Home » Pidato Ilmiah

Psyicologi Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Hari Depan

19 April 2010 1,321 views No Comment

Pidato penerimaan gelar doktor honoris causa Slamet Iman Santoso

Dalam lapangan Ilmu?Ilmu Pengetahuan, Psychologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang tergolong dalam ’empirical science’, yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman manusia.

Sekalipun menurut sejarah perkembangannya Psychologi pada permulaannya bersumber pada Filsafat, dan sekalipun pada masa sekarang Psychologi masih banyak sekali hubungannya dengan Filsafat, namun dewasa ini sumber utamanya adalah pengalaman manusia.

Selain dari pada itu, Psychologi berada di persimpangan beberapa Ilmu Pengetahuan modern lainnya, karena subyek utamanya adalah manusia dan reaksi?reaksi atau kegiatan?kegiatan manusia dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam dinamik kehidupan segala proses sosial, politis, ekonomis, keagamaan, moral?estetis, dan lain sebagainya. Oleh karena kedudukannya yang demikian itu, maka timbul bermacam?macam interpretasi terhadap posisi dan fungsi Psychologi.

Soal ini perlu dianalisa secara seksama untuk menghindarkan salah pengertian dan salah penggunaan. Oleh karena yang dipelajari adalah proses?proses yang ber­hubungan langsung dengan kehidupan sosial, maka banyak sek’ali konsep yang juga dikenal dalam kehidupan sehari?hari, ditemukan kembali dalam kosa?kaja Psychologi. Hal ini menimbulkan kesu­karan, sebab dengan demikian tidak hanya sarjana Psychologi yang mengetahui tentang Psychologi, melainkan pada dasarnya tiap orang terpelajar akan sekedar mengerti dasar?dasar Psycho­logi, bahkan mungkin menganggap dirinya kompeten dalam bidang ini. Hal inilah yang sebenamya mendasari ucapan?ucapan yang se­ring terdengar seperti: “Tindakan ini psychologis tidak benar … atau benar”. Demikian pula, bilamana usaha seorang sarjana psychologi berhasil, maka proses yang menuju ke hasil tersebut, umumnya mudah dapat dimengerti, sehingga dapat dicapainya tujuan tersebut seolah?olah tanpa bantuan Ilmu’Psychologi. Peran Psychologi dan sariana psychologi bukanlah peran yang herois dan spektakuler.

Disamping hubungan dengan proses?proses kehidupan sosial, maka di lain pihak ada hubungan erat antara Psychologi dengan Ilmu?ilmu Eksakta terutama di bidang Kimia, Biologi dan Listrik.

Dalam Ilmu Biologi Umum, untuk manusia khususnya Ilmu Kedokteran, dapat dibuktikan bahwa banyak sekidi proses mental atau proses emosionil disertai dengan proses?proses Kimia, Bio?Kimia dan Listrik. Hal ini sudah agak lama diketahui, dan oleh karena itu banyak sekali proses mental?emosionil kini dicoba diukur, atau lebih berbahaya lagi: di?identifikasi?kan tnelalui metode?metode Ilmu?Ilmu Eksakta tersebut, misalnya pesawat untuk menentukan kebohongan (lie?detector). Oleh karena Ilmu Kirnia, Fisika, BioKimia, bahkan ilmu tentang keturunan (Heredity) berhubungan erat dengan pengukuran (measurement) dan Ilmu Matematik, sedangkan Ilmu?Ilmu eksakta tersebut mempunyai reputasi dapat mendekati kepastian dan ketepatan dalam rwnalan (prodictive power), maka banyak usaha yang mencoba agar 11mu Psychologi dialah secara eksakt statistis.

Harus diakui, bahwa metode statistis itu sendiri pada permulaannya lemah, tetapi terbukti kemudian, bahwa metode tersebut lambat?laun dapat diperbaiki sedemikian rupa sehingga juga dalam segi kemampuan prediktif ini ada kemajuan yang sangat berarti. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa kemampuan prediktif yang statistis tadi hanya bertaku untuk gejala massal, sedangkan untuk tiap individu, artinya seorang dermi seorang, maka metode objektif statistis tadi hanya memberikan petunjuk. Dalam rangka individu, maka objektivitas dan subjektivitas akan bertemu kembali, dan dalam pertemuan tersebut akan sering timbul “seni” atau’art’ dalam penggunaan Psychologi sebagai disiplin empiris.

