Home » Artikel

Pumonean Di Pulau Siberut

20 February 2010 1,339 views No Comment

Hampir semua tanah rata di dekat ceruk air kecil, seperti halnya dengan lereng-lereng landai yang berdekatan dengan sungai-sungai primer di Siberut telah menjadi ladang. Seperempat atau setengah hektar hutan yang berada di lokasi-lokasi tersebut ditugal. Pemilihan ini merupakan strategi perladangan dataran rendah yang berair dan karena itu secara alamiah diberi pupuk dari longsoran humus tanah yang datang dari lereng-lereng bukit berhutan disekitarnya. Dalam perekonomian tradisional, ladang diperlukan untuk mengumpulkan buah-buahan hutan, sumber sayuran, tumbuhan obat-obat dan bahan-bahan bangunan. Memanglah keadaan semacam ini tampak sederhana dari luar tapi merupakan proses yang rumit dalam pelaksanaannya karena membutuhkan hubungan-hubungan khusus dengan tabu dan pantangan, kepercayaan dan upacara-upacara.

Inti dari pengerjaan ladang adalah keputusan seluruh anggota keluarga besar yang disebut Uma. Sebelum hutan ditebang atau ladang dibuka, anggota Uma bermusyawarah. Mereka mengelilingi dapur yang diletakkan ditengah-tengah Uma (abut kere). Mereka berdiskusi mengenai pembuatan ladang baru. Ladang-ladang baru mereka ciptakan dengan pelbagai alasan. Paling tidak ada lima alasan utama hutan di buka: (1) Menipisnya persediaan tanaman pokok seperti keladi (gette), pisang (mago’), ubi (gobi); (2) turunnya produktivitas tanaman buah [misalnya, rambutan (bairabbit), duku (peigu), durian (doriat), nangka (peigu)] karena usia tua; (3) pako’o, pertentangan suku karena perebutan lahan dan habisnya ladang karena tulou; (4) persaingan harga diri antar Uma yang membuat tercemarnya nama baik seperti perselingkuhan, koleksi tengkorak hewan liar, perebutan perempuan untuk dijadikan istri; (5) serta warisan dan tabungan untuk generasi mendatang. Sebelumnya, usulan membuka ladang harus disepakati oleh seluruh anggota Uma dewasa.

Dari tahapan perencanaan hingga ladang selesai kelak nantinya, semua anggota Uma yang membuka ladang harus melakukan restriksi atau pantangan (kei-kei). pantangan itu seperti misalnya melakukan hubungan seksual, membuka ladang saat istri atau babi piaraan sedang hamil. Larangan lain yang dikenakan bagi pembuka ladang adalah pantangan berburu, mengkonsumsi belut air tawar (lojo), makan sambil berjalan, mengkonsumsi udang segar (masoilok ngungu), buah berasa asam seperti jeruk (Citrus spp.) dan totonan (Etlingera elatior), makan saat kaki masih kotor atau basah, minum air mentah (mulok oinan simatak) dan pantangan rumit lain yang berkaitan dengan makanan dan tingkah laku.
Setelah tercapai kata sepakat, fase pertama dalam proses pengerjaan ladang adalah pemilihan lahan. Untuk itu mereka harus pergi ke hutan untuk mensurvai dan mengobservasi lahan (Pasibalou tinunggulu). Oggut (beliung), tegge (parang) mereka siapkan. Lantas berangkatlah ke hutan (leleu). Lokasi calon ladang yang mereka pilih adalah lahan yang landai dan tidak curam untuk menghindari longsor. Selain itu, dimana kayu-kayu bagus yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti marga Dipterocarpus dan Shorea banyak, disitu mereka urungkan membuat ladang.

