Home » Berita

Surabaya Siapkan Diri Jadi Liver Transplant Center

28 January 2010 110 views No Comment

Bermula dari Dahlan, agar Cangkok Hati Lebih Terjangkau

Impian RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjadi pusat transplantasi liver segera terwujud. Pekan lalu tim dokter dan perawat rumah sakit pendidikan itu belajar ke pusat transplantasi liver terbesar di dunia, OOTC, di Tianjin, Tiongkok. Apa saja yang dipelajari dan bagaimana suasana belajarnya? Inilah catatan wartawan Jawa Pos, Nany Wijaya yang mendampingi tim tersebut.
ADALAH Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos Group yang kini menjadi Dirut Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang pertama mencetuskan ide perlunya program transplantasi liver di Surabaya.

Ide yang terdengar seperti suara dari langit itu dia sampaikan pada 31 Oktober 2007, saat meluncurkan buku tentang pengalamannya operasi ganti hati.

Seperti diketahui, 29 bulan lalu, ketika masih menjadi CEO Jawa Pos Group, Dahlan menjalani transplantasi hati di Oriental Organ Transplant Center (OOTC), yang bernaung di bawah bendera Tianjin First Central Hospital (TFCH).

Seperti yang diduga banyak orang, biaya transplantasi liver sangat tidak murah. Sekalipun operasinya di Tiongkok, yang dalam segala hal terkenal sangat murah dibanding di negara lain, seperti Singapura, Korea, apalagi Jepang dan Amerika Serikat.

Itu karena yang harus disediakan penderita bukan hanya biaya operasi dan obat-obatan pascaoperasi. Juga biaya hidup dan tempat tinggal bagi keluarga yang mendampingi selama menunggu donor dan dalam perawatan pascaoperasi. Belum lagi tiket pesawat.

Tingginya biaya inilah yang menjadi concern Dahlan ketika itu. Belum lagi soal kendala bahasa, bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Pimpinan lebih dari 100 surat kabar itu tidak punya kendala komunikasi selama di Tiongkok karena bahasa Mandarinnya sangat baik dan fasih.

Dua hal itulah yang lantas membuatnya merasa perlu untuk mendorong adanya program transplantasi liver di Surabaya. “Kalau transplantasinya di Surabaya, biayanya bisa lebih murah sehingga lebih banyak penderita bisa diselamatkan. Selain itu, tak perlu ada kendala bahasa,” kata Dahlan saat itu.

Untuk membantu mewujudkan keinginan itu, Dahlan berjanji mendatangkan ketua tim dokter yang mengoperasinya dan menyerahkan semua keuntungan dari penjualan buku Ganti Hati-nya.

Ide dan niat baik Dahlan itu langsung disambut para dokter, terutama ahli bedah digestif (perut) RSUD dr Soetomo Surabaya. Selain karena kebutuhan transplantasi liver itu meningkat, juga sebagian dari mereka sudah mempelajari bidang tersebut ketika belajar di luar negeri. Misalnya, dr Poerwadi SpB, SpBA yang ahli bedah anak dan dr Sjamsul Arief SpA(K) MARS yang ahli penyakit liver anak. Poerwadi belajar transplantasi hati di Groningen, Belanda, sedangkan Sjamsul di Jepang.

Bagi RSUD dr Soetomo Surabaya, transplantasi organ bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum Dahlan ditransplan, mereka sudah banyak melakukan transplantasi kornea, jaringan (tulang dan kulit), dan bahkan ginjal.

Namun, untuk liver, terpikir pun belum. Ada banyak kendala teknis dan nonteknis yang tak mudah diatasi ketika itu. Mulai pengetahuan yang masih minim tentang transplantasi liver sampai ke masalah donor.

Mereka baru tergugah untuk melangkah ke bidang itu setelah Dahlan mengungkapkan keinginan dan dukungannya.

Masalahnya, dukungan saja tidak cukup. Apalagi, kalau transplannya harus menggunakan donor cadaver (mayat). Ketika itu, donor hidup belum terpikirkan meski di Jakarta dan Bandung sudah ada beberapa orang yang menjadi donor hidup bagi transplantasi liver. Apalagi, Dahlan sendiri ditransplan dengan donor cadaver.

