Home » Profil Ilmuwan, Sosok, Wawancara

Obsesi Prof. Dr.Teuku Jacob, MD.

17 January 1993 61 views No Comment

Pertengahan Oktober 1992, Prof. Dr. Teuku Jacob MD diundang ke Colombo, Srilangka, untuk menerima anugerah gelar Doctor of Science (DSc). T Jacob adalah orang keempat –tiga orang lainnya guru besar dan Swedia, lnggris dan Taiwan, yang terpilih mendapat gelar dan The Open lntemational University of Complementary Medicines.

Anak dari pasangan Teuku Sulaiman dan Tjut Kariman ini, dilahirkan pada 6 Desember I929 di Aceh Timur. Menyelesaikan Sekolah Rendah (SD) di tanah kelahirannya. T Jacob meneruskan SD dan SMP di Kutaraja hingga I949. Selanjutnya ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarka, dan semasa mahasiswa menjabat ketua Pengurus Besar Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia di kota gudeg itu. Sewaktu belajar di Amerika, ia menjadi ketua International Student Club, Tucson, Arizona.

Pernah menjabat Dekan FK UGM (1975-1979, lalu rektor UGM (1981-1986), kini T Jacob dikenal sebagai pakar Antropologi Ragawi dan tokoh Polemologi Medis Indonesia. Gelar doktor bidang Paleoanthropology diraihnya dari Rijksuniversiteit Utrecht, Belanda pada 1967. Sedangkan gelar Master dan Medical Doctor (MD) diperolehnya di Washington DC, Amerika Serikat, pada 1960 dan 1961. Semasa menjabat rektor, dia juga duduk sebagai anggota MPR RI (1982-1987).

Tulisan ilmiahnya sekitar 160 buah termuat di berbagai jurnal internasional maupun nasional. Kini T Jacob menjabat sebagai pemimpin redaksi Berkala Ilmu Kedokteran, redaksi di berkala Bioanthropologi Indonesia, koresponden untuk berkala L’Anthropology sejak 1982, koresponden Internatioal Review of Doctors for the Environment sejak 1991, Current Anthropology sejak 1965, dan International Journal of Human Evolution sejak 1986. T Jacob juga ikut menyusun buku tentang Evolusi, Ensiklopedia Nasional Indonesia, dan buku Anatomi.

Tidak meledak-ledak, mendalam, dan sering menggunakan ungkapan puitis, itulah ciri yang lekat pada penampilan ayah seorang anak ini, ketika sedang berbicara. Di lingkungan kampus, T Jacob dikenal sangat disiplin dalam soal waktu maupun tata tertib. Barangkali karena itu, ia sering dicap kaku. Padahal ia bisa juga hangat, supel, dan suka menyelipkan humor di tengah pembicaraan. Kepada Republika, suami Ny. Nuraini Jacob dan ayah dari Tjut Nila Nurilani Jacob ini, pekan Ialu menyediakan waktu hampir 1 jam untuk wawancara di kantornya, Laboratorium Bioanthropologi dan Paleoantropologi UGM.

Bisa diceritakan bagaimana Anda dapat gelar doktor dari Universitas Colombo?

Gelar doktor yang saya terima, bukan honoris causa, kehormatan, seperti yang banyak diperoleh orang Indonesia. Tetapi doctor of science (DSC). Saya orang keempat yang mendapat gelar itu. Tiga orang lainnya adalah guru besar dari Taiwan, Inggris, dan Swedia. Pemberian gelar ini berdasarkan penilaian senat atas karya-karya seorang akadamisi. Bersamaan dengan saya ada juga yang diberi derajat lain-lain seperti doktor honoris causa MD, MA dan sebagainya. Untuk saya, dalam ijazah maupun penyerahan tidak disebutkan honoris causa.

Apa pertimbangan senat, sehingga pilihan pemberian gelar tersebut jatuh ke Anda?

Saya mengambil hal-hal yang dapat dipakai oleh kedokteran modern, dan kedokteran yang komplementer. Artinya, dipindahkan, ditransfer, diterapkan disini, apa yang di kedokteran tradisional kelihatannya unggul lalu dipindah ke kedokteran modern, begitu juga kebaIikannya. Jadi bisa saja itu dianggap mengembangkan disana (kedokteran modern-red), tapi juga mengembalikan disini (kedokteran tradisional-red).

