Home » Berita, Biologi, Featured, Geologi

Manusia Bukan dari Kera

13 September 1989 112 views No Comment

Pengantar: Selama tiga hari, tanggal 9 sampai dengan 11 September lalu, di Yogyakarta diselenggarakan peringatan Seratus Tahun Paleoantropologi di Indonesia dengan seminar ilmiah, simposium, ekskursi, penerbitan perangko, perlombaan menggambar manusia masa kini dan masa mendatang, serta pembukaan museum. Di sini disajikan empat tulisan sekitar pelacakan dan permasalahan manusia purba, khususnya mengenai Pithecanthropus erectus, dikerjakan oleh wartawan Kompas: L. Sastra Wijaya, Djoko Pournomo dan Julius Pourwanto.

Manusia berawal dari tanah dan bakal kembali ke tanah. Ini dikatakan Prof Dr Teuku Jacob. Dia mengemukakan kutipan tersebut ketika menjawab keluhan seorang guru SMP kesulitan memberikan pelajaran biologi kepada para muridnya. “Mau dikatakan manusia asalnya dari hasil evolusi, kok bertentangan dengan pelajaran dari guru agama yang telah menyebutkan manusia asalnya dari tanah. Tapi mau disebutkan manusia asal tanah, buku paket menunjukan asal manusia salah satunya akibat evolusi…”

Masalah evolusi, ternyata masih tetap ramai dibicarakan selama Peringatan 100 Tahun Paleoantropologi di Indonesia. Peringatan yang diselenggarakan semarak, menghadirkan para pakar serta peminat dari berbagai penjuru dunia.

Pertanyaan tentang evolusi tidak hanya dipersoalkan guru sekolah lanjutan. Mereka mempersoalkannya karena juga memperoleh pertanyaan senada dari para anak didiknya. Malahan patung manusia purba, Homo erectus atau Pithecanthropus erectus (tergantung bagaimana kita menamakannya) yang kini ditempatkan dimuka gedung Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi, UGM juga banyak dibicarakan. Benarkah, para pendahulu kita tadinya berbentuk semacam itu?

Sebenarnya tak ada yang harus dipertentangkan. Semuanya benar dan memang benar, bahwa manusia berasal dari tanah sebagaimana antara lain –tertulis dalam Kitab Taurat kitab suci agama Yahudi. ”Tapi…” demikian Jacob menambahkan. ”Evolusi sendiri berlangsung dalam tiga macam. Pertama-tama evolusi kosmis, yakni terjadinya planet kita ini, terjadinya tanah air dan udara. Kemudian evolusi geologis terbentuknya gunung-gunung. Dan baru yang terakhir evolusi biologis. Evolusi pertumbuhan manusianya sendiri.

Maka tak ada pertentangan antara agama dan ilmu pengengetahuan. Keduanya saling melengkapi dan menunjang. Meski soal evolusi selalu tetap saja jadi bahan perdebatan berkepanjangan, sejak dulu sampai sekarang. Sangkaan bahwa akibat evolusi maka kita semua keturunan monyet, tentu mengada-ada. Tak pernah ada gagasan untuk menyebut umat manusia berasal dari monyet. Pandangari semacam itu hanya menyesatkan dan sekarang sudah ditinggalkan.

20160626_140404wBagaimana mungkin manusia masa kini bersaudara dengan monyet masa kini, yang hidup berdampingan dalam zaman yang sama? Jacob melukiskan jawabannya secara plastis, ”Adalah tidak mungkin membuat ban karet menjadi kondom. Yang paling mungkin haruslah dari bahan lateks, baru bisa kita buat jadi ban atau jadi kondom.” Dalam kata lain, jika ingin membikin kondom dari ban karet,maka ban termaksud harus disurutkan dulu kembali jadi bahan aslinya, baru dari titik itu kita bentuk lagi jadi bahan baru yang diinginkan.

Tidak ada istilah mundur dalam evolusi. Karena evolusi mensyaratkan harus selalu maju ke depan dan tidak mengenal istilah mundur. Selama ini kita sudah jutaan langkah ke muka, untuk surut ke belakang adalah jelas tidak mungkin. Maka juga tidak mungkin menyatakan manusia dan monyet bersaudara. Karena untuk itu berarti manusia harus disurutkan dulu baru nanti bisa ditumbuhkan menjadi monyet.

