Home » Berita, penelitian

SDM Riset Menua dan Kurang Berkualitas

21 September 2016 156 views One Comment

Anggaran riset Indonesia ada di posisi Paling rendah di antara negara anggota G-20. Banyak soal mendasar membelit dunia riset Tanah Air, mulai dari rendahnya kualitas periset, peneliti yang menua, tidak menriknya dunia riset, hingga sistem pendidikan yang tidak mendukung. Menambah anggaran hingga 2 persen dari produk domestik bruto pun tidak otomatis akan menyelesaikan masalah.

Dari sisi jumlah pegawai, ada ribuan orang bekerja di beberapa lembaga riset. Namun, yang melakukan riset sangat terbatas. Lebih dari separuh pegawai adalah tenaga pendukung, Akibatnya, meskipun ditambah besar-besaran, dana riset tak akan banyak terserap dan mampu menarik banyak peneliti.

Di perguruan tinggi, kondisinya relatif sama. Banyak dosen terfokus pada pengajaran atau sibuk menjadi konsultan sejumlah proyek. Meski pemerintah sudah menyediakan dana riset memadai, tetap saja tak termanfaatkan semua.

”Indonesia kekurangan peneliti,” kata Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam diskuai ”Masa Kini dan Masa Depan Riset dan Teknologi Indonesia” yang diadakan Kompas di Jakarta, Rabu (14/9).

Lihat saja posisi Indonesia di antara negara anggota G-20. Jumlah peneliti di Indonesia paling kecil, hanya 89 orang per 1 juta penduduk. Bandingkan dengan Korea Selatan dengan 6.899 peneliti per 1 juta penduduk. Di ASEAN, Indonesia juga jauh tertinggal dibandingkan jawara riset ASEAN, Singapura, yang punya 6.658 peneliti per 1 juta penduduk (UNESCO, 2016).

Selain Jumlahnya kecil, kualitasnya pun relatif rendah. Di antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hanya BPPT yang 10 persen pegawainya berpendidikan doktor, sedangkan di Lapan hanya 2 persen.

Di sejumlah negara maju hanya peneliti berkualifikasi doktor yang meneliti, lalu dibantu peneliti berpendidikan magister dan sarjana. ”Di Indonesia, sarjana sudah meneliti,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto.

Pentingnya peneliti berkualifikasi doktor juga diungkapkan Kepala Bidang Teknologi Radiofarmaka Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan Rohadi Awaludin. Pendidikan strata tiga merupakan landasan untuk membentuk kematangan intelektual dan memperluas jejaring dengan ilmuwan dunia.

”Periset butuh kematangan intelektual agar mampu menemukan dan menyelesaikan masalah dengan kaidah ilmiah yang benar, ” katanya.

Minat meniadi peneliti
Sejumlah kondisi yang ada saat ini diperparah kualitas sebagian besar pelamar di lembaga riset. Mereka bukan yang berkualitas terunggul. Di BPPT, kata Unggul, sangat sulit mendapatkan pelamar lulusan Institut Teknologi Bandung yang masih dianggap sebagai perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia. Jika ada, biasanya tak bertahan lama.

20160920_114818wBanyak lulusan terbaik perguruan tinggi Indonesia memilih bekerja di sektor industri. Keberadaan mereka sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung riset. Masalahnya, sangat jarang industri Indonesia mau melakukan riset dan lebih memilih membeli teknologi.

Sementara itu, banyak pula pelamar di lembaga riset dengan minat meriset rendah. Tak jarang, mereka hanya mencari pekerjaan sebagai PNS. Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menilai salah satu pemicu rendahnya kualitas peneliti adalah kurang kenalnya siswa dengan dunia riset sehingga minat jadi peneliti rendah. Mahasiswa baru mengenal riset saat skripsi, itu pun untuk memenuhi syarat kelulusan. ”Tak ada informasi jelas dan komprehensif tentang dunia penelitian,” katanya.

Menua
Tenaga peneliti di sejumlah lembaga riset juga menua. Sekitar separuh tenaga di LIPI, BPPT, Batan, dan Lapan berumur lebih dari 45 tahun. Bahkan, di Batan hampir 70 persennya. Moratorium perekrutan pegawai yang juga berlaku di lembaga riset mengancam regenerasi periset sehingga membuat rencana riset tidak berkelanjutan. Kepala Batan Djarot S Wisnubroto mengatakan, umur rata-rata pegawai Batan saat ini 48 tahun. Bahkan, di Batan Yogyakarta, 44 persen pegawainya berumur lebih dari 56 tahun. Dalam tiga tahun mendatang, sekitar 600 orang atau 22 persen pegawai Batan akan pensiun.

”Usia menua berdampak pada rendahnya inovasi. Itu hukum alam,” katanya. Menyekolahkan pun sulit karena melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua dan strata tiga dibatasi umur. Untuk saat ini, regenerasi peneliti di lembaga riset mendesak, selain membangun budaya riset bangsa sejak dini. (JOG/MZW)

Sumber: Kompas, 20 September 2016

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

One Comment »

  • Roket Cloud said:

    Tampaknya sdh sedikit disadari akan kekurangan2 yg terjadi di instansi2 litbang pemerintah oleh para pejabat. Tetapi ada yg perlu dikoreksi pernyataan yg menyepelekan Sarjana (S) (khususnya di Ind.) yg dianggap tidak patut menjadi peneliti. Realitas di sebuah lembaga penelitian pemr bahwa seorang PEJABAT FUNGSIONAL (setingkat S2 ke atas) yg tidak memiliki LAB/ tdk pernah keluar masuk LAB tetapi jabatannya bisa sampai Fungsional Madya/Utama (jd..apa sebenarnya yg telah dilakukannya??). Bahkan banyak terjadi yg melakukan penelitian/perekayasaan malah setara Sarjana dibanding Doktor dan bisa jadi bukan PNS yg masuk dlm birokrasi pejabat fungsional. Mungkin dr segi teori, strata tinggi lbh menguasai tetapi yg lbh penting adalah bgmn mereka mengimplementasikan teori tsb di tempat kerja sbg bukti bhw Pejabat fungsional tsb telah mengantongi gelar tinggi yg sdh disandangnya.
    Penilaian saya, bila semua nya bergelar tinggi dan mempunyai Jabatan fungsional tinggi, maka kegiatan justru tdk akan berjalan krn mereka meraih jabatan tinggi tsb dari sekedar memproduksi banyak2 tulisan bukan dari suatu prestasi dalam riset di lembaga. Kalo alasannya pengkajian2 dan pengkajian.. maka kapan penelitiannya?? Tetapi ujung2nya memang yg dikejar adalah Tunjangan2 yg tinggi dari HASIL TULISAN, bukan HASIL RISET(sangat mubadzir). SISTEM yg sdh bertahun2 diterapkan telah membentuk keadaan seperti itu. Pengamatan ini dilakukan pada sebuah Litbang pemr?

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.