Home » Astronomi, Berita

Mezak Arnold Ratag: Ahli Planetary Nebula Cluster

10 March 2010 112 views No Comment

Prof Dr. Mezak Arnold Ratag adalah salah seorang astronom brilian Indonesia. The International Astronomical Union memuji karyanya pada planetary nebula sebagai “langkah maju yang besar dalam ilmu pengetahuan.” Namanya telah diabadikan di 120 planetary nebula cluster, termasuk Ratag-Ziljstra-Pottasch-Menzies dan Ratag-Pottasch cluster, yang ia bantu temukan. Ia juga menerima penghargaan tertinggi untuk kepeloporan kerjanya dalam model iklim.

Mezak dilahirkan di Malang pada 24 September 1962 sebagai anak ketiga dari Prof. Alexander Ratag dan Grietje Kawengian. Pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama diperolehnya di SD dan SMP Laboratorium IKIP Manado. Pada bulan Agustus 1980 ia terpilih sebagai Pelajar Teladan tingkat SLTA Provinsi Sulawesi Utara dan selanjutnya sebagai salah satu dari tiga Pelajar Teladan Nasional tahun 1980.

Beberapa bulan sebelum kelulusannya di SMA Negeri 1 Manado pada bulan Juni 1981, melalui program seleksi Perintis II, ia dibebaskan dari ujian saringan masuk perguruan tinggi dan diterima sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah menyelesaikan keseluruhan program studi 9 semester dalam waktu kurang dari empat tahun dengan dibimbing oleh Prof. Bambang Hidayat, pada Oktober 1985 Mezak A. Ratag diwisuda sebagai Sarjana Astronomi dengan predikat cum laude.

Universitas Kerajaan Belanda di Groningen, Rijksuniversiteit te Groningen membebaskannya dari keharusan untuk menempuh ujian doktoral (magister) dan memperbolehkannya langsung mengikuti program doktor pada tahun 1988. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Stuart Pottasch, Mezak Ratag memperoleh gelar doktor (summos honoris) pada bulan Juni 1991 dengan disertasi yang berjudul “A Study of Galactic Bulge Planetary Nebulae”.

Prof. Dr. Harm Habing dari Komisi Materi Antar Bintang IAU dalam komentar tertulisnya menyebut disertasi ini sebagai “a major step forward in science”. Laporan resmi Kapteyn Astronomical Institute memberi catatan tentang disertasi ini, “It is the first time that a discussion of chemical composition in the bulge, taking into account planetary abundances, has been given. It may become a reference for some time to come”.

Mezak telah mempresentasikan dan mempublikasikan lebih dari seratus karya ilmiah nasional dan internasional. Lebih dari 100 buah planetary nebulae (PN) baru telah ditemukannya dan dipublikasikan bersama mitra kerjanya. Dalam katalog penemuan PN yang diterbitkan oleh Observatorium Strasbourg, sejumlah besar di antaranya diberi nama dengan namanya dan nama mitra kerjanya. Lebih dari 100 international citations tentang karya-karya ilmiahnya dapat dijumpai dalam berbagai jurnal, buku, dan prosiding internasional.

Sejumlah buku telah ditulisnya, yakni Perubahan Iklim, Dinamika Atmosfer, Pemodelan Sistem Iklim, Kamus Meteorologi Aeronautik, Aktivitas Matahari dan Variasi Iklim Bumi. Pada 1999, Mezak menuai hasil kerja keras dengan menjadi pengajar di Program Magister dan Program Doktor Pascasarjana ITB untuk mata kuliah Dinamika Atmosfer, Monsun, Klimatologi Global, Perubahan Iklim, Iklim, dan Cuaca Ekstrem. Tak hanya sampai disitu, ia juga menjadi dosen tamu di sejumah universitas dan institut di Amerika Serikat, Australia, Jepang, Belanda, Italia, India, Thailand, Taiwan, dan Malaysia.