Lokasi-lokasi pilihan memiliki tanda-tanda tertentu. Warna tanah yang hitam kemerahan adalah indikator utama. Apabila satu benih pohon (seedling) dicabut dan akarnya panjang, disitulah tanda tanah memakmurkan. Kehadiran baggli-baggli (Costus specious), karamangga (Ficus congesta), Karesiau (Eurycoma longifolia Jack), pelekak (Etlingera punicea), sikukuet (Etlingera sp.), soggunei (Musa sp), loba’ (Calamus sp.), bebeget (Calamus manan) adalah tanda-tanda tanah yang subur. Sementara itu tanah yang tidak dibuka untuk ladang ditandai oleh tumbuhan leileigougou (Pogonartherum orinitum), posa (Baccaeura deflexa), eruteinung (Melastoma sylvaticum), goite-goite (Schismatoglottis calyptrata), ubbau (Sphaerosthepanos polycarpus), seddet (Phrynium hirtum), dan kelak-kelak (Biechnum finlaysonianum). Jenis tanaman dalam kalimat terakhir menandakan tanah kurang subur. Selain itu perhitungan arah angin, posisi matahari, sudut bukit, dan komposisi kerimbunan—yang disebut sebagai (Maiggou)—melalui perhitungan yang rumit adalah faktor penentu apakah suatu hutan akan dibuka atau tidak. Hampir semua lokasi-lokasi itu ditandai oleh sungai-sungai kecil yang membelah hutan. Sungai-sungai kecil itu digunakan sebagai pembatas kepemilikan.

Jika calon ladang sudah ditentukan, kayu-kayu yang bagus mereka tandai dengan tanda silang setinggi dada untuk menandai kepemilikan ladang pada masa yang akan datang (geneigei). Setiap satu keluarga kecil memilih 0.2-0.5 ha bagian lahan itu untuk dirinya sesuai kemampuan mengerjakan. Mereka menandai dengan tanaman besar tertentu (lazimnya durian) untuk memisahkan ladang milik anggota Uma yang lain.

Tahapan kedua dalam proses pengerjaan ladang adalah menebas tanaman lantai hutan dan belukar. Kegiatan itu diawali dengan upacara (Panaki). Upacara tersebut untuk menghormati dan meminta izin leluhur penjaga hutan agar memberkati pembukaan ladang. Secarik kain berwarna merah atau putih atau hitam, sedikit tembakau, sehela pucuk kelapa atau enau (mungu) digunakan sebagai medium upacara (Panakiat). Jumlah Panakiat tak boleh berlebih dan harus sesedikit mungkin. Ini berkaitan dengan suatu pembedaan atau pemisahan (detachment) antara kebutuhan orang biasa (Sirimanua) dengan kebutuhan leluhur. Bagi leluhur barang persembahan yang jumlahnya sedikit dari manusia berarti banyak untuk dirinya dan sebaliknya. Jika barang itu terlampau banyak, itu sama artinya penghinaan bagi leluhur.

Medium atau Panakiat diletakkan di tengah ladang dan ditaruh dalam tonggak kecil setinggi setengah meter. Masing-masing anggota pembuka ladang mengelilingi Panakiat itu. Sikebbukat Uma (pemimpin Uma) atau orang yang dituakan dalam Uma memimpin upacara. Ia lantas membaca mantra:

Ale sateteu
Anai kai Panaki
Ita leuk sipumone
Bat rokdok
Bakisei kap kai
Ane alaket mui
Areu ake kap besi
Areu ake kap bolo
Areu ake kap pa katai-katai

[Wahai kakek moyang kami
Inilah persembahan kami
Kita adalah pemilik alam ini
Sungai Rokdok
Jangan anggap kami sebagai orang lain
Ini semua milik-Mu
Jauhkanlah kami dari bencana
Jauhkanlah kami dari penyakit
Jauhkanlah kami dari marabahaya]

Usai pembacaan mantra untuk leluhur, para pembuka ladang istirahat sejenak. Mereka menunggu leluhur penjaga hutan dan ladang untuk menikmati Panakiat persembahan. Selama satu atau dua minggu proses pembersihan tumbuhan lantai bawah—semak, herba, rumput dan belukar—dan pohon-pohon kecil dengan parang berlangsung. Pohon-pohon besar berdameter lebih dari 10 cm dibiarkan.
Setelah lantai hutan bersih, mulailah mereka menanam tanaman pokok seperti jenis-jenis pisang (Musa spp.), keladi (Colocasia esculenta), ketela pohon (Manihot utilisima.), ubi jalar (Ipomoea batatas). Bibit tanaman untuk makanan pokok tersebut diambil dari ladang lain atau pekarangan rumah. Bibit yang ditanam bisa berupa bibit vegetatif maupun bibit generatif. Jarak tanam dalam setiap bibit sekitar 5 meter untuk pisang, 2 meter untuk ketela dan 0.5 meter untuk keladi. Kadangkala bibit tanaman pertanian (cash crop) lain yang didapatkan dari para pendatang atau tumbuh liar di hutan seperti cabai (Capsicum spp.) dan terung (Solanum tuberosum) juga turut ditanam di sela-sela tanaman pokok. Tanaman pertama yang ditanam dalam calon ladang itu berfungsi sebagai makanan utama (staple food). Pisang, keladi, sagu menghasilkan karbohidrat dan serat tinggi tumbuh cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari–hari.