Contohnya, apa?

20160626_140336wHolisme. Dalam kedokteran tradisional, holismenya itu yang sangat penting. Pasien dianggap sebagai makhluk utuh, tidak hanya dirinya, melainkan terikat dengan keluarga, dengan masyarakat, lingkungan, terdekat dalam kosmos, malah. Dalam kedokteran modern manusia dianggap sebagai pasien, organnya yang sakit. Kalau tidak ada fragmentasi pun, kadang pasien hanya dianggap sebagai individu. Jadi tidak terfragmentasi, tetapi juga pasien tidak utuh dalam jaringan kehidupan. Padahal sehat dan sakit tidak tergantung kepada individu itu sendiri. Memang bisa dari dia sendiri. Tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar.

Untuk tujuan kuratif, apa sih kerugian dari sikap yang melihat pasien secara terfragmatasi, tidak holistik seperti Anda sebut?

Jelas, biaya pengobatan jadi mahal. Sebab disangka hanya matanya yang sakit, padahal dia menderita diabetes. Padahal, diabetes ini tergantung kepada lingkungan, makanan, kemakmuran, ekonomi, kebiasaan makan, dan sebagainya. Jadi biaya menjadi mahal, karena diperiksa sepotong-sepotong. Ibarat satu mesin, tidak dilihat menyeluruh. Hanya diganti satu baut sini, baut sana, dan ada ahli untuk tiap-tiap baut. Ini kan repot. Oleh karena itu, mesti ada ahli untuk mesin itu seluruhnya. Manusia lebih dari mesin. Manusia adalah makhluk hidup, tidak sama dengan mesin.

Bagaimana latar belakang Anda sehingga tertarik mengembangkan gagasan kedokteran yang holistik?

Saya mulai belajar antropologi budaya di Arizona, Amerika Serikat. Dan karena saya mempunyai background kedokteran, maka saya dalam salah satu skripsi mengerjakan persoalan introduksi kedokteran modern ke masyarakat yang tradisional. Dari situ permulaannya. Kemudian sebagai dekan FK UGM, lalu timbul masalah kedokteran komunitas, kedokteran holistis, sosiologi kedokteran, filsafat kedokteran, dan sebagainya. Jadi merupakan rentetan panjang, dan waktu kongres studi kedokteran tradisional ASEAN di Surabaya, saya mengemukakan hasil rangkuman beberapa gagasan holisme bidang kedokteran untuk kesempatan internasional.

Apakah Anda yakin, prinsip holisme dapat diterapkan secara baik dalam kedokteran di Indonesia, sementara pendidikan maupun praktek dokter semakin spesialistik?

Kita lihat mulai semester satu, mahasiswa kedokteran sudah diajarkan kedokteran komunitas. Sampai di klinik, kuliah kedokteran komunitas itu dilanjutkan, misalnya ada obstetri komunitas, ilmu bedah komunitas, dan sebagainya. Apalagi di dalam kedokteran komunitas dan pencegahan. Saya tidak melihat adanya pertentangan seperti Anda sebutkan, melainkan sebetulnya komplementasi. Seperti siang dalam malam, seolah-olah berlawanan tapi sebetulnya komplementer, saling melengkapi sehingga jumlah keduanya menjadi satu hari. Kalau cuma ada siang saja, atau malam saja, harinya menjadi tidak lengkap. Untuk keperluan teknis, memang dibedakan antara siang dan malam. Ada pukul 10 siang dan pukul 10 malam, namun kita bisa lihat dari pukul 0 hingga pukul 24.00. Di timur orang lebih melihat dari segi komplementaritas, dari pada segi popularisasi.

Dalam teknik didaktik memang perlu dipecah-pecah. Tetapi kemudian setelah selesai, harus mencakup seluruhnya. Dalam praktek spesialis pun, para dokter bergabung dalam satu gedung, agar ada hubungan yang erat antara berbagai bagian badan yang sakit.

Basis ilmu Anda adalah antropologi, namun banyak bidang lain yang juga digeluti, salah satunya adalah Palemologi Medis yang belum banyak dikenal disini. Apa obsesi Anda dalam menggeluti berbagai disiplin ilmu itu?