Mulailah sifat pribadi seorang Psycholog berhadapan langsung dengan yang diperiksa, berdasarkan dinamik yang disebut dengan konsep ‘rapport’, ‘hubungan antat pribadi,’interpersonal relation ship’. Adanya faktor subjektif dan ‘seni’ inilah yang menyebab kan seringnya. timbul pendapat, bahwa Ilmu Psychologi bukan 11mu Pengetahuan, melainkan Ilmu Kesenian, artinya suatu seni, an art.

Pendapat tersebut menyisihkan faktor?faktor objektif?statistis dalam metode Psychologi, dan oleh karena itu pendapat yang berat sebelah ini tidak dapat diterima. Apalagi dalam abad ke?20 ini; sebab misalnya perbedaan antara Einstein dan Eddington oleh kedua tokoh itu sendiri disadari pula berdasarkan perbedaan?perbedaan subjektif. Umumnya dapat dirumuskan, bahwa dalam Ilmu Pengetahuan selatu ada segi?segi subjektif yang dapat dihayati dan segi?segi objektif yang dapat diukur. Yang perlu disadari dan diketahui jelas adalah: dimana segi objektif berhenti dan di manakah segi objektif itu mulai berperanan, atau dimanakah batas antara fakta dan penafsiran. Dalam sejarah dan perkembangan segala Ilmu Pengetahuan, soal ini akan senantiasa timbul dan hanya dapat diatasi sepanjang dan sejajar dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan. Kita harus mampu mempergunakan self corrective process yang implisit terdapat dalam tiap ilmu pengetahuan empiris. Batu ujian terakhir adalah cocok?tidaknya dengan pengalaman, yakni verifikasi empiris.

Di samping soal metodologi tersebut di atas, maka materi atau isi Psychologi perlu diperiksa secara metodis terus menerus dan menuntut penyesuaian antara metodologi dan perbedaari materi yang terdapat diantara suku?suku bangsa serta perobahan dalam dinarnik kehidupan abad ke?20 ini. Di Indonesia perobahan ini sedang berjalan dengan sangat cepatnya.

Satu contoh yang pemah saya alami ialah dalam lapangan Psychoanalisa: Seorang sarjana mempergunakan analisa tersebut sesuai dengan dasar ajarannya, yaitu menyusun keperibadian yang menuju kearah individualisme. Terbukti pengarahan ini tidak berhasil, karena penderita yang sedang dianalisa tersebut berasal dari salah satu suku yang aliran kehidupannya mengutamakan sifat komunal. Setelah analisa kesukaran yang dihadapi oleh penderita, diarahkan ke arah komunal, maka hasilnya temyata lebih cepat dan lebih mendalam.

Sebaliknya, bila kita secara ilmiah atau intuitif paham tentang karakteristik kehidupan suatu suku, maka seringkali jalan perbaikan mungkin dapat dipersingkat. Suatu petunjuk ke dalam soal ini adalah pengertian tentang lambang?lambang yang ada dalam suatu lingkungan kebudayaan tertentu. Pemah saya menghadapi seorang pejabat yang sudah mencari konsultasi kemana?mana tanpa memperoleh hasil. Oleh karena pejabat tersebut sesuku dan sedaerah dengan saya, maka pokok persoalan tingkah lakunya segem dapat kita ketahui bersama.

Oleh karena itu Ilmu Psychologi sangat memerlukan bantuan ilmu-ilmu lainnya seperti Antropologi, pengetahuan tentang Ceritera-ceritera Rakyat, dan bahkan Takhayul. Takhayul bukannya untuk diikuti, melainkan sebagai landasan untuk pengertian. Sebaliknya, bila kita tidak memahami kebudayaan suatu golongan tertentu, maka jalan therapie menjadi panjang bahkan sulit. Berkenaan dengan materi yang berbeda?beda ini timbul lagi peristiwa?peristiwa yang telah saya sebutkan dalam pembicaraan tentang metodologi tersebut di atas:

Materi ini dalam retrospect kita ketahui bersarna, dan asosiasi patologis yang kemudian diperbaiki, adalah sedemikian mudahnya ?untuk dimengerti, sehingga perobahan hubungan asosiatif tadi tampaknya ‘wajar’, ‘natural’.

