Home » Artikel

Menjadi “Beken” Lewat Internet

23 June 2001 693 views No Comment

UNTUK menjadi orang yang pandai dan pakar di bidangnya, perlukah sekolah dan ijazah? Jawaban atas pertanyaan sederhana namun membingungkan ini cenderung “Tidak perlu”.Kenyataannya, hingga hari ini, banyak orang berijazah SMU, D1, D2, D3, dan S1-S3 menjadi pengangguran karena kepandaiannya tidak dapat dimanfaatkan dan tidak diterima sebagai orang yang ahli di bidangnya. Namun, banyak pula yang berijazah S1-S3, justru menggeluti bidang yang berbeda dengan ijazah yang diperolehnya. Yang gila, ternyata banyak orang yang membeli gelar dan ijazah untuk meningkatkan jabatan di tempat ia bekerja. Sialnya, banyak lembaga terkecoh dengan ijazah dan gelar yang dibeli. Apakah demikian maksud keberadaan sekolah dan ijazah di Indonesia? Jadi, perlukah sekolah dan ijazah untuk menjadi pandai dan pakar?

Perkembangan ilmu begitu cepat sedangkan sekolah maupun ijazah tidak memberi jaminan. Pengetahuan guru atau dosen sering tertinggal jauh dari dunia nyata. Bahkan sering terjadi apa yang dikuasai guru atau dosen hanya kulitnya saja. Lalu, bagaimana cara menambah ilmu?
Memang, kesempatan memperoleh pengetahuan dengan mudah dan murah bisa didapat melalui banyak cara. Yang jelas, kemauan belajar keras dan membina banyak teman, justru lebih menjamin masa depan lebih baik, tidak harus melalui sekolah dan ijazah.

Berapa biaya untuk memperoleh ilmu secara murah? Tergantung pula mengakses pengetahuan yang digunakan, bisa antara Rp 20.000- Rp 300.000 per bulan di sekolah atau perguruan tinggi. Masalahnya, banyak sekolah atau universitas tidak berminat menyediakan layanan itu. Alasannya, seringkali guru dan dosen tidak siap menghadapi banjir pengetahuan. Hal ini bisa berakibat, guru atau dosen ditinggal murid atau mahasiswanya. Memang, 16 persen informasi di Internet berpengaruh buruk seperti pornografi. Namun, sebagian besar memberi informasi amat positif.

Menjadi ahli
Tampaknya, banyak anak muda Indonesia berminat menjadi hacker atau pemrogram, terlihat dari banyak e-mail dari seluruh Indonesia yang saya terima. Namun, tidak ada satu sekolah pun di sini yang mampu mendidik anak muda menjadi hacker kaliber nasional bahkan internasional. Bagaimana mungkin menjadi seorang hacker bila di sekolah masih diajarkan dBase 4 untuk basis data, Pascal programming yang sudah ketinggalan zaman (meski sesuai kurikulum Diknas)?

Semua praktisi tahu, kini lebih banyak orang menggunakan SQL, PHP4, socket programming, Tcl/Tk, Perl, C/C++, openssl, openssh, mod_ssl yang berjalan di atas berbagai protokol seperti IP, TCP, UDP, ICMP, IGMP, SMTP, HTTP, IMAP, POP3, RSVP, SSL, RC4, MD5, IEEE802.11, dan lain-lain, yang semuanya tidak diajarkan secara detail di sekolah maupun kuliah! Padahal dunia kerja kini amat membutuhkan orang yang menguasai teknik-teknik itu. Salah seorang bekas mahasiswa saya, Gde Raka di Bali, dengan mudah menjadi subkontraktor perusahaan software dari Silicon Valley, US untuk Java programming. Semua itu dilakukan dari rumahnya di Bali. Gaji diterima dalam dollar AS, biaya hidupnya dengan rupiah. Mantap man!

Penghasilan Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan, amat mudah diperoleh. Bahkan sebagian berpenghasilan Rp 5 juta-Rp 10 juta per bulan. Usia mereka rata-rata 25 -30 tahun, muda dan enerjik. Rasanya ada banyak Raka-Raka lain di Indonesia yang berkiprah secara nasional maupun internasional.

