Home » Berita

Miyagi Sering Mengalami Tsunami

12 March 2011 854 views No Comment

Gempa dan tsunami sudah berkali-kali menghantam Provinsi Miyagi di Pulau Honshu, Jepang. Gempa dan tsunami setinggi 10 meter, Jumat (11/3), adalah yang kelima kali tercatat. Tsunami tersebut merambat ke sebagian wilayah timur Indonesia, tetapi tidak berdampak. Sebab, ketinggiannya hanya sekitar 0,1 meter.

Menurut Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Subandono Diposaptono, ”Daerah Miyagi sudah beberapa kali terjadi tsunami, sekurangnya tercatat sejak tahun 1700.”

”Setelah itu terjadi tsunami Meiji Sanriku tahun 1896, tsunami Showa Sanriku 1933, dan pada tahun 1968 terjadi lagi tsunami akibat gempa bumi Tokachi-Oki. Semua tsunami near-field (tsunami yang terjadi di dekat pantai),” kata Subandono yang meraih gelar doktor dari Tohoku University, Tohoku, Provinsi Miyagi. Tahun 1960 tsunami far-field (jauh dari pantai) menghantam Miyagi akibat gempa besar Cile.

Setelah tsunami tahun 1933, Dewan Pencegahan Gempa Bumi Jepang menerbitkan buku metode pencegahan tsunami. Selanjutnya terus dikembangkan teknologi prakiraan tsunami, juga ilmu pengetahuan dan teknologi sistem perlindungan pantai. ”Jepang juga membangun pemecah gelombang agar dapat meredam tsunami setinggi 6 meter.” tulis Subandono dalam bukunya, Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami.

Ke Indonesia

Mengenai penjalaran tsunami itu, Riyadi, pengamat di Pusat Gempa Nasional-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (PGN-BMKG), mengatakan, ”Ketika sampai di Omaizaki, sekitar dua jam kemudian, ketinggian air sudah menurun jadi 2,1 meter.”

Pusat Gempa Nasional merupakan salah satu simpul dari jejaring PTWC (Pacific Tsunami Warning Center) yang memantau tsunami yang terjadi di kawasan Samudra Pasifik.

Dalam jejaring PTWC, penjalaran tsunami Honshu sebelum sampai ke Papua akan terpantau oleh beberapa alat pengukur gelombang pasang (tide gauge) di Taiwan dan Guam. Tide gauge di Indonesia ada di pesisir utara Jayapura.

Bayu Pranata, yang juga pengamat di PGN-BMKG, mengatakan, tsunami dapat meningkat lagi ketinggiannya karena kondisi geografi. ”Daerah yang berupa kepulauan memungkinkan terjadinya akumulasi energi gelombang ketika masuk ke selat-selat yang dilaluinya,” kata Bayu.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Fauzi mengatakan, kerentanan tertinggi justru dialami para nelayan yang sedang di tengah laut atau di tepi pantai karena mereka akan terbawa tsunami ke arah pantai.

”Dorongan gelombang tsunami dengan gelombang laut berbeda. Gelombang tsunami akan terus-menerus membawa perahu ke pantai. Adapun gelombang laut biasa hanya membuat perahu nelayan berayun,” ujarnya.

Ditentukan region

Tentang kaitan gempa satu daerah dengan daerah lain pada satu lempeng yang sama, menurut peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, di Bandung, Jawa Barat, Danny Hilman Natawijaya, saat dihubungi dari Jakarta, menyatakan, gempa di suatu daerah ditentukan kondisi masing-masing sumber gempanya.

Pergerakan Lempeng Pasifik di Selandia Baru dan Jepang tidak akan memengaruhi pergerakan Lempeng Pasifik di Papua karena lokasinya yang jauh.

Setelah gempa 6,3 skala Richter melanda Christchurch, Selandia Baru, 22 Februari, kemarin terjadi gempa 8,9 skala Richter mengguncang Sanriku Oki, Jepang—keduanya berada di sisi barat Lempeng Pasifik. Meski demikian, di wilayah Indonesia yang juga terdapat Lempeng Pasifik, seperti Papua dan Maluku Utara, tidak otomatis akan terjadi gempa.

