Home » Berita, Biologi, penelitian

Sementara Ini Janur Paling Cocok untuk KuItur Jaringan Kelapa Sawit

1 March 1989 96 views No Comment

Salah satu andalan ekspor nonmigas Indonesia dari sektor perkebunan adalah hasil olahan buah kelapa sawit. (Elaeis guineensis Jacq). Tanaman ini dijadikan primadona perkebunan dan dikembangkan besar-besaran. Bukan saja BUMN perkebunan yang didorong menanam kelapa sawit tapi juga swasta besar diberi beberapa kemudahan bila membuka perkebunan kelapa sawit.

Untuk pengembangan besar- besaran itu diperlukan bibit kelapa sawit yang tidak sedikit. Biasanya yang menjadi masalah dalam penyediaan bibit ini adalah penyediaan dalam jumlah besar dengan mutu yang seragam dan dapat dipercaya. Mutu yang dipercaya artinya bibit tidak menyimpang dari sifat-sifat tetua.

Penyediaan bibit dengan mangandalkan buah makin lama makin sulit diandalkan. Selain tidak praktis jumlah bahan bibitnya juga “terbatas”. Untungnya ilmu terus berkembang, sehingga ditemukan teknik perbanyakan yang lebih cepat, lebih menjamin keseragaman dan mampu menyediakan bibit dalam jumlah relatif tidak terbatas dari bahan asal bibit sedikit saja. Teknik ini sudah lama dikenal, yaitu teknik kultur jaringan.

Dalam Rakornas Riset dan Teknologi di Jakarta pekan lalu, salah satu yang turut dipamerkan adalah hasil perbanyakan kelapa sawit dengan teknik kultur Jaringan yang dikerjakan Pusat Penelitian Marihat (PPM), Sumatera Utara. Pusat penelitian ini mengkhususkan diri terutama pada panelitian pada penelitian kelapa sawit dari berbagai aspek dan berada di bawah PT Perkebunan VI dan VII. Sedang laboratorium kultur jaringannya baru dibangun tahun 1985.

Daun atau akar
Ketika teknik kultur jaringan pertama kali digunakan pada kelapa sawit, salah satu permasalahan menarik yang muncul di kalangan pakar internasional adalah menggunakan ujung akar atau daun muda (janur) sebagai bahan perbanyakan (eksplan).

Menurut Drs Gale Ginting, kepala Bagian bioteknologi di PPM, ketika ditemui dalam pameran Rakornas Ristek di Jakarta, sebetulnya ke dua bahan tanaman itu sama-sama memiliki kemampuan membelah diri dan tumbuh menjadi tanaman baru asaI berada dalam media tumbuh yang sesuai.

Tetapi dalam perjalanan pnelitian kultur jarigan kelapa sawit terbukti kemudian penggunaan daun muda sebagai bahan tanaman jauh lebih dapat diandalkan disbandingkan menggunakan ujung akar.

Alasannya karena dalam prakteknya, sulit mengambil ujung akar yang tepat. Karena letaknya yang di dalam tanah sulit menentukan apakah ujung akar yang diambil itu berasal dari akar primer, sekunder atau tersier. Padahal macam ujung akar dan usianya mempengaruhi macam media tumbuh yang akan digunakan.

Sebaliknya dengan menggunakan daun muda, tingkat kepastia mutu jaringan yang akan digunakan lebih tinggi. Keseragaman eksplan lebih terjamin, sehingga pengendalian dalam kultur jaringan relatif lebih mudah, selain daun muda lebih mudah membelah diri.

Karena itu Marihat dan Socfindo, perusahaan swasta yang sudah puluhan tahun bergerak di perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mengadaptasi teknik perbanyakan kelapa sawit memakai jaringan daun muda yang dikembangkan IRHO (Institut Recherches Huile et Oleagineux) di Perancis.

Hanya mengambil daun muda ini meman harus ekstra hati-hati.Maklum daun muda letaknya dekat dengan titik tumbuh kelapa sawit. Jadi kalau salah-salah potong, tanaman induknya bisa mati.

Padahal untuk mendapatkan satu tanaman induk perlu waktu paling tidak 10 tahun. Waktu selama ini diperlukan untuk menyeleksi calon pohon induk dari hasil ribuan silangan.

Dari seleksi awal ini, di Marihat didapat sekitar 600 persilangan terbaik. Seleksi terus dilakukan sampai akhimya didapat sekitar 50 persilangan yang dijadikan pohon induk. Pohon induk ini yang akan digunakan sebagai sumber bahan jaringan, harus punya sifat antara lain mampu menghasilkan minyak 7-9 ton minyak sawit per ton per tahun per hektar dan pohonnya tidak tinggi untuk memudahkan pemanenan.

Mutasi
Secara sederhana tahapan perbanyakan kelapa sawit dengan teknik kultur jaringan dimulai dari sepotong jaringan daun muda sebagai bahan perbanyakan (eksplan), lalu ditumbuhkan dalam media terentu sampai terbentul kalus primer.Kalus primer ini muncul setelah 34 bulan dalam media cair. Kalus primer inilah yang dijadikan sebagai sumber perbanyakan selanjutnya (embriogenesis somatik dari kalus primer).

