Mari Menonton Hujan Meteor Perseid

- Editor

Jumat, 7 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hujan meteor Perseid bisa dinikmati di daerah yang bersih dari polusi cahaya.

Langit bumi di kala malam bulan ini bakal dihiasi hujan meteor Perseid. Puncak pertunjukan alam itu akan berlangsung pada malam 11-13 Agustus mendatang. Anda hanya perlu mencari tempat yang jauh dari polusi cahaya buatan untuk bisa menikmati hujan meteor Perseid ini.

Hujan meteor Perseid merupakan fenomena astronomi yang paling populer setiap tahun. Rata-rata ada 80 meteor per jam yang bisa dinikmati dengan mata telanjang. Tahun lalu jumlah meteor yang berasal dari serpihan ekor komet Swift-Tuttle yang melintas lebih dari 150 buah per jam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hujan meteor Perseid bisa dinikmati selepas tengah malam. Sayangnya, tahun ini hujan meteor Perseid akan lebih sulit terlihat karena pengaruh cahaya bulan. Saat puncak hujan meteor, bulan hampir mencapai fase penuh sehingga cahayanya membuat langit lebih terang.

Ahli meteor dari Badan Antariksa Amerika Serikat, Bill Cooke, mengatakan jumlah meteor yang tampak lebih sedikit daripada biasanya. “Mungkin hanya 40-50 meteor per jam yang bisa dilihat,” kata Cooke seperti ditulis Space pekan lalu. “Sinar bulan mengalahkan larik cahaya meteor yang paling lemah.” Hujan meteor Perseid rutin terjadi karena bumi melintasi jalur komet Swift-Tuttle setiap Agustus.

Bumi akan melintasi jalur dengan serpihan ekor komet yang paling padat pada 12 Agustus mendatang. Pada saat itu, dalam periode yang singkat, akan berlangsung hujan meteor dengan jumlah terbanyak. Meski intensitasnya akan menurun, hujan meteor masih bisa dinikmati hingga bumi keluar dari jalur lintasan komet SwiftTuttle pada 24 Agustus mendatang.

Komet Swift-Tuttle adalah obyek antariksa terbesar yang jalurnya berpotongan dengan rute bumi mengelilingi matahari. Inti komet itu berdiameter sekitar 26 kilometer, setara dengan asteroid yang menumbuk bumi dan menghabisi sebagian besar dinosaurus 66 juta tahun lampau.

Terakhir kali SwiftTuttle melintas di dekat bumi pada 1992. Kondisi ini akan berulang 109 tahun lagi ketika bumi dan Swift-Tuttle diperkirakan terpaut 23 juta kilometer atau 60 kali jarak ke bulan. Dengan jarak sejauh itu, bumi tak akan terancam oleh Swift-Tuttle.

Waktunya masih lama hingga bumi berpapasan lagi dengan Swift-Tuttle dalam jarak dekat. Namun setiap tahun bumi melintasi jalur Swift-Tuttle yang dipenuhi serpihan dan debu sisa ekor komet tersebut. Dinamai Perseid karena, jika dilihat dari bumi, hujan meteor itu seperti berasal dari gugus bintang Perseus.

Ketika Anda melihat hujan meteor, yang tampak sebenarnya adalah serpihan komet tengah terbakar kala melintasi atmosfer bumi. Dengan kecepatan hingga 59 kilometer per detik, serpihan-serpihan komet itu membentuk larik cahaya terang ketika terbakar. Suhunya mencapai 1.650 derajat Celsius.

Meski banyak meteor melintas, tidak akan membahayakan bumi, apalagi para pengamatnya. Sebagian besar meteor Perseid berukuran kecil. Biasanya hanya sebesar butiran pasir pantai hingga kelereng yang akan habis terbakar di atmosfer bumi.

Hujan meteor Perseid bisa dinikmati dengan jelas di daerah yang bersih dari polusi cahaya. Mereka yang tinggal di perkotaan akan lebih sulit melihatnya karena gangguan sinar lampu yang terang-benderang. Kawasan pedesaan, pantai, dan pegunungan yang lebih temaram menjadi lokasi yang tepat untuk bisa menikmati fenomena alam ini.

Setiap menit Anda berpeluang melihat satu meteor melintas, termasuk yang paling terang seperti bola api.–SPACE | NASA | LIVESCIENCE

Sumber: Koran Tempo, 7 Agustus 2017

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB