Home » Berita

penyakit tanaman; Saatnya Pakar Turun ke Sawah

21 April 2014 24,507 views One Comment

Suryo Wiyono membelah bonggol batang pisang kepok yang coklat kehitaman seperti habis terbakar. Doktor yang mengajar di Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu berlaku layaknya dokter yang memeriksa pasien. Ia korek bagian tengah batang pisang, sedangkan para petani memperhatikan di sekelilingnya.

Nasrullah, petani pemilik tanaman pisang penyakitan itu, memperhatikan tiap gerak Suryo. ”Saya sangat berharap ada jawaban dan pemecahan penyakit ini,” kata dia, penuh harap.

Tak lama kemudian, Suryo menyelesaikan diagnosanya. ”Ini penyakit layu  fusarium  akibat cendawan,” kata dia. Selama ini, para petani di Desa Kwasen, Kecamatan Kesesi, Pekalongan, Jawa Tengah, itu tak berdaya menghadapi wabah mematikan tanaman pisang.

Kepala Departemen Proteksi Tanaman IPB Abdjad Asih Nawangsih menguji diagnosa itu. Asih menyebut, batang pisang kepok itu kemungkinan diserang bakteri Pseudomonas solanacearum  dan  Ralstonia solanacearum  pencetus penyakit blood disease. Tahun 1995, penyakit yang disebut ”muntaber” itu merebak. Pisang pun langka.

Setelah mengamati lebih teliti, Suryo tetap yakin dengan diagnosanya. ”Kalau bakteri, pasti ada lendirnya saat dibelah,” kata dia. ”Ini jamur.”

Jamur  atau cendawan yang dimaksud Suryo adalah  Fusarium oxysporum f.sp. cubense. Penyakit ini mendunia dan dikenal sebagai panama desease. Baru-baru ini, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengingatkan petani pisang tentang ancaman penyakit yang belum ada obatnya itu. ”Kalau memakai obat kimia memang tidak bisa. Namun, penelitian kami dengan bakteri antagonis dan seleksi bibit cukup berhasil,” tutur Suryo.

Bakteri antagonis yang bisa dipakai untuk melawan jamur itu adalah Pseudomonas fluorescens dan Bacillus polymyxa. Suryo menyarankan untuk membungkus bunga pisang yang belum mekar dan segera dipotong jika cukup jumlah tandannya. Untuk pisang yang belum berbunga dan terinfeksi dari bonggol, maka harus dibongkar. Pada lubang yang terbentuk diisi dedaunan kering dan dibakar, termasuk bonggolnya, untuk mencegah penyebaran penyakit itu.

a4e664a923cc43f6861118ba02aa1997Nasrullah tampak puas dengan penjelasan itu dan akan mencoba resep itu. Beberapa petani lain bergilir mengangsurkan tanaman mereka. Ada yang membawa tanaman cabai yang seluruh daunnya rontok, padi yang diserang penyakit ketekek atau patah leher, hingga pertanyaan cara mengatasi serangan babi hutan yang mengganas.

Dari pagi, pukul 10.00, hingga sore, Suryo, Asih, dan beberapa doktor dari IPB bergiliran memberi diagnosis dan menawarkan solusinya. Mereka menjadikan halaman rumah Kepala Desa Kesesi, yang dikelilingi sawah itu, sebagai ruang kuliah.

Beberapa sampel tanaman diteliti melalui mikroskop dan peralatan lain yang dibawa mobil khusus berlabel ”Klinik Tanaman”. Mobil jenis van itu disulap menjadi laboratorium mini. Michelle Rizky Yuditha, lulusan baru, jadi asisten laboratorium berjalan itu.

