Home » Berita, Penerbangan, Survei, teknologi

Mengabadikan Bumi Indonesia dari Udara

16 June 2016 167 views No Comment

Sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu, manusia sudah bermimpi untuk terbang. Manusia telah memeras otak mereka untuk melawan gravitasi dan terbang seperti burung. Ketika burung saja bisa terbang, mengapa manusia tidak dapat terbang? Selama berabad-abad, rasa penasaran itu terus dicari jawabannya.

Tentu saja tidak mudah untuk terbang. Anatomi tubuh manusia berbeda dengan burung sehingga manusia tidak begitu saja dapat terbang. Belum lagi, kita berhadapan dengan gaya gravitasi yang seolah selalu akan merekatkan manusia dengan bumi.

Leonardo da Vinci, seorang genius dari Italia yang hidup tahun 1452-1519, juga ikut memikirkan supaya manusia dapat terbang. Dia sempat menggambar sketsa pesawat terbang meski tidak sempat mewujudkannya dalam hidupnya.

Kenapa manusia ingin terbang? Karena mobilitas merupakan kebutuhan manusia. Manusia juga selalu ingin bergerak dengan cepat. Rasa ingin tahunya juga mendorong penjelajahan manusia ke tempat-tempat yang sulit dijangkau.

Meski bukan manusia pertama yang menggagas pesawat terbang, Wright bersaudara diakui kontribusinya setelah menerbangkan dan mengendalikan pesawat terbang pertama pada 17 Desember 1903.

Negeri ini untuk pertama kalinya didarati pesawat pada 24 November 1924. Saat itu belum digunakan nama Indonesia. Dunia mengenal negeri ini dengan nama Dutch East Indies.

Pesawat jenis Fokker F VII dengan registrasi H-NACC milik maskapai Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) itu mendarat di pangkalan udara Tjililitan setelah sempat transit di sebuah kota di Sumatera. Penerbangan perdana Belanda-Batavia itu membutuhkan waktu terbang selama 127 jam 16 menit.

Wajah Indonesia
Setelah pesawat mulai mengangkasa di langit kita, wajah Indonesia mulai kita kenali dari langit. Mulai ada foto-foto udara dari alam Indonesia. Bentang alam Indonesia makin dikenali bahkan kemudian dikagumi.

Bagi sebagian orang, foto udara juga menjadi sarana untuk mengukur sesuatu. Foto udara tidak sekadar digunakan untuk mengagumi keindahan, tetapi juga untuk menjaga keindahan dan kelestarian alam.

Foto udara, misalnya, menjadi penanda dari bentang pesisir di suatu daerah. Ketika foto itu diambil lagi pada waktu tertentu, maka segera dianalisis apakah terjadi abrasi atau tidak. Yang lebih terpenting lagi adalah mencari solusi terbaik untuk menjaga kelestarian alam.

Media massa, sebagai wahana kontrol, juga akhirnya diwarnai oleh foto-foto udara. Termasuk pula Kompas yang sejak puluhan tahun lalu berpuluh-puluh kali memuat foto udara.

Selain bentang alam, foto-foto udara juga banyak menampilkan wajah-wajah kota. Makin lama penduduk dunia memang makin terpolarisasi di dalam kawasan urban. Jangan heran bila akhirnya wajah kota sangat menarik perhatian kita.

Foto gedung-gedung berpencakar langit atau bangunan penanda kota, seperti stadion, bandar udara, hingga persimpangan jalan (interchange), sangat menarik perhatian publik. Foto-foto lama pun menjadi menarik karena memberikan kesempatan untuk bernostalgia, mengenang hal-hal baik yang sudah terlewat oleh waktu.

Bergantung pada pesawat
83191227-7e59-474e-831b-dcc81c327376Ada masanya ketika foto-foto udara sangat bergantung pada penerbangan pesawat sipil berjadwal ataupun sewa. Ketika sangat dibutuhkan, sebuah perusahaan atau fotografer tertentu dapat saja menyewa pesawat untuk terbang melintasi obyek-obyek yang hendak dipotret.

Sewa pesawat memang dibutuhkan ketika sebuah perkebunan atau perusahaan penambangan butuh data lebih dalam terkait bentang alam di sebuah kawasan. Apalagi, ketika alam di lokasi tersebut sulit ditembus hanya dengan berjalan kaki.

Namun biasanya, wartawan ataupun fotografer sekadar “numpang” memotret saat terbang dengan penerbangan komersial. “Minta saja untuk duduk dekat jendela. Kemudian, selalu persiapkan kamera karena siapa tahu ada obyek menarik untuk difoto,” ujar fotografer Kompas, Arbain Rambey, suatu hari.

Dalam data foto Kompas, jangan heran bila tersimpan ribuan foto udara yang diambil dari penerbangan komersial. Meski diambil dari penerbangan komersial, hasil fotonya tidak dapat diremehkan.

Liputan terkait reklamasi Jakarta tempo hari juga ada beberapa foto yang diambil dengan penerbangan komersial. Kebetulan, jalur lepas landas dan pendaratan pesawat dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta melewati pesisir pantai utara Jakarta.

