Home » Tokoh

Pendidikan Keluarga Pendidikan Karakter ala Keluarga Soepandji

20 May 2011 1,804 views No Comment

Buah akan mencerminkan pohonnya. Keberhasilan orangtua akan dinilai dari bagaimana mereka membesarkan dan mendidik putra-putrinya. Pepatah tersebut ditulis Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta,  Komaruddin Hidayat pada halaman pertama buku biografi Roesmiati Soepandji.

Dalam buku The Long and Winding Road: Sebuah Biografi Roesmiati Soepandji dalam Memperoleh Kesejahteraan, Ketenteraman, dan Kebahagiaan Hidup yang Abadi terbitan 2009, Komaruddin menyatakan, dengan formula tersebut, Roesmiati Soepandji telah membesarkan putra-putrinya menjadi sarjana mandiri, berintegritas, terpandang dalam pergaulan nasional, dan sangat hormat kepada kedua orangtua.

”Hanya akar dan pohon yang sehat akan melahirkan dedaunan yang rimbun dan buah yang sehat sehingga memberi berkah bagi lingkungannya,” tulis Komaruddin.

Roesmiati dan suaminya, Brigadir Jenderal (Purn) dr Soepandji (alm), termasuk salah satu keluarga di negeri ini yang melahirkan anak-anak yang sukses. Tiga dari enam anak mereka menduduki jabatan tertinggi di beberapa lembaga, yakni Hendarman Soepandji, SH (64), mantan Jaksa Agung; Mayor Jenderal TNI Hendardji Soepandji (58), mantan Komandan Pusat Polisi Militer TNI dan mantan Asisten Pengamanan Kepala Staf Angkatan Darat; serta Prof Dr Ir Budi Susilo Soepandji (56) yang saat ini menjabat Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Dua anaknya yang lain sukses berkarier dalam bidang pendidikan, yakni dr Hendarto (66), dosen di Universitas Diponegoro, Semarang; dan Dra Hendarti (60), dosen Universitas Yayasan Administrasi Indonesia, Jakarta. Adapun seorang putra lainnya, Ir Bambang Tri Sasongko (48), adalah pengusaha yang bergerak di berbagai bidang, antara lain batu bara dan pelabuhan.

Bagaimana pasangan Roesmiati dan Soepandji mendidik dan membentuk karakter putra mereka  hingga berhasil dalam studi dan karier? Saat ditemui, awal April 2011 di rumahnya di Magelang, Jawa Tengah, Roesmiati yang September mendatang genap berusia 87 tahun menuturkan, sejak kecil anak-anaknya dilatih disiplin oleh ayah mereka. ”Pukul 04.30 pagi anak-anak sudah dibangunkan dan diajari berenang oleh bapaknya,” ujarnya.

Sementara Roesmiati punya cara tersendiri membesarkan anak-anaknya. Sejak anak-anaknya masih kecil, setiap malam, sebelum tidur, dia menceritakan dongeng-dongeng dengan berbagai pesan moral. Kisah yang didongengkan adalah cerita dari kumpulan dongeng Hans

Christian Andersen yang diubah menjadi cerita rakyat dengan cara mengganti nama tokohnya dengan nama-nama Jawa.

”Dengan mengganti nama yang lebih akrab dengan telinga mereka, anak-anak dapat lebih cepat menangkap dan merekam pesan moral dari cerita yang saya sampaikan. Dari  dongeng itulah saya tanamkan kepada mereka agar kelak menjadi kusuma bangsa,” ujarnya seraya mengakui tidak begitu paham cerita rakyat karena sejak kecil mengenyam pendidikan ala Belanda.

Selain menanamkan nilai kesabaran, kasih sayang, dan kejujuran, sang ibu juga mendidik anak-anaknya takut akan

Tuhan. ”Saya ingin anak-anak saya menjadi kekasih Tuhan,” ujarnya.

