Home » Sosok

Mesakh Amen; Cahaya di Pelosok Desa

12 July 2016 236 views No Comment

Kuningan merupakan dusun terpencil di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yang nyaris tak tersentuh pembangunan. Dusun itu gelap gulita akibat tak menerima layanan listrik. Mesakh Amen (54), seorang rohaniwan di Pontianak, turun tangan membantu warga membangun pembangkit listrik tenaga air.

Dusun Kuningan terletak sekitar 70 kilometer dari kota Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak. Daerah itu terisolasi. Jalan menuju dusun rusak parah dengan kubangan lumpur sejauh sekitar 50 kilometer. Untuk menyeberang dari satu kampung ke kampung lain yang dipisahkan sungai, warga menggunakan rakit dari bambu. Tidak ada jembatan.

Penderitaan warga makin lengkap karena layanan listrik belum masuk ke desa itu. Saat malam, dusun dibekap oleh gelap. Warga hanya bisa berada di rumah menunggu pagi.

Kondisi seperti itulah yang dilihat Mesakh pada tahun 1995 ketika dirinya pertama kali datang ke dusun tersebut untuk kegiatan rohani. Ia prihatin. Namun, ia belum bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berpikir air terjun setinggi 12 meter yang ada di tengah dusun sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik berdaya 10.000 watt.

“Saya berkata kepada orang-orang kampung, air terjun ini bisa menjadi listrik yang menerangi kampung. Warga heran, bagaimana air bisa dijadikan listrik,” ujar Mesakh saat ditemui di Dusun Kuningan, Sabtu (18/6).

Tidak lama berada di dusun itu, Mesakh kembali ke Pontianak. Ternyata, saat Mesakh pergi, warga dusun tersebut memikirkan secara serius soal kemungkinan air terjun itu bisa dijadikan listrik. Mereka menggelar rapat membahas gagasan itu karena mereka ingin sekali mendapatkan listrik seperti warga Indonesia di pulau lain.

Empat tahun kemudian, tepatnya 1999, Mesakh kembali ke dusun tersebut, juga untuk kegiatan pembinaan rohani. Kepada Mesakh, warga menyampaikan keinginannya untuk memiliki listrik mandiri. Melihat keseriusan warga, Mesakh pun merespons secara serius.

Menyiapkan SDM
Pada 2010, Mesakh yang belajar mengenai mesin saat bersekolah di Sekolah Teknik Menengah Negeri 1, Pontianak, memutuskan datang lagi ke Dusun Kuningan. Ia mengajukan beberapa syarat kepada warga untuk mewujudkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di dusun itu.

“Saya minta mereka bergotong royong. Kemudian, harus ada yang mau belajar mengenai listrik dan elektronika agar mereka bisa merawat PLTA saat sudah dibangun,” tuturnya.

Ada tiga orang dari dusun itu yang datang ke Pontianak untuk mempelajari dasar-dasar pemeliharaan mesin. “Saya dengan sabar mendidik mereka selama dua minggu karena mereka hanya tamat SD,” kata Mesakh.

Awal 2012, mereka mulai membangun PLTA yang nilainya Rp 180 juta. Untuk menutupi biaya itu, warga iuran Rp 1 juta per keluarga. “Saya juga mengusahakan dana dengan meminta bantuan teman-teman di kota yang ekonominya mampu. Akhirnya, dana terkumpul,” ungkap Mesakh.

Namun, ada tantangan lain. Berbagai peralatan untuk membangun PLTA, seperti pipa, semen, dan peralatan turbin, dibeli di perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong, Kabupaten Sanggau. Bagaimana membawa bahan-bahan itu ke Dusun Kuningan? Jalan keluarnya ternyata berliku.

Mula-mula warga mengangkut semua peralatan itu menggunakan motor air selama setengah hari menuju Desa Suruh Tembawang. Dari desa ini, peralatan diangkut dengan berjalan kaki sekitar 10 jam. Mereka melintasi jalan setapak. Satu orang membawa 40 kilogram semen, meniti jalan berbukit-bukit. Ada juga yang memikul pipa. Turbin dan kabel harus diangkut menggunakan pesawat perintis dengan biaya dari dermawan.

