Home » Berita

Mengapa Alumni S-2 Jadi Pencuri Rumah Mewah?

31 May 2011 824 views No Comment

Lazimnya seorang master lulusan luar negeri tentulah kerja mapan di perkantoran elite dengan gaji tinggi.Profesi yang digeluti pun biasanya mentereng,bisa bankir,analis saham,manajer investasi,maupun sederet kerja papan atas lainnya.

Namun,tidak bagi Edi Gunawan alias Abun,37.Pria yang mengaku memegang gelar master of science dari salah satu universitas elite di Australia itu justru memilih profesi yang tak lazim, spesialis pencuri rumah mewah. Edi Gunawan diringkus jajaran Satuan Reskrim Polres Jakarta Barat,Sabtu (28/5). Dari penangkapan di rumah kosnya di Jalan Palmerah Barat Nomor 42A,Palmerah, Jakarta Barat itu,polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti hasil pencurian yang dilakukan tersangka.Salah satunya berupa senjata api (senpi) merek Walther berikut amunisi 16 butir kaliber 32.

Barang bukti lain yang diamankan tersebut berupa tiga unit laptop,satu BlackBerry,tiga untai kalung berlian imitasi,senjata tajam jenis linggis,dan pahat beton. Semua barang bukti itu diperkirakan bernilai ratusan juta rupiah. Kepala Polres Jakarta Barat Kombes Yazid Fanani di Jakarta kemarin menjelaskan, pelaku merupakan spesialis pencuri yang ditinggal pemiliknya.Dia menentukan secara acak rumah sasarannya. Tersangka dalam beraksi selalu menumpang taksi. Sesampai di depan rumah calon korban,tersangka menghubungi telepon informasi 108 untuk mengetahui nomor telepon rumah yang dimaksud.

Setelah mendapatkan nomor telepon rumah itu,sambung Yazid,tersangka menelepon ke rumah tersebut. Saat diangkat pembantu yang bertugas di rumah tersebut,tersangka mengaku sebagai pemilik rumah dan mengabarkan akan ada saudara pemilik rumah itu datang.”Nanti saudara saya akan datang,tolong bukakan pintu dan persilakan masuk,” ujar Yazid menirukan ucapan tersangka kepada pembantu rumah sasarannya. ”Tersangka menumpang taksi berpakaian necis sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pembantu.” ”Dan dia pun dilayani layaknya seorang pemilik rumah,”ujarYazid didampingi Kepala Satuan Reskrim AKBP Ferdy Sambo.

Ferdy menambahkan,di kala pembantu rumah sasarannya lengah,tersangka langsung masuk kamar pemilik rumah dan membuka paksa dengan linggis dan pahat beton.Setelah beraksi, dia kabur membawa barang curian. Semua barang bukti yang disita merupakan hasil pencurian yang dilakukan sendiri oleh tersangka di lima tempat kejadian perkara (TKP). Semua itu di kawasan Jakarta Barat,seperti Kompleks Mega Kebon Jeruk; Jalan Anggrek Garuda Kompleks DPA Palmerah; Kompleks Hankam Palmerah; Jalan Taman Sari, Tamansari; dan Jalan Mangga Besar,Tamansari. Khusus barang bukti senpi didapatkannya di Kompleks Mega Kebon Jeruk.”Barang bukti tersebut juga dilengkapi dengan surat izin pemakaian senpi,”paparYazid.

Tersangka Edi Gunawan mengaku telah menjadi pencuri rumah sejak beberapa tahun lalu.Pria yang fasih berbahasa Inggris,Mandarin, dan Jepang ini mengaku hasil pencurian digunakannya untuk menghidupi anak dan istrinya yang tinggal di Australia. ”Keluarga saya di Australia. Hasil pencurian ini selain untuk main-main, juga untuk keluarga,” katanya. Dia mengaku banting setir sebagai pencuri rumah mewah lantaran terpaksa. Biaya hidup yang harus dipenuhi untuk keluarganya yang kini tinggal di Australia sangat tinggi,sedangkan dia tidak memiliki pekerjaan layak.Pria satu anak itu berbohong kepada keluarganya dengan mengatakan telah mendapatkan pekerjaan mapan di Indonesia.

Sebetulnya sejak lulus tersangka sudah berupaya mencari pekerjaan layaknya pencari kerja kebanyakan. Tapi,pekerjaan itu tidak sesuai dan hasilnya tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga di Australia. Lantas, dia nekat menjadi pencuri. Atas perbuatannya itu, tersangka dikenakan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dan Pemberatan.Dia terancam hukuman penjara maksimal tujuh tahun. Kriminolog Adrianus Meliala menilai janggal seorang pelaku pencurian rumah memiliki latar belakang pendidikan pascasarjana.

Andaikan memang ada pelaku dari kalangan tersebut,dia sangat menyayangkan.seorang berpredikat master semestinya mampu memilah apa yang baik dan buruk untuk dikerjakan demi menghidupi keluarganya.” Ini aneh sekali,” ujarnya. Kemungkinan lain,kata kriminolog Universitas Indonesia (UI) itu,pelaku merupakan pemegang master yang sekadar memiliki gelar dan ijazah.Sementara kemampuannya tidak memenuhi syarat sebagai seorang alumnus strata dua. Dugaan lain,sambung Adrianus,pelaku itu memiliki kelainan jiwa sehingga dengan mudah mengklaim dirinya sebagai lulusan master atau apa pun.Atau seorang oknum lulusan pascasarjana,tapi memiliki kelainan dan berbuat kejahatan.

Andaikan pelaku itu sengaja beralasan demikian untuk menutupi identitas aslinya,sambung Adrianus, hal itu akan berdampak buruk kepada pelaku itu sendiri.Dia akan mendapatkan tuduhan penipuan dan membuat sangkaan lebih berat lagi. ”Kini tinggal pihak kepolisian mengecek pengakuan tersangka itu,”tandasnya. ILHAM SAFUTRA

Sumber: Koran Sindo, 31 Mei 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.