BUMI, tempat hunian manusia, memang tak muncul dalam sekejap. Geolog Dr M Untung dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi menyampaikan, tata surya kita terjadi sekitar 4,6 milyar tahun yang silam. Tata surya ini konon sebelumnya berasal dari gas dan debu galaksi. Dalam evolusinya, sekitar 3,8 milyar tahun yang lalu atmosfir bumi sudah mulai mengandung karbondioksida. Namun oksigen waktu itu sangat sedikit, dengan begitu lingkungan waktu itu adalah anaerobic. Baru delapan ratus juta tahun kemudian mulai adanya kehidupan mikroskopik dan oksigen yang dihasilkan lewat proses foto disosiasi dan foto sintesis mulai berlimpah sejak 2 milyar tahun yang lalu. Meski jumlahnya diperkirakan lebih kecil dari seperseratus jumlah oksigen di atmosfer sekarang. Satu milyar tahun yang lalu, atau seribu juta tahun kemudian baru mulai munculnya kehidupan makroskopik, sementara fosil tertua yang ditemukan berumur 600 juta tahun.

Kemunculan manusia memang termasuk baru dalam prespektif sejarah tata surya ini. Kehidupan di planet bumi baru mulai bisa dikatakan berkembang 450 juta tahun lalu. Ini pun bentuk kehidupan yang masih amat sederhana, baru berupa tetumbuhan. Kemudian ikan muncul sekitar 50 juta tahun sesudah tetumbuhan pandan-pandanan diketahui sudah ada pada 250 juta tahun lalu. Dari sini kemudian lahirlah reptil 200 juta tahun silam dan kemudian bumi kita ini diramaikan kehadirari dinosaurus berkelana melakukan penjelajahannya.

Binatang menyusui baru di kenal ada pada 50 juta tahun lalu sampai akhirnya Homo habilis hadir di bumi 2 juta tahun silam. Walau, demikian Untung mengingatkan penemuan di Ethiopia menunjukkan, manusia pertama yang disebut dengan istilah Australopithecus afarensis sudah ditemukan 3 juta tahun silam. Sejak ini pula, baru manusia sempat berkembang hingga menjadi seperti kita-kita ini semua. Homo sapiens, manusia bijaksana istilah yang mungkin banyak disangsikan sekarang ini kebenarannya, benarkah bijaksana.

Untuk bisa mencapai bentuknya yang sekarang, manusia memang relatif masih sangat baru. Memakai istilah Jacob jika bumi sudah terbentuk selama 24 jam, maka manusia penghuninya justru baru hadir di pentas dalam lima menit terakhir. “Hanya saja, walau baru lima menit namun mereka dengan rakus melakukan perusakan lingkungan. Khususnya pada detik-detik paling akhir dari lima menit tadi.”

20160626_140348wPERTUMBUHAN bentuk manusia bagaimanapun memang sangat panjang dan lama. Evolusi selalu dituduhkan sebagai buah pikiran Darwin. Sedang sebenarnya, hanya ada dua hal pokok dalam pandangan Darwin. Pertama, tidak ada sesuatu di dunia ini yang tak berubah. Dan kedua, semua makhluk di dunia berkerabat.

Maka kericuhan mengenai pemakaian istilah evolusi, sama halnya dengan ketika di abad lalu diributkan mengenai upaya mencari mata rantai yang hilang missing link. Seolah-olah, pertumbuhan manusia bagaikan garis lurus, seperti mata kancing baju yang baderet-deret. Sehingga ketika mata rantai yang hilang terketemukan, diharap segala misteri mengenai kehidupan manusia rampung terjawab.

Pada pertengahan abad XIX semasa belum banyak jenis manusia purba ditemukan, gagasan untuk mencoba mencari mengenai mata rantai hilang lebih mudah masuk dipahami. Hal ini yang dulu juga membakar semangat Dr Eugene Dubois. Dengan anggapan bahwa manusia purba harus hidup dalam lingkungan alam yang nyaman, penuh makanan dan tantangan alam tak ganas, Dubois berkeyakinan, manusia purba pasti dulu pernah hidup di wilayah tropis sekitar garis katulistiwa. Mana ada lagi tempat senyaman itu di dunia?

Secara sukarela Dubois mencatatkan diri menjadi dokter militer agar bisa ditugaskan ke Indonesia. Di sela-sela tugas rutinnya dia menyempatkan diri mengkais-kais tanahi di wilayah Sumatera Barat (1887). Di situ dia tak menemukan jejak-jejak berarti. Hanya saja, Tuhan memang selalu memberikan hadiah bagi mereka yang memiliki tekad kuat. Empat tahun kemudian setelah Dubois mengalihkan pelacakannaya di lembah Bengawan Solo, dokter ini mulai menemukan impiannya, jejak manusia purba.

