BERBAGAI kalangan yang proreaktor nuklir telah mengusulkan lagi untuk menggunakan reaktor nuklir sebagai sumber pembangkit listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir/PLTN) di Indonesia. Gagasan tersebut muncul dengan alasan kebutuhan listrik yang terus meningkat sampai saat ini. Dalam waktu dekat, Indonesia paling tidak bakal memiliki PLTN di Bangka Belitung.
TEKNOLOGI telah merambah segenap sendi kehidupan. Termasuk bidang olahraga paling populer, sepak bola. Berkat teknologi, pada saat yang bersamaan, sepak bola yang digelar di belahan bumi Eropa dapat dilihat langsung masyarakat Indonesia. Berkat perkembangan dan kemajuan teknologi pula, sepak bola dapat ditonton lebih jelas dan nikmat.
PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan, terutama di bidang dunia kedokteran, terus mengalami kemajuan. Salah satu yang kini sedang dikembangkan adalah terapi stem cell atau sel punca.
Terapi sel punca kini dapat menjadi suatu pilihan atau alternatif untuk mengatasi masalah-masalah ekstrem di bidang kedokteran. Menurut Prof Dr dokter Amin Soebandrio SpMK, Ketua Dewan Ilmiah ASPI (Asosiasi Sel Punca Indonesia), saat ini terapi stem cell malah merupakan pendekatan yang sangat efektif dan sangat menjanjikan.
Sejumlah kalangan menilai wacana membuat sekolah khusus ilmuwan perlu kajian mendalam karena belum tentu berkorelasi positif dengan perkembangan kehidupan sang anak.
Ketua Dewan Juri Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika Tingkat SD/SMP Saladin Utunggadewa mengatakan, seperti sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (ABK), perkembangan anak akan semakin bagus jika dimasukkan ke dalam sekolah inklusi, sekolah di mana ABK dapat belajar dengan anak normal lainnya dan bahkan perkembangan sang anak juga lebih baik karena tidak merasa terkucilkan.
Harus diakui, kualitas perguruantinggi(PT) di Indonesia, baik negeri maupun swasta,masih tergolong menengah ke bawah. Paling tidak hal ini terlihat dari daftar rangking universitas kelas dunia.
Sebagian besar PT di Indonesia tidak bernomor.Hanya sejumlah PT yang masuk di dalam daftar rangking (SINDO,7/9). Kalau dikaitkan dengan perekonomian Indonesia, hal itu berparalel. GDP per kapita Indonesia masih tergolong menengah ke bawah, meskipun dilihat dari GDP secara nasional sudah masuk G-20.
DULU, manusia memiliki tiga kebutuhan primer, yaitu sandang, pangan, dan papan. Namun, seiring dengan kemajuan zaman, ada kebutuhan primer lain, yaitu pendidikan. Tidak dapat dimungkiri bahwa pendidikan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan, terlebih pada era kekinian. Untuk bisa hidup di dunia yang serbakompleks, tanpa pendidikan, seseorang hanya akan dibodohi oleh manusia lainnya (homo homini lupus). Pemerintah pun mewajibkan warga negaranya belajar 9 tahun, artinya wajib menempuh pendidikan setidaknya lulus SMP agar memperoleh penghidupan yang lebih layak.
PEMBERIAN gelar doktor honoris causa(DR HC) oleh Universitas Indonesia (UI) kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz mengundang kontroversi dan perhatian publik. Banyak pihak menentang pemberian gelar kehormatan itu, termasuk dari UI, di antaranya dan paling keras adalah Emil Salim, guru besar Fakultas Ekonomi. Profesor sepuh yang santun itu sampai mengatakan UI is not for sale. Kalau seorang Emil Salim sampai ikut turun tangan tentu ini karena persoalannya dianggap sangat serius.
ADA satu adagium dalam dunia akademis: intelektual boleh salah namun tak boleh bohong. Di dalamnya, ada kejujuran dan objektivitas, dua sisi mata uang yang sama-sama menjadi ”alat tukar” sah dan berlaku di mana-mana. Dalam dunia akademis, tujuan yang harus dicapai adalah pengembangan iptek melalui serangkaian pembaruan teori, sekaligus memberikan jalan solusi praktis bagi kemaslahatan kemanusiaan. Karenanya, intelektual tak boleh mengingkari nilai-nilai itu. Jika mengingkari maka seperti disebut Julien Benda, para intelektual itu telah berkhianat (The Treason of the Intellectuals). Benda tegas mengatakan bahwa cendekiawan haram hukumnya memiliki tujuan politis praktis. …
Jangan sampai negeri kita direndahkan lagi martabatnya gara-gara mengirim gelar doktor HC kepada raja Arab Saudi.
UNIVERSITAS Indonesia (UI) memberi gelar doktor honoris causa (HC) kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Alasannya, raja Saudi dianggap banyak berjasa terhadap pembangunan Islam di Indonesia, pernah membantu menyelesaikan pembangunan masjid di Salemba, membantu korban tsunami Aceh (sebagai donatur terbesar), dan aktif dalam misi perdamaian di Palestina.