Meski cadaver berarti mayat atau orang yang sudah meninggal, itu tidak berarti bahwa organ semua mayat bisa digunakan untuk transplantasi. Organ mayat yang bisa didonorkan adalah organ yang masih “hidup.” Artinya, masih dialiri oksigen.

Tubuh mendapatkan oksigen dari paru-paru, melalui darah yang mengalir. Darah hanya bisa mengalir kalau jantung tetap berdenyut.

Seseorang dinyatakan meninggal kalau batang otaknya sudah mati. Kematian batang otak ditandai dengan berhentinya reaksi tubuh terhadap segala bentuk rangsangan. Mulai panggilan, cubitan, tusukan (jarum, misalnya) maupun sinar yang diarahkan ke pupil.

Organ tubuh sendiri tak bisa bertahan “hidup” lebih dari 20 menit, setelah batang otak mati. Kecuali jantung dan parunya dipertahankan tetap bergerak dan mengalirkan darah serta oksigen. Ini berarti orang itu harus dalam keadaan tersambung dengan alat bantu pernapasan, sejak sebelum atau sesaat setelah batang otaknya mati.

Alat bantu napas berfungsi mengalirkan oksigen ke paru dan mendorong jantung untuk tetap bergerak.

Kendala para dokter untuk mengambil organ dari orang yang sudah mati batang otaknya adalah agama dan budaya. Di Jepang sendiri, pelaksanaan donor dengan organ cadaver masih sangat sedikit.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Jawa Pos lantas mengadakan beberapa diskusi dengan para ahli agama Islam, pakar dan penegak hukum. Hasilnya, pengambilan organ dari tubuh yang sudah mati tidak melanggar hukum apa pun kalau diambil dari orang yang secara medis memang sudah dinyatakan meninggal, tidak ada unsur jual beli, semasa hidup almarhum sudah mengizinkan, ahli waris juga mengizinkan, dan dianjurkan untuk menggunakan donor yang seiman.

Ternyata “lampu hijau” itu juga tidak cukup untuk menggerakkan tim dokter Surabaya melakukan transplantasi. Padahal, Menteri Kesehatan ketika itu, sudah menyatakan dukungannya. Saya tidak tahu di mana kendalanya.

Baru akhir bulan lalu, setelah dua tahun menunggu, keinginan melakukan transplantasi sendiri itu muncul dan disikapi dengan sangat serius.

Mengapa tiba-tiba keinginan itu muncul dan didorong ke permukaan dengan sangat serius? Tampaknya, ada keinginan yang kuat dari tim bedah anak untuk menyelamatkan nyawa dan masa depan seorang bocah berumur tiga tahun yang menderita kelainan atresia biliari. Bocah ini tinggal di daerah yang jaraknya sekitar empat jam perjalanan darat dari Surabaya, bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru.

Status bocah ini sekarang adalah pasien rawat jalan, karena memang tak ada yang mengharuskan dia diopname.

Anak-anak dengan kelainan ini lahir dengan saluran empedu yang tidak sempurna. Pada orang normal, saluran empedu menghubungkan dua organ. Ujung yang satu menghubungkan kantung empedu dengan liver. Ujung lain menghubungkan liver dengan usus halus. Pada anak dengan atresia biliari, saluran yang ke usus itu tidak terbentuk. Dengan begitu, cairan empedunya menumpuk di liver. Akibatnya, liver rusak dan beban kerjanya berpindah ke limpa. Akibatnya, limpa membesar.

Karena semakin membesar, beberapa bulan lalu limpa itu diangkat oleh dr Poerwadi SpB, SpBA dari RSUD dr Soetomo Surabaya. Sebelum operasi dan setelahnya, bocah ini ditangani dr Sjamsul Arief SpA(K) yang ahli liver anak.

Dalam kasus atresia biliari, pengangkatan limpa sebenarnya tak banyak menolong. Sebab, yang dibutuhkan adalah saluran empedu yang menghubungan liver dengan usus halus dan liver yang sehat. Tetapi, jika limpanya tak segera diangkat, akibatnya bisa lebih fatal dan mungkin pertahanan hidup bocah malang itu lebih pendek.

Didorong oleh keinginan untuk menyelamatkan bocah ini dan lebih dari 20 bocah lain yang sependeritaan, program transplantasi liver ini dijajaki lagi.

Hanya, kali ini lebih serius, karena ada dukungan yang sangat konkret dari direktur RSUD dr Soetomo Surabaya dan gubernur Jawa Timur.