Suami dari Weynni Tampenawas ini memperoleh anugerah Satyalancana Wirakarya dari Presiden RI untuk jasa-jasa dan keberhasilannya melakukan penelitian dan membuat model iklim yang berhasil diterapkan untuk peramalan iklim dan cuaca. Tahun 2001, Presiden RI mengangkat Mezak sebagai Ahli Peneliti Utama dan Profesor dalam bidang Astronomi dan Astrofisika.

Ia menjadi anggota International Astronomical Union, UNEP-WMO IPCC Task Group on Climate Impact Assessment, Dutch Astronomical Society, Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), Himpunan Fisika Indonesia (HFI), dan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi). Beberapa kali ia duduk sebagai anggota Delegasi RI dalam rangka UN Framework Convention on Climate Change COP dan pertemuan-pertemuan APEC IST-WG.

Mezak beberapa kali duduk sebagai anggota delegasi RI dalam rangka United Nation (UN) Framework Convention on Climate Change COP. Ketua Delegasi RI pernah diembannya di Afrika Selatan pada 2006, dalam sidang organisasi spesialis PBB-World Meteorology Organization (WMO). Dia juga sebagai Wakil Ketua Delegasi RI dalam sidang United Nation Environment Programme (UNEP)–WMO Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di Valencia, Spanyol (2006) dan Jenewa (2007). Selang 2007-2008 duduk sebagai Penasehat Dewan Eksekutif WMO dan Panel Eksekutif WMO untuk masalah monsoon.

Sumber: VIVAnews, Manado Post, MARET 10, 2010
———-
Mezak Arnold Ratag Mengembangkan Model Prakiraan Khusus

Kondisi cuaca di dunia, khususnya Indonesia, semakin tak menentu. Terjadi berbagai fenomena cuaca ekstrem yang mengakibatkan perubahan iklim besar-besaran. Kenyataan itu menjadi pusat perhatian Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), termasuk Mezak Arnold Ratag (45), yang kini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMG.

Namanya tak asing jika dihubungkan dengan bidang meteorologi dan geofisika. Bukan hanya itu, namanya pun dikenal di kalangan astronom. Mezak menyelesaikan program Strata 1 (S1) di Departemen Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sebagai peneliti, perbedaan latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk terjun ke bidang ilmu lain. Kombinasi ilmu justru bisa memperkaya pengetahuan. Itulah pemikiran yang dijalani pria kelahiran Malang itu.

Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yang dijalaninya di Manado, Sulawesi Utara, ia memang dikenal sebagai siswa pintar. Predikat cum laude yang diraih saat lulus S1, bahkan diakui setingkat S2 saat akan meneruskan pendidikan S3 di Fakulteit Wiskunde en Natuurwetenschappen, Rijksuniversiteit Groningen, Belanda.

Bukti eksistensi di kedua bidang yang ia geluti itu adalah penerapan sejumlah hasil penemuan dan penelitiannya. Sebuah bintang bahkan dinamai “Ratag” atas hasil temuannya. Hanya saja, saat bergabung di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) hingga 2003, beberapa hasil risetnya belum dapat diaplikasikan ke model sebenarnya.

Saat ditemui di kantornya di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, pria yang berpenampilan kalem itu menguraikan tentang berbagai penelitian Puslitbang BMG. Salah satunya, model prakiraan cuaca yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

“Kami (BMG, Red) baru selesai membangun model prakiraan cuaca sistem numerik. Sistemnya kurang lebih sama dengan di Eropa, Amerika, dan Australia. Selama ini, model yang ada di dunia sulit memprediksi kondisi cuaca di Indonesia. Salah satu alasannya, keadaan fisis yang belum banyak dipelajari,” tutur Mezak, yang bergelar profesor riset di bidang astrofisika, melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 276, saat berusia 38 tahun itu.

Saat ini, terjadi berbagai fenomena cuaca di banyak wilayah di dunia. Di wilayah Indonesia khususnya, kecepatan rata-rata angin dulu berkisar 20-30 kilometer per jam. Kini, kecepatan rata-rata itu naik cukup tinggi. Dulu, Indonesia jarang mendapat angin kencang, berbeda bila melihat kondisi sekarang.

