionalisasinya agak rumit.

Memang teknologi, misalnya kamera, bisa melihat semuanya yang berlangsung di lapangan hijau, sedang wasit hanya memiliki sepasang mata. Setiap saat wasit bisa membuat kesalahan (human error), sedang kamera-kamera mampu merekam kesalahan tadi.

Tetapi, tak semua orang setuju dengan penggunaan berbagai macam teknologi untuk membantu memudahkan pengambilan keputusan. Sepak bola adalah sesuatu yang dimainkan dengan penuh keluwesan. Jadi, memasukkan chip ke dalam bola, untuk melihat apakah bola itu sudah masuk gawang atau belum seolah menghilangkan keluwesan dari sepak bola itu sendiri. Jika menggunakan teknologi garis gawang, maka membutuhkan video rekaman ulang. Lalu, setiap keputusan untuk melakukan throw-in (lemparan bola ke dalam lapangan) pun juga harus diperhatikan. Ini akan mengubah permainan yang selama ini sudah di kenal.

Eric Tinkler, seorang mantan kapten tim nasional Bafana-Bafana (Afrika Selatan), menentang diperkenalkannya teknologi. Menurutnya, sepak bola adalah suatu pertandingan yang terus mengalir, dan dia mengira pengenalan teknologi itu tidak masuk akal. Namun, ia mengatakan, FIFA mestinya menggunakan dua wasit tambahan untuk mencegah kesalahan-kesalahan. Sistem ini sudah dicoba di pertandingan Liga Europa. Sementara Presiden Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Michel Platini, berpendapat teknologi garis gol akan melahirkan ”sepak bola playstation”.

FIFA selama ini mendapat tekanan yang semakin meningkat untuk menggunakan beberapa bentuk teknologi guna menghapus semacam kesalahan yang secara reguler ditonjolkan dalam tayangan ulang televisi dari berbagai sudut. Bila penggunaan teknologi dimulai dengan garis gawang, sangat mungkin di kemudian hari di setiap bagian lapangan akan menjadi ruangan potensial di mana video akan digunakan. Padahal semua insan sepak bola berusaha menghindari banyak hal yang menghentikan pertandingan.

Video tidak bisa diterapkan saat pertandingan berlangsung, meski itu demi tujuan menciptakan sportivitas dan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Kegagahan menerima keputusan wasit juga merupakan bagian dari pembelajaran nilai sportivitas bagi semua komponen yang terlibat dalam sepak bola. Teknologi video kamera lebih berperan memberi masukan dalam mengevaluasi suatu pertandingan, baik bagi wasit maupun pemain. Karena ia dapat memvisualisasi ulang hal yang tidak bisa diungkapkan manusia. Ini demi menciptakan penyelenggaraan pertandingan yang lebih berkualitas dan sportif.

Di sini peran sesungguhnya teknologi video kamera. Dan teknologi tidak sepenuhnya ditolak dalam lapangan hijau.

Unsur manusia dalam pertandingan sepak bola merupakan komponen paling menentukan. Realitas ini merupakan hal yang pada akhirnya mengakhiri perdebatan. Itulah indahnya pertandingan dan yang terus dibicarakan orang di warung-warung kopi setelah itu. (24) oleh Ahmad Munif

Sumber: Suara Merdeka, 5 September 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.