Anggapan mengenai kesinambungan sederhana macam di atas tentu saja kini sudah ditinggalkan. Sebab pada kenyataannya, jenis manusia purba begitu beragam. Menjadikan pertumbuhan kehidupan juga bukan bagaikan sebuah garis lurus melulu. Melainkan bercabang-cabang sesuai perkembangan dan tantangan zaman. Pada hakikatnya, “Tak ada sesuatu yang yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri.”

Contoh yang diambilnya kehidupan serangga yang biasa hinggap di pepohonan di Eropa. Kala revolusi industri belum terjadi mereka memiliki warna sayap putih. Sewaktu industri berkembang maju pesat dan pencemaran lingkungan berkepanjangan akibat asap batu bara, pepohonan berubah jadi kelabu akibat asap menempel di kulitnya. Serangga itu pun warna sayapnya berevolusi, dari putih menjadi kelabu. Mereka menyesuaikan diri secara perlahan,ikut berevolusi atas tantangan baru dari lingkungannya. Ini dilakukan sebagai upaya untuk bertahan hidup, mencegahnya tak gampang disergap burung-burung pemakan serangga.

”Dalam makhluk yang umur generasinya pendek, evolusi mudah dilihat manusia. Ini tentu mensyaratkan, bagi makhluk yang umur generasinya panjang atau melebihi umur generasi manusia, perubahan termaksud sulit kita tangkap begitu saja.

Asal-usul manusia kini semakin diyakini berasal dari satu tempat, dan kemungkinan paling besar untuk pandangan sekarang tempat tersebut tak lain adalah Afrika. Dari wilayah tadi manusia mulai menyebar ke segala penjuru alam. Mengingat lingkungan dan tantangan alam memang berbeda-beda mereka pun yang lantas terpisah-pisah mulai menyesuaikan diri dengan situasi setempat. Ada yang sempat tumbuh maju karena kemampuannya menyelesaikan tantangan lingkungan jauh lebih tangkas, ada yang tertinggal.

Jika dulu angka kepadatan penduduk ditaksir hanya 0,004 orang per km2 pada tiga juta tahun sebelum Masehi. Saat mana bumi baru dihuni oleh Australopithecus. Maka ketika Pithecanthropus sudah hadir, angka kepadatan berubah jadi 0,1 orang per km persegi. Hal ini terjadi sekitar 2 juta sampai 200.000 tahun lalu. Dan sekarang, perhitungan pada tahun 1960 lalu, ketika para Homo sapiens sudah menghuni bumi, angka kepadatan penduduk melonjak menjadi 16 orang per km2. Tahun 2.000 nanti, dengan tetap dihuni Homo sapiens maka taksiran angka kepadatannya sudah berlipat jadi sekitar 46 orang per km2.

Permulaan penelitian mengenai manusia purba di negara kita dimulai tahun 1889 dengan ditemukannya tengkorak Wajak I di Tulungagung. Tahun berikutnya disusul Wajak II. Kedua fosil temuan tadi ini sudah termasuk dalam Homo sapiens dengan ciri-ciri ras Mongolid. Sekalipun dengan gampang juga bisa dilihat adanya sisa-sisa ciri arkais, sehingga mirip seperti Australid.

Pada tahun 1890 ditemukan fosil tulang rahang anak-anak di Kedungbrubus (Caruban) yang ternyata tergolong pada kelompok Pithecanthropus. Namun Pithecanthropus yang paling terkenal justru tengkorak yang ditemukan di Trinil, Ngawi pada tahun 1891. Penemuan-penemuan di abad XIX masih dilanjutkan sekitar tahun 1931-1933 dengan penemuan fosil tengkorak dan tulang kering di Ngandong, Blora milik 14 orang. Tahun 1936 ditemukan sebuah tengkorak anak-anak di Perning, Mojokerto. Hingga kemudian muncul wilayah Sangiran (Solo) menjadi daerah padang purbaka potensial antara tahun 1937-1941. Di Iokasi ini ditemukan tengkorak dan tulang rahang Homo erectus dan Meganthropus paleojavanicus.