Hal itu tak lepas dari efek pemanasan global. Kejadian yang saat ini terjadi di atmosfer adalah adanya tenaga yang semakin besar. Jika tidak segera diatasi, dampak ke depan adalah suhu terus naik dan kondisi cuaca ekstrem akan lebih sering terjadi, seperti fenomena angin puting beliung dan tornado-tornado kecil.

“Sesungguhnya, pusaran angin seperti itu sulit terjadi di wilayah Indonesia karena terletak di dekat garis ekuator. Tapi, pemanasan global yang membuat intensitas kejadiannya naik,” ujar Mezak, yang saat ini mengajar Pascasarjana (S2 dan S3) di ITB, program Oseanografi dan Sains Atmosfer, Departemen Geofisika dan Meteorologi.

Hal mendesak yang dapat dilakukan adalah adaptasi. Walau emisi diturunkan, dampak akan tetap meningkat. Perubahan iklim, akan merusak hasil pembangunan. Karena itu, perlu menjadi isu yang harus ditanggapi serius. “Yang ingin dikurangi adalah bencananya. Sekarang, bagaimana caranya agar orang yang terkena dampak bisa berkurang. Sementara, hal itu juga terkait dengan naiknya suhu dan curah hujan di Indonesia,” tutur Mezak, yang bertemu istrinya, Weynni Tampenawas, saat menjalani kuliah di Bandung. Pasangan itu menikah pada 1986, dan dikaruniai dua putri, Julien Grietje Louise Ratag (19) dan Manuela Rosalin Kristi Ratag (12).

Kenaikan Suhu
Mezak menjelaskan, di Jakarta selama 100 tahun terakhir terjadi kenaikan suhu 1,4 derajat celsius. Naiknya suhu juga dialami daerah-daerah lain. Di Surabaya suhu naik 1,9 derajat celsius. Kenaikan di Cilacap cukup tinggi, 3 derajat celsius, karena lokasinya dekat dengan kilang minyak yang berefek volume penguapan akan semakin besar.

“Dampak kenaikan suhu, jika berlangsung musim kemarau, akan menjadi sangat kering dan penguapan semakin besar. Saat musim hujan, hujannya semakin lebat. Penyebabnya adalah volume yang turun semakin besar,” kata Mezak, yang menjadi delegasi Indonesia dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali, Desember 2007.

Terkait dengan kondisi cuaca Indonesia yang sulit diprediksi, salah satu penyebabnya, menurut Mezak, adalah laut yang dangkal. Dalam kondisi pemanasan air laut, saat menerima energi panas, energi panas akan lama disimpan di dalam. Pemanasan itu yang kemudian memicu gerakan ke atas (seperti penguapan). Indonesia merupakan tempat pemicu gerakan yang paling besar. “Indonesia sering disebut sistem mesin penggerak atmosfer sebagai penyedia tenaga ke arah vertikal,” tuturnya.

Model prakiraan cuaca yang baru diselesaikan Puslitbang BMG merupakan alat yang bisa memprediksi secara akurat dengan pendekatan di titik 0,8 hingga 0,9. Ada software (peranti lunak) baru dengan sistem jaringan saraf tiruan, seperti yang biasa digunakan untuk menganalisis musik. Peranti itu dapat memilah detail curah hujan.

Keakuratan prakiraan sangat dibutuhkan karena sudah menyangkut pelayanan ke sektor pengguna, seperti petani. Petani tidak peduli seberapa mahal harga komputer yang digunakan untuk memprediksi cuaca. Mereka hanya ingin hasil akurat.

