Home » Artikel

Partikel Higgs dan Humor Gamov

8 August 2012 474 views No Comment

Dalam tulisannya yang bagus, ”Perburuan Asal Alam Semesta”, di Kompas (9/7), fisikawan LT Handoko mengatakan, ”sering … popularitas mengalahkan realitas sejarah sehingga … hanya nama Higgs yang dipakai, (dan boson itu) tidak dinamai ’partikel Higgs–Englert–Brout’.”

Padahal, yang mengembangkan hipotesis tentang munculnya partikel itu sebagai akibat kerusakan simetri secara spontan bukan hanya Peter Higgs, melainkan juga Francois Englert dan Robert Brout (1964). Mekanisme serupa diusulkan Gerald Guralnik, Richard Hagen, dan Tom Kibble.

Boson itu dijuluki ”partikel Tuhan” sebab ia merupakan awal terciptanya semua partikel masif, bermassa tak nol, di jagat raya. Higgs merasa tak nyaman dengan julukan ilahi ini. Ia memerlukan waktu lama sebelum mulai terbiasa dengan sebutan itu.

Higgs memang rendah hati. Lagi pula, tentulah ia tahu bahwa gagasan tentang perusakan simetri itu, seperti dikatakan LT Handoko, telah dikemukakan Yuichiro Nambu pada awal 1960-an. Nambu bersama Han di Universitas Chicago merintis kromodinamika dengan memperkenalkan tiga warna yang memberi ciri tambahan kepada quark.

Masih Gelap

Munculnya massa itu bukan sulapan. Itu bukan penciptaan dari ketiadaan, creatio ex nihilo, tetapi dari energi yang terkandung dalam medan sesuai dengan E>mc2 Albert Einstein. Selain ini, kalaupun partikel yang ditemukan dua tim peneliti, ATLAS dan CMS, di Pusat Penelitian Riset Nuklir Eropa (CERN), Geneva, dalam benturan hebat di dalam pemercepat yang disebut Pembentur Hadron Besar (LHC) ini ternyata memang partikel Higgs, massa yang mekanisme pembentukannya terungkap baru 4 persen dari seluruh massa (di) jagat raya.

Keberadaan yang 96 persen diyakini dari efeknya yang tampak pada meningkatnya laju pemuaian jagat raya dan pada agihan benda langit. Karena yang teramati hanya efeknya, sedangkan ”dia” sendiri tak kelihatan dan asal muasal serta hakikatnya masih gelap, muncullah julukan energi gelap dan materi gelap. Inilah yang masih diteliti terus, baik dengan alam raya sebagai laboratorium maupun dengan pemercepat besar seperti LHC di CERN, Geneva, dan Tevatron di Fermilab, Batavia, Illinois, sebagai sarananya.

Teori terciptanya partikel bermassa tak nol itu sudah ada jauh sebelum teori Guralnik–Hagen– Kibble dan Higgs–Englert–Brout dipublikasikan tahun 1964. Pada 1939, Hans Bethe mengemukakan teori fusi dalam lingkungan yang teramat sangat panas di bagian dalam bintang. Proton berfusi menjadi deutron, lalu helium-3, kemudian muncul inti helium (atau partikel alfa).

Bethe juga mengemukakan mekanisme fusi proton lain yang disebut daur karbon sebab dalam daur ini karbon berperan sebagai katalis. Pada 1948, George Gamov dan Ralph Alpher memublikasikan teori tentang pembentukan unsur-unsur. Gamov dengan persetujuan Alpher menyisipkan nama Bethe sebagai pengarang. Padahal, pengarang makalah itu hanya dia dan Alpher. Itu dilakukannya mungkin untuk menghormati Bethe.

Jelas tak ada maksud Gamov mendongkrak namanya dengan menggandeng nama besar Bethe sebab dia sudah diakui komunitas ilmuwan sebagai fisikawan cemerlang. Memperoleh restu Stalin ”magang” pada Ernest Rutherford di Laboratorium Cavendish, Inggris, setelah kembali ke Rusia, ia yang minggat dan membelot ke Barat ini memang jenakawan. Dengan sisipan nama Bethe, pengarang makalah itu: Alpher, Bethe, dan Gamov, rangkaian tiga abjad pertama Yunani: alfa, beta, gamma.