Soal perubahan dalam masyarakat sepanjang bahan ini menjadi materi untuk Psychologi merupakan suatu proses wajar pula, misalnya perobahan materi inteligensi, materi yang merangsang emosionil moral, dan lain sebagainya. Bilamana kita tidak sadar dan waspada, maka banyak sekali hal yang rupanya wajar dan dianggap lumrah, biasa, natural, sehingga tidak memerlukan perobahan apapun, kecuali barangkali sedikit bantuan dari ilmu psychologi. Benarkah halnya demikian?

Dalam sejarah pembentukan Fakultas Psychologi di tahun 1952 pada Dies U.I. ke?I di Bandung dengan jelas saya kemukakan soal yang sudah dianggap biasa, natural, normal, yaitu:kegagalan para murid di sekolah?sekolah dan kegagalan dalam memilih lapangan pekerjaan. Bila kita analisa soal ini, maka akan nyata bahwa kegagalan?kegagalan tersebut sebagian besar berdasarkan faktor Psychologis dan bahwa sebagian dari kegagalan tersebut sebenamya masih dapat diperbaiki, dan bakat?bakat dapat disalurkan kearah yang lebih memuaskan. Berdasarkan kenyataan itu, maka motto dari pada pidato tersebut terdiri dari tiga soal: Pertama, ‘the survival of the fittest’, soal yang menurut teori evolusi merupakan hal yang ‘natural’, jadi ‘drop outs’ atau ‘misplacement’ juga, merupakan hal yang ‘natural’. Kedua, ‘intelligence mastering nature’, dalam hal ini Ilmu Psychologi digunakan untuk mengoreksi soal yang natural, yang biasa tadi, metalui penyaluran yang di dasarkan pada metode Psychologi untuk sampai pada motto ketiga, yaitu ‘the right man in the right place’,

Lagi?lagi suatu kondisi yang natural, biasa. Tetapi ‘biasa’ motto pertama berbeda dengan ‘biasa’ menurut motto ketiga.

Oleh karena semuanya biasa, maka perkembangan Psychologi di Indonesia juga biasa, artinya ‘alon?alon angger kelakon’, sekalipun fungsi sosialnya sebetulnya urgen sekali untuk memperbaiki pendidikan yang di Indonesia ini biasanya siudah biasa mengecewakan. Andaikata tiap 2 atau 3 sekolahan, soal?soal pendidikan dan paedagoginya di dampingi oleh seorang ahli Psychologi yang mampu menentukan jenis intelbgensi, motivasi, bakat, dan mengetahui pula tentang job requirement analysis, maka golongan yang sekarang dihebohkan dengan nama ‘drop out’ sebagian besar akan dapat disalurkan menurut motto k~tiga tersebut di atas, dan tinggallah ‘drop outs’ berdasarkan soal?soal sosial ekonomis saja. Soal ‘drop outs’ berdasarkan salah pilih pendidikan, salah pilih pekerjaan jauh sebelum Perang Dunia II dikenal di Negeri Jerman sebagai’die Tragodie der Verfehiten Berufe’. Pada masa itu pula soal ini telah dikenal di Indonesia, dan orang?orang berdatangan mengunjungi poliklinik Neurologi dan Psychiatri, karena pada masa itu Psychologi dianggap tidak perlu di Hindia Belanda. Sekarang soal ‘drop outs’ sudah resmi menjadi masalah nasional, tetapi masih belum menjadi masalah Psychologi, artinya, belum ‘resmi menjadi masalah Psychologi’.

Mengherankan pula bahwa telah ada perusahaan swasta yang bergerak dalam lapangan Psychologi yang resmi dipergunakan oleh sekolah?sekolah lanjutan, sedangkan dasar ilmu pengetahuan perusahaan tersebut masih diragukan.

Fungsi Psychologi sudah lebih banyak dipergunakan dalam lapangan perusahaan. Sekalipun masih belum diadakan follow?up secara luas sebagaimana seharusnya dilakukan dengan metode statistik, namun secara kwalitatip pendapat berbagai?bagai perusahaan sangat puas dengan hasil psychologi, bahkan LEMIGAS sudah beberapa tahun terus?menerus dan secara teratur bekerjasama dengan Fakultas Psychologi U.I. Sekurang?kurangnya hingga sekarang belum ada sikap negatif terhadap penggunaan Psychologi. Di samping penmhaan?perusahaan, maka ABRI, terutama 3 Angkatan TNI-nya, sudah lama mempergunakan Psychologi sebagai alat resmi dalam seleksi penerimaan anggota?anggotanya. Sebetulnya, karena Ilmu Psychologi antara lain mempelajari syarat, reaksi dan kegiatan manusia dalam kehidupan, maka pada dasamya Psychologi dapat digunakan dalam tiap segi dan kegiatan kehidupan manusia. Oleh karena itu, di negara?negara yang telah mengetahui manfaat Psychologi untuk propaganda, kita kenal berbagai kejuruan seperti Psychologi untuk propaganda, untuk periklanan, untuk pengendalian massa, untuk kriminologi, untuk perusahaan, psy?Warfare, dan berbagai bidang lainnya.