Pertama harus kita pahami bahwa antropologi adalah ilmu manusia. Manusia mempunyai segi-seginya yang banyak sekali. Secara garis besarnya ada segi ragawi dan segi budaya. Dari keduanya masih dapat terbagi-bagi lagi. Jika kita mau mengetahui tentang manusia seutuhnya, harus banyak tahu tentang segi-segi manusia.Kebetulan guru-guru besar saya, mempunyai bidang perhatian yang luas, baik guru di Indonesia, Amerika, maupun Belanda. Ini ada untungnya untuk saya.

Di Fakultas Kedokteran UGM, mula-mula saya bekerja di bagian anatomi (ilmu urai tubuh). Selanjutnya ke antropologi yang sebetulnya merupakan anatomi lanjutan yang diterapkan ke tingkat popuiasi. Anatomi biasanya mempelajari yang sudah mati, sedangkan antropologi mempelajari zaman dulu sehingga ada Paleo-antropologi. Zaman dulu persoalannya yang pokok-pokok tidak banyak beda dengan sekarang, baik penyakit, makanan, pemukiman, cara hidup, masalah-masalahnya hampir sama. Yang pokok hanya jenisnya, dan kerumitannya yang berbeda.

Selanjutnya, jika ada masa lalu dan masa sekarang, tentu ada masa depan. Masa depan ini justru penting karena masih dapat kita ubah. Masa lampau tidak bisa. Masa sekarang sebetulnya tidak ada, hanya batas antara masa silam dan masa depan, seperti satu garis yang terus bergeser. Sekarang kita ngomong, beberapa jam lagi sudah menjadi masa lampau. Begitu seterusnya sehingga kita senantiasa masuk ke masa depan.

Masa depan terancam oleh manusia sendiri. Ada kiamat, malapetaka alamiah yang besar, yang dapat mengakhiri hayat di bumi atau riwayat bumi sendiri. Namun sekarang memasuki zaman atom, manusia sanggup meniadakan masa depannya. Disinilah pentingnya perbincangan mengenai masa depan.

Yang penting bagi kita adalah masa depan manusia, sedangkan masa depan bumi atau pun mayapada di luar jangkauan kita. Masa depan manusia, sebagian, masih di dalam batas-batas kemampuan kita. Polemologi dapat mengambil peran di sini. Sebab, kebudayaan yang sudah dibina hampir dua juta tahun manusia, sekarang dapat dihancurkan hanya oleh beberapa gelintir manusia. Jadi sebetulnya masalah antropologi juga, dan masalah kedokteran.

Sejak zaman hipocrates 2500 tahun yang lalu, kedokteran bekerja untuk hayat, untuk kehidupan manusia agar hidupnya lebih enak, bebas dari rasa sakit, sejahtera jasmani, terutama. Ada sumpahnya yang diucapkan hipocrates yang sekarang dengan holisme –sifatnya lebih ke arah komunitas. Ini yang disebut tanggung jawab sosial dokter, atau tanggungjawab sosial profesi. Kalau sumpah itu dijabarkan,meliputi umat manusia seluruhnya, berarti tanggungiawab kedokteran untuk menjaga manusia agar lestari di masa depan, tidak hanya sebagai individu tetapi sebagai spesies.

Menurut Anda sejauh mana ketertarikan masyarakat, taruhlah kaum mudanya, terhadap persoalan-persoalan keselamatan dan kelestarian hayat di masa depan?

Harus disadari bahwa semua dalam kehidupan ini saling terkait. Seperti halnya garis yang menghubungkan masa lampau, kini, dan masa depan manusia. Tentu saja tidak dapat ditangani semua persoalan sekaligus. Saya ingin menyentuh hal-hal yang kurang diperhatikan orang. Kalau sudah banyak diperhatikan orang, bagi saya tidak ada gunanya lagi. Saya mencoba menarik orang-orang –terutama yang lebih muda, supaya berminat mengisi perhatian yang kurang terhadap beberapa titik dalam masalah besar di masa depan. Misalnya polemologi.

Khusus mengenai polemologi, orang tidak tahu, agak takut, atau menganggap persoalannya terlalu besar dibandingkan dengan dirinya sendiri. Kayak berdiri di depan Gunung Himalaya, lalu was-was apa kita sanggup melangkah ke sana. Saya berharap, dengan makin tahu mengenai polemologi, orang akan semakin tertarik mempelajari. Paling, mengetrapkan prinsip-prinsip ikut menyelamatkan masa depan, dalam kehidupannya sehan-hari.