Ada satu model prakiraan di dunia yang bisa memprediksi wilayah dengan batasan 100 kali 100 kilometer, namun tidak bisa diterapkan di Indonesia. Berdasar itu, sejak 2005 dikembangkan model dengan pendekatan skala kabupaten. “Prototipenya sudah ada di 40 kabupaten,” Mezak, peraih penghargaan sebagai pelajar teladan tingkat Provinsi Sulawesi Utara dan juga nasional di tahun 1980 itu, memaparkan.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah mengumpulkan data lalu mengelompokkan wilayah menjadi beberapa bagian. Kini, pengembangan alat itu sudah tidak bersifat sentral. Pembinaan dilakukan di daerah-daerah.

Sekolah Lapangan Iklim
Ia mengakui BMG mengalami berbagai hambatan dan permasalahan dalam penyampaian informasi kepada petani. Karena itu, mereka membuat sekolah lapangan iklim. Di sekolah itu, penyuluh dan petani dididik agar dapat menggunakan informasi yang diberikan BMG. Agar informasi dapat mengalir dengan baik, sekolah itu juga diperuntukkan bagi pembuat kebijakan. “Kuncinya, sewaktu membangun sistem informasi, tidak hanya memikirkan tentang ketepatan atau akurasi alat, tapi juga cara penyampaian sistem ke pengguna,” tutur penerima Satyalencana Wirakarya dari Presiden Republik Indonesia untuk aplikasi pemodelan iklim pada Agustus 2000 itu.

Sistem yang dibuat, harus menjadi suatu peringatan dini bagi pengguna dan juga masyarakat umum. Terkait masalah iklim, hal itu harus dilakukan dengan kerja sama beberapa pihak. “Konsep peringatan dini harus benar-benar sampai ke pengguna, mulai dari sistem pemantauan hingga penerapan. Hal yang saya cermati, rupanya, saat diberi informasi, beberapa pihak seperti pemerintah, tidak cepat tanggap,” ujarnya.

Ia mencontohkan kejadian hujan dan banjir besar di awal Februari 2008. BMG menginformasikan kepada pemerintah akan ada jeda berhenti hujan tiga minggu sejak awal Januari. Waktu jeda tiga minggu itu dapat digunakan membersihkan saluran-saluran air. Kenyataannya, tidak ada tindak lanjut. Saat hujan kembali besar, terjadi banjir.

mezak-a-ratag-horz-300x123“Hujan besar tahun ini berbeda dengan tahun kemarin. Jika tahun 2007 konsentrasi hujan ada di wilayah selatan yang turun dengan kecepatan tinggi, tahun ini pusatnya memang di Jakarta. Jadi, masalahnya sudah ada di Jakarta, bukan lagi kiriman. Hal itu terkait juga dengan kurangnya ruang terbuka hijau,” Mezak, yang sebelumnya menjabat Kepala Bidang Pemodelan Iklim di Lapan, menjelaskan.

Ia menilai sistem ramalan cuaca di Indonesia secara keseluruhan sudah baik. Hanya saja, sebagai sistem peringatan dini, masih ada jarak dalam penyampaian bahasa. Sistem yang dikembangkan pun harus bisa dipakai secara nasional. “Yang disebut konsep prediksi bukan hanya masalah menentukan kapan, di mana tempatnya, atau magnitudo yang akan terjadi, tapi lebih kepada wilayah yang dinilai rawan serta kondisi yang berlangsung sudah sampai di titik apa,” tutur Koordinator Bidang Iklim, Kelompok Peneliti Dinamika Atmosfer itu.

Berbagai model prakiraan cuaca dan geofisis masih harus dikembangkan, salah satunya adalah automatic weather station (alat pemantau cuaca otomatis). BMG, menurut Mezak, juga mencoba mengembangkannya, karena jika harus membeli dari luar negeri, harganya sangat mahal.