Ditinjau dari segi ini, maka dapat timbul dua pertanyaan: Mengapa di Indonesia belum sampai penggunaan meluas dan mengapa belum ada kejuruan?

Pertanyaan pertama mudah dapat dijawab: Psychology belum cukup dikenal dalam fungsi sewajarnya, dan masih membutuhkan banyak usaha dan waktu untuk mengabdi dalam masyarakat seca­ra meluas. Di samping belum tiba waktunya, maka banyak sekali lapisan-lapisan yang tanpa menyadari menganggap diri cukup melaksanakan usaha yang biasanya disebut ‘psychologis’.

Pertanyaan kedua tentang kejuruan sebenarnya hanya dapat dijawab, kalau kita menyadari sejarah perkembangan Ilmu Pengetahuan, fungsi Ilmu Pengetahuan, serta zaman dan situasi di mana psychologi akan dipergunakan.

Di Indonesia soal kejuruan sudah dikenal, bahkan S.M.A. pun sudah dijuruskan. Padahal pada tingkat tersebut bakat, motivasi, intelligensi dari siswa belum dapat diketahui.

Demikian pula tahun pertama universitas sudah dijuruskan, padahal­ soal intelligensi, motivasi, bakat tidak diketahui juga, dan seterusnya. Karena banyak faktor tidak diketahui, maka kejuruan menjadi tanda tanya yang besar. Kejuruan hanya jelas menyebabkan fragmentasi secara luas, sedemikian luasnya sehingga seolah-olah tiap kejuruan terkurung dalam rangka kejuruan masing?masing, dan komunikasi antara kejuruan sangat sukar. Hal ini terbukti pula dari kenyataan, bahwa di lapangan Pemerintahanpun perlu adanya KISS, koordinasi, integrasi, synkronisasi, simplifikasi.

Fragmentasi antara kejuruan ini mempunyai hubungan dengan perkataan koordinasi dan synkronisasi. Soal ini telah saya sinyalir dalam pidato saya pada tanggal 15 Januari 1972 dalam lapangan Ilmu Kedokteran.

Kecuali soal fragmentasi ini, maka dasar ilmu psychologi itu sendiri dewasa ini sedang berkernbang, sehingga kejuruan di masa ? sekarang dasarnya akan lebih sempit dari kejuruan misalnya 5 tahun lagi yang akan mendatang.

Dalam masa perluasan dasar suatu Ilmu Pengetahuan, maka spesialisasi merupakan usaha yang sangat dubieus. Specialisasi hanya sempurna, bilamana dasar dari ilmu induknya mendekati stabilisasi. Pada masa sekarang sudah dirasakan di beberapa negara dan universitas keperluan mencari hubungan dasar untuk Psychologi, Anthropologi, Sosiologi, bahkan ada yang menambahkan Filsafat. Jelaslah bahwa dasar dari Psychologi sedang bergerak. Kerugian lain dalarn rangka spesialisasi adalah penyernpitan yang akhirnya menjadi jalan buntu dan routineus, ‘blind alleys’.

Spesialisasi memerlukan kewaspadaan untuk terhindar dari penyempitan tersebut, dan oleh karena itu selalu perlu dicocokan kernbah dengan dasar ilmu induk yang sedang berubah. Phenomena yang serupa terdapat dalam teori tentang evolusi modern: Hewan yang telah terspesialisasi tidak dapat berkembang ketingkat yang lebih tinggi dari pada tingkat itu juga(Julian Huxley).

