Home » Berita, industri, penelitian, teknologi

Menggaungkan Manfaat Industri 4.0

8 June 2016 175 views No Comment

Kemajuan teknologi dalam industri adalah keniscayaan. Tak pelak, kemunculan industri 4.0 yang digerakkan kekuatan internet pada benda telah mewujudkan peluang baru untuk menjawab tuntutan konsumen di era digital.

Revolusi teknologi industri ini mendobrak kemapanan sistem kerja industri manufaktur konvensional. Jika sistem operasi seperti Android, iOS, dan Windows Mobile berhasil mengubah wajah telepon genggam menjadi telepon pintar (smart phone), maka teknologi industri 4.0 diperkirakan membuat perusahaan manufaktur menjadi pabrik pintar (smart factory).

PT Robert Bosch mengundang sejumlah wartawan dari beberapa negara di dunia, termasuk Kompas yang menjadi satu-satunya media dari Indonesia, untuk mengunjungi fasilitas dan pabrik Bosch di Stuttgart dan booth Bosch dalam pameran teknologi industri Hannover Messe di Hannover, Jerman, akhir April lalu. Dalam acara kunjungan media itu, keunggulan industri 4.0 ditunjukkan.

Ternyata, apa yang dilakukan industri 4.0 cukup mencengangkan. Bjorn Sabaluss, Connected Industry Plant Coordinator Robert Bosch, mengakui, hampir semua orang membicarakan industri 4.0 selama setahun atau dua tahun terakhir, tetapi tidak semuanya benar-benar tahu apa itu sebenarnya industri yang terhubung.

Di pabrik Feuerbach milik Bosch yang ada di sudut kota Stuttgart, manfaat industri ini pun coba digaungkan. Sabaluss memberi ilustrasi sederhana mengenai hal ini. Dengan memegang sebuah tablet, Sabaluss menjelaskan bagaimana kekuatan sebuah konektivitas yang berbasis internet pada benda atau internet of things (IoT) berdampak signifikan terhadap produktivitas.

Sebagai gambaran, seorang supervisor di pabrik Feuerbach mengontrol kinerja mesin produksi hanya dari sebuah telepon pintar atau tablet. Sebuah peranti lunak dalam gawai itu merekam data dari seluruh mesin produksi. Saat salah satu mesin tidak berfungsi atau bermasalah, gawai itu memberikan laporan saat itu juga.

Dalam hitungan menit, pegawai yang bertanggung jawab terhadap produksi dapat langsung memeriksa kerusakan atau masalah pada mesin tersebut sehingga produksi dapat berlanjut kembali. Sistem itu membuat kerusakan pada mesin dapat terdeteksi lebih awal dan aktivitas produksi terawasi tanpa harus ada pegawai yang mengecek mesin satu per satu. Di sisi lain, data produksi juga langsung terekapitulasi setiap hari tanpa harus dihitung secara manual.

Dengan menerapkan industri 4.0, kata Sabaluss, pekerjaan manual di pabrik Feuerbach telah tereduksi dari 175 jam menjadi 34 jam per bulan. Selain itu, energi yang dikonsumsi oleh pabrik juga berkurang hingga 30 persen. Fantastis!

5d7a135ed2684e39b836c88f4aa33babKOMPAS/HARRY SUSILO—Aktivitas pekerja di dalam pabrik Feuerbach milik Bosch, di Stuttgart, Jerman, Selasa (26/4). Salah satu pabrik tertua dan tercanggih yang dimiliki Bosch ini telah menerapkan teknologi industri 4.0 untuk menunjang kinerja dan aktivitas produksi. Industri 4.0 yang memanfaatkan internet yang terhubung ke benda dapat meningkatkan produktivitas dan menekan ongkos produksi sebuah industri.

Meskipun aktivitas produksi dapat termonitor dari sebuah gawai, Sabaluss menegaskan, bukan berarti industri 4.0 mengurangi jumlah pekerja dalam sebuah perusahaan. Dengan revolusi industri tersebut, para pegawai dapat bekerja lebih efisien dan lebih produktif.

Dengan kata lain, industri 4.0 telah mengubah wajah industri manufaktur lewat peningkatan produktivitas, pemangkasan biaya operasional, dan transparansi yang lebih baik. Tentunya, industri 4.0 harus ditopang sebuah fasilitas big data dan keamanan (cyber security) dari ancaman peretas. Untuk itu, Bosch menyediakan fasilitas penyimpanan data yang dinamai Bosch IoT Cloud yang dilengkapi sistem pengaman data.

Volkmar Denner, Chief Executive Officer Robert Bosch, menyebut apa yang dilakukan industri 4.0 telah mendefinisikan ulang kinerja dan efisiensi. Teknologi ini merupakan bentuk penggalian masa depan yang berbasis bisnis pelayanan baru dengan menghubungkan seluruh produk yang ditopang internet pada benda.

Bosch memiliki lebih dari 250 pabrik di dunia yang saling berjejaring. Dengan menerapkan industri 4.0 di seluruh pabriknya secara bertahap, Bosch optimistis dapat memangkas biaya produksi hingga 1 miliar euro atau setara Rp 15,2 triliun dan meningkatkan penjualan dengan nominal yang sama pada tahun 2020.