Bagaimana proses belajar anak-anak muda ini? Ilmu yang mereka peroleh jelas bukan di sekolah dan kampus. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari kurikulum nasional buatan Diknas yang ketinggalan zaman. Pengetahuan itu diperoleh di Internet, membuka berbagai situs yang menyediakan pengetahuan gratis seperti http://www.linuxdoc.org, http://www.linux.or.id, http://www.internic.net, http://www.pulver.com, dan banyak lagi.

Jika men-download pengetahuan dari Internet dirasa mahal, itu bisa diakali dengan membeli CD Linux seharga Rp 20.000-Rp 25.000 per buah yang di dalamnya terkandung banyak dokumen tentang teknologi informasi. Belum lagi komunitas Linux yang cukup kuat di http://www.linux.or.id, bahkan memiliki majalah sendiri InfoLinux http://www.infolinux.or.id yang relatif murah dan selalu disertai CD Linux setiap edisinya. Semua ilmu yang diperoleh dari berbagai situs itu biasanya tidak di ajarkan di sekolah.

Untuk pengetahuan umum, saya suka situs http://www.ipl.org dan http://www.yahooligans.com, situs ini membawa banyak pengetahuan bermanfaat bagi anak TK-SMU. Yang menarik di Internet, kebanyakan pengetahuan disebarkan tanpa menggunakan hak cipta. Mereka umumnya menggunakan copyleft (bukan copyright).

Persebaran pengetahuan
Bagi Anda yang tertarik mengambil pengetahuan yang saya miliki, silakan download dari situs http://www.bogor.net/idkf, http://louis.angin.com/idkf, http://louis.idaman.com/idkf yang gratis. Dibutuhkan waktu lama untuk mengambilnya, karena jumlah total ada sekitar 2000 file di dalamnya, sekitar 1.2 Gbyte.

Nah, dengan adanya Internet, tidak ada lagi alasan bagi siswa atau mahasiswa luar Jawa menjadi bodoh karena sekolah atau kampus tak mengajarkannya. Yang jelas, kesempatan menjadi pandai adalah hak semua anak. Bahkan dengan modal dengkul pun, semua anak bisa maju.

Teman-teman saya juga membuat jaringan perpustakaan knowledge infrastructure yang dikembangkan Indonesia Digital Library Network (IndonesiaDLN) http://idln.itb.ac.id, http://indonesiadln.org. Piranti lunaknya bisa diambil gratis. Namun, infrastruktur ini bisa percuma bila mahasiswa, dosen, dan guru besar lebih mengutamakan copy right, tak mau meletakkan pengetahuan tertulisnya di IDLN karena takut tidak dapat uang bila ilmunya diambil orang lain.

Harus diakui, ada kecenderungan perguruan tinggi menjadi menara gading dengan berbagai teknologi kontrol dan akreditasi guna “menjamin” kualitas lulusan. Tetapi, apa gunanya itu semua bila akhirnya lulusannya banyak yang menganggur?

Pengakuan masyarakat
Dulu, orang mencari pekerjaan berbekal ijazah dan nama besar almamater. Kalau sedang untung, sarjana S1 akan mendapat gaji Rp 500.000-Rp 750.000 per bulan. Tetapi, banyak pula sarjana S1, karena kurang beruntung, harus rela mendapat pekerjaan dengan gaji Rp 150.000 per bulan.

Untuk mendapat pengakuan masyarakat, ini sebuah seni tersendiri dalam dunia yang karena infrastruktur Internet, ilmu pengetahuan berkembang cepat. Ijazah dianggap remeh dunia maya. Pun, tidak ada badan akreditasi dan sertifikasi yang mutlak di Internet. Sebagai alternatif, ada lembaga yang bisa memberi akreditasi dan sertifikasi seperti http://www.brainbench.com, http://www.cert21.com, http://www.examsimulators.com, ada juga program sertifikasi dari Industri seperti MCP, MCSE, MCT (Microsoft), CCNA (Cisco) yang dapat memberi sertifikasi kaliber internasional, dan banyak dicari orang guna memperoleh pekerjaan yang layak.

Beberapa rekan dari Linux di Medan yang dikomandani Pak Umar di Pinter Medan bahkan memperoleh pekerjaan di Malaysia karena mengantungi sertifikat dari http://www.brainbench.com. Kualitas mereka pun ternyata tidak kalah dari orang bule, karena kondisi Indonesia mengharuskan mereka lebih ulet.