Pekan lalu, dengan rekomendasi Dahlan Iskan dan fasilitas Jawa Pos, sembilan dokter ahli dan dua perawat spesialis dari RSUD dr Soetomo Surabaya berangkat ke Tianjin, Tiongkok.

Kesembilan dokter itu adalah ahli bedah anak (dr Poerwadi SpB, SpBA dan dr IGB Adria Hari Astawa SpB, SpBA), ahli bedah digestif dewasa (dr Vicky Sumarki Budipramana SpB-KBD dan dr Iwan Kristian SpB-KBD), dan ahli bedah vaskuler (dr Heroe Soebroto SpBTKV). Kemudian, ahli anestesi (dr Philia Setiawan SpAn-KIC, dr Arie Utariani SpAn-KIC, dan dr Elizeus Hanindito SpAn-KIC) serta ahli penyakit liver anak (dr Sjamsul Arief SpA-K). Sedangkan dua perawat spesialisnya, masing-masing Choirul Anam dan Eko Yeppianto.

Ketika meninggalkan Surabaya pada 16 Januari lalu, tak ada yang mengira bahwa mereka adalah tenaga ahli yang sebenarnya sudah sangat siap melakukan transplantasi liver di Surabaya. Saya yakin, saat itu, mereka sendiri dan tim dokter ahli transplan di Tianjin juga tak menyadari hal itu.

Kehebatan dan kesiapan mereka untuk menjalankan misi besar itu justru tampak setelah mereka melihat langsung bagaimana transplantasi liver dilakukan di Tianjin dan setelah berdiskusi dengan tim dokter andalan OOTC. (bersambung/besok: ‘Bengkel Manusia’ Terbesar di Dunia/kum).

Sumber: Jawa Pos, 28 januari 2010

———–

Mirip Bengkel, Sehari Bisa Delapan Kali Transplantasi

Kita sering mendengar pepatah, ‘Belajarlah walau sampai ke negeri China’. Untuk transplantasi liver, Tiongkok memang tempat belajar yang paling tepat. Selain jumlah kasus yang ditangani paling banyak, juga teknik operasinya paling maju. Begitu pula perawatan pascaoperasinya.

Oleh: Nany Wijaya

Wartawan Jawa Pos

Januari ini sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk datang ke Tianjin, Tiongkok. Sebab, udara di kota itu, seperti juga di Beijing, sedang tidak ramah. Suhunya bergerak dari minus 8 sampai minus 13 derajat Celsius, di bawah nol. Bagi orang lokal, ini musim dingin terburuk dalam lima tahun terakhir.

Namun, karena berpacu dengan waktu, inilah pilihan terbaik kami. Seperti yang saya sebutkan di tulisan kemarin, kami sedang berusaha menyelamatkan seorang bocah berumur tiga tahun yang sangat memerlukan liver baru.

Bocah ini akan mendapatkan donor dari ibunya. Untuk itulah, sembilan dokter dan dua perawat dari RSUD dr Soetomo Surabaya belajar dengan sangat serius di OOTC (Oriental Organ Transplant Center), Tianjin. Kondisi bocah inilah yang membuat kami tak takut pada dinginnya udara Tiongkok. Ketika kami tiba, Minggu pagi (17/1), suhu di Beijing minus 10 derajat Celsius. Begitu pula di Tianjin, yang berjarak sekitar 2,5 jam dengan bus dari ibu kota negeri berpenduduk 1,3 miliar orang itu.

Tanpa saya ceritakan pun, pembaca pasti sudah bisa membayangkan dinginnya udara bersuhu serendah itu. Dari dalam gedung terminal, terlihat salju masih menyelimuti sebagian jalan dan atap bangunan-bangunan di luar bandara. Padahal, sinar matahari cukup cerah. Artinya, udara di luar bandara memang sedang sangat dingin.

Tianjin sebenarnya bisa dicapai dengan kereta api yang baru dari Beijing. Lebih cepat, hanya 28 menit. Tetapi, karena kami masing-masing membawa koper besar -risiko traveling di musim dingin- terlalu ribet kalau harus menggunakan kereta. Apalagi, masih harus pakai underground (kereta bawah tanah) dulu. Dan, di sana, baik di bandara maupun stasiun, tidak ada petugas portir yang bisa membantu mengangkat koper.

