Home » Artikel

Perempuan Dan Teknologi Informasi

27 May 2011 913 views No Comment

SETIAP tanggal 21 April, Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kartini, sebagai tonggak kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang. Indikator kesetaraan pada zaman Kartini hidup adalah kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Kesetaraan dalam bidang ini masih sangat relevan sampai sekarang, di samping kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan non pertanian dan berpolitik seperti tercantum dalam salah satu target dan indikator Millenium Development Goal’s (MDGs). Dengan dasar kesadaran yang sama, para pegiat Teknologi Informasi (TI) juga menginginkan keadaan yang serupa. Fakta di lapangan mengindikasikan bahwa bidang TI masih sangat didominasi laki-laki.

Dalam konteks Indonesia, penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih ‘terbelakang’ dalam menggunakan internet dibandingkan laki-laki. Akses perempuan terhadap media pun lebih terbatas dibandingkan laki-laki. Ini adalah salah satu bentuk kesenjangan digital antarjender – antara perempuan dan laki-laki.

Sesungguhnya, terdapat berbagai alasan mengapa perempuan perlu dilibatkan dalam bidang TI. Pertama, dengan kondisi sex ratio yang sudah mendekati 1 (di beberapa negara bahkan sudah di bawah 1), maka separuh penduduk dunia termasuk Indonesia, adalah perempuan. Pelibatan perempuan dapat membantu memenuhi kekurangan tenaga terampil dalam bidang TI yang masih banyak dibutuhkan. Data dari Analisis Blue-Print Sumberdaya Manusia Komunikasi dan Informatika yang diterbitkan Depkominfo menunjukkan bahwa pada tahun 2010, sektor TI membutuhkan konsultan jasa TI sebanyak 138.248 orang, ahli perangkat lunak 57.928 orang, praktisi perangkat keras 34.848 orang dan sumberdaya manusia untuk industri TI nasional 231.025 orang. Proliferasi perkembangan adopsi TI dalam beragam sektor nampaknya belum akan menurunkan kebutuhan tenaga terampil dalam bidang TI. Meskipun peluang masih terbuka lebar, namun data dari Ditjen Dikti (evaluasi.or.id dan pdpt.dikti.go.id) menunjukkan bahwa persentasi perempuan yang mengambil bidang TI di perguruan tinggi hanya sekitar 27% dari semua mahasiswa TI.

Kedua, bidang TI menawarkan karir dan kondisi pekerjaan yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan bidang lain. Survei dari Hay Group dalam beberapa tahun terakhir pun mengindikasikan bahwa gaji pertama pekerja dalam bidang TI termasuk yang tertinggi. Data terbaru Ditjen Dikti menunjukkan bahwa jumlah lulusan perempuan dari perguruan tinggi lebih banyak dibandingkan dengan lulusan laki-laki. Saat ini, APK tingkat pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 18,7%, namun ketimpangan masih dirasakan dalam bidang TI.

Ketiga, banyak yang percaya bahwa keseimbangkan tenaga kerja laki-laki dan perempuan akan mempunyai dampak secara ekonomi, karena separuh potensi pasar TI adalah perempuan. Sebagai contoh, Ford dan Volvo melibatkan tim perempuan insinyur untuk mendesain mobil untuk pasar perempuan. Pasar TI untuk perempuan sangat mungkin juga membutuhkan ‘sentuhan’ perempuan.

Di Indonesia, data berbagai studi mengindikasikan bahwa meskipun proporsi perempuan yang menggunakan TI masih di bawah laki-laki, tetapi besarannya cenderung meningkat. Sebagai gambaran, dengan beragam indikator pengguna internet, pada tahun 2003, 32% pengguna warnet di Indonesia adalah perempuan dan pada April 2011, pengguna Facebook dari Indonesia sejumlah 35,4 juta, yang sekitar 40% darinya adalah perempuan.

Keempat, secara politis, potensi TI untuk pembangunan dengan beragam bentuk implementasi akan dapat dioptimalkan jika perempuan yang merupakan separuh warganegara dapat berperan serta aktif di dalamnya. Keterwakilan perempuan dalam lembaga politik yang masih rendah (www.ipu.org) dapat dikompensasi dengan suara perempuan di luar jalur politik formal dengan fasilitasi TI. TI telah terbukti menunjukkan tajinya dalam berbagai perubahan politis besar di dunia, seperti kasus tergulingnya Joseph Estrada di Filipina dan Hosni Mubarak di Mesir.

Jika memang keterlibatan perempuan dalam bidang TI dipandang sebagai sebuah keniscayaan dengan berbagai alasan di atas, maka diperlukan agenda aksi untuk mencapainya. Pertama, kesadaran, terutama di kalangan pengambil kebijakan, bahwa perempuan harus dilibatkan dalam bidang TI harus dibentuk terlebih dahulu. Kedua, bagaimana menarik minat perempuan untuk mendalami TI adalah sebuah pekerjaan rumah dunia pendidikan.

Tanpa mengundang ‘Kartini’ untuk terlibat dalam bidang TI dan tanpa kerja sama berbagai pihak, nampaknya mengejar target minimal 50% penduduk Indonesia mempunyai akses personal terhadap TI pada tahun 2015 sebagaimana diamanatkan oleh The World Summit on the Information Society (WSIS) akan lebih sulit tercapai.

(Oleh: Fathul Wahid Msi, Penulis adalah Dosen Program Magister Informatika UII/sedang mengambil S-3 di University of Adger Norwegia

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 20/04/2011 13:21:29

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.