“Dengan adanya industri 4.0 yang terhubung, kami dapat menghubungkan baik itu industri otomotif dalam skala besar maupun pabrik mesin skala kecil di Asia, Eropa, dan Amerika,” ujar Denner.

Lebih dari itu, Bosch tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penyedia industri 4.0 bagi perusahaan yang ingin mempraktikkan teknologi tersebut. Industri 4.0 merupakan konsep untuk industri berbasis internet pada benda yang diusung pertama kali di Jerman dan Bosch menjadi salah satu inisiatornya.

Tak heran, industri 4.0 menjadi topik utama dalam perhelatan Hannover Messe, pameran teknologi industri terbesar di dunia yang diikuti sekitar 6.500 peserta, pada 24-28 April lalu. Sebagai salah satu peserta, Bosch juga menampilkan cara kerja dan manfaat industri 4.0, yang tetap mengutamakan manusia sebagai pemain utamanya.

Lalu, bagaimana dengan prospek industri 4.0 di Asia, termasuk Indonesia? Stefan Assman, Head of Connected Industry Robert Bosch, mengungkapkan, industri 4.0 dapat diterapkan di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, jika didukung infrastruktur terkait internet pada benda.

Anggota Dewan Direksi PT Robert Bosch, Peter Tyroller, mengungkapkan, Indonesia dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa merupakan pasar yang cukup potensial bagi perusahaan mana pun, termasuk Bosch. Bahkan, Bosch memiliki rencana untuk membuka pabrik baru di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan terkait penyediaan suku cadang dan teknologi otomotif. Tentunya, cepat atau lambat industri 4.0 pun akan turut diterapkan di pabrik milik Bosch di Indonesia.

Mengandalkan riset
Inovasi adalah kunci dalam pengembangan teknologi seperti juga dalam industri 4.0. Oleh karena itu, Bosch memberikan perhatian lebih dalam penelitian dan pengembangan. Selama tahun 2015, perusahaan menggelontorkan 6,4 miliar euro atau setara Rp 97 triliun untuk kepentingan riset dan pengembangan. Pengeluaran tersebut sekitar 9 persen dari total nilai penjualan Bosch selama 2015.

Dana penelitian dan pengembangan itu termasuk pendirian pusat riset yang mereka beri nama Campus Renningen dengan nilai investasi mencapai 310 juta euro atau setara Rp 4,7 triliun. Investasi itu terdiri dari 217 juta euro (Rp 3,3 triliun) untuk pengerjaan konstruksi dan 93 juta euro (Rp 1,4 triliun) untuk mesin dan peralatan teknis.

Volkmar Denner menyebutkan, terdapat sekitar 1.400 ilmuwan yang berada di Campus Renningen untuk kepentingan penelitian dan pengembangan produk-produk Bosch. Pusat riset seluas 100 hektar itu terdiri atas 14 gedung, termasuk laboratorium.

Dalam gedung Bosch tersebut tersedia beragam fasilitas untuk menunjang kinerja karyawan, seperti ruang pertemuan, zona komunikasi, ruang olahraga, restoran dengan kapasitas 3.000 orang, dan perpustakaan. Tak hanya itu, jika para peneliti atau pekerja sedang jenuh atau membutuhkan inspirasi untuk menggali ide, Bosch memiliki ruangan bernama Platform 12. Ruangan ini buka dari pukul 06.00 hingga pukul 22.00 setiap hari.

Ruangan Platform 12 menyerupai galeri seni dan bermain. Dalam ruangan tersebut terdapat lukisan, mebel antik, sejumlah karya instalasi, teleskop, sejumlah mainan, sofa untuk santai, dan papan tulis untuk menuangkan gagasan apa pun. Waktu yang dihabiskan di ruangan ini biasa disebut “waktu mencari konsep”.

Thorben Birgit, Corporate Research Manager Robert Bosch, menjelaskan, Platform 12 yang diresmikan mulai Oktober 2015 merupakan tempat bagi para pekerja untuk menuangkan ide mereka.

“Setiap pekerja memiliki 10 persen dari waktu kerjanya untuk berada di sini. Mereka dapat datang kapan saja mereka mau saat ruangan ini buka,” ujar Birgit.

Berbagai fasilitas di Renningen tersebut, termasuk Platform 12, dirancang agar inovasi terus disemai oleh para pekerja Bosch. Inovasi juga yang melahirkan industri 4.0 sebagai salah satu solusi untuk peningkatan produktivitas.

Tak dapat disangkal, industri 4.0 yang menghubungkan semua elemen produksi dan dapat dikontrol hanya dari gawai telah menunjukkan lompatan raksasa dalam dunia industri. Kemajuan teknologi itu membuat industri manufaktur tidak lagi terbentur tembok tinggi yang bernama inefisiensi.

Industri 4.0 pun telah menjadi realitas untuk menjawab tuntutan konsumen di era digital. Seperti yang disampaikan Tim O’Reilly, pendiri O’Reilly Media, “Apa yang dilakukan teknologi terkini adalah menciptakan peluang baru dalam sebuah pekerjaan yang diinginkan konsumen,”.(HARRY SUSILO)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2016, di halaman 26 dengan judul “Menggaungkan Manfaat Industri 4.0”.

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.