”Silakan kalau ada masalah pertanian lain yang mau ditanyakan. Yang penting, tanamannya dibawa agar bisa diperiksa. Kalau tak sempat hari ini, boleh difoto lalu dikirim ke kami,” kata Bonjok Istiaji, kolega Suryo di Departemen Proteksi Tanaman. Bojok lalu memberi alamat laman interaktif http://cybex.ipb.ac.id. ”Bapak-bapak bisa meminta bantuan anak-anaknya. Pasti canggih memakai internet. Bisa konsultasi gratis.”
Menyalakan lilin

Bagi petani, Klinik Tanaman itu bagai oase di tengah sulitnya mendapat pengetahuan praktis tentang beragam persoalan yang mereka hadapi. ”Selama ini, kami tak tahu harus tanya ke mana. Memang ada PPL (petugas penyuluh lapangan), tetapi mereka sering bingung,” kata Abdul Karim, Ketua Kelompok Tani Sukamaju, Desa Ujung Negoro, Kesesi. ”PPL di saya padinya juga penyakitan.”

Ismail (55), PPL di Kesesi, mengatakan, jumlah tenaga penyuluh saat ini sangat kurang. Satu penyuluh rata-rata harus melayani tiga desa. Selain itu, pengetahuan PPL juga jarang ditingkatkan sehingga kerap kesulitan menyelesaikan aneka permasalahan baru.

Padahal, hama dan penyakit tanaman terus bermunculan. ”Untuk meningkatkan pertanian kita, rakyat, ilmuwan, dan pejabat harus kerja sama,” kata Ismail, yang hari itu membawa tanaman cabainya yang mati meranggas.

Menurut Dodik Ridho Nurrochmat, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB, sebagai negara agraris, perhatian terhadap petani memang sangat kurang. ”Harus ada aksi, tak cukup kajian saja. Setiap ada isu strategis yang dihadapi masyarakat, ilmuwan harus turut mencari solusinya,” kata dia.

Program Klinik Tanaman, kata Suryo, dirintis tahun 1970-an oleh seniornya di IPB, Hermanu Triwidodo. Kegiatan itu sempat vakum, tetapi 1990-an kembali aktif dan pada 2009 mereka beroleh mobil hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak itulah kegiatan itu kian rutin dilakukan.

Menurut Suryo, dalam tiga tahun terakhir, mereka rata-rata ke lapangan di 20 kabupaten. ”Di Jawa Tengah, hampir seluruh kabupaten kami datangi.”

Menurut Asih, mahasiswa semester VII juga diwajibkan mengambil mata kuliah terkait Klinik Tanaman Lapangan. ”Hama penyakit masih jadi masalah terbesar petani sehingga diharapkan mahasiswa lebih mengenal persoalan petani,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, kegiatan turun ke lapangan juga sangat bermanfaat bagi pengembangan kapasitas dosen dan mahasiswa. ”Ini kesempatan sangat penting buat kami. Kalau harus menyediakan lahan dengan petaninya, sangat mahal. Kami tak akan bisa jadi ilmuwan tanpa pengalaman di lapangan,” kata dia.

Petani pun sering kali lebih mengetahui masalah dan terkadang juga solusinya. ”Banyak pengalaman petani yang kami ambil sebagai sumber pelajaran, lalu kami kaitkan dan cari landasan ilmiahnya. Kalau hanya berkutat di kampus, ilmu tidak akan berkembang dan mahasiswa tidak akan mendapat banyak dari kami,” paparnya.

Bagi Bonjok, upayanya bersama rekan-rekannya di IPB ini ibarat menyalakan lilin di tengah gelapnya persoalan pertanian. ”Sedemikian banyak masalah dihadapi petani dan selama ini mereka sendirian. Kami hanya menyalakan lilin kecil,” ungkap dia.

Para ilmuwan ini berusaha memberi solusi yang ramah lingkungan dan bisa diterapkan dengan mudah. ”Namun, tetap saja kami menyadari keterbatasan usaha ini. Tanpa dukungan dan keberpihakan kebijakan nasional di sektor pertanian, masa depan pertanian kita tetap suram,” tutur dia.

Oleh: Ahmad Arif dan Ingki Rinaldi

Sumber: Kompas, 21 April 2014

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.