Dalam situasi di Indonesia, sebagai negara yang sedang berkembang dan di mana tenaga?tenaga terdidik masih sangat kurang, maka sebenarnya tiap sarjana harus sanggup menghadapi lapangan kehidupan seluas mungkin. Dengan dasar pendidikan yang luas, maka kernampuan untuk menanggapi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan tersebut lebih baik dari pada terburu menjadi spesialis. Penduduk Indonesiapun masih belum cukup maju untuk mengerti tentang spesialisme. Sekalipun banyak alasan untuk tidak terburu?buru melaksanakan spesialisme, tetapi spesialisme memang jasanya besar sekali untuk memperdalam segi?segi tertentu, dan dalam tahap kedua mungkin dapat memperluas pula dasar Ilmu Pengetahuan. Kita mengetahui adanya oscillasi antara dasar Ilmu Pengetahuan, spesialisasi dan memperdalam ilmu.

Di samping analisa dari Ilmu Pengetahuan Psychologi sebagai limu Pengetahuan, maka dalam lapangan penerapan pengetahuan ini di Indonesia belum ada ketentuan. Seperti pada permulaan karangan ini dinyatakan, maka obyek Psychologi adalah manusia dan manusia ini dilindungi oleh Undang?Undang. Oleh karena itu maka penerapan Psychologi juga perlu diberi kedudukan sejajar dengan obyeknya, perlu adanya ketentuan perundang?undangan serupa dengan telah adanya perundang?undangan Kedokteran dan Pharmasi. Beberapa segi dari peraturan ini adalah sebagai berikut:

Pertama harus ada ketentuan?ketentuan tentang syarat?syarat yang perlu dilengkapi sebelum ada seorang sarjana dapat diberikan izin menerapkan pengetahuannya; hal ini terutama berkenaan dengan izin untuk orang asing, atau mereka yang dididik di luar negeri. Hal ini perlu oleh karena Ilmu Psychologi hubungannya sangat erat dan luas dengan lingkungan kebudayaan. Selain soal lingkungan kebudayaan ini, maka nasihat seorang psycholog mungkin merobah jalan atau nasib orang yang diperiksa. Sedikit banyak nasib ditentukan oleh nasihat tadi. Oleh karena itu maka sebenarnya tanggungjawab seorang sarjana psychologi sama beratnya dengan tanggung jawab seorang dokter atau seorang hakim. Kalau seorang dokter bertanggung jawab tentang hidup atau matinya seorang penderita, maka seorang psycholog dan hakim bertanggung jawab mengenai nasib manusia sepanjang hidupnya. Ada suatu pepatah : “Korban seorang dokter biasanya dikuburkan, sedang korban seorang sarjana Ilmu Sosial didemonstrasikan sepanjang hidupnya”. Ketiga?tiganya bertanggung jawab mengenai manusia, obyek sentral dan obyek yang dilindungi Undang-Undang, dan bahkan merupakan landasan bagi dirumuskannya: “The Universal Declaration of Human Rights”.

Soal kedua adalah yang berkenaan dengan “rahasia Ilmu Pengetahuan”, baik hal ini hanya terbatas pada sarjana yang memeriksa dan orang yang diperiksa, maupun hal rahasia ini berkenaan dengan kewajiban sarjana Psychologi yang menjadi pegawai salah satu perusahaan. Sekalipun usaha sarjana Psychologi hanya biasa saja kelihatannva, yaitu “the most natural process” dan sama sekali tidak spektakuler seperti hasil usaha sarjana Ilmu Kedokteran, namun manusia tetap membutuhkan rahasia untuk melindungi kelemahan?kelemahannya. Sarjana Psychologi wajib tutup mulut mengenai soal?soal pribadi orang yang meminta bantuannya, baik terhadap keluarga yang bersangkutan, maupun terhadap majikannya.

Cara melaksanakan penerapan ilmunya dapat diuraikan dan diterangkan, tetapi soal yang perlu dirahasiakan harus tetap dirahasiakan. Pembocoran rahasia ini mungkin merugikan kedudukan client dalam lingkungan keluarganya, atau dalam rangka kedudukannya dalam perusahaan atau jawatannya. Sebaliknya, usaha sarjana Psychologi tidak pula boleh melindungi client dan menyebabkan kerugian pacia fingkungannya. Seorang ahli Psychologi seringkali berhadapan dengan situasi yang menyempit ini, dan oleh karena itu perlu adanya peraturan?peraturan yang lengkap disatu pihak, dan dipihak lain kepribadian yang sanggup menghadapi serta mengatasi “kedudukan terjepit” seperti ini.

