Home » Artikel

Menuju Universitas Riset?

21 August 2004 707 views No Comment

BELAKANGAN, pelbagai universitas sibuk mencanangkan diri sebagai universitas riset. Ini amat menggembirakan. Sebab aktivitas riset di universitas tak bisa ditawar lagi, merupakan tulang punggung pengembangan keilmuan, baik dalam lingkup lokal maupun global. Ia harus dibaca sebagai kerja akademis yang berorientasi pada investasi jangka panjang (baca: nonpragmatis-utilitarian).

Meski demikian, ambiguitas mengiringi proyek luhur ini. Di satu sisi, sumber daya universitas belum memadai akibat dominasi rasionalitas ekonomi atas kegiatan akademis selama ini. Di sisi lain, masih goyahnya pelbagai prasyarat yang memungkinkan realisasi universitas riset, baik prasyarat material seperti pendanaan dan infrastruktur maupun kultural: kultur keilmuan, keragaman pendekatan dan netralitas akademis. Semua itu adalah ambiguitas yang harus diluruskan sebelum panji-panji universitas riset dikibarkan.

TANTANGAN yang menghadang di depan mata adalah globalisasi, meski dalam hal ini, globalisasi adalah pisau bermata dua. Globalisasi menempatkan universitas di bawah tekanan pasar. Dan pasar selalu berarti orientasi pragmatis-ekonomis. Hampir seluruh dana tersedot untuk riset-riset berbasis kepentingan pasar. Pengembangan infrastruktur dan sumber daya pun tak jauh bergeser dari orientasi itu. Namun, globalisasi pun menghasilkan dampak yang menggembirakan bagi aktivitas riset universitas. Kompetisi yang kini bekerja secara global memaksa universitas memacu kegiatan riset oleh sumber daya yang dimilikinya. Sebab, kuantitas dan kualitas riset sekarang menjadi ukuran penting bagi akreditasi universitas di mata internasional.

Kultur riset di universitas tidak jatuh dari langit. Ia membutuhkan habituasi. Riset harus menjadi kultur yang kental mewarnai perilaku akademisi. Sayang, kultur keilmuan kita belum sematang universitas-universitas di luar negeri. Riset seolah hanya kegiatan sekali atau dua kali seumur hidup untuk menjaring gelar. Layaknya pernikahan, riset dipandang sebagai momen sakral dalam rentang hidup seorang akademisi. Perpustakaan dan laboratorium dipenuhi pengajar yang sibuk bekerja untuk keperluan tesis atau disertasi. Tak banyak yang sungguh memanfaatkan untuk pengembangan keilmuan. Tak heran, sebagian besar pengajar sekadar menjadi reprodusen bukan produsen ilmu. Silabus yang sama dipakai mengajar selama bertahun-tahun tanpa sekalipun direvisi.

Alih-alih menjadi basis kegiatan riset, universitas pun menjelma sebagai ajang kompetisi perebutan gelar. Masing-masing pengajar berlomba mengumpulkan kredit demi posisi akademis. Perlombaan yang lebih politis ketimbang epistemis. Office politics yang kental sedang meliputi dan mendistorsi kinerja akademis staf pengajar. Posisi strategis dan gelar akademis sungguh telah membutakan mata terhadap eksplorasi keilmuan. Ilmu itu sendiri akhirnya tersimpangkan dari fokus riset. Ini sungguh bukan kultur keilmuan yang sehat. Universitas riset memerlukan sosok yang mau berkonsentrasi sepenuhnya pada pengembangan ilmu itu sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, mampukah universitas menghasilkan periset-periset ulung yang beriman pada eksplorasi dan kedalaman? Mampukah universitas melahirkan periset-periset yang-meminjam istilah fisikawan Richard Feynman-memperoleh kesenangan dalam memecahkan teka-teki kenyataan? Sebelum pertanyaan ini dijawab, persoalan transfer kultural dalam atmosfer keilmuan universitas mesti dipersoalkan.

HEIDEGGER, filsuf Jerman, mencemooh universitas yang sekadar menghasilkan pengajar bukan peneliti. Pengajar adalah sosok yang menjejali kepala anak didik dengan informasi-informasi siap saji. Informasi yang nantinya dipertukarkan dengan nilai ujian di pengujung semester. Ini baru separuh cerita. Pengetahuan pun akhirnya menjelma komoditas yang nilainya semata-mata nilai tukar. Hal ini, disadari atau tidak, sedang menggerayangi dunia akademis republik ini. Ribuan lulusan tiap tahun dihasilkan dengan komoditas epistemik di benaknya. Pengetahuan itu sendiri tak pernah dipersoalkan tetapi nilai tukarnya.

Pertanyaannya, bagaimana kita mau menghasilkan periset-periset ulung bila teknik pengajaran masih bergaya fast- food? Mahasiswa dijejali banyak kesimpulan dari sekian pendekatan. Alhasil, mereka sudah cukup puas menjadi ensiklopedi berjalan. Heidegger menekankan, mengajar semestinya jauh lebih sulit dari belajar. Sebab, mengajar bukan sekadar transfer informasi, tetapi melatih mahasiswa untuk belajar. Metode perkuliahan problem based learning dan collaborative learning, lepas dari segala kebingungan saat penerapannya, adalah manifestasi gagasan itu. Pengajar harus memacu mahasiswa untuk memiliki kebijakan Sokratean: aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Iklim perkuliahan demikian akan menghasilkan kultur keilmuan yang melandasi universitas riset.

