Home » Artikel

Memilih Sistem Pembelajaran Studi ”Post-Graduate”

20 May 2011 1,258 views One Comment

Diterima di perguruan tinggi luar negeri adalah  kebanggaan. Apalagi kalau keberhasilan tersebut berdasarkan kompetisi, tidak semata-mata diterima karena ada kerja sama antara lembaga tempat bekerja dan perguruan tinggi di luar negeri. Namun, rasa bangga itu tidak perlu berpanjang- panjang. Yang penting harus sudah ”in” dengan cara belajar di negara tujuan dan berhasil.

Ada beberapa perbedaan sistem pembelajaran di Amerika Serikat dan Australia, baik untuk jenjang S-2 (Master’s degree) maupun S-3 (PhD). Di Amerika Serikat, studi di jenjang S-2 bisa memilih apakah by course atau by thesis. Jika memilih by course,  mahasiswa mengikuti semua mata kuliah dengan berbagai tugasnya dan lulus Master tanpa harus menulis tesis.

Untuk yang memilih by thesis, tahun pertama dilalui dengan mengikuti beberapa mata kuliah dengan segala tugasnya. Setelah tahun pertama berakhir,  mahasiswa mulai menulis tesis, dalam hal ini minor thesis karena hanya dikerjakan dalam waktu yang pendek (dua semester). Untuk yang berkarier sebagai peneliti, dosen, atau bekerja di bagian litbang suatu lembaga, lebih baik mengikuti jenjang ini karena setelah selesai studi bisa membawa ”oleh-oleh” karya tulis (tesis S-2).

Selanjutnya, untuk melanjutkan ke tingkat Doktoral (PhD) juga lebih mudah diterima karena ”sudah pernah” menulis tesis. Sedangkan bagi yang mengikuti by course, saat melanjutkan ke jenjang S-3 masih harus mengikuti beberapa mata kuliah yang dibutuhkan untuk melakukan riset karena umumnya jenjang S-3 adalah research based degree program. Jenjang S-3 juga diawali  dengan beberapa  mata kuliah berikut berbagai tugasnya, kemudian menjelang berakhirnya tahun kedua,  mahasiswa mulai menulis disertasi, didampingi  tim pembimbing.

Mekanisme tersebut agak berbeda dengan sistem di Australia. Untuk jenjang S-2, mahasiswa bisa memilih by course (Master by coursework) atau by research (Master by research). Jika memilih by course,  mahasiswa mengikuti berbagai mata kuliah dengan berbagai tugas-tugasnya dan lulus Master. Sedangkan jika memilih by research, mahasiswa hanya akan berinteraksi dan berkomunikasi dengan dosen pembimbing saja selama studi dijalani, termasuk berkomunikasi dengan peer group penelitiannya. Mahasiswa S-2 yang memilih jalur ini kehilangan kesempatan mengikuti kuliah dengan teman-teman kuliah dari banyak bangsa di dunia. Pengalaman mengikuti kuliah seperti itu sangat berharga dan sebaiknya tidak dilewatkan. Namun, pilihan berpulang kepada pribadi setiap  calon mahasiswa. Kalau ingin berinteraksi dengan orang dari berbagai bangsa, pilihlah Master by coursework. Kalau ingin bersunyi-sunyi mengerjakan penelitian dengan tekun, pilihlah Master by research.

Hampir sama dengan di Amerika Serikat,  yang mengikuti Master by coursework  di Australia masih harus mengikuti beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan conducting the research jika memasuki studi S-3. Namun, bagi yang telah lulus Master by research, memasuki studi S-3 akan langsung mengerjakan penelitiannya karena dia dianggap telah mampu melakukan penelitian. Saat S-3, mahasiswa hanya akan berinteraksi dengan pembimbing disertasinya serta dengan dosen-dosen lain apabila dibutuhkan untuk menambah wawasan. Dalam studi S-3 di Australia, biasanya mahasiswa ”dilepas” oleh pembimbingnya. Dalam arti, segala inisiatif untuk konsultasi, mencari materi studi, dan sebagainya diharapkan  datang dari pihak mahasiswa. Pembimbing hanya akan mengarahkan saja. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut aktif berkomunikasi dengan pembimbingnya.

Dari berbagai pilihan pada jenjang studi S-2 dan S-3 itu, penulis mempunyai pengalaman yang mungkin bisa diambil manfaatnya bagi calon mahasiswa S-2 dan S-3. Saat studi S-2 di Amerika Serikat, penulis memilih Master by thesis karena profesi penulis sebagai dosen. Setelah lulus, dua tahun kemudian penulis melanjutkan studi S-3 di Australia. Jalannya mulus sekali, penulis langsung diminta mengerjakan penelitian. Penulis dianggap sudah mampu mengerjakan penelitian ataupun menulis penelitian dalam bahasa Inggris. Yang harus penulis pelajari saat itu ialah mata kuliah Statistik. Penulis diminta oleh pembimbing S-3 untuk mengikuti mata kuliah Statistik tanpa harus mengikuti ujian mata kuliah itu.

Titien Saraswati Guru Besar di Universitas Kristen  Duta Wacana, Yogyakarta; Tulisan Ini merupakan Pendapat Pribadi

Penulis: TITIEN SARASWATI

Sumber: Kompas-Ekstra, Edisi Mei – Juni 2011

Share

One Comment »

  • Dinda said:

    Hai! Saya Dinda. Sekarang sedah menempuh pendidikan S1 di salah satu universitas negeri di Jakarta dan berencana untuk melanjutkan S2 di Selandia Baru. Saya ingin bertanya, apakah sistem pembelajaran di Australia sama dengan di Selandia Baru (pemilihan master by coursework & master by research)?

    (Saya tahu artikel ini sudah lama sekali, tapi semoga admin website ini membaca postingan ini dan berkenan menjawabnya. Terima kasih.)

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.