Bagi Mezak, “bergerak” di berbagai bidang ilmu, sama halnya dengan mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan. Ia mempersilakan saja jika ada yang menyebutnya astronom, atau klimatolog, ataupun ahli meteorologi dan geofisika. “Dunia ilmu pengetahuan hanya bagian kecil dari alam ini. Umumnya, itu hanya bagian yang teratur saja, sementara masih banyak yang semrawut. Masih banyak hal yang belum bisa kita jelaskan,” katanya. [Debora Manja Pesik]

SUARA PEMBARUAN DAILY, Feb 26, 2008
—————–
Planetary Nebula Cluster

Dalam bahasa latin, kata Nebula sebenarnya berarti awan (cloud). Sedangkan dalam penamaan astronomi, yang dimaksuk Nebula adalah sebuah galaksi yang berada jauh dari Galaksi Bima Sakti / Milky Way yang ditempati oleh Bumi.

Galaksi yang dimaksud adalah galaksi Andromeda atau Andromeda Nebula. Dalam galaksi Nebula ini sebenarnya lebih banyak terdapat interstellar cloud atau awan luar angkasa yang terdiri dari debu, hidrogen, helium, dan gas terionisasi lainnnya.

Nah, dari gas-gas tersebut dimungkinkan terjadi reaksi pembentukan planet. Banyaknya gas yang saling tersusun menjadi berbagai bentuk yang indah itu kemudian disebut sebagai planetary nebula (PN).

Berbagai PN inilah yang ditemukan oleh ilmuwan asal Indonesia bernama Prof Dr. Mezak Arnold Ratag. Mezak adalah pria kelahiran Malang, 24 September 1962. Dia adalah anak Prof. Alexander Ratag dengan istrinya Grietje Kawengian.

Meskipun lahir di Malang, Mezak menempuh pendidikan masa kecilnya hingga SLTA di Manado. Bahkan ia telah menunjukkan prestasinya sejak menjadi Pelajar Teladan Nasional pada tahun 1980.

facebook.com
facebook.com
Mezak kemudian melanjutkan studi di ITB mengambil bidang astronomi, hingga akhirnya lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1985. Mezak terus menekuni bidang astronomi hingga kuliah di Rijksunversiteit te Groningen, Belanda.

Nah, di sinilah kemudian Mezak menyelesaikan program master dan melanjutkan program doktor pada tahun 1988. Hingga pada tahun 1991 ia memperoleh gelar doktor dengan disertasi berjudul “A Study of Galactic Bulge Planetary Nebulae”.

Hal yang menarik adalah Mezak telah menemukan sekira 120 PN hingga namanya diabadikan sebagai nama planetary nebula tersebut. Salah satunya adalah Ratag-Ziljstra-Pottasch-Menzies dan Ratag-Pottasch cluster.
——————-
LIPI Gugurkan Kenaikan Pangkat Peneliti karena Plagiat

Kasus penjiplakan atau plagiat yang melibatkan peneliti Sri Woro B. Harijono, yang juga Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, akhirnya diputuskan Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lembaga membatalkan kenaikan jabatan Sri Woro dibatalkan.

” Penetapan Angka Kredit Kepala LIPI no 1524 D/2007 dengan sendirinya gugur,” kata Kepala Lembaga Umar Anggara Janie di kantornya Jumat (12/12).

Kasus ini berawal dari gugatan plagiasi Mezak A. Ratag kepada Sri Woro terkait pengajuan angka kredit untuk menjadi peneliti madya IV-A. Sri Woro dalam penetapan peneliti madyanya pada 26 Juni 2007 menggunakan buku Less Green House Gas Emission Technologies in the Context of Climate Change sebagai salah satu prasaratnya. Namun kemudian Mezak yang merasa menulis karya tersebut menyampaikannya ke media massa tanggal 17 November. Kondisi ini memicu Lembaga memanggil Tim Penilai Peneliti Pusat (TP3) untuk mengusut.

Hasil pengusutan menyatakan buku karangan Sri Woro ternyata sama dan bersumber dari tulisan Mezak A. Ratag Development of Modalities to Acquire and Implement Less Greenhouse Gas Emission Technologies yang juga tidak berdiri sendiri. “Ada suatu masalah internal dalam Badan Meteorologi,” beber Umar.

Sumber: TEMPO Interaktif, JUM’AT, 12 DESEMBER 2008

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.