Perbincangan ini takkan cukup tanpa meminjam refleksi Dr Haryatmoko, filsuf sosial asal Yogyakarta. Dalam serangkaian kuliah dan ceramahnya, menggugat lemahnya refleksi epistemologis dalam riset ilmu-ilmu sosial. Gugatan ini saya baca secara mendua. Pertama, riset ilmu sosial sekadar berorientasi pada hasil. Ini adalah indikasi terang akan infiltrasi orientasi pragmatis-utilitarian dalam tiap kegiatan riset. Orientasi yang mengakibatkan kekaburan atas asumsi-asumsi paradigmatis yang melandasi aktivitas riset. Riset menjadi sekadar pilihan metodologis yang paling efisien bagi sebuah hasil. Padahal, asumsi-asumsi paradigmatis menentukan karakter sebuah riset: status quo atau emansipatoris.

Kedua, miskinnya keragaman pendekatan dalam proses-belajar mengajar di universitas. Pelbagai lulusan perguruan tinggi luar negeri membawa otoritas keilmuan masing-masing dan menjelma mafia epistemik setibanya di Tanah Air. Ini menghambat perkembangan aktivitas riset di universitas. Sebab, selain justifikasi teoretis, hasil riset pun memerlukan justifikasi sosial (komunitas akademis). Dominasi komunitas akademis dengan pendekatan tertentu bertanggung jawab memiskinkan eksplorasi dan penemuan. Mahasiswa dan pengajar semata-mata bekerja sebagai pemakai bukan penggugat apalagi pembuat teori. Dalam bahasa fisikawan-filsuf Thomas Kuhn, mereka sekadar pemecah puzzle yang gambar utuhnya sudah dibatinkan dari awal.

Keprihatinan terakhir saya adalah masalah netralitas akademis. Ini menjadi problematis saat pengetahuan tak bisa lepas dari kuasa. Sementara, dewasa ini kuasa mengambil beragam bentuk. Kuasa politik, misalnya, memaksa riset untuk menghamba pada selera penguasa. Belum lagi kuasa bisnis yang senantiasa mengembuskan rasionalitas ekonomi pada aktivitas riset universitas. Universitas menjadi laboratorium paruh waktu bagi aneka kepentingan bisnis. Ini sungguh bukan iklim yang nyaman bagi aktivitas riset yang bergerak dalam koridor ilmu-ilmu murni.

Netralitas akademis pun mendapat cobaan dari infiltrasi kelompok-kelompok sektarian. Lepas dari argumentasi pemisahan antara yang privat dan publik, infiltrasi ini sungguh mencederai kemandirian aktivitas riset. Riset yang dibenarkan adalah yang menghasilkan kesimpulan sejajar dengan doktrin sektarian teryakini. Pola ini tidak mendorong mahasiswa untuk berfokus pada riset keilmuan. Kerja para sektarianis sekadar mencari-cari kesimpulan orang lain (yang sering usang) untuk menghantam hasil riset mereka yang berseberangan. Alhasil, sejarah dominasi sektarian atas ilmu pengetahuan berulang. Dominasi yang mempersulit komitmen universitas terhadap pengembangan keilmuan.

Saya tidak menolak tuntutan pertanggunjawaban etis sebuah riset. Riset harus akuntabel di mata moralitas. Masalahnya, pertanggungjawaban etis atas riset keilmuan harus tunduk pada pertanggungjawaban demokratis. Tidak bisa moral komunitas serta-merta menggayuti akuntabilitas sebuah riset keilmuan. Sektarianisasi ilmu pengetahuan menghabisi prinsip- prinsip demokratis yang membayangi pertanggungjawaban ilmiah. Riset dihakimi oleh moral hitam-putih: entah iblis atau malaikat.

Singkat cerita, universitas harus bekerja keras mewujudkan komitmennya sebagai universitas riset. Pelbagai prasyarat yang saya sebutkan di awal mutlak diperlukan demi konkretisasi cita-cita. Sebab, riset sebagai investasi sejarah membutuhkan geliat cukup leluasa dari pelbagai ganjalan kultural. Riset memerlukan kreativitas yang nyaris puitis guna membuka pintu-pintu keilmuan yang masih terkunci.

Pertanyaannya, seberapa banyak tersisa “penyair-ilmuwan” di universitas-universitas kita? Mereka yang masih merayakan eksplorasi dan kedalaman di tengah atmosfer akademis yang kian pekat asap triumvirat: pragmatis-utilitarian-sektarian.

Donny Gahral Adian Koordinator Program Sarjana Filsafat FIB-UI; Profesor Tamu pada Universitas Katolik Amerika, Washington

Sumber: Kompas, Sabtu, 21 Agustus 2004

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.