Kedudukan terjepit inipun akan dijumpai bila di kemudian hari Ilmu Psychologi dipergunakan dalam rangka pengadilan, baik dalam bidang pidana maupun dalam bidang perdata atau dalam rangka kriminologi. Sampai di manakah Undang?Undang akan dapat membebaskan sarjana Psychologi dari kewajiban menyimpan rahasia client untuk dapat mengamankan masyarakat? Pertanyaan ini membutuhkan pemikiran yang mendalam sebelum dapat disusun peraturan yang aman.

Soal ketiga adalah Psychologi dalam propaganda, periklanan dan usaha?usaha lainnya yang serupa. Dalam zaman modern ini, maka Psychologi banyak dipergunakan dalam lapangan?lapangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah: “Sampai dimanakah seorang Psycholog bertanggung jawab dalam propaganda periklanan dan usaha?uasaha yang serupa itu? “Benarkah, bahwa apa yang dipropagandakan itu bermanfaat untuk manusia dan masyarakat, ataukah propaganda tersebut hanya merupakan ‘sales promotion’ belaka?”

Perlu saya tegaskan, bahwa sekalipun semua Ilmu Pengetahuan tujuannya adalah mencari kebenaran, dan saya tidak mengingkari tujuan tersebut, namun belum tentu bahwa kebenaran itu identik dengan mempertinggi martabat manusia dan masyarakat. Dengan hubungan ini maka pengamanan perlu sekali, supaya pengunaan Ilmu Psychologi tidak menyimpang dari tujuan intrinsik dari semua Ilmu Pengetahuan, yaitu kebenaran yang mempertinggi martabat manusia dan masyarakat. Pengamanan tersebut dapat berupa ketentuan, bahwa iklan atau propaganda dapat dituntut bila tidak dapat memenuhi isi propagandanya. Iklan atau propaganda yang sekarang sedang melanda negara kita, harus memberi jaminan kebenaran tentang isinya. Sebetulnya masih banyak sekah segi-segi penerapan yang perlu diperiksa, tetapi empat contoh tersebut di atas kiranya cukup untuk menggugah kewaspadaan terhadap soal yang kelihatannya wajar dan biasa. Untuk mengamankan Ilmu Psychologi perlu rancangan Code Ethik Ilmu Psychologi yang kini telah siap dan dijadikan pedoman oleh ahli?ahli Psychologi di Indonesia, disahkan oleh fihak resmi. Di samping itu perlu disusun suatu Dewan Kehormatan Psychologi yang bertugas mengawasi ditaatinya Kode Ethik tersebut untuk menjaga pelanggaran?pelanggaran atau membela para sadana Psychologi bila salah dituduh. Untuk ini semuanya perlu hubungan erat antara persatuan sarjana Psychologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Kehakiman dan Departemen Kesehatan bila perlu.

Setelah berbagai soal yang mendesak saya soroti sepintas lalu, maka tinggal kini hari depan Ilmu Psychologi di Indonesia. Sekalipun semua usaha sosial di Indonesia mempunyai pretensi ‘nation building’, namun Ilmu Psychologilah yang langsung menghubungi manusia Indonesia, baik yang muda maupun yang tua, baik yang, bekerja maupun yang menganggur, baik yang orthodox dan tidak mau berobah, maupun yang saking berobahnya sampai tergelincir. Sesuai dengan pidato saya tahun 1952, maka saya sekarang tetap mempertahankan bahwa sekurang?kurangnya ada dua lapangan di mana Psychologi pada masa yang akan datang akan sangat bermanfaat. Untuk soal ini maka perlu pengertian, yang mendalam dari pihak yang berwenang. Lapangan pertama adalah pendidikan, yang bila dibatasi pada sistim persekolahan saja sudah meliputi sekurang?kurangnya 20 juta anak?anak.

Anak?anak yang sering disebut ‘penyambung kehidupan bangsa, penguasa masa depan, pengganti kaum tua’. Sekali lagi saya majukan bahwa pada tahun 1952 tujuan utama dari pendidikan Psychologi adalah untuk membantu guru?guru di sekolah?sekolah, supaya pendidikan menjadi lebih effisien dan banyaknya kegagalan atau ‘drop outs’ diperkecil sekecil?kecilnya. Tujuan kedua adalah untuk mempertinggi produktivitas dalam negeri dengan mencapai target ‘the right man in the right place’dalam hal mana Ilmu Psychologi dapat membantu dengan penelitian ‘job requirement analysis’. Kedua lapangan tersebut mempunyai hubungan erat sekali baik ke segi negatif, maupun ke segi positif.