Persoalannya, bila diamati, penerbangan komersial terbang sesuai dengan “jalur” yang telah ditentukan. Artinya, bila diamati mendalam, obyek pemotretan yang “tersedia” sangat terbatas. Boleh jadi, lain waktu ada kesempatan memotret dari kursi di dekat jendela pesawat tetapi ternyata obyeknya tidak berubah.

Penerbangan dari Jakarta ke Surabaya, misalnya, dari waktu ke waktu tetap akan melintasi Kota Cirebon dan Semarang. Jadi, bila Anda berharap dapat memotret Gunung Merapi dari udara, keberuntungan itu belum tentu menghampiri.

Anda hanya dapat memotret Gunung Merapi dari udara bila ingin terbang atau mendarat di Bandara Internasional Adisutjipto, Yogyakarta. Gunung Merapi dan Merbabu juga hanya berpeluang dapat difoto bila kita ingin mendarat di Bandara Adisumarmo di Boyolali.

Pesawat layang
Demi sudut pengambilan gambar yang lebih baik, akhirnya ada inisiatif dari beberapa orang untuk menerbangkan pesawat ringan baik dengan mesin atau tanpa mesin. Dengan kemampuan terbang yang tidak tinggi dan dengan kecepatan yang tidak tinggi pula, maka justru pemandangan yang didapat lebih memukau.

Fotografer Kompas, Lucky Pransisca, pun berhasil mengabadikan pemandangan alam Sumedang, Jawa Barat, dengan difasilitasi oleh paralayang. Lucky lepas landas dari Bukti Toga (800 meter di atas permukaan laut) untuk mendapatkan foto Gunung Tampomas dan lahan pertanian di wilayah Sumedang.

Beberapa kali Kompas juga mengirim wartawan ataupun fotografernya untuk terbang naik helikopter demi memantau arus mudik dan balik Lebaran. Foto dari udara memang sedikit lebih baik dalam menggambarkan kondisi lalu lintas.

Namun tidak selalu mudah untuk dapat naik helikopter. Media besar cukup beruntung punya kesempatan lebih besar pula untuk “numpang” helikopter polisi atau ikut dalam kunjungan kerja dari pejabat tertentu. Namun, kesempatan itu sekali lagi tidak hadir tiap saat.

Era “drone”
Sejak beberapa tahun terakhir, teknologi pesawat tanpa awak (drone) telah mempermudah pengambilan foto dan video dari udara. Tidak lagi perlu mencari bukit terdekat atau memanjat menara telekomunikasi. Sebuah drone dapat diterbangkan tidak jauh dari obyek tertentu.

Drone, misalnya, telah digunakan Kompas untuk mengontrol sejauh mana pembangunan Tol Cikopo-Palimanan. Drone juga telah digunakan untuk mengamati arus mudik 2015.

Ketika media memasuki era multimedia, di mana ada tuntutan tidak sekadar menghasilkan foto tetapi juga rekaman video, maka Kompas memaksimalkan penggunaan drone untuk memproduksi film.

Salah satu wujudnya adalah video-video multimedia yang ditampilkan dalam laman print.kompas.com. Selain liputan lepas yang dikerjakan Multimedia, Selisik Batik juga mulai memanfaatkan teknologi drone di antaranya untuk memperlihatkan bentang alam di mana budaya batik hidup dan terus dilestarikan.

Ada berbagai jenis drone yang masuk ke pasaran Indonesia. Salah satunya adalah merek DJI, yang sudah berevolusi hingga beberapa seri. Juga ada beberapa merek lain yang jumlah populasinya masih terbatas, seperti ONAGOfly.

Negeri ini juga tidak ketinggalan dalam hal teknologi drone. Alumnus Institut Teknologi Bandung, Radja, memenangkan kompetisi Wismilak Diplomat Success Challenge (DSC) 2015 melalui desain MATA atau Mesin Terbang Tanpa Awak.

Peneliti Swandiri Institute, Arif Munandar, juga telah membangun pesawat drone untuk melakukan pemetaan wilayah. Tujuannya mulia, yakni untuk mencegah konflik antara peladang rakyat dan perusahaan perkebunan.

Pesawat drone itu dibuat oleh Arif dari styrofoam. Bentuknya seperti pesawat dengan sayap bukan sekadar pesawat berbaling- baling. Dengan demikian, drone itu dapat terbang selama satu jam tidak hanya beberapa belas menit.

Bulan-bulan ini, PT Dirgantara Indonesia (Persero) juga akan memproduksi secara massal pesawat drone yang diberi nama Wulung. Ini pesawat drone “serius” bukan sekadar drone untuk keperluan hobi.

Wulung didesain sanggup terbang selama 2-3 jam nonstop hingga radius 100 kilometer dari pusat kendali. Pesawat nirawak ini juga dilengkapi dengan kamera yang mampu mengambil data video dan foto secara real time.

Teknologi memang telah berkembang. Harga drone juga berpotensi makin murah ketika produsen Tiongkok, seperti Xiaomi, ikut memproduksi drone. Persaingan yang sempurna memang berpotensi menurunkan harga di sisi lain menaikkan mutu drone.

Apa pun, kemajuan teknologi memang telah membantu kita. Tidak perlu lagi bagi seorang fotografer untuk memanjat pohon atau tiang hanya untuk mengabadikan bumi Indonesia….

HARYO DAMARDONO

Sumber: 15 Juni 2016

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.