Wakil Presiden Boediono menyayangkan banyaknya lembaga riset dan teknologi di Indonesia yang belum saling terkoordinasi antara satu dengan yang lain.
Menurut Wapres, bila seluruh lembaga tersebut terkoordinasi, tentu baik bagi peneliti Indonesia. “Saya ingin menyampaikan dalam sambutan ini suatu unekunek yang sudah lama terkandung di hati saya, yaitu adanya fakta, realita, di mana kapasitas iptek (ilmu dan pengetahuan) kita itu tersebar ke mana-mana dan tidak bisa secara optimal kita koordinasikan untuk mencapai tujuan bersama yang jelas,” papar Wapres dalam sambutannya saat membuka LIPI Expo 2011 di Istana Wakil Presiden, kemarin.
“Jateng hampir menikmati bonus demografi, jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun hampir lipat dua dari kelompok umur tidak produktif”
PADA 31 Oktober 2011, berdasarkan hasil kajian Dana Kependudukan PBB (UNFPA), jumlah penduduk dunia mencapai angka 7 miliar. Entah bagaimana mereka menghitungnya, namun terlepas dari itu, ini adalah peringatan tentang ”bencana” jika pertumbuhan penduduk makin tak terkendali. Tahun 1800 jumlah penduduk dunia hanya 1 miliar jiwa. Jumlah itu naik lipat dua dari tahun 1930. Artinya, untuk bertambah 1 miliar jiwa diperlukan waktu 130 tahun.
MESKI usianya sudah menginjak 69 tahun, memori dokter Setianingrum masih kuat untuk mengingat peristiwa yang terjadi sekitar 30 tahun silam. Kasus dugaan malapraktik yang terjadi saat dia bertugas sebagai kepala Puskesmas Wedarijaksa Pati pada 1975 itu mengilhami kelahiran hukum kesehatan nasional.
Ketika ditemui, kemarin, dia bahkan masih ingat wartawan Suara Merdeka yang saat itu mewawancarainya, Sri Humaini AS.
BULAN lalu, masyarakat di Tanah Air dikejutkan dengan dua kecelakaan pesawat terbang yang terjadi hanya berselang beberapa minggu. Kecelakaan pertama terjadi pada 9 September, saat pesawat Cesna Grand Caravan milik maskapai Susi Air jatuh di Kabupaten Yahukimo, Papua.
Lalu, kecelakaan kedua terjadi pada pesawat Casa 212-200 milik maskapai Nusantara Buana Air (NBA) yang jatuh di pegunungan Bohorok, Sumatra Utara pada, 29 September.
INDUSTRI produk kedirgantaraan kebanggaan bangsa, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat ini sudah memasuki tahun ke 36.Langkah sejarah perusahaan strategis ini mengalami fase yang membanggakan sekaligus mengharukan pada saat memulai produksi pesawat komersial N250 turboprop berkapasitas 50-70 penumpang dan mengembangkan jet N2130 berkapasitas 100-130 penumpang. Pada saat yang sama, ’’ultimatum’’ IMF pada saat krisis finansial (tahun 1998) memaksa industri kedirgantaraan kita bertekuk lutut pada donatur berwajah kapitalis.
Proyek jet tempur pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung di Akademi Angkatan Udara pada bulan Maret 2001 untuk menggantikan pesawat-pesawat yang lebih tua dan malah ketinggalan zaman (out of date) seperti F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger, tapi ditangguhkan karena masalah teknis dan pendanaan. Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak pada Januari 2010 lalu setuju untuk mendorong proyek tersebut setelah meningkatnya ketegangan antara Korea Selatan dengan Korea Utara. Ini adalah program pengembangan pesawat tempur kedua Korea Selatan setelah KAI T-50 Golde Eagle.
FAKULTAS Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta merintis riset desain reaktor nuklir terkini. ”Riset reaktor nuklir terkini tersebut nanti terdiri atas riset reaktor pembangkit daya dan riset tentang produksi reaktor isotop yang digunakan misalnya untuk bidang kesehatan dan industri,” kata Kepala Laboratorium Teknologi Energi Nuklir Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Andang Widiharto di Yogyakarta, baru-baru ini.
PEMBANGUNAN Jembatan Selat Sunda diperkirakan akan menghabiskan waktu 10 tahun. ”Normalnya dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk pembangunan Jembatan Selat Sunda,” kata perencana pembangunan Jembatan Selat Sunda, Wiratman Wangsadinata di Jakarta, baru-baru ini.
Wuratman dianugerahi gelar Perekayasa Utama Kehormatan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) atas jasa-jasanya dalam bidang konstruksi.
MICHAEL Matiazzo baru saja usai mengamati komet Elenin tatkala ia mendapati sesuatu yang tak biasa dalam layar komputernya. Tiga hari sebelumnya, tepatnya 19 Agustus 2011, astronom dari Castlemaine, Victoria (Australia) tersebut juga mengamati komet yang sama, sebagai bagian dari pengamatan terus menerus yang dilakukannya sejak awal Agustus.
Teori hukum progresif yang digagas mendiang Prof Satjipto Rahardjo dinilai ulang dalam workshop Dialektika Epistemologis dan Praksis Hukum Progresif di Fakultas Hukum Undip, Rabu (2/11).
Pengacara ternama Todung Mulya Lubis membuka acara tersebut dengan makalah bertajuk Quo Vadis Pemikiran Hukum Progresif.
Anggaran Penelitian Cuma Sekitar 0,3 Persen dari APBN
POSTUR PENELITIAN DI INDONESIA
Sejumlah ilmuwan dan peneliti muda asal Indonesia diincar sejumlah negara. Mereka diiming-imingi berbagai fasilitas, tempat riset yang memadai, dan gaji besar asalkan bekerja di sana.
Perburuan terhadap ilmuwan-ilmuwan muda tersebut sangat agresif. Selain datang ke kampus-kampus di luar negeri dan berburu mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program doktoral, mereka juga datang ke sejumlah lembaga riset di Tanah Air.
Indonesia memiliki 474 lembaga riset atau penelitian yang tersebar di sejumlah perguruan tinggi, kementerian, dan lembaga penelitian non-kementerian. Mestinya, dengan jumlah lembaga penelitian yang sangat melimpah, Indonesia bisa maju pesat di berbagai bidang. Namun, kenyataannya, lembaga-lembaga penelitian tersebut berjalan sendiri- sendiri dan tanpa koordinasi.
Meskipun gaji profesor riset lebih rendah dari guru sekolah dasar untuk golongan pangkat yang sama, pemerintah tidak punya rencana menaikkan gaji peneliti. Justru peneliti diminta mencari sumber penghasilan tambahan dari keahlian yang dimilikinya.
Sekretaris Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Indroyono Soesilo mengatakan, jika kreatif, peneliti bisa memperoleh penghasilan Rp 15 juta sebulan.