Home » Berita, Pendidikan

Pendidikan Karakter; Perlu Teladan dan Kebiasaan

20 May 2016 193 views No Comment

Di tengah praktik pendidikan yang masih mengedepankan kemampuan atau potensi akademik dalam menyiapkan masa depan siswa, upaya untuk mendidik anak-anak secara utuh bermunculan. Praktik pendidikan dimaknai tak sekadar transfer ilmu pengetahuan.

Praktik pendidikan dimaknai pula sebagai pembekalan nilai-nilai luhur kepada siswa dengan cara yang menyenangkan dan berkesinambungan. Sekolah Alam Cikeas, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, misalnya, berupaya melakukan pendidikan karakter dengan membangun kebiasaan siswa lewat berbagai kegiatan yang terintegrasi di semua pelajaran.

Ada 13 nilai yang hendak dibentuk dalam diri anak, antara lain jujur, mandiri, dan berani bertanggung jawab. Nilai-nilai ini dijabarkan dalam kegiatan-kegiatan siswa. Orangtua diinformasikan mengenai pembentukan nilai-nilai ini dan diminta mendukungnya di rumah.

“Anak-anak terus diingatkan. Dengan memberi contoh, mereka ikut melakukannya. Dengan mengalami, anak lebih mudah paham dan mau melakukan,” kata Direktur Sekolah Alam Cikeas Kunti Indra Karmadewi, akhir April lalu.

Di sekolah ini, setiap dua bulan, siswa mendapatkan rapor Akhlak. Dalam rapor itu, dipotret kemampuan anak untuk menerapkan nilai-nilai mulia yang hendak ditanamkan.

Setiap hari, kegiatan di sekolah dimulai dengan penyambutan guru dan staf di gerbang. Guru menyambut, menyalami, dan menyapa setiap siswa yang hadir. Saat di dalam kelas, ada kegiatan morning talk sebelum pelajaran dimulai. Siswa diajak berbincang-bincang mengenai kegiatan yang akan dilakukan dan membahas peristiwa yang sedang terjadi.

“Saat terjadi banjir di Bekasi, beberapa waktu lalu, kami jadikan peristiwa itu sebagai kesempatan untuk membangun empati siswa. Mereka lalu berinisiatif untuk mengumpulkan pakaian, dana, dan makanan siap saji sebagai bentuk kepedulian,” ucap Kunti.

Menurut dia, siswa juga dibiasakan untuk membersihkan toilet sepulang sekolah. Dia mengakui, awalnya tidak mudah bagi orangtua menerima kebijakan sekolah yang mengajak siswa membersihkan toilet.

Tesa Putri, guru kelas TK A Sekolah Alam Cikeas, menyatakan, sebagai bagian dari pendidikan karakter, setiap hari siswa diminta membawa makanan yang meliputi sayur dan buah. Siswa yang menghabiskan makanannya, termasuk sayur dan buah, diberi penghargaan.

Dalam melatih kemandirian, menurut Tesa, siswa diharuskan makan sendiri meskipun ada di antara mereka yang memerlukan waktu lama untuk menghabiskan bekalnya.

Di SMA Labschool Rawamamgun, Jakarta Timur, menurut Wakil Kepala Sekolah Suparno, penanaman karakter lebih penting daripada mengejar prestasi akademis. Apabila siswa biasa jujur, disiplin, dan bekerja keras, mereka akan memahami pentingnya proses pembelajaran. Melalui proses yang baik, hasil yang dicapai juga positif.

“Memang, terkadang orangtua menghendaki siswa mencapai sesuatu di luar kapasitasnya. Justru karena itu, siswa harus dimotivasi agar teguh berdisiplin, jangan mau berbuat curang,” ujar Suparno.

Orangtua juga dilibatkan untuk menanamkan karakter yang baik melalui pemberian teladan. Misalnya, jika ingin anak gemar membaca, orangtua juga harus sering menunjukkan kebiasaan membaca di depan anak.

Wahana Visi Indonesia (WVI), yang aktif mengampanyekan pendidikan kontekstual, memiliki prinsip bahwa pendidikan karakter bisa diperkuat dengan menggali nilai-nilai yang tumbuh di suatu kelompok masyarakat atau mengacu pada kearifan lokal. Pendidikan kontekstual dengan penguatan karakter ini dikembangkan WVI secara khas di setiap daerah sesuai kondisi yang dihadapi.

Spesialis Pendidikan Dasar WVI Nurman Siagian menyatakan, Sekolah Hijau, yang fokus pada lingkungan hidup, dikembangkan di Kalimantan karena wilayah itu menghadapi persoalan lingkungan hidup yang serius, antara lain pembalakan liar dan penambangan. Adapun di Poso, Sulawesi Tengah, pendidikan harmoni dikembangkan supaya siswa dapat hidup damai dengan sesama. Di daerah rawan bencana dikembangkan pendidikan yang sadar dan siap siaga menghadapi bencana.

Tidak berdiri sendiri
Deklarator Gerakan Indonesia Mendidik, Alpha Amirrahman, mengatakan, pendidikan karakter di sekolah bukan hal yang berdiri sendiri. Pendidikan karakter harus terintegrasi dalam kultur sekolah yang diwujudkan dalam sistem, tata tertib, perilaku guru, termasuk mekanisme pemberian penghargaan serta hukuman.

“Pembelajaran yang berlangsung tanpa pendidikan karakter dalam setiap aspeknya hanya menjadikan proses pendidikan sekadar mengajar, bukan mendidik,” ujarnya.

Menurut Alpha, watak seseorang dipengaruhi oleh konsep, sikap, dan perilaku moral yang dialami sepanjang hidupnya. Artinya, karakter tidak terbentuk dalam tempo seketika, tetapi lewat proses dan interaksi dengan lingkungan yang membesarkannya. (ELN/DNE/MAM)
———-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Mei 2016, di halaman 12 dengan judul “Perlu Teladan dan Kebiasaan”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.