Home » Berita

Pengukuhan Guru Besar, Ilmu Arsitektur untuk Kemaslahatan Masyarakat

6 August 2017 76 views No Comment

Ilmu arsitektur kini tidak lagi identik dengan hanya membangun infrastruktur ataupun monumen. Segala produknya harus memiliki makna, pemanfaatan yang inklusif oleh masyarakat, dan ramah lingkungan.

Argumen tersebut mengemuka dalam pidato pengukuhan Guru Besar Arsitektur Universitas Indonesia (UI) Paramita Atmodiwirjo yang berjudul “Interioritas dalam Arsitektur untuk Mendukung Peningkatan Kualitas Hidup” di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (2/8).

“Bagai anak kecil yang memanfaatkan kotak kardus sebagai benda yang multifungsi, seperti itu pula kita harus berpikir ketika merancang sebuah karya arsitektur,” katanya.

Selama ini, kata Paramita, produk arsitektur masih mengedepankan aspek visual. Pemberian warna, misalnya, masih menggunakan asumsi seperti biru memberi ketenangan sehingga dipakai di ruang pengobatan pasien di rumah sakit. Padahal, ruangan berwarna biru menghalangi dokter melihat warna biru pada kulit pasien yang terkena serangan jantung.

“Setiap elemen, mulai dari warna, bentuk, hingga komposisi harus berlandaskan penelitian ilmiah. Artinya, arsitek harus berjejaring dengan bidang-bidang ilmu lain, seperti kedokteran, antropologi, sosiologi, dan teknik material bangunan,” ujar Paramita. Pendekatan ini memungkinkan produk arsitektur dinikmati semua orang, termasuk penyandang disabilitas, perempuan hamil, anak-anak, dan orang lanjut usia.

Terkait arsitektur interior, ia mengungkapkan, arsitek bisa mengembangkan hal-hal yang sudah ada. Perpustakaan, misalnya, tidak hanya menjadi pusat penyimpanan buku, tetapi juga sistem literasi. Halaman sekolah tidak hanya untuk bermain, olahraga, dan upacara bendera, tetapi juga untuk lahan pembelajaran, seperti mengamati tumbuh-tumbuhan, ekosistem sekolah, hingga untuk pelajaran seni rupa.

Secara terpisah, Guru Besar Arsitektur UI Kemas Ridwan Kurniawan mengatakan, tugas arsitek adalah membangun lingkungan menjadi lebih baik.

Selain Paramita, pada hari yang sama dikukuhkan Guru Besar Ilmu Teknik Mesin UI Gandjar Kiswanto Sukismo dengan pidato berjudul “Pengembangan Kemampuan Manufaktur Produk Kompleks: Suatu Inovasi, Optimasi, dan Otomasi Proses”.

Rektor UI Muhammad Anis mengatakan, dengan dikukuhkannya Paramita dan Gandjar, Fakultas Teknik UI memiliki 56 guru besar. (DNE)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Agustus 2017, di halaman 11 dengan judul “Ilmu Arsitektur untuk Kemaslahatan Masyarakat”.
————–
UI Tambah Dua Guru Besar Fakultas Teknik

Universitas Indonesia (UI) kembali menambah jumlah guru besarnya dengan mengukuhkan dua guru besar dari Fakultas Teknik (FT). Mereka adalah Prof. Paramita Atmodiwirjo, ST, M.Arch, MA, Ph.D dalam bidang Arsitektur dan Prof. Dr. Ir. Gandjar Kiwanto Sukismo, M.Eng dalam bidang Teknik Mesin. Para profesor tersebut dikukuhkan pada Rabu (2/8) di Gedung Art & Centre UI, kampus Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Dalam pidatonya berjudul “Interioritas dalam Arsitektur untuk Mendukung Peningkatan Kualitas Hidup”, Prof. Paramita memaparkan tentang pendekatan interioritas dalam Arsitektur yang dapat mendukung tercapainya well-being dalam masyarakat. Interioritas tidak hanya berdasarkan keindahan visual melainkan juga mengedepankan manfaat serta memberikan kemudahan serta menjamin kesehatan dan keselamatan penggunanya. Tinjauan interioritas dalam arsitektur merupakan sebuah perspektif melihat arsitektur dari dalam (inside-out). Interioritas dari ruang arsitektur dapat dipahami dengan meninjau keterhubungan antara ruang dengan tubuh manusia penggunanya.

Prof. Paramita menekankan perlu dibangunnya kesadaran mengenai interioritas dimana cara merancang arsitektur tidak lagi hanya menggunakan pendekatan berbasis intuisi semata melainkan menggunakan pendekatan saintifik berbasis riset demi mendukung well-being penggunanya. Prof. Paramita mengusung pendidikan arsitektur yang didukung dengan pembelajaran melalui proses mencerap dan mengalami ruang secara nyata. Melalui pembelajaran arsitektur yang berorientasi pada pencapaian well-being, pendidikan arsitektur akan memberikan kontribusi dalam membangun kesadaran praktik merancang yang lebih bermakna bagi peningkatan kualitas hidup manusia penggunanya.

Sedangkan dalam pengukuhannya, Prof. Gandjar menyampaikan pidato bertajuk “Pengembangan Kemampuan Manufaktur Produk Kompleks : Suatu Inovasi, Optimasi dan Otomasi Proses.” Menurut Prof. Ganjar, semakin berkembangnya dunia industri manufaktur khususnya bidang otomotif, office/home appliances, electronics & computers, termasuk smartphones/gadgets maka untuk memenangkan persaingan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar perlu dipenuhi lima aspek yaitu, 1. Peningkatan kualitas produk, 2. Peningkatan kecepatan delivery, 3. Penurunan biaya produksi, 4. Diversifikasi/variasi produk, 5. Pemenuhan Health, Safety & Environment.
Dalam pengembangan manufaktur produk kompleks baik yang mencakup bentuk (part shape), dan ukuran (part dimension and tolerance), maupun jumlah (part count) maka diperlukan penelitian dan pengembangan yang meliputi tiga aspek yaitu inovasi, optimasi dan otomasi proses. Ketiga aspek tersebut dapat dilakukan secara terpisah, maupun berkaitan satu dengan lainnya, seperti: inovasi melalui optimasi, inovasi melalui otomasi, optimasi melalui otomasi, dan otomasi dengan optimasi. Melalui inovasi, optimasi dan otomasi proses, pengembangan manufaktur produk kompleks dapat direalisasi dan lebih dapat memenuhi lima aspek yang dibutuhkan agar industri mampu bersaing.

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.