Bekas tebasan semak-belukar, pohon kecil, dan rumput dibiarkan membusuk. Api tidak memainkan peranan dalam perladangan di Pulau Siberut. Tak ada proses pembakaran. Sisa-sisa tebasan rumput dan semak belukar itu membusuk meragikan tanah. Campuran biomassa yang meragi dengan tanah dan hujan serta angin menghasilkan bubur humus yang subur yang diperlukan tanaman pokok untuk memberikan tepung kepada pemilik ladang. Zat-zat nutrisi baru dari bekas penebasan dilepaskan perlahan-lahan dari humus ke dalam tanah dan meresap ke akar-akat ketela dan pisang. Tujuh hingga sepuluh minggu, saat-saat dimana keladi dan ketela mendapatkan makanan yang berlimpah, bertunas daunnya. Pisang yang menghisap sisa-sisa tebasan belukar yang dibersihkan berdiri tegak setinggi pinggang manusia [sekitar 4-6 bulan pasca penanaman tanaman pokok.

Pada saat keladi bertunas dan pucuk-pucuk daun ubi menghijau, pohon-pohon besar yang tumbuh diladang baru ditebas. Tidak semua pohon ditebas habis. Penumbangan pohon-pohon besar tersebut didahului upacara pembukaan lahan baru (Masinenei tinungglu) di ladang. Upacara itu dimaksudkan agar semua jiwa (Simagre) yang bersemayam dalam tubuh pohon yang ditebas tidak marah dan memberi restu. Daun dan ranting tumbuhan yang ditebas diambil dan dimasukkan didalam tabung bambu yang berisi air atau buah kelapa muda. Ke dalamnya juga dimasukkan aileleppet (Graptophylum pictum) dan simakkainao (Hedychium coronarium).

Kedua jenis tumbuhan ini memiliki arti khusus dalam setiap upacara masyarakat Mentawai, tak terkecuali proses pengerjaan ladang. Setiap upacara Masinenei tinunggulu, tumbuhan ini harus disertakan. Tumbuhan ini dipercayai sebagai simbol kesuburan dan pulihnya generasi hutan karena ia cepat tumbuh. Air dari tabung bambu atau air kelapa itu dipercikkan ke tanah. Upacara itu lazimnya diikuti dengan pesta kecil di ladang. Satu atau dua ekor ayam disembelih dan dimakan dagingnya bersama-sama oleh para pembuka ladang sebagai tanda sukur.

Setelah pemercikan air upacara ke ladang, resmilah calon ladang itu menjadi ladang baru (tinunggulu). Serumpun aileleppet dan simakkainao ditanam mengawali proses Panusukat Tinunggulu. Aileleppet—yang berasal dari kata dasar maleppet (dingin)—merupakan simbol agar setiap saat kehidupan senantiasa sehat dan segar, dan simakkainao yang tumbuh lekas memiliki makna agar kehidupan terus berlangsung meski berganti waktu (to regenerating) dan semoga cepat tumbuh, dan air sebagai sumber kehidupan adalah rangkaian kesatuan kesuburan di ladang. Ada siklus kehidupan, buka ladang dan tanam. Ada tuah regenerasi tanaman dalam hutan, pemudaan komposisi tanah, dan harapan akan hasil ladang bagi keturunan.