Dengan kerja keras, semua perlengkapan dapat dibawa ke Dusun Kuningan. Satu minggu berikutnya, Mesakh mulai merakit peralatan itu satu per satu. Pada saat bersamaan, warga bergotong royong membuat bendungan dan rumah untuk turbin PLTA di bawah arahan Mesakh.

Tahun 2012 itu juga, PLTA swadaya masyarakat dikerjakan dengan kapasitas 12.000 watt, melebihi harapan Mesakh saat pertama datang ke dusun itu. Listrik tersebut bisa mengaliri rumah 50 keluarga di dusun itu. “Dengan kapasitas sebesar itu, selain bisa untuk menyalakan lampu penerangan, juga bisa menyalakan TV,” ucap Mesakh.

Listrik itu mengubah kehidupan di Dusun Kuningan. Setelah memiliki listrik, mereka merasa baru menjadi manusia seutuhnya. Warga bisa menikmati siaran televisi dan mengikuti perkembangan yang berlangsung di Indonesia.

Ada pula warga yang membeli telepon genggam dari hasil penjualan lada. Dengan telepon genggam, mereka membangun jaringan dengan pihak luar, bahkan aktif di media sosial. Lewat akun media sosial, mereka mengunggah hasil panen lada ke internet. Pasar pun kian terbuka.

Konservasi
Bermula dari gerakan bersama untuk mendapatkan listrik, Mesakh kemudian mengajak warga untuk menggiatkan konservasi hutan. Sejak awal, ia meminta warga untuk tidak berladang di hutan perawan seluas 10.000 hektar di hulu kampung. Hutan itu menjadi daerah tangkapan air. PLTA akan terus beroperasi selama hulu hutan terjaga kelestariannya.

Awalnya, warga masih ragu untuk mengikuti saran Mesakh karena tanah ladang di hulu tersebut subur. Namun, keinginan besar untuk memiliki listrik membuat warga bisa menghapus keragu-raguan itu.

Konsep konservasi yang ditawarkan Mesakh bukan dengan melarang warga memanfaatkan alam. Warga boleh menebang pohon untuk kebutuhannya. Namun, mereka harus menanam kembali pohon sebanyak yang mereka tebang.

Mesakh membagikan mereka bibit bambu yang berfungsi sebagai penangkap air, rotan, avokad, markisa, dan tanaman buah lokal. Dengan demikian, warga tidak perlu membeli buah-buahan dari perkotaan karena biaya ke kota tinggi dan aksesnya sulit.

Mesakh sedang mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat agar hutan Dusun Kuningan menjadi hutan adat sehingga tetap terawat. “Saya bahkan berpesan khusus kepada pejabat agar tidak memberikan izin sawit di wilayah resapan air,” ujarnya.

Saat ini, Mesakh sedang berupaya memperluas cakupan PLTA untuk membantu masyarakat di wilayah terpencil sekitar Dusun Kuningan. Warga di dusun-dusun sekitarnya sudah mulai berinisiatif membangun bendungan secara swadaya. Mesakh akan membantu mereka mendapatkan cahaya pengusir kegelapan.

98c58ed40fc14cefb669583d2d5d4c65EMANUEL EDI SAPUTRA–KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

MESAKH AMEN

Lahir:
Ngabang, Kabupaten Landak, 24 Juni 1962

Pendidikan:
SDN Antan, Kabupaten Landak (lulus 1976)
SMP Kristen Desa Anik (lulus 1979)
STM Negeri 01 Pontianak (lulus 1982)
SSekolah Tinggi Teologia Injili Indonesia Yogyakarta (lulus 1990)

Jabatan:
Gembala Umat Gereja Persekutuan Pemberitaan Injil Kristus (GPPIK) Bukit Zaitun Pontianak (sejak 2000)

Penghargaan:
Penghargaan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk keikutsertaan lomba energi nasional 2015

Istri:
Sriana Kimoi

Anak:
Tiara Anggarini (22)
Yimna Lorinda (16)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Juli 2016, di halaman 16 dengan judul “Cahaya di Pelosok Desa”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.