Memang manusia terikat oleh waktu dan ruang. Apa yang dalam waktu dan ruang lebih dekat dengan dirinya, mereka akan lebih tertarik. Kalau masih seribu tahun lagi, ndak usah dipikir dulu. Apa yang bakal terjadi 100 tahun ke depan, minatnya lalu merosot. Kebelakang juga begitu, apa yang terjadi 100 tahun yang lalu, masa bodoh. Tapi apa yang terjadi kemarin, akan menarik. Begitu juga ruang, jika terjadi di dekatnya dianggap penting, sedangkan yang jauh apalagi di luar Indonesia, dianggap kurang penting. Ada kelaparan kronis di Somalia, kita seolah tidak ada urusan.

Ada semacam warna buram dalam prediksi Anda tentang masa depan, sehingga memberi kesan pesimistik. Apa komentar Anda?

Ya, karena dia melihatnya sepintas. Dia bisa hidup senang, manja, dielus-elus oleh lingkungan, sehingga tidak tertarik pada segi-segi yang menyusahkan. Apalagi yang menyusahkan itu terjadi di masa lampau, lupakan saja. Kita ingat yang enak-enak saja. Begitu juga untuk masa akan datang, yang susah-susah nanti kita pikir bersama. Yang penting kita lihat enaknya saja dulu. Saya rasa yang demikian ini berat sebelah, di situlah saya masuk, dengan menampilkan gambaran yang dianggap buram tentang masa depan.

Tetapi kalau keadaan masyarakat semuanya muram, saya akan kasih lihat segi-segi yang cerah. Sekarang, karena sebagian besar cerah, saya ingin menarik perhatian bahwa sebetulnya ada awan gelap. Singkatnya, kita meminta perhatian kepada yang tidak diperhatikan, bahwa hidup itu ada positif dan negatif. Kalau semua berpikir yang positif nanti akan keenakan, persiapan jadi kurang.

Dalam pekerjaan-pekerjaan besar, kita harus memperhitungkan risiko yang besar, maksimum risk calculation. Seperti tentara yang akan menyergap musuh, perhitungan harus betul-betul matang.

Apakah yang demikian itu tidak lantas menghambat langkah kita?

Justru harus menarik. Keliru kalau potret buram tersebut membuat kita menarik langkah.

Apabila dikaitkan dengan pembangunan, misalnya rencana pembangunan reaktor nuklir di Indonesia, bukankah bayangan tentang bahaya-bahayanya akan menghambat rencana tersebut?

Tergantung dari mental make up mereka. Kalau mereka lihat gunung, lalu lari, ya, mentalnya nggak kuat. Orang-orang masa depan mustinya berani melawan tantangan, bukannya lari. Kalau ada parit kecil, kita lantas pulang saja, ini namanya semangat ongol-ongol, semangat peyeum. Tantangan harus dijawab dengan positif. Masyarakat yang jaya dalam sejarah, adalah masyarakat yang menerima tantangan dan membuatnya jadi positif. Cara “Melayu” zaman dulu menghadapi tantangan, dan cara manusia Indonesia masa depan menjawab tantangan, musti lain. Ada awan gelap, jangan lantas sedih, menangis, tetapi harus disingkirkan. Jangan pakai filosofi air yang selalu menghindari rintangan. Orang kita memang kurang membiasakan diri menghadapi rintangan. Orang kita jarang memberi pujian maupun kritik, padahal kedua-duanya harus menstimulasi seseorang untuk bergerak lebih lanjut.

Jika demikian, bisakah dikatakan bahwa keberatan-keberatan Anda selama ini atas rencana pembangunan reaktor nuklir, bukan berarti Anda tidak menyetujuinya?