Maka, sejak anak-anaknya lahir, doa Roesmiati selalu mengawal langkah anak- anaknya. Bahkan, demi kesuksesan anak- anaknya, sang ibu rela melakukan ritual puasa selama tiga hari, sebelum dan sesudah weton (hari kelahiran sesuai pasaran Jawa) tiap-tiap anak. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga mereka menamatkan pendidikan sarjana. Sesuai dengan adat kebiasaan wanita Jawa, hal itu dilakukan sebagai upaya tirakat dan doa agar putra-putrinya dapat hidup sukses dan bahagia.

”Saya selalu pesan, jika jadi dokter sembuhkanlah banyak orang dan jangan cari uang, jadi guru jangan kejam, jadi tentara jangan untuk membunuh, dan jangan pernah korupsi dan memanipulasi dana pembangunan kalau jadi insinyur,” ujarnya.

Pendidikan anak-anak diarahkan

Saat anak-anak mereka lulus SMA, Roesmiati menegaskan, dia dan  suaminya memang mempersiapkan ke mana anak- anak itu harus melanjutkan studi. Kecuali Hendardji yang sejak kecil bercita-cita menjadi tentara, lima anak pasangan Roesmiati dan Soepandji diarahkan kuliah dengan disiplin ilmu berbeda-beda.

Putra sulung, dr Hendarto (Nto), mengikuti jejak sang ayah, menjadi dokter dan kini dosen di Fakultas Kedokteran Undip. Putra kedua, Hendarman Soepandji (Mamang), yang awalnya ngotot masuk jurusan teknik, akhirnya mau kuliah di Fakultas Hukum, sebagaimana keinginan orangtuanya. Hendarman tak hanya menjadi jaksa biasa, tetapi dalam kariernya dia mencapai jabatan tertinggi di Kejaksaan Agung.

Anak ketiga yang merupakan satu-satunya perempuan, Hendarti (Heni), diarahkan kuliah di bidang psikologi dan hingga kini menjadi dosen Psikologi di Kampus YAI Jakarta.

Sementara putra keempat, Hendardji (Haji), yang sejak kecil menunjukkan minat dengan dunia tentara, sejak lulus SMA memantapkan diri masuk Akademi Militer Magelang. Tak hanya sukses berkarier militer, kini  Hendardji juga dipercaya menjabat Direktur Utama Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran (PPKK) Jakarta.

Budi Susilo Soepandji (Usi) yang merupakan anak kelima pasangan Roesmiati dan Soepandji  sejak kecil menunjukkan kemampuan berpikir secara bijaksana. Budi pun mengenyam pendidikan S-2 dan S-3 di Perancis. Sebelum dipercaya presiden menjabat Gubernur Lemhannas, Budi pernah menjabat Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Berbeda dengan kelima kakaknya, putra bungsu, Bambang Tri Sasongko (48), memilih berkecimpung di dunia usaha.

Pendidikan karakter yang ditanamkan sejak kecil hingga kini dipegang anak-anak Roesmiati dan Soepandji. Bahkan, Hendardji dalam buku biografinya mengakui mendidik anak bukan hanya menjadikan seorang anak menjadi pintar, melainkan yang jauh lebih penting harus mempunyai karakter. ”Sehingga sekarang, saat usia kami sudah tua begini, dongeng itu masih membekas sehingga saya merasa inilah pendidikan yang paling efektif,” demikian pandangan Hendardji tentang sosok ibunya.

Sebagai perempuan, Roesmiati menyatakan, dia tidak hanya sekadar menjadi ibu yang melahirkan anak-anak, tetapi juga sebagai pendidik anak yang pertama dan utama dalam membentuk anak-anak yang berbudi pekerti luhur. Pertama, karena anak dikandung ibu dan utama karena ibulah yang setiap saat berada di sisi anak-anaknya.

Seperti ungkapan dalam sebuah buku, when you educate one man, you educate one person, but when you educate one women, you educate one generation. Ketika Anda mendidik satu orang, Anda mendidik satu orang, tetapi ketika Anda mendidik satu perempuan, Anda mendidik satu generasi.

Penulis: SONYA HELLEN SINOMBOR DAN REGINA RUKMORINI

Sumber: Kompas-Ekstra, Edisi Mei – Juni 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.