Naik bus lebih simpel karena bisa langsung naik dari bandara. Turunnya di terminal bus Tianjin. Dari sini bisa naik taksi ke hotel atau ke mana pun tujuan kita.

Tepat jam makan siang, kami tiba di terminal Tianjin. Di situ Yang she fou (paman Yang) sudah menunggu kami dengan mobil pribadinya. Dia inilah yang melayani segala kebutuhan Dahlan Iskan selama dirawat di Tianjin. Ketika kembali ke tanah air, dia ikut dan tinggal di Surabaya selama enam bulan untuk mengurus makanan Dahlan.

Ini karena makanan punya peran penting dalam proses pemulihan pasien post-transplant. Jadi, meski dokter telah mengizinkan makan apa saja, sebagaimana orang normal, sebaiknya pasien tetap memperhatikan kandungan dan nilai gizi makanannya. Misalnya, jangan terlalu banyak mengonsumsi kandungan protein. Sebab, liver baru belum bisa bekerja maksimal.

Jarak terminal dengan Hotel Hua Xia tempat kami menginap, hanya 15 menit dengan taksi. Ongkosnya juga tidak mahal.

Hotel Hua Xia tidak besar, tapi bintang tiga. Lobinya kecil dan sederhana. Begitu pula restorannya. Tetapi, kamarnya sangat bersih, nyaman, dan apik. Para petugas dan pelayannya juga ramah, meski itu hotel milik pemerintah.

Dulu, pegawai pemerintah di Tiongkok memang terkesan sangar dan tidak ramah. Apalagi polisi, militer, dan petugas imigrasinya. Tetapi, sekarang tidak lagi. Mereka sekarang umumnya ramah, santun, dan murah senyum. Tiongkok benar-benar sudah berubah.

Hal paling menarik dari hotel ini, menurut saya, adalah adanya kotak-kotak kondom dan obat kuat di setiap kamar. Beberapa tahun terakhir, untuk menghambat penyebaran penyakit hepatitis dan HIV/AIDS, pemerintah di sana mewajibkan semua hotel menyediakan kondom di setiap kamar. Kalau obat kuat, itu kreativitas pihak hotel.

Namun, karena kemasan barang-barang tersebut mirip kotak permen dan diletakkan di meja samping ranjang, sebagian dari kami lantas mengira itu permen. Untung, ada yang memberi tahu saya. Dengan demikian, di antara kami tidak ada yang sempat mengunyah kondom. He he.

Minggu itu kami free. Tetapi, karena niat kami ke Tianjin untuk belajar, bukan piknik, waktu kosong itu kami pakai untuk diskusi tentang hal-hal yang perlu diperdalam selama di OOTC.

Senin pagi (18/1) yang kami nantikan tiba. Pukul 06.00 waktu setempat, saya sudah bangun. Langit di luar masih gelap dan berkabut tebal. Berarti di luar sana sangat dingin. Namun, suara klakson mobil sudah ramai bersahutan. Para pejalan kaki dan pengendara motor, sepeda bermotor, dan sepeda onthel juga sudah banyak yang berlalu lalang. Semuanya mengenakan overcoat tebal dengan penutup kepala dari bahan wool.

Luar biasa etos kerja bangsa Tiongkok ini. Layak diacungi dua jempol. Bayangkan, di pagi yang masih buta dan sangat dingin seperti itu mereka sudah mulai beraktivitas. Pantas kalau negeri ini bisa maju pesat dalam waktu singkat.

Jarak antara hotel dan rumah sakit Tianjin First Central, tempat OOTC bernaung, hanya 10 menit berjalan kaki. Ketika kami berangkat, matahari mulai bersinar. Tetapi, udaranya masih cukup untuk membekukan ujung hidung dan jari-jari kami. Maklum, masih minus 8 derajat Celsius. Atau dua derajat lebih hangat dari ketika kami tiba di Beijing.

Sebagaimana umumnya, acara pertama kami adalah perkenalan dengan para petinggi OOTC. Mereka menyambut kami dengan baik dan hangat. Bahkan, presiden direkturnya, Prof Dr Shen Zhongyang, langsung menawarkan kunjungan ke pusat transplantasi lain yang dipimpinnya, yakni di Rumah Sakit Tentara Beijing. Sebuah tawaran menarik yang tak mungkin kami tolak.