Kalus yang terbentuk, lalu mulai membentuk struktur baru dalam tahapan menuju tanaman utuh, yang disebut embriogenik. Dari kalus sampai terbentuk struktur embriogenik perlu waktu dua bulan.

Tahap berikutnya adalah terbentuknya struktur embrioid. Selama empat bulan berikutnya, mulai terbentuk tunas-tunas daun. Seleksi dilakukan terhadap tunas yang memenuhi syarat untuk ditumbuhkan akarnya. Tahap ini memerlukan waktu sekitar 8 minggu. Masih diperlukan waktu empat minggu lagi untuk membuat tanaman baru ini mampu bertahan dalam kondisi sebenarnya di alam.

Pemilihan eksplan yang tepat antara daun muda atau ujung akar, mulai menjadi perhatian tahun 1979 di antara pakar-pakar internasional kultur jaringan kelapa sawit. Tahun 1983, mulai didapat bukti adanya mutasi pada kelapa sawit yang eksplannya berasal dari ujung akar. Mutasi yang terjadi adalah terbentuknya bunga, tapi tidak terjadi pembuahan. Ada beberapa penyebab mutasi. Menurut Drs Ginting, antara lain mungkin karena tingginya dosis hormon yang digunakan. Konsentrasi hormon yang tinggi diperlukan karena relatif lebih sulit mengendalikan pertumbuhan ujung akar yang umur jaringannya sulit dipastikan.

Di Marihat, untuk menekan serendah mungkin kemungkinan terjadinya mutasi, kalus primer, walaupun struktur ini merupakan bagian yang menentukan banyaknya jumlah tanaman utuh yang nantinya terbentuk, hanya dipertahankan selama enam bulan. Setelah enam bulan, kalus primer ini dibuang.

Penelitian IRHO menunjukkan, kalus primer yang lebih enam bulan berada dalam media tumbuh yang mengandung hormon (dalam hal ini hormon 2,4 asam dikhlorofenoksi asetat) menunjukkan tendensi terjadinya mutasi.

Sebenarnya, demikian Ginting, terjadinya mutasi bisa di deteksi sejak awal antara lain dengan melihat penampilan embryoid yang terbentuk. Embryoid yang betul berwarna hijau dan strukturnya masif. Sedangkan embryoid yang mengalami mutasi warnanya putih dan lembut/tidak masif.

Uji lapangan
Marihat sejak Oktober 1987 lalu mulai menguji lapangan kelapa sawit hasil perbanyakan dengan kultur jaringan. Bibit sebanyak 20.000 diuji coba tanam di kebun-kebun PTP di Sumatera Utara, Aceh, Riau, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat. Sedangkan Socfindo sudah mulai lapangan sejak April 1986.

Pengamatan terhadap pembungaan menurut laporan yang ditulis bersama oleh Ginting fatmawati dan T.T. Kusnadi dari Pusat Penelitian Marihat, sementara baru dilakukan pada kelapa sawit asal kultur jaringan milik PT Socfindo yang telah berusia 22 dan 16 bulan saat pengamatan dilakukan pada bulan Januari dan Februari 1988.

Sebagai pembanding digunakan tanaman yang bibitnya berasal dari buah. Hasil sementara menunjukkan tingkah laku pembungaan tanaman asal kultur jaringan normal-normal saja.

Artinya persetase empat klon kelapa sawit yang berbunga 85,7 persen dan yang dari biji 85 persen. Bahkan bunga betina tanaman asal klon lebih tinggi (13,6 persen) dibanding tanaman asal biji (3,4 persen) sedangkan bunga jantannya berbanding 69, 9 persen dan 93 persen.

Tetapi terjadinya bunga hermaprodit (bunga jantan dan betina menjadi satu) lebih tinggi pada tanaman asal klon (11,2 persen dibanding 1,7 persen). Demikian juga perbandingan terbentuknya pembungaan yang andromorfik (secara morfologis bunga jantan, tapi kemudian tumbuh jadi bunga betina) pada tanaman asal klon lebih tinggi (5,3 persen) berbanding 1,9 persen. Hanya dalam pertumbuhan selanjutnya, kedua jenis pembungaan ini cenderung untuk menurun atau hilang bersama bertambahnya umur tanaman.

Meski pengamatan ini menunjukkan tidak satu pun tanaman hasil klon yang menunjukkan kegagalan membentuk buah meski terjadi pembungaan, penyebarluasan bibit asal klon ini masih menanti pengamatan lanjutan terhadap hasil minyak.

Sebab minyak merupakan sasaran akhir dari penelitian budidaya kelapa sawit. Penanaman besar-besaran yang tergesa-gesa tanpa menunggu bagaimana potensi hasil tanaman asal klon ini, bisa berakibat kerugian milyaran rupiah. (nmp)

Sumber: Kompas, 1 Maret 1989

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.