Home » Artikel, konservasi, Lingkungan, Pangan

Sumberdaya Kima di Indonesia Harus Dilestarikan

16 October 2016 94 views No Comment

Kima adalah sumberdaya laut yang mungkin dapat bersaing dengan udang pada masa mendatang.Kima termasuk kerang-kerangan (Bivalvia, Tridacnidae) yang berukuran sangat besar dan sering dikenal dengan sebutan kerang raksasa (giant clam). Bagian otot yang befungsi sebagai pembuka penutup cangkangnya (otot aduktor) merupakan bagian yang enak dan laku mahal di pasaran Asia.

Harga adduktor kima per kilogram berat kering dapat mencapai 150 dollar AS (lebih Rp 227.590). Otot ini dihidangkan sebagai campuran sup di restoran-restoran mewah antara lain di Hongkong, Singapura, Taiwan, dan Jepang.

Terumbu karang di Indonesia amat kaya akan kima. Tridacna gigas merupakan jenis yang terbesar di antara tujuh jenis kima yang ada. Tridacna gigas ini sudah punah di Indonesia bagian barat (laporan WWF,1984) namun seakan-akan ”diabaikan”. Komoditi kima bahkan tidak tercantum dalam buku statistik perikanan Indonesia. Mungkinkah ini disebabkan memang banyak orang tidak tahu, atau memang dirahasiakan karena bisnis kima oleh ”orang asing” yang tersembunyi? Penulis merasa prihatin dan merasa ikut terbeban dengan keadaan ini. Apalagi setelah membaca tentang pembabatan kima di Teluk Cendrawasih dewasa ini (Clamlines Newsletter, April 1990), penulis semakin terdorong untuk mengungkapkan keprihatinan dalam tulisan ini.

Kebutuhan otot addukitor kima di pasaran Asia cukup besar. Kebutuhan tahunan otot ini di Hengkong saja (belum termasuk Singapura, Jepang, Taiwan dan lain-lain) sudah tercatat sebesar 450 ton/ tahun atau bernilai sebesar 22,5 juta dollar AS/tahun (ICLARM Newsletter vol. 6 No. 1, 1983). Kebutuhan ini tidak sebanding dengan sumberdaya kima yang tersedia di pasaran IndoPasifik (termasuk Indonesia). Untuk mendapatkan otot adduktor seberat 0,6 kg misalnya orang harus membunuh T. gigas yang sudah berumur 10 tahun yang panjangnya sekitar 50 cm.

Orang cenderung berburu kima dewasa yang sangat besar. Puluhan ribu T. gigas yang sudah bertahun-tahun hidup secara harmonis dengan hewan yang lainnya di terumbu karang tidak berdaya terhadap pisau dan linggis yang mencongkelnya dan memotong otot-otot yang menempel pada cangkangnya. Hal ini membawa dampak negatif terhadap kelangsungan jenis kima tersebut.

Perburuan di IBT
Tridacna gigas eksistensinya sangat dikhawatirkan. Untuk mencegah kepunahann T.gigas telah ditetapkan sebagai hewan Iangka yang harus dilindungi (International Union for Conservation of Nature, 1983). Nampaknya orang tidak perduIi dengan peraturan tersebut. T. gigas, tetap diburu. Dilaporkan pepulasi T. gigas di Negara-negara kepulauan di Indo-Pasifik menurun sangat drastis dan sangat dikhawatirkan eksistensinya. Demikian pula halnya dengan T. gigas di Indonesia. Tridacna gigas sudah lama lenyap dari perairan sekitar Sumatera dan Jawa (laporan WWF, 1984). Bahkan perburuan T. gigas masih terus berlangsung di Indonesia bagian timur (IBT). Berita dari media komunikasi antarpeneliti akuakultur ”clam lines” terbitan April 1990 menyatakan tentang pembantaian T. gigas di Teluk Cendrawasih. Dilaporkan bahwa sekitar 1 ton otot adduktor kima telah diekspor dari daerah ini. Otot adduktor tersebut ditampung oleh perusahaan di Nabire, yang meneruskannya ke Ujungpandang untuk diekspor selanjutnya ke Jepang.