Teori fusi Bethe dipublikasikan dengan judul ”Produksi Energi di Bintang”, sedangkan teori ”Alfa-Beta-Gamma” dituangkan Alpher dan Gamov dalam makalah ”Asal-usul Unsur-unsur Kimia”. Menurut teori ”Alfa-Beta-Gamma”, helium, litium, dan unsur yang lebih besar lain terbentuk ketika jagat raya masih berupa ”bintik” energi yang teramat-sangat dahsyat dan luar biasa padat sesaat setelah Dentuman Besar, Big Bang.

Istilah Big Bang diciptakan Fred Hoyle. Oleh Hoyle, nama itu untuk jagat raya terdini yang ultrapanas tersebut dimaksudkan sebagai ejekan. Karena disebarkan pers, istilah itu dipakai orang sampai kini. Hoyle mengecam teori Alpher dan Gamov. Yang tercipta beberapa saat setelah Dentuman Besar hanya proton, deuteron, helium-3, dan helium. Unsur selanjutnya tercipta setelah lahir bintang-bintang. Mekanismenya seperti yang dijelaskan Bethe: fusi termonuklir di pusat bintang.

Setelah proses pembentukan unsur di saat-saat pertama pasca- Dentuman Besar sampai ke nomor massa 4 (helium), jagat raya ultradini sudah memuai cukup ”besar” sehingga suhunya sudah tak lagi cukup tinggi memungkinkan fusi proton-proton. Gamov galau dan jengkel karena ada dua mekanisme pembentukan unsur yang berbeda. Namun, dasar jenakawan, kejengkelannya disalurkannya menjadi sajak ”parodi Alkitabiah” berjudul ”Kejadian Baru” (New Genesis). Sajak itu di baris pertamanya dimulai dengan ”Pada mulanya Tuhan menciptakan energi dan yelm….”

Yelm ialah materi primordial. Selanjutnya dalam sajak itu dibayangkan bahwa Tuhan menciptakan unsur-unsur cukup hanya dengan menyabdakan nomor massanya. Nomor massa ialah jumlah nukleon, yang bisa berupa proton bermuatan positif atau neutron yang netral. Celakanya, Tuhan ”lupa” akan nomor massa lima sehingga nyaris menggagalkan berlanjutnya proses penciptaan-Nya. Daripada mulai lagi dari awal, Dia mereka-cipta pemecahan alternatif. ”Dan Tuhan pun bersabda: ’Jadilah Hoyle’, lalu Hoyle diperintah-Nya menciptakan unsur-unsur berat seenaknya sendiri.”

Waktu itu Gamov, pembelot dari Rusia tersebut, dosen dan peneliti di Universitas George Washington. Dalam bahasa Inggris, Hoyle dilafalkan seperti hole, lubang, bolong. Ya, bolong setelah hitungan ”jadilah” keempat yang dititahkan Tuhan untuk membuat unsur dengan nomor massa lebih besar dari empat.

Lelucon

Kisah di atas sekadar humor fisika seputar asal usul materi di jagat raya. Jangan diterima serius, apalagi dianggap menyebarkan isu SARA! Partikel yang dijuluki ”partikel Tuhan” dan didaku ditemukan di LHC-CERN pada 4 Juli lalu juga disebut boson Higgs. Ini bukan kemauan Higgs. Namun, nama itu bisa juga dianggap lelucon. Soalnya, penggagas kelahiran massa sebagai akibat kerusakan simetri spontan bukan cuma Higgs.

”Lelucon” serupa terjadi ketika Edwin Powell Hubble (astronom Inggris) dinobatkan sebagai ”penemu” pemuaian jagat raya (1929). Padahal, 15 tahun sebelumnya pemuaian jagat raya itu dikemukakan Vesto Melvin Slipher di kongres Sosietas Astronomi Amerika. Semua peserta kongres itu serentak berdiri sambil bertepuk tangan menyambut pengumuman Slipher yang didasarkannya pada efek Doppler itu. Celetuk Stephen Hawking kemudian: ”Hubble mendengar (gemuruh standing ovation itu).”

Celetukan Hawking yang mencemoohkan ilmuwan sesama-bangsanya ini entah tepat entah tidak sebab menjelang merampungkan Relativitas Umum (1916), Einstein merasa kekurangan data eksperimen menambahkan suku yang mengandung tetapan kosmologis pada persamaan medan gravitasinya atau tidak. Mungkin Einstein tidak mengetahui temuan Slipher?

L Wilardjo ; Fisikawan

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2012

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.