Pada proses penebasan kayu-kayu besar, syarat yang mengiringinya tak hanya upacara Masinenei tinunggulu. Ada syarat berat lain yang harus dipenuhi. Setiap pohon yang ditebang harus diganti dengan pohon yang baru. Bibit itu harus sama jenisnya dengan pohon yang ditebang dan ditanam persis dibekas tebangan. Ini semua berkaitan dengan kepercayaan bahwa semua benda mempunyai jiwa (simagre). Setiap simagre pohon-pohon berpotensi untuk menjadi jahat dan membawa malapetaka bagi para pembuka ladang apabila tidak menghormatinya. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah menumbuhkan lagi jiwa pohon yang sama dan dengan itu akan menghidupkan jiwa pohon kembali.
Kayu-kayu berkualitas tinggi seperti Katuka (Dipterocarpus obelli) Kaboi (Pentace triptera mast.), Karai (Shorea lamellata) disisakan untuk kebutuhan rumah dan sampan dimasa depan Kayu tersebut diberi tanda khusus dengan parang untuk menunjukkan kepemilikan. Kayu-kayu tersebut lazimnya memiliki kerapatan yang lumayan tinggi sehingga ladang yang telah ditebang lebih mirip mosaik hutan dewasa yang terganggu pohon-pohon roboh karena usia tua atau angin puyuh. Tajuk-tajuk pohon bernilai ekonomi tinggi untuk bahan sampan masih menjulang diatas tanaman pokok dan pisang.

Setelah penebasan selesai, upacara besar tanda terima kasih atas pembukaan ladang (Puliajat lia-tinunggulu) disiapkan. Babi dan ayam sebagai sumber protein utama di Siberut dikorbankan untuk pesta besar. Seluruh anggota Uma berkumpul untuk pesta bersama menolak bala dan marabahaya yang mengancam anggota Uma setelah melakukan pembukan ladang baru. Seperti lazimnya upacara-upacara besar lain [membuat sampan, mendirikan rumah, pembaptisan anak laki-laki], puncak seremoni itu diakhiri dengan berburu (Murau-rau). Sepanjang sore hari sebelum berburu, anggota Uma yang siap membidikkan panah ke hewan liar membuat racun (momae). Campuran daun raggi, cabe, dan pelbagai jenis semak—rerumputan ditumbuk halus lantas dioleskan dipucuk-pucuk anak panah.

Hari-hari dimana anggota Uma yang laki-laki berburu, istri mereka meninggalkan Uma untuk mencari udang, lokan, dan ikan ke sungai-sungai seberang. Satu dua ekor, rusa (Cervus timorensis), babi liar (Sus scrova), atau primata yang berhasil dibunuh ditingkap suara kentongan bertalu-talu sebagai bentuk kebanggan anggota Uma adalah pertanda kesuksesan pengerjaan ladang baru. Dua sampai empat hari setelah sisa-sia makanan dari daging hewan buruan dibuang melalui kotoran, seluruh kei-kei berakhir. Perburuan hewan liar ini adalah akhir upacara puliajat lia-tinunggulu sekaligus penutupan kei-kei (Pasibulu iba sibau). Anggota Uma yang membuka ladang dan berburu di perbolehkan murak-rak, berhubungan badan dengan istri-istrinya. Ladang baru tersebut dengan demikian telah resmi disebut sebagai tinunggulu.

Dimasa pembuka ladang berikhtiar menghasilkan generasi-generasi baru pasca kei-kei, tanaman-tanaman muda satu musim panenan yang mereka tanam juga memacu produksi. Ketela pohon, ubi jalar dan keladi menghasilkan tuber atau umbi sebagai makanan pokok. Setelah kurang lebih 3-6 bulan, tanaman itu sudah bisa dipanen. Terkecuali pisang dan sagu.

Sekira dua atau tiga tahun kemudian ladang sudah berubah. Pisang setinggi dua meter. Tanah-tanah membasah. Semak belukar tumbuh acak. Kesemuanya itu tanda-tanda bibit tanaman buah siap diambil untuk ditanam. Bibit durian (Durio zibhetinus) Toktuk (Durio sp.), manggis (Garcinia indica), rambutan (Nephelium spp.), bairatdit leleu (Lapesium sp.), duku (Lansium domesticum), nangka hutan (Artocarpus calophylum), dan jambu (Psidium guajava) mereka pilih dari induk yang bagus saat musim buah berlangsung. Seleksi bibit rambutan dan duku secara alamiah dapat ditera dari buah yang mereka makan. Buah yang berasa manis dan berbiji besar adalah pilihan pertama yang tertanam. Biji yang tak tercena oleh usus dan terbuang bersama dengan kotoran akan menjadi tumbuhan yang berkualitas. Kelak tandanya: daun hijau lebar, akar memanjang, bakal batang coklat kehitaman, tumbuh cepat dan berbuah banyak. Sepanjang waktu itu pula, bekas tebangan pohon, perca kulit kayu dan ranting telah membusuk dan melapuk. Zat-zat arang yang meragi bersama dengan rayap, jamur, dan mikrobia telah memberi bubur pupuk alami yang melimpahbagi bibit tanaman buah.