Mereka yang memperoleh sertifikat internasional, umumnya dicari banyak perusahaan dan tidak akan pernah merasa rugi mengeluarkan 100 dollar AS untuk ujian mendapat sertifikat itu. Ilmu yang diujikan untuk memperoleh sertifikat itu tidak pernah diajarkan di sekolah.

Bagi mereka yang sulit mengejar sertifikat internasional, masih banyak jalan untuk dapat berkarya di dunia maya tanpa tergantung ijazah sekolah. Cara paling sederhana adalah “memberitahukan” kepada masyarakat bahwa kita menguasai ilmu pengetahuan tertentu. Cara lain yang tidak kalah effektifnya adalah bertumpu pada mekanisme gethok tular (dari mulut ke mulut) agar orang banyak membicarakan keahlian kita dan akhirnya mengakui kepiawaian kita dalam hal tertentu.

Cara elegan memberitahukan keahlian kita kepada orang lain adalah dengan berpartisipasi aktif di berbagai kegiatan atau aktivitas atau diskusi di Internet. Tiap kali ada yang bertanya, usahakan untuk menjawab semaksimal mungkin. Kualitas jawaban yang diberikan akan dinilai khalayak diskusi di Internet. Makin baik jawabannya, makin tinggi rasa hormat masyarakat kepadanya. Pada tingkat ini, Anda sudah menjadi beken, dan pekerjaan akan datang dengan sendirinya.

Ada banyak tempat diskusi di Internet. Ada yang berupa saluran chatting, ada yang berupa mailing list melalui e-mail. Salah satu pangkalan terbesar mailing list di http://www.yahoogroups.com yang dapat dilanggan secara gratis. Biaya untuk aktif di mailing list amat rendah, karena saya mem-POP semua mail yang berjumlah sekitar 600-an mail per hari ke PC saya di rumah. Saya hanya membutuhkan Rp 40.000-Rp 60.000 per bulan untuk ISP, dan Rp 200.000-Rp 250.000 per bulan untuk telepon (kalau pulsa tidak jadi naik).

Cara lain untuk menjadi beken dengan menyebarkan karya tulisan kita dan software. Owo Sugiono dari rab.co.id, misalnya, harus diakui sebagai ahli di bidang basis data di Linux menggunakan Postgres. Proses pengakuan terjadi setelah Owo melepas software billing system untuk warnet di Linux secara gratis, selain itu Owo aktif di berbagai mailing list Linux di Internet. Made Wiryana, Ase, Rusmanto, Toosa, Michael Sunggiardi, Y Sumaryo, dan banyak lagi yang menjadi beken karena memberikan pengetahuan yang mereka miliki ke masyarakat luas.

Kemampuan tulis-menulis mutlak diperlukan orang yang ingin menyebarkan pengetahuannya ke masyarakat dan akhirnya memperoleh pengakuan dari masyarakat. Kita beruntung, telah dibentuk pangkalan para penulis teknologi informasi di penulis-ti@yahoogroups.com yang bisa dijadikan sarana gratis menjadi penulis teknologi informasi. Beberapa orang di situ merupakan penulis yang tidak hanya menulis artikel di media, tetapi juga buku. Tabratas, misalnya. Ia masih mahasiswa ITB, tetapi sudah menulis buku mengalahkan dosennya dan aktif di penulis-ti.

Keberadaan komunitas penulis ini ternyata disambut baik berbagai media maupun vendor komputer. Rekan-rekan di Hewlett Packard (HP) Indonesia, misalnya, telah berinteraksi dengan rekan penulis-ti, dan mulai menjajagi kemungkinan memberikan ilmu atau whitepaper yang ada di HP kepada para penulis ini agar pengetahuan dapat menyebar ke masyarakat banyak.

Bahkan bersama rekan-rekan di HP Press Club kemungkinan akan menyelenggarakan seminar secara periodik untuk membuka wawasan pengetahuan para wartawan, reporter, dan penulis di bidang teknologi informasi. Belum lagi HP dan Cisco berencana memberi hadiah kepada para penulis TI yang baik.
(Dr Onno W Purbo, penulis teknologi informasi independen, mantan dosen ITB ).

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.