Perburuan jejak manusia purba sempat terhenti akibat berkecamuknya Perang Dunia II. Meski pada masa itu sebuah fosil tengkorak Pithecanthropus sempat ikut melancong ke Jepang, dijadikan persembahan oleh tentara Jepang yang ingin cari muka, sebagai hadiah ulang tahun kepada Kaisar Hirohito. Begitu perang selesai, perburuan dilanjutkan dan hasilnya tetap menakjubkan. Di lokasi Sangiran, Sambungmacan(Sragen), Trinil, Ngandong dan Patiayam (Kudus), ditemukan tengkorak rahang tulang pinggul dan tulang paha. Temuan ini kepunyaan Meganthropus, Homo erectus dan juga Homo sapiens. Seluruhnya, tercatat sisa-sisa sekitar 40 orang manusia purba bisa disingkapkan kehadirannya dari perut bumi Indonesia. Sekalipun bukan wilayah terkaya, namun Indonesia tetap merupakan daerah perburuan manusia purba potensial.

Perbincangan mengenai evolusi memang sangat memikat. Bagaimana manusia masa kini bisa tumbuh jadi bijaksana, tentu tak terlepas dari jejak-jejaknya di masa lalu. Apalagi karena hanya Homo sapiens satu-satunya spesies yang tahu, bahwa dirinya berevolusi.

Dari segala jenis makhluk yang pernah menghuni bumi kita ini sejak jutaan tahun sampai hari ini, hanya manusia yang mengetahui bahwa mereka berevolusi di masa lampau dan akan tetap berevolusi di masa mendatang. Malahan, hanya merekalah makhluk yang bisa menyelidiki evolusinya di masa lampau dan mampu memperhitungkan evolusinya di masa mendatang kata Teuku Jacob.

Pengalaman adalah guru terbaik guna menghadapi masa depan. Jutaan tahun telah dilewati hingga bentuk yang sekarang tercapai. Akankah kehidupan ini dihancurkan sendiri oleh para manusia bijaksana, Homo sapiens?
————————-
Sangiran di Mata Pakar Dunia

Peringatan 100 tahun ditemukannya fosil Pithecanthropus di wilayah Campurdarat, diperingati dengan ekskursi ke Sangiran (Jateng), Sambung Macan (Jateng) dan Trinil (Jatim) pada hari Minggu (10/9). Beberapa peserta mengemukakan makna peringatan 100 tahun penemuan fosil dan makna Sangiran, daerah padang purbakala yang dulu juga dihuni oleh Homo erectus, untuk kepentingan pengembangan pengetahuan tentang sejarah peradaban manusia.

Zuaraina Majid PhD (Koordinator Proyek Arkeologi Malaysia, Mahaguru Arkeologi Universiti Sains Malaysia): ”Sejak dulu memang sudah timbul keinginan untuk melawat ke Sangiran. Ini lawatan saya yang kedua, setelah tahun1982. Setiap kali datang saya selalu tertarik dengan kekayaan penemuan dan makna penemuan di Sangiran. Adanya penemuan fosil di sini bukan saja penting untuk Indonesia, tetapi juga sebagian rahasia Asia Timur, Tenggara dan kawasan Pasifik terungkap. Kita sudah belajar separuh dunia. Untuk Malaysia sendiri, kami hanya punya satu fosil palaeantropologi yang ditemukan di Guinea, Sarawak di tahun 1960-an. Peringatan seratus tahun ini sangat berarti karena Sangiran merupakan tempat paling besar di Asia Tenggara dan kajian disini dibuat sangat mendalam. Bayangkan Manusia Peking saja baru berusia sekitar 60 tahunan, sedangkan Homo erectus di Jawa sudah berusia satu abad.”

Prof Y Coppens (Mahaguru Antropologi College deux Fors Paris, peneliti di Museum Ihomme di Paris, lebih 20 tahun melakukan penelitian dan penggalian fosil di Ethiopia dan Chad): ”Saya percaya asal usul manusia berasal dari Afrika. Saya bisa membuktikannya karena, kami telah menemukan fosil yang kami namakan Lusi berusia 3 juta tahun yang kami temukan tahun 1976. Menurut saya, ditemukan Homo erectus di Sangiran merupakan perpindahan manusia itu kemudian. Kenapa mereka bisa berpindah, karena manusia jaman Homo erectus 1,9 juta tahun lalu sudah makan daging. Ketika di Afrika, mereka vegetarian (belum makan daging) sehingga mobilisasinya rendah.Tapi ketika mereka makan daging, mobilisasi meningkat. Trinil dan Sangiran menarik karena Pithecanthropus di sini kelihatan lebih tua dan berbeda dengan yang ditemukan di Afrika. Saya menduga umurnya bukan 1,6 juta, 1,8 juta atau 1,9 juta seperti yang dikatakan ahli di sini, tapi lebih dari 2 juta tahun. Tapi memang ada kesenjangan bila akan diadakan penelitian lebih lanjut karena masa sebelum Pithecanthropus ini ditemukan, formasi daerah ini ialah formasi kelautan (marine). Kita kan tahu, tidak ada orang hidup di air.”