Sepanjang dua atau tiga bulan di sekitar tahun kedua dan ketiga para pembuka ladang menanam bibit. Bibit berakar panjang, tumbuh menghijau, dengan calon batang yang kekar mereka sebar secara acak, menyerupai saat mereka jatuh karena seleksi alam. Tak ada tanam secara teratur. Semua bibit tanaman buah ditanam selebar lima sampai sepuluh langkah manusia dewasa.

Pada tahun pertama setelah resmi menjadi tinunggulu ladang perlu pemeliharaan. Secara teratur, saat rerumputan meninggi dan semak mengganggu tanaman pokok dan menaungi tanaman buah mereka tebas sekali lagi dan memberi humus tanah untuk tanaman-tanaman di atas ladang. Guna memudahkan pekerjaan itu, para membuka ladang membangun pondok kecil disekitar ladang. Pondok kecil itu adalah tempat istirahat jika kemalaman di ladang atau dirasa perjalanan ke rumah terlampau jauh. Lazimnya pondok diladang itu dielngkapi dengan petak kecil untuk ayam-ayam yang dipelihara.

Pada saat tumbuhan buah-buahan yang berkayu keras sedang berjuang untuk menjulang dan tanaman pokok sudah habis untuk dikonsumsi, giliran pisang menyediakan buahnya. Pisang menggantikan keladi dan ketela sebagai bahan makanan pokok. Panen buah pisang pertama kali pantang untuk dikonsumsi sendiri. Ada sebagian yang disisakan untuk tupai (soksak) dan primata yang juga hidup berdampingan dengan manusia. Sebagian yang lain harus diberikan kepada tetangga yang tidak sedang membuka ladang. Ini adalah sejenis restriksi untuk tidak tergesa-gesa mendapatkan hasil jerih payah. Dimasa depan, jika mereka cukup bersabar menuai hasil panen sekarang, limpahan pisang dan buah dari ladang akan lebih memakmurkan keluarga mereka.

Pisang yang beranak secara vegetatif terus membiakkan diri, berpacu dengan laju tumbuhan buah. Kesemua tumbuhan itu sama-sama mendapatkan nutrisi dari ranting, daun, bekas akar kayu-kayu mudah lapuk yang ditebang saat penebasan kayu besar. Perlahan-lahan ladang yang lama akan berubah menjadi kebun buah-buahan yang bisa menyerupai hutan serta semakin lengkap dengan kehadiran pondok kecil serta kandang ayam. Saat itulah ladang baru yang dulunya disebut tinunggulu berganti nama menjadi Pumonean.

Kayu-kayu besar untuk sampan tumbuh menyelingi diantara pohon durian, langsat, jambu, rambutan, jeruk, nangka. Selain itu pohon berkualitas yang sengaja ditanam secara acak sebagai pengganti pohon yang ditebang, tumbuh menjadi generasi baru. Tahun demi tahun, ladang berisi susunan tanaman tak teratur dan campuran sisa pohon hutan berkualitas, pohon buah-buahan dan tumbuhan hutan lainnya akan berkembang menjadi hutan kembali yang lebih produktif—menghasilkan buah-buahan. Tanpa tebang habis dan penggunaan api, ladang itu menjadi menyerupai struktur hutan dengan kecepatan yang tinggi. Seiring dengan perkembangan ladang, buah-buahan dan makanan pokok mengundang avifauna, mammalia kecil, babi hutan dan sesekali primata untuk mengunjunginya. Hewan-hewan itu adalah sumber protein bagi masyarakat sehingga lengkaplah ladang itu menjadi atau menyerupai hutan kembali yang menyediakan makanan pokok, sumber buah-buahan dan sekaligus sumber protein.

ditulis oleh Darmanto, dari Siberut

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.