Bilamana selama pendidikan, kepribadian murid?siswa tidak diketahui, maka usaha guru akan mempunyai sifat ‘trial and error’. Bila terjadi error, maka murid yang bersangkutan mungkin sekali menjadi manusia yang tidak seimbang seorang yang disorganized. Bilamana banyak terjadi ‘error, maka dalam masyarakat tersebut terdapat banyak ‘displaced personalities’ tadi dengan akibat ‘disorganized society’ dengan produktivitas yang rendah. Ilmu Psychologi dapat membantu mengenal kepribadian siswa-siswa dalam segi bakat?bakat, kemampuan, dan motivasi, dan dengan demikian sifat ‘trial and error’ dapat lebih diarahkan ke arah yang lebih menentu. Bilamana sebagian besar dari ‘error’ dapat dihindarkan, maka sebagian besar dari siswa menjadi ‘adjusted personalities’, dan bilamana dalam suatu masyarakat cukup banyak ‘adjusted personalities’ maka terjadi pula stabilitas dalam masyarakat, ‘an organized society’ yang biasanya identik dengan masyarakat yang produktif.

Sekalipun dalam proses yang disini digambarkan sepintas lalu dan tampaknya sangat sederhana, masih banyak sekaH per­soalan perlu diatasi, namun garis pengarahan cukup jelas untuk mengoreksi kesalahan?kesalahan. Bilamana kedua segi ini saja dapat dilaksanakan, maka Ilmu Psychologi telah menunaikan sebagian besar dari tugasnya dalam ‘nation building. Lain?lain segi dapat menyusul kemudian. Tentunya di samping kedua segi yang sosial pragmatis tersebut masih sangat diharapkan penelitianpenelitian dasar lainnya, terutama di Indonesia ini yang terdiri dari puluhan lingkungan kebudayaan. Demikian pula perlu diikuti dengan seksama perobahan?perobahan yang serang lewat di Indonesia ini. Justru dalam negara yang kebudayaannya terbentang antara zaman batu di Irian Barat, sampai zaman nuklir dan ruang angkasa, maka peran Ilmu Psychologi adalah sangat perlu untuk menjadi perantara dalm hal modernisasi.

Dengan rendah hati saya menyampaikan terima kasih saya kepada Yth. Menteri P & K yang memberikan persetujuan pemberian Gelar Honoris Causa kedua kalinya pada saya.

Demikian pula saya sampaikan terima kasih kepada Yth. Rektor serta Senat Universitas Indonesia yang selama pembentukan pendidikan di Fakultas Psychologi dari 1953 hingga sekarang memberikan kepercayaan penuh, dan memutuskan pemberian Honoris Causa dalam Ilmu Psychologi pada saya. Tanpa kepercayaan tadi, maka usaha saya tidak mungkin berhasil, dan kepercayaan tadi akan tetap menjadi landasan usaha selanjutnya.

Keluarga Fakultas Psychologi; Pada hari bahagia untuk kita semuanya ini, maka rasa takut, bimbang pada permulaan langkah-langkah pertama dalam menyusun pendidikan Ilmu Psychologi di Indonesia telah diganti dengan rasa lega. Oleh karena dapat saya sebut beberapa nama yang menurut keyakinan saya dapat mengembangkan Ilmu Psychologi selanjutnya ?Echelon pertama adalah Prof. Fuad Hasan dan kawan?kawannya.

Tenaga?tenaga lainnya, baik Staf Pengajar maupun Staf Administrasi menurut penilaian saya cukup penyerahan diri, dan tekun bekerja untuk tugas pengembangan Lembaga pendidikannya sekalipun jelas bahwa beban yang mereka pikul kian hari tambah berat dan luas.

Telah di hadapan mata kita, setelah 20 tahun mengembara tanpa rumah sendiri, bahwa pertengahan 1974 akhirnya akan dapat bangunan khusus dan permanen untuk melaksanakan pekerjaan kita.

Kepada istri?anak?anak dan Ibu Soetedjo, terima kasih saya untuk segala kebebasan dan bantuan sehingga saya dapat melaksanakan sumbangan saya dalam perjuangan dari zaman Kolonial hingga sekarang.

Almarhum Bapak Ibu dan Almarhum Bapak Soetedjo, berkah do’a Restu mu, akhirnya jalan dapat saya ratakan.

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.