Kondisi berbeda terjadi pada gempa di Aceh, Nias, Mentawai, dan Padang beberapa waktu lalu. Daerah-daerah itu terletak pada lempeng yang sama dan jaraknya sangat berdekatan.

”Aturan umumnya, makin jauh jarak antarsumber gempa, maka pengaruhnya akan semakin berkurang,” katanya.

Lempeng Pasifik terbentang dari Jepang dekat Kutub Utara hingga ke dekat Kutub Selatan bumi. Meski berada dalam satu lempeng, lempeng ini memiliki banyak bagian yang masing-masing bergerak sendiri dengan arah berbeda-beda. Lempeng Pasifik di dekat Papua bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 12 sentimeter per tahun.

”Pergerakan Lempeng Pasifik di Selandia Baru atau Jepang tidak akan membuat pergerakan Lempeng Pasifik di Papua menjadi lebih cepat atau melambat,” katanya.

Fauzi juga menjelaskan, wilayah Papua menyimpan potensi gempa besar, sama seperti pesisir barat Sumatera. Namun, kapan waktu pasti terjadinya gempa belum bisa diprediksi dengan teknologi yang ada.

Potensi gempa diprediksi sesuai dengan intensitas gempanya yang dinyatakan dengan skala Richter. Semakin tinggi skalanya, maka semakin kecil potensi terjadinya gempa karena energinya besar sehingga butuh waktu lebih lama untuk mengakumulasikan energi. Gempa yang diprediksi akan sering terjadi adalah yang berkekuatan 5 skala Richter ke bawah. (ISW/MZW/YUN)

——————–

Berpacu dengan Kecepatan Tsunami

Oleh Ahmad Arif

Stasiun televisi Jepang, NHK, menyiarkan tsunami sejak dari gelombang pertama menyentuh pantai hingga merangsek jauh ke kota. Lepas dari kengeriannya, ini adalah dokumentasi terbaik tentang tsunami yang pernah dibuat. Sang juru kamera seperti telah menantikan momen untuk merekam empasan gelombang air berkecepatan 800 km per jam itu.

Gambar itu tidak diperoleh secara kebetulan. Mereka memang sangat siap. Deputi Direktur Pusat Pemberitaan Bencana dan Keselamatan Nippon Hoso Kyokai (NHK) Takeshi Tonoike yang berkunjung ke Kompas, pekan ini, menuturkan, stasiun televisinya sangat siap menghadapi bencana. NHK memiliki 14 helikopter yang siap diterbangkan begitu gempa mengguncang. Bahkan, mereka memiliki 73 alat pengukur seismik yang dipasang di seluruh wilayah Jepang.

”Begitu gempa besar terjadi, seluruh siaran akan dihentikan untuk menayangkan peringatan dari JMA (Japan Meteorogical Agency, semacam Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Helikopter dan wartawan akan dikerahkan,” katanya.

Kesiapan NHK adalah contoh bagaimana Jepang mempersiapkan diri menghadapi bencana. Dua jam setelah gempa, Perdana Menteri Jepang Naoto Kan langsung membentuk gugus tugas darurat. Ia mengatakan, hal tersebut untuk meminimalkan dampak bencana dan mengatasi secepatnya.

Tak hanya pemerintah, masyarakat dan pihak swasta juga sangat siap. ”Setidaknya sebulan dua kali kelurahan di sini memperingatkan kami bahwa bencana besar akan datang. Masyarakat dipersiapkan dengan sangat baik,” kata Junianto Herdiawan, warga Indonesia yang tinggal di Tokyo, sesaat setelah gempa melanda Jepang.

Saat gempa mengguncang sekitar pukul 14.46 waktu setempat, Junianto berada di lantai sembilan sebuah gedung tinggi di Tokyo. Namun, dia merasa aman karena konstruksi bangunan tahan gempa merupakan keharusan di Jepang.