Ir Widiasmoro (Staf pengajar jurusan Teknik Geologi UGM, sejak 1975 telah membantu penelitian sedimen geologi di Sangiran, kepala rombongan ekskursi 100 tahun palaeantropologi ke Sangiran): “Bagi saya Sangiran merupakan penemuan penting dalam studi sejarah manusia. Di sini kita bisa menelusuri mata rantai kehidupan secara lengkap. Sangiran merupakan daerah yang baik dan lengkap dan mudah digali. Kita mempunyai data paling lengkap tentang Sangiran dan memang Sangiran merupakan daerah yang paling lengkap.Walaupun sekarang kita sudah tidak melakukan penggalian lagi, karena keterbatasan dana walau masih banyak yang bisa dikerjakan. Tapi sekarang kalau kita lakukan tidak sulit untuk mulai dari mana. Dulu kalau mau menggali fosil kita tidak tahu mau mulai dari mana. Sekarag kita menggali di zona granswaak(lapisan pembatas) di mana akan diketemukan fosiI hewan, binatang serta alat-alat perlengkapan batunya.”

Alan Thome Ph.D. (dosen antropologi,Departemen Prasejarah, Australian National University; Canberra): ”Hanya sedikit tempat di dunia mempunyai tempat penemuan fosil yang lengkap. Salah satu di antaranya ialah Sangiran. Saya sudah lebih dari lima kali mengunjungi Sangiran. Tapi selalu menarik buat saya, karena di sinilah nenek moyang kita ditemukan. Tempat ditemukannya Homo erectus ini bukan saja penting untuk Indonesia, tetapi juga bagian dari totalitas kehidupan manusia. Memang mudah mengatakannya tapi sebenarnya maknanya tak terhingga. Dan sebagai orang Australia dan bagian dari kawasan Pasifik, apa yang dirayakan disini merupakan permulaan dari apa yang dikerjakan di kawasan ini.

Alee Rukia (Arkeolog Museum Nasional Kepulauan Salomon) menyatakan, “Saya mendapat undangan dari Prof Soejono, Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Saya tertarik karena peradaban tradisional Solomon tampaknya berawal dari kawasan Asia Tenggara. Saya contohkan ada beberapa jenis tumbuhan yam (sejenis ubi-Red), taro dan pisang yang bukan merupakan tanaman asli Salomon, tapi saya lihat banyak disini. Dan kalau saya lihat, keadaan di Sangiran dan Trinil ini memang menarik dan meyakinkan. Tempat ini bukan hanya panting saja, tetapi membuat saya semakin tertarik untuk mengetahui apakah migrasi manusia purba di masa jutaan tahun lalu dari kawasan Asia Tenggara menuju Papua Nugini juga terus berlanjut ke Salomon atau tidak. Karena ini kunjungan pertama saya ke Indonesia Yogyakarta sangat menarik minat saya. Semalam saya mengunjungi pentas tari Ramayana. Timbul dalam pikiran saya untuk menyelidiki budaya mana yang telah berpengaruh. Semua kelihatan menarik, tapi sayang sekali keterangannya disampaikan dalam bahasa Indonesia sehingga saya kurang mengerti.”
—————-
Laboratorium yang Sulit Dimasuki

Manusia muncul belakangan sekali dalam sejarah bumi. Tetapi ia telah menguasai bumi dan merusaknya besar-besaran.
Bahkan ia mampu memusnahkan hampir segala makhluk hidup temasuk dirinya sendiri. Apakah ada masa depan bagi makhluk yang agresif ini? Jawabannya terletak pada dirinya sendiri.
Sudah dua abad dia menamakan dirinya Manusia (Homo Sapiens)

Memasuki kompleks laboratorium sekaligus museum, di salah satu bagian kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta, pandangan langsung tertuju pada patung manusia purba hasil rekontruksi para ahli. Tinggi badan sekitar 171 cm dan tidak mengenakan secuilpun pakaian.