Acara berikutnya adalah berkeliling melihat fasilitas-fasilitas yang mereka miliki. Makan siang, lantas mendengarkan kuliah tentang teknik transplantasi liver.

Sebenarnya, kami ingin sekali bisa melihat langsung pelaksanaan transplantasi. Maklum, lima dari sembilan dokter yang ikut adalah ahli bedah digestif (perut) dan vaskuler (pembuluh darah) dan tiga lainnya ahli anestesi dan konsultan ICU. Begitu pula perawatnya. Yang seorang perawat untuk critical care (ICU), sedang yang lain, perawat bedah di kamar operasi. Hanya dr Sjamsul Arief yang bukan. Artinya, mereka adalah orang-orang yang sehari-hari berhubungan dengan operasi, anestesi, dan perawatan masa-masa kritis post atau pascaoperasi. Jadi, wajar sekali kalau mereka ingin segera bisa kembali ke “habitat”-nya.

Sayangnya, jadwal kami hari itu adalah kuliah di ruang pertemuan. Bukan di kamar operasi. Baru pada Rabu (20/1) kami diikutkan operasi. Itu pun masih tentatif (belum pasti), menunggu ada tidaknya donor cadaver (mayat). Maka, hari itu kami hanya bisa menyampaikan harapan (sambil berdoa).

Tampaknya Tuhan mendengar doa kami. Saat menanti jadwal berikutnya, Ellen Wei, sekretaris presdir OOTC, menawarkan, apakah kami mau ikut operasi? Siang itu akan ada transplantasi dengan menggunakan donor hidup. Risikonya, kalau kami mau, jadwal kuliah ditiadakan.

Mendengar itu, serentak kami menjawab, “Ya, mau!” Pucuk dicinta ulam tiba. Mana mungkin ditolak.

Karena operasinya agak siang, kami disuruh makan dulu di ruang VIP kantin rumah sakit, yang sudah di-booking Ellen. Di ruang itu hanya ada sebuah meja bundar yang tak terlalu longgar untuk 12 orang. Di situ sudah ditata peralatan makan yang terlalu bagus untuk ukuran kantin rumah sakit. Makanan dan cara menyajikannya juga oke banget.

Seusai makan, kami langsung ke lantai dua, ke ruang Prof Dr Shen Zhongyang yang bersebelahan dengan kamar kerja si cantik Ellen Wei. Kami ke situ bukan untuk bertemu Prof Shen. Sebab, seusai berkenalan dengan kami tadi, dia langsung ke bandara, terbang ke Beijing untuk rapat dengan Departemen Kesehatan. Kabarnya, hari itu dia minta izin untuk datang siang karena ingin menyambut kami. Sungguh suatu kehormatan bagi kami, tim dari RSUD dr Soetomo Surabaya.

Dengan didampingi Cindy, penerjemah resmi OOTC, kami menuju lantai 12 untuk ganti pakaian operasi.

Sambil menunggu donor dan resipien disiapkan, kami diajak ke lantai 13. Lantai ini terisolasi. Hanya mereka yang terlibat operasi yang boleh masuk. Di situ ada 10 ruang operasi, serta ruang penyimpanan bahan dan instrumen untuk operasi. Di salah satu ujung lantai ini ada lift besar untuk menaikkan pasien yang akan dioperasi, dan untuk menurunkan pasien yang selesai ditransplant. Di sisi lain lantai ini ada ICU. Tetapi, tempat ini bukan untuk pasien post-transplant. Ruang tersebut untuk pasien operasi lain dan pasien pascatransplantasi yang belum siap dipindahkan ke ruangan, tetapi tidak lagi memerlukan pengawasan dan perawatan sangat intensif.

Untuk pasien yang baru ditransplantasi, yang tentu memerlukan pengawasan dan perawatan sangat intensif, disediakan ICU khusus di lantai 12. Ruang ICU ini terletak di samping lift yang ke lantai 12. Di ruang inilah, Dahlan dulu “singgah” dan kali pertama dijenguk keluarganya, setelah livernya diganti dengan yang baru.

Lift yang ke lantai ini dijaga petugas khusus. Hanya dokter dan keluarga pasien yang dirawat di ICU yang boleh naik. Begitu pula pengunjung di lantai 13.

Meski ruang operasi ada di lantai 13, pengunjung ICU lantai tersebut tidak bisa masuk ruang operasi. Sebab, untuk ke ruang-ruang operasi itu, hanya ada satu akses: lift pasien yang ada di dalam ICU lantai 12. Letak lift ini tersembunyi dan diawasi. Karena itu, tidak sembarang orang bisa menemukannya, apalagi menggunakannya.

Oriental Organ Transplant Center atau OOTC sebenarnya bukan rumah sakit tersendiri. Hanya gedung dan administrasinya yang mandiri. Tetapi, secara yuridis, pusat ini berada di bawah naungan Tianjin First Central Hospital (TFCH). Sebuah rumah sakit pendidikan yang “tugas”-nya mendukung program pendidikan kedokteran Universitas Nankai, Tianjin.

Center ini memiliki 14 lantai. Lantai satu dan dua untuk administrasi dan kantor manajemen. Tiga-empat untuk ginjal dan saluran kencing. Sisanya, lantai lima hingga 12 untuk transplantasi. Tapi, lantai 13 khusus untuk transplantasi liver. Lantai teratas, untuk menyimpan instrumen operasi dan peralatan lain yang terkait dengan operasi.

Meski lantai 13 telah ditetapkan sebagai “wilayah”-nya transplantasi liver, sesekali tempat itu digunakan juga untuk ginjal. Yakni, ketika yang ditransplantasikan bukan hanya ginjal, melainkan multiorgan transplant (yang ditransplantasikan lebih dari satu organ).

Untuk operasi jenis ini, organ yang digunakan berasal dari satu donor. Seperti yang saya saksikan pada hari terakhir saya di situ, dari satu donor didapatkan tiga organ sekaligus. Yakni, liver, dua ginjal, dan satu pankreas. Karena umur organ-organ tersebut sangat terbatas -meski sudah didinginkan- ruang operasinya tidak boleh berjauhan. Karena itu, begitu selesai dicuci, masing-masing ginjal bisa langsung ditransplantasikan ke tubuh resipien, tanpa membuang lebih banyak waktu karena harus menunggu lift, misalnya. Begitu pula liver dan pankreasnya.

Ada kalanya seorang pasien membutuhkan dua organ sekaligus: Satu ginjal dan pankreas atau jantung dan paru-paru. Untuk ginjal, dalam transplantasi, seorang pasien hanya membutuhkan satu ginjal.

Karena itu, transplantasi organ yang satu ini bisa dilakukan dengan menggunakan donor hidup. Sama dengan liver.

Bisa belajar transplantasi di center ini sungguh suatu keberuntungan. Sebab, OOTC termasuk pusat transplantasi yang sangat aktif. Sebagai bukti, dalam setahun, center ini bisa melakukan lebih dari 650 transplantasi liver. Bahkan, mereka pernah melakukannya lebih dari 1.000 penggantian liver dalam setahun. Untuk ginjal, jumlahnya kurang lebih sama. Padahal, satu tahun hanya ada 365 hari.

Pada hari terakhir saya di sana, center itu melakukan delapan transplantasi liver dalam sehari. Bayangkan! Kok mirip bengkel ya!

Center ini memang lebih tepat disebut bengkel manusia daripada rumah sakit. Bengkel manusia terbesar di dunia, karena center ini yang paling banyak menangani penggantian organ-organ rusak dengan yang baru, dibanding pusat transplantasi lain di dunia.

Saya katakan mirip bengkel karena sejak masuk ke lobi OOTC sampai ke lantai-lantai tempat pasien dirawat, Anda tidak akan melihat perawat, pasien, dan dokter yang berseliweran. Sesekali saja, kalau beruntung, Anda berpapasan dengan pasien yang didorong kursi roda atau kereta dorong.

Namun, di lantai 13, Anda akan melihat betapa banyaknya manusia yang diganti “onderdil”nya, seperti sebuah bengkel mengganti spare parts mobil-mobil yang rusak agar bisa berjalan lagi. (bersambung/kum)

- Menyaksikan dari dekat bagaimana dokter mengganti organ pasien yang rusak berat dengan organ baru yang masih fresh. (foto:nany)

- dr Poerwadi dan dr Adria sedang mempelajari liver rusak seorang pasien trasnplan, sesaat setelah organ itu dilepaskan dari tubuh pemiliknya. Sementara itu, operasi dilanjutkan dengan pemasangan liver baru.

  • Share/Bookmark

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.