”Pengelola gedung ini sangat profesional menghadapi gempa. Detail pengumuman di-update terus,” kata Junianto, yang saat itu masih terjebak dalam gedung. ”Lift masih dimatikan. Kami disuruh stay. Petugas gedung inspeksi ke tiap lantai. Padahal ini masih goyang-goyang,” katanya.

Junianto yang dihubungi melalui Twitter mengaku tenang walau anaknya yang berumur delapan tahun masih di sekolah. ”Gurunya bilang, kalau di sekolah malah aman. Mereka dilatih untuk menghadapi ini,” katanya, yang terus berhubungan dengan anaknya melalui Twitter. Walaupun jaringan telepon terputus, internet tak terganggu.

Jika dibandingkan kekuatan gempa dan besaran tsunami yang menerjang Aceh pada tahun 2004, gempa dan tsunami yang menerjang Prefektur Miyagi ini setara. Gempa Miyagi berkekuatan 8,9 skala Richter (SR), sama dengan kekuatan gempa Aceh yang juga sebesar 8,9 SR. Demikian juga ketinggian tsunami nyaris sama, sekitar 10 meter. Bedanya, tsunami dilaporkan menjangkau Kota Banda Aceh hingga sekitar 9 kilometer, sedangkan di Jepang masuk ke Kota Miyagi sejauh 24 km.

Masih banyak faktor lain yang harus diperhitungkan. Namun, terkait jumlah korban, bisa berbanding ribuan kali lipat. Bencana Aceh menewaskan lebih dari 200.000 jiwa, sedangkan korban tewas di Jepang baru sekitar 100 orang.

 

Teknologi dan budaya

Senior Coordinator for International Earthquake and Tsunami Information JMA, Takeshi Koizumi, yang ditemui di Jakarta baru-baru ini, mengatakan, kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa dan tsunami harus memerhatikan paduan aspek teknologi deteksi dini dan kesiapsiagaan masyarakat.

Jika Indonesia masih bergulat membangun deteksi dini tsunami, Jepang telah membangun sistem deteksi dini gempa (early earthquake warning/EEW) sejak tahun 2007.

Dengan sistem ini, Jepang bisa menginformasikan ke masyarakat sebelum guncangan gempa melanda mereka.

Menurut Koizumi, gelombang gempa ada dua jenis. Yang pertama gelombang-P (preliminary tremor) dan yang kedua gelombang-S (strong tremor). Gelombang-S ini yang menyebabkan kerusakan bangunan.

Begitu terjadi gempa, gelombang-P biasanya menjalar 5 km per detik atau hampir dua kali lipat lebih cepat daripada gelombang-S yang berkecepatan 3 km per detik. ”Dengan fokus mendeteksi gelombang-S, kami bisa mengalkulasikan kapan dan berapa daya rusak gelombang-S di suatu daerah,” katanya.

Semakin jauh lokasi daerah dari pusat gempa, informasi yang diterima bisa lebih dini, bisa sampai 10-20 detik sebelum gempa mengguncang.

”Peringatan beberapa detik itu tak akan berguna jika masyarakat tidak siap,” kata Bambang Rudyanto, penasihat senior Asian Disaster Reduction Center (ADRC) yang berbasis di Tokyo.

Menurut Bambang, masyarakat Jepang sangat siap menghadapi gempa dan tsunami. Pendidikan bencana sudah masuk dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Secara rutin warga melakukan simulasi menghadapi situasi terburuk.

Dengan demikian, walaupun gempa 8,9 SR yang disusul tsunami kali ini di luar perkiraan JMA, mereka telah siap. ”Korban masih ada, belum bisa zero victim. Namun, manajemen bencana yang dipersiapkan berjalan dengan sangat baik,” kata Takako Chinoi, peneliti ADRC.

Bagaimana jika bencana itu melanda kota-kota di Indonesia? Sudah siapkah kita, karena sebagaimana Jepang, Indonesia adalah negara yang sangat rentan terhadap gempa dan tsunami.

Sumber: Kompas, 12 Maret 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.