“Ia tidak merasa malu meski tidak berpakaian,” jelas Prof Jacob yang mempunyai ide merekontruksi gambar bentuk patung, seperti terlihat di bagian luar museum. ”Meski tidak berpakaian ia tak pernah merasa dingin. Karena bulu-bulu badannya cukup lebat,” tunjuk Jacob

”Kalau dibikin besar memberi kesan manusia purba seperti raksasa, padahal tidak demikian, ” ujar Jacob

Hewan tropis
Patung sebatas dada Pithecanthropus juga ditemukan di salah satu bagian museum, dengan warna kulit cokelat tua. Ia berdampingan dengan gambar besar Khiffah Armasenex Aedificator dan Striger Saevitia feliforme, dua hewan tropis yang bakal hidup pasca manusia, rekaan antropolog berkebangsaan Jerman D. Dixon.

Kedua jenis hewan bertulang belakang yang bisa diidentifikasi sebagai kera dan harimau pada zaman manusia sekarang ini, berdasar rekaan Dixon, lebih sempurna lagi. Ekor yang dikesankan hanya sebagai pelengkap, kelak dilengkapi dengan alat tambahan yang bisa berfungsi sebagai pemegang sepertinya tangan dan kedua kaki.

Prof Jacob tak memberi rincian lebih lanjut. Hanya dikatakan rekaan Dixon bisa saja menjadi kenyataan, tetapi tak ada satu orang pun mampu sebagai saksi, mengingat kejadiannya masih sekian juta tahun mendatang. Ini sepertinya ujud tengkorak manusia masa depan rekaan antropolog K. Saller yang gambarnya berada di atas kedua hewan tropis pasca manusia, di museum Paleoantropologi UGM.

Saller mereka-reka, tengkorak manusia masa depan lebih banyak menyimpan otak dari pada fungsi tubuh lain yang ditemukan di kepala. Seperti rahang hanya berukuran kecil sekali, ”Karena makanan yang dikunyah sangat lembut, sehingga tak butuh rahang kuat,”jelas Prof Jacob. Jika rongga otak manusia abad nuklir hanya memuat sekitar 2.500 cc, maka rongga otak yang terlihat pada gambar Saller mungkin empat kali lipat.

Tengkorak asli
Keseluruhan isi museum terbagi dalam 11 kelompok,berturut-turut patung rekontruksi manusia purba, kemudian ontogeni yakni pemberi gambaran perkembangan dan pertumbuhan manusia dari mudigah (embrio) hingga dewasa tua,lalu pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai individu yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan, sejak bayi sampai tuadengan melalui berbagai tahapan filogeni hewan yang memberi gambaran bahwa sesungguhnya hewanpun mengalami perkembangan bersama lingkungannya, serta filogeni manusia yang memberi gambaran bagaimana perkembangan manusia sebagai kelompok, secara kronologis dalam ruang dan waktu.

Di samping itu ada paleoantropologi Indonesia yang menggambarkan perkembangan manusia beserta keragamannya di Indonesia dan distribusinya, kemudian paleoantropologi dunia, alat-alat budaya, ras-ras sekarang, beda ciri manusia dan kera serta fosil hewan yang memberi gambaran, bahwa sesungguhnya sejarah hidup dan kehidupan makhluk hidup di dunia ini telah berlangsung sejak lama dengan berbagai perkembangannya secara bertahap dalam ruang dan waktu, dari bentuk sederhana menjadi rumit.

Museum yang menjadi bagian laboratorium, menyimpan sepertiga Pithecanthropus di dunia dan rangka-rangka manusia kuno dari Sumatera, Jawa, Bali, Sumba, Flores, Timor-Timur, Sulawesi dan Irian Jaya.

Di samping fosil-fosil manusia Indonesia, laboratorium ini juga memiliki koleksi replika (cetakan) fosil manusia dari Afrika, Eropa, Asia Barat dan Australia untuk studi perbandingan dan pengajaran. Sedang koleksi fosil hewan dari penggalian ada beberapa ribu. Sebagian di antaranya ditemukan di daerah Sangiran, Sragen, Jateng berupa stegodon, tapir, buaya, rusa, kerbau, kura-kura dan badak.

Lemari besi
Ada yang paling istimewa dan menandai Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi UGM sebagai fasilitas mahal. Yakni sebuah ruangan berukuran 3×3 meter dikelilingi dinding setebal 0.5 meter.

Menurut Prof Jacob, ketebalan dinding sebagai langkah pengamanan, karena di dalam ruang itu tersimpan temuan maha penting, tengkorak manusia asal Ngandong, Blora yang mencirikan manusia modern tertua. ”Jika temuan Wajak sudah dipindah dari Leiden, kemungkinan besar juga disimpan di sini, ” jelas Jacob sambil menunjuk almari besi yang tertutup rapat.