Dari data di Amerika Serikat, pembuangan limbah sama sekali tidak bisa diatasi. Saya seperti juga para ahli lainnya, yang lebih ahli dari saya (“saya kan cuma mengikut apa yang dikatakan ahli fisika kesehatan dan sebagainya,” ujar T Jacob), lebih baik dicurahkan untuk penelitian mencari energi baru. Di Amerika, kalau kita baca masalah pembuangan limbah, dan segala peristiwa yang terjadi menyimpang di pusat tenaga listrik nuklir, itu luar biasa. Kita juga harus lihat bagaimana tingkat kanker di kalangan pekerja nuklir, dan di kalangan penduduk sekitar. Di sini banyak ahli-ahli teknik tidak mau mempelajari kesehatan. Kurang holistis. Mereka melihat hanya dari satu sudut, kadang-kadang cuma sudut dompetnya.

Kita harus lihat lebih luas dari itu. Kita harus bisa melihat yang di luar pagar. Di sinilah pentingnya pengetahuan lebih dari subspesialisasi yang kita kuasa. Beribu literatur tentang kesehatan dalam hubungan dengan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Beribu studi tentang pembuangan limbah dan kesukaran-kesukarannya. Ini riil. Yang bicara bukan wartawan atau apa, tapi ahli fisika kesehatan, juga ahli-ahli radiologi. Cuma di sana ada ahli-ahli dalam bidang nuklir, yang bekerja di luar pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan itu, sehingga mereka dapat lebih obyektif melihat masalahnya.

Kalau kita tanya ahli-ahli fisika yang bekerja di dalam perusahaan nuklir, tentu pendapatnya hampir sama, itu kan periuk nasi. Tapi sebagian yang tidak tahan, lalu berhenti dan ada yang menjadi ahli psikologi. Jadi, masalahnya lain. Ini datanya demikian lengkap dan riil. Cuma, kalau kita ingin gambar yang berwarna indah tentang reaktor nuklir, kita sembunyikan risiko atau kerugian reaktor nuklir.

Alasannya barangkali kita akan mampu mengatasi risiko dari adanya reaktor nuklir?

Amerika sudah 200 tahun bekerja dengan industri dan teknologi tinggi. Dia sudah mempunyai lebih 500 buah reaktor. Apa mereka lebih bodoh dari kita? Saya rasa tidak. Di masyarakat kita, banyak orang baru naik kuda, sudah merasa dirinya koboi. Padahal baru dua hari diangkat ke punggung kuda oleh orang lain, sudah merasa koboi karena dia masih anak-anak. Anak-anak memang harus mempunyai visi yang cerah tentang masa depan. Kalau dia sudah pikirkan utang, pajak, dan sebagainya, repot memang. Di situ letaknya soalnya.

Tidak banyak buku yang Anda tulis, padahal pemikiran yang Anda lontarkan cukup banyak dan beragam. Persoalannya apa?

Pertama, dalam ilmu eksakta kita bekerja seperti menyusun batu bata. Ilmu eksakta kadang disebut ilmu batu-bata. Kita letakkan satu bata, orang taruh satu, yang lain satu lagi, dan seterusnya. Jarang kita sampai ke tembok seluruhnya. Oleh karena itu, dalam ilmu eksakta, yang lebih berperan adalah karangan-karangan dalam berkala ilmiah. Dalam hal ini karangan saya sudah mencapai 160 lebih. Saya kira tidak banyak orang dapat sampai membuat demikian. Di negara maju memang seorang ilmuwan bisa memasukkan sampai 500 karangan di jurnal ilmiah. Kita di sini terikat oleh banyak faktor, yang kadang menghambat.

Kedua, saya pemah masuk dalam administrasi di tingkat fakultas (dekan) maupun universitas (rektor). Ini makan waktu dan pikiran. Ketiga, dalam bidang eksakta, sukar orang untuk menerbitkan buku. Contohnya, ada buku anatomi yang saya sunting, sampai sekarang belum ada yang cetak. Padahal penerjemahan buku itu sulit sekali. Lain halnya dengan buku-buku sosial dan politik, penerbit lebih suka menerbitkannya.

Keempat, untuk menulis satu buku, apalagi teksbook, tidak sembarangan. Banyak yang dibuat sembarangan dan banyak data atau istilah usang. Saya ingin menulis buku teks yang relatif lebih baik, dan berbeda dengan buku teks di luar negeri yang sudah ada.

Faktor lainnya, saya menulis biasanya dengan draft beberapa kali, banyak saya tambah-tambah. Saya tidak punya word processor, hanya biasanya sambil dikoreksi lagi.

Berapa buku yang sedang Anda siapkan, kecuali beberapa yang sudah diterbitkan?

Yang sudah terbit sebetulnya lamayan. Disertasi saya diterbitkan di Belanda. Pernah saya edit buku kedokteran komunitas, buku pendidikan kedokteran, buku bacaan anak serba-serbi manusia purba, kumpulan esai, buku tentang masa depan, buku polemologi, buku antropologi kedokteran. Selain itu ada karangan-karangan saya dalam buku yang diedit orang lain. Saya juga bantu eksiklopedia nasional, bantu edit buku-buku time life series.

Mudah-mudahan setelah pensiun nanti (sekitar 2 tahun lagi -red) bisa lebih lancer nulis buku. Sebelum itu, insya allah akan terbit beberapa buku lagi. Yaitu buku-buku antropologi, dan buku cara-cara menulis ilmiah, dan ada beberapa lagi. Satu persatu saya akan ajukan ke penerbit.

Cita-cita saya yang pokok adalah menulis buku teks antropologi biologis yang lengkap. Jarang ada buku itu yang lengkap, saya pernah lihat di Jerman. Pada umumnya tidak komprerhensip, ditulis per-bidang. Jarang menyeluruh, dan jarang ada orang mau menulisnya.

Apakah Anda juga punya perhatian terhadap buku-buku fiksi?

Dulu saya banyak membaca cerita fiksi, terutama ketika mahasiswa. Sekarang waktunya cuma kalau libur, selama perjalanan, atau sakit tetapi masih boleh membaca.

Dalam tulisan rutin Anda di “Kedaulatan Rakyat”, sebagian mengacu pada pengalaman ketika di luar negeri yang tenggang waktunya cukup lama. Apakah Anda rajin mencatat pengalaman dalam buku harian?

Saya tidak bikin catatan harian yang rinci. Cuma catatan kasar, hari ini ada acara di sini, dan sebagainya, yang saya catat di buku tulis biasa. Harus saya syukuri, sampai sekarang ingatan saya masih bisa berfungsi baik. Ada memang yang berkurang, tapi cukup banyak masih tinggal.

Kapan waktu terbaik untuk menulis?

Setiap saat saya bisa menulis, tetapi berpikimya tidak setiap saat. Kadang-kadang ketika akan tidur, atau masih berbaring setelah bangun tidur, saya memikirkan beberapa hal. Inspirasi itu saya gunakan sebagai tiang-tiang tulisan, lalu siangnya di kantor saya uraikan dalam tulisan rinci.

Bagaimana Anda menjaga kesehatan ?

Hanya senam pagi sendiri, tidak pakai aturan. Tidak rutin betul. Apa yang saya ingat gerakan senam mulai SD, saya coba lakukan. Tidak bersistem, tidak pakai musik. Kadang saya jalan kaki bersama istri. Yang saya jaga betul adalah makanan. Berat badan saya pertahankan. Kelihatannya kurus, tapi dulu juga begini. Yang gemuk itu yang berubah, menyimpang dari masa kecil saya yang tidak gemuk, orang tua saya juga tidak gemuk.

Olahraga favorit Anda?

Sepakbola saya suka, karena dari kecil sudah lihat. Bulu tangkis juga senang, mungkin pengaruh siaran di televisi. Untuk tinju, minat saya lain. Bukan saya senang olahraganya, tapi saya senang mengikutinya, melihat bahaya-bahayanya, bagaimana petinju di-KO. Kalau sepakbola cedera, saya nggak suka.

Anda juga menyukai musik?

Suka betul sih tidak. Mungkin saya tidak mengerti betul, tetapi musik menolong saya menenangkan pikiran. Klasik saya suka, juga country, dan lagu-lagu populer. Menurut saya lagu-lagu Rinto Harahap tidak cengeng. Coba kita perhatikan lagi lagu-lagu Indonesia, sebagian besar ya begitu. Contohnya, suling di sawah, baik di masyarakat Sunda atau di Sumatera Barat. Itu kan sentimental. Lagu Tapanuli saya tertarik karena umumnya sentimental, meskipun saya tidak mengerti artinya. Kalau sedang naik kendaraan cepat atau pesawat, saya lebih suka lagu rock. Enak dan darah di badan rasanya segar.

Pewawancara: Ahmad Syaify

Sumber: Republika, 17 Januari 1993

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.