Observasi terhadap bekas cangkang kima yang dibuang di tempat telah dilakukan oleh WWF yang menyatakan bahwa area seluas 5.000 meter persegi di Teluk Cendrawasih telah menjadi “kuburan” dari sekitar 250 ekor T. gigas dengan panjang rata-rata 60-70 cm, termasuk pula T. gigas dengan panjang sekitar 1 cm. Dikatakan bahwa area tersebut hanyalah bagian kecil yang mewakili seluruh area di Teluk Cendrawasih.

Kehidupan kima dewasa yang sudah dibina selama bertahun-tahun di Teluk Cendrawasih tidak sebanding dengan pembabatan kima yang berlangsung sangat cepat. Akibat dari cara perburuan seperti ini harus dibayar mahal. Daya regenerasi kima menjadi sangat lemah sekali dan akhirnya dapat menimbulkan bencana kepunahan kima.

Faktor-faktor penyebab degradasi kima antara lain: populasi T.gigas hanya terdiri dari hewan-hewan muda yang belum siap untuk berkembang biak. Kima yang sempat tumbuh manmade dewasa sudah sangat sedikit, dan jaraknya sate sama lain sangat berjauhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya pembuahan pada waktu musim pemijahan. Kesempatan hidup bagi larva dan spat muda yang berukuran kurang dari 10 cm sangat kecil karena mereka masih sangat rawan terhadap predator, dan yang tak kaIah penting keragaman genetik sudah sangat menurun dan tidak menjamin fitness populasi kima.

Usaha pembenihan
img-20141026-06618Degradasi T. gigas dan kima jenis besar lainnnya seperti T.derasa menjadi isu internasional dan menjadi tanggung jawab negara-negara kepulauan terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik Palau, Australia, Filipina dan lainnya. Usaha pemulihan dan pelestarian kima melalui usaha budidaya telah dirintis di Palau dengan keberhasilan pembibitan kima pada tahun 80-an. Pembibitan dilakukan pada kolam berkapasitas sekitar 10 ton, beberapa kolam air deras dan pompa yang dapat memasok air menglir selama 8 jam sehari. Hatchery kima di Palau dalam kurun waktu 5 bulan dapat memproduksi benih T. derasa berukuran 12-17 cm sebanyak 22.000-55.000 ekor. Dewasa in teknik hatchery yang lebih intensif di James Cook Universty of North Queensland, Australia, dapat memproduksi satu juta spat kima.

Tahapan usaha pembenihan kima terdiri dari pemijahan, pembuahan, pemeliharaan larva dan pembesaran spat di darat selama lebih kurang 8 bulan dan dilanjutkan dengan pembesaran kima muda di laut dengan perlindungan hingga mencapai panjang cangkang 10 cm. Kima muda berukuran 10 cm kemudian dapat dilepas kembali ke lokasi “kritis”.

Teknik budidaya kima relatif lebih sederhana. Kima cukup dipelihara dengan energi surya dan air mengalir. Pakan tidak diperlukan dalam usaha ini karena sifat biologis kima yang bersimbiose dengan ganggang satu sel Zooxanthella. Zooxanthella yang hidup di jaringan sifonal kima mampu berfotosintesa dan memproduksi nutrien yang diperlukan kima. Dengan perhitungan jangka panjang, usaha budidaya kima cukup ekonomis. Produksi biomassa selama 5 tahun yang dihasilkan dari satu kali pemijahan yang terdiri dari 10.000 ekor benih kima berukuran 10-12 cm, diperkirakan berkisar antara 40-142 ton.

Usaha pembibitan kima sangat membantu mempercepat presses pemulihan kima yang sudah “kritis” di IBT dan kemudian dapat dikembangkan di Indonesia bagian barat (IBB). Pembenihan kima belum ada di Indonesia. Harapan penulis pembenihan kima dan pemulihan kembali populasi “kritis” di Indonesia dapat diwujudkan. Bahkan lebih jauh lagi kima dewasa dari hasil pembibitan yang intensif menjadi sangat melimpah dan dapat dipanen untuk usaha komersial. Dan panen tersebut dapat diimbangi dengan penyediaan benih yang berkesinambungan. Dengan demikian kima tidak perlu diburu lagi di Indonesia.

Kita harus memandang jauh ke depan, bahwa sumber-sumber alam di Indonesia harus digunakan secara rasional yaitu dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. Jika tidak, generasi berikut hanya akan melihat kima di dalam buku-buku.

Lily M.G. Panggabean, peneliti marinkultur pada P3O LIPI

Sumber: KOMPAS, MINGGU, 16 September 1990 Halaman 3

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.