Sebagai seorang antropolog yang tidak bersedia kehilangan temuan penting, Prof Jacob juga melengkapi ruang berdinding tebal tadi dengan sebuah daun pintu yang hanya bisa dibuka seperempat bagian, serta sistem alarm mutakhir.

”Seandai pencuri mampu masuk lewat dinding, mereka masih menghadapi lemari besi. Keluarnya pun tetap sulit, karena jalannya berliku. Sementara mereka berusaha, alarm sudah berbunyi”, tutur mantan Rektor UGM itu, menyangkut langkah pengamanan ruang fosil Ngandong.

Masih ada berbagai cara lain untuk melengkapi sistem tersebut dan hanya dia sendiri yang tahu. ”Saya saja baru masuk sekarang ini,” tutur seorang peneliti senior di ruang tadi. Pernyataan ini menandakan betapa ketatnya Laboratoriurn Bioantropologi dan Paleoantropologi UGM, melindungi temuan penting dari jarahan pencuri.

Aturan ketat demikian membuat museum penyimpan fosil manusia purba, hanya akan dibuka jika ada permohonan tertulis. Mereka pun hanya terbatas di ruang depan, dan tak bakal diizinkan masuk ke ruang berdinding tebal, apalagi ngotot minta diperlihatkan tengkorak Ngandong yang teronggok di lemari besi.

Manusia memang mampu mengamankan miliknya,tetapi juga sering memusnahkan sesama, sehingga perlu mendengar kalimat di bagian (atas), yang terpasang tepat disebelah patung dada Pithecanthropus.
—————
20160626_140336wProf Teuku Jacob; Pengawal Koleksi Tengkorak Purba

SEJAUH ini, jumlah populasi manusia purba Pithecanthropus erectus atau Homo erectus yang bisa ditemukan di seluruh penjuru dunia ada sekitar 120-an individu. Dari sekian itu, sekitar 40 individu sudah dikembalikan ke Indonesia, tersimpan di Yogyakarta. Meski sudah di lokasi aman dalam laboratorium penelitian yang nyaman, masih sering muncul pertanyaan, apakah mereka itu kanibal? Benarkah para leluhur kita tersebut semula memang pemangsa mitra hidupnya sendiri?

Masalah ini muncul, karena ditemukannya sejumlah tempurung tengkorak manusia purba yang umumnya selalu tak lagi memiliki tulang dasar. Di samping itu juga ditemukan tulang tulang kaki yang menunjukkan tanda-tanda pernah dirudapaksa. Ini semua lantas mendorong sangkaan, tulang-tulang tersebut memang sengaja dipecah untuk bisa diambil sumsumnya. Maka, demikian kesimpulan mereka, terdapat petunjuk bahwa manusia purba bersifat kanibal. Mereka tega membunuh dan memakan rekannya sendiri,mengambil daging serta mencicipi sunsumnya.

”Tidak,” kata Prof Dr Teuku Jacob. Guna menangkis sangkaan tadi, Mahaguru Antropologi Ragawi Universitas Gadjah Mada ini, segera tampil membantah sangkaan termaksud dalam berbagai forum ilmiah di segala penjuru dunia. Ketika membela keyakinannya tersebut, lelaki kelahiran Peurlak, Aceh Timur pada tanggal 6 Desember 1929 ini langsung menegaskan,”Manusia purba tidak kanibal, karena praktis tidak ada manfaatnya mereka harus membunuh rekannya sendiri kalau, hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan pangan.” Sebagai alasan dia menunjukkan, kanibalisme akan langsung berakibat buruk menyeret, dampak kacaunya tata kehidupan bermasyarakat, yang kala itu terdiri dari kelompok-kelompok kecil. Mereka tak mungkin hidup secara aman. Karena akan muncul rasa saling curiga-mencurigai, siapa akan memakan siapa, siapa lebih dulu memakan siapa. Kanibalisme, pada hakikatnya akan langsung memusnahkan populasi mereka dalam waktu singkat. ”Kalau kanibalisme terjadi, mungkin sekali manusia masa kini tak bakal pernah lahir…”

Ditambah lagi, demikian pembelaan Jacob terhadap para manusia purba: ”Mereka itu cukup bekerja sekitar dua jam untuk mencukupi kebutuhannya sehari. Sehingga rangsangan untuk membunuh jauh berkurang, beda dengang zaman sekarang.” Bisa dibayangkan, betapa nyaman kehidupan di masa purba tersebut. Karena kenyataannya manusia masa kini justru harus membanting tulang berjam-jam setiap harinya hanya untuk mencari sesuap nasi.

