Home » Berita, Pendidikan

Sekolah Menengah Kejuruan; Calon Pelaut yang Tidak Berkesempatan Berlayar

18 October 2016 85 views No Comment

Lima siswa laki-laki duduk berjejer di bangku koridor lantai dasar SMK Purnama 3. Ada yang asyik mengobrol dengan kawan di sebelahnya, ada pula yang sibuk mengikat tali sepatu ketsnya yang berwarna merah. Mereka adalah taruna di SMK pelayaran itu.

“Peraturan di sini tidak seketat di SMK pelayaran lain,” kata Budy Ismanto, Wakil Kepala SMK Purnama 3 Jakarta, ketika ditemui, Selasa (11/10). Karena itu, di antara 53 taruna SMK ini, lumrah ada yang memadukan seragam khas SMK pelayaran, kemeja berhiaskan lencana kelautan, dengan sepatu olahraga. Beberapa ada yang memakai topi pet.

SMK Purnama 3 terletak menyempil di tengah kompleks Yayasan Purnama. Di sayap kanan terdapat SMP Purnama, sementara di sayap kiri ada SMK Purnama 1 dan SMA Purnama. Bangunan sekolah tiga lantai itu memiliki panjang 20 meter dan lebar 5 meter.

SMK itu hanya memiliki satu jurusan, yaitu nautika kapal niaga. Menurut Budy, jurusan teknika kapal niaga ditutup beberapa tahun lalu karena keterbatasan biaya penyediaan alat. Sekolah ini memiliki 19 guru yang mencakup lima guru produktif, yakni guru inti yang memberi pelatihan di bengkel/laboratorium.

Biaya merupakan kendala terbesar yang dihadapi SMK Purnama 3. Budy mengaku, sebagian besar pembiayaan didapat dari uang sekolah yang dibayar siswa. Tanpa uang tersebut, kegiatan operasional sekolah terancam lumpuh.

Hal tersebut membuat pengalaman magang taruna tidak optimal. Apabila SMK pelayaran lain memagangkan taruna di kapal selama 1 tahun, taruna SMK Purnama 3 hanya memiliki waktu magang maksimal 3 bulan. Lebih lama dari jangka waktu tersebut, tidak ada pemasukan bagi sekolah.

Akibatnya, jarang ada perusahaan pelayaran yang mau menerima taruna SMK Purnama 3 karena waktu magang yang terlalu singkat. “Kami menyiasatinya dengan mengirim empat taruna kelas XI magang di kapal milik Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) selama 3 bulan. Setelah itu, mereka bergantian dengan empat taruna lain,” papar Budy.

Taruna yang tidak masuk ke dalam daftar anak magang di kapal BPPT harus mencari tempat magang sendiri, contohnya Robet Pabika. Melalui kenalan keluarganya, ia mendapat kesempatan magang di kapal perintis selama 2 minggu. “Kapalnya cuma berlabuh di Tanjung Priok. Tugas saya mengecat dan bersih-bersih,” kata Robert.

Nauval Rabah, taruna kelas XI, berusaha memasukkan lamaran ke PT Pelindo agar bisa magang selama 2 minggu. “Tidak tahu kesempatan diterimanya, gimana. Pelindo biasanya minta setahun,” tuturnya.

Kendala biaya berdampak kepada penyediaan sarana. Laboratorium nautika terpaksa digabung dengan laboratorium IPA SMP Purnama. Tanda-tanda bahwa ruangan itu laboratorium nautika adalah foto-foto berbagai jenis kapal yang terpampang di dinding.

Budy mengatakan, mayoritas waktu laboratorium dipakai untuk menonton simulasi kegiatan di kapal melalui rekaman video ataupun foto. Kemungkinan melengkapi peralatan laboratorium sangat tipis karena harga peralatan simulasi, seperti radar, tali-temali, pelampung, dan peta, mencapai miliaran rupiah. Kekurangan alat menjadi penyebab SMK Purnama 3 tidak diakui Kementerian Perhubungan meskipun sebagai lembaga pendidikan, sekolah itu diakui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Manual
Fasilitas yang tidak memadai juga dialami Agus Nur Rohman (17), siswa SMK Jayawisata 1 Jakarta. Ia mengambil program studi keahlian akomodasi perhotelan. “Sistem pelayanan tamu di hotel saat ini sudah menggunakan komputer, tetapi di sini kami masih memakai sistem manual karena kekurangan peralatan,” ujarnya.

Selain mendapatkan pelajaran seperti yang diperoleh siswa SMA, beberapa keterampilan juga dipelajari Agus, yaitu housekeeping, memasak, dan bartender.

Pada Selasa (11/10), Agus dan temannya, Natasya Asyfa Agustine (16), berlatih housekeeping untuk persiapan lomba di Hotel Maharani, Jakarta. Agus menata tempat tidur king size(200 cm x 200 cm) secepat dan serapi mungkin. Namun, pada lomba yang diadakan Minggu (16/10) itu, tempat tidur yang dipakai berukuran setengah dari yang digunakannya saat latihan, 120 cm x 190 cm.

“Dimaksimalkan saja berlatih menggunakan peralatan yang ada meskipun akan kesulitan beradaptasi sewaktu lomba karena peralatan latihan dengan saat lomba berbeda,” kata Agus.

Sejumlah keterbatasan ini bukan semata-mata kesalahan sekolah. Ada niat luhur untuk mendidik siswa-siswa agar terampil. Namun, keterbatasan dana menyebabkan fasilitas sekolah tidak optimal.

Natasya menuturkan, fasilitas laboratorium housekeeping di sekolahnya seperti hotel kelas melati.

Meski demikian ia berharap cita-citanya bekerja di perhotelan tercapai. Karena itu, magang menjadi momen krusial untuk menapaki dunia kerja. Ia ingin magang di hotel berbintang agar lebih mudah melamar di hotel itu dan mendapatkan penghasilan tinggi. (DNE/C09)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Oktober 2016, di halaman 1 dengan judul “Calon Pelaut yang Tidak Berkesempatan Berlayar”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.