MEMANGSA sesama manusia, terlebih dalam arti kiasan,jauh lebih banyak terjadi pada zaman modern ini. Tetapi memangsa sesama manusia pada masa lalu sesungguhnya tak bermanfaat. Jacob menunjuk bagaimana perbandingan antara tulang dan daging pada seorang manusia tak lebih dari satu banding satu. “Maka kalau mereka hanya sekedar makan untuk mencari daging, tentu lebih gampang membunuh saja binatang kuda air misalnya, yang perbandingan daging dan tulangnya, lima banding satu.”

Namun, mengapa banyak ditemukan tempurung tengkorak tanpa tulang dasar dan tulang kaki yang pecah, ”…itu akibat bagian bawah tempurung kepala merupakan sisi paling mudah pecah. Sedangkan tulang kaki pecah mengingat tulang yang relatif panjang tadi, paling rawan dalam menghadapi perjalanan waktu. Diterjang banjir, diamuk gempa atau terseret perubahan alam sewaktu terbenam di perut bumi. Jadi, bukan karena dipecahkan oleh sesamanya.”

Mempergunjingkan adanya kanibalisme dari para pendahulu kita,memang isu paling menyakitkan. Bahwa sesekali ada diantara manusia purba yang tega membunuh rekan serta langsung memakan dagingnya, juga bukan sebuah keistimewaan. Dalam zaman modern saja hal itu juga pernah terjadi. “Waktu ada pesawat terbang jatuh di pegunungan Andes, para penumpang yang selamat juga jadi kanibal. Demikian pula di masa peperangan, banyak laporan adanya kanibal. Meski begitu toh kita tak pernah berpendapat orang modern juga kanibal.”

Tidak banyak tokoh yang berani membela nasib manusia purba.Terlebih-lebih dengan itu juga langsung merasa terpanggil untuk mencari jejak kehidupannya. Menjelajah pegunungan, menembus hutan dan menggali tanah. Menunggu dengan sabar bertahun-tahun, yang hanya kalau keberuntungan ada pada pihaknya, mereka bisa menemukan tulang-tulang telah menjadi batu berserakan.

Kebanyakan pakar hingga masyarakat awam masa sekarang lebih banyak yang tertarik untuk melihat jauh ke masa depan. Mereka,berusaha menembus langit, menjelajah angkasa raya mencoba menguak jawaban, adakah kehidupan Iain dalam tata surya kita ini. Tidak banyak pakar yang rela meluangkan waktu, merekonstruksi masa lalu, mencoba mencari tahu bagaimanakah awal kehidupan di bumi kita. Awal kehidupan yang nantinya mampu melahirkan manusia-manusia bijaksana seperti kita semua sekarang ini.

HARI Sabtu tanggal 9 September lalu, di Yogyakarta dilakukan peringatan Seratus Tahun Paleoantropologi di Indonesia. Tanggal tersebut diambil dari saat ditemukannya fosil Manusia Wajak di Campurdarat, Tulungagung (Jatim) oleh B.D. van Rietschoten. Berbareng dengan peringatan tersebut juga diresmikan berdirinya Museum Bioantropologli dan Paleoantropologi, menempati lokasi strategis, dalam naungan pepohonan rindang di tengah kompleks Kampus Bulaksumur. Sebuah bangunan sarat koleksi fosil tengkorak dari beragam manusia purba, dilengkapi catatan tentang asal-usul manusia, berikut sejarah kehidupan bumi ini.

Keberhasilan bisa dibangunnya sebuah museum semacam itu tentu saja tak lepas dari upaya Teuku Jacob. Salah seorang tokoh pelacak jejak manusia purba yang kini juga dipercaya memimpin Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi di tempat sama.

Ia memang tak sekedar perintis. Tanpa berbicara banyak langsung berbuat, mengupayakan kembalinya sejumlah fosil manusia purba dari luar negeri. Seperti yang dulu dilakukannya saat mengupayakan kembalinya fosil tengkorak Pithecanthropus robustus dari Jerman Barat.

Memang, belum semua temuan fosil manusia purba Indonesia bisa dikembalikan ke tanah airnya. Manusia Wajak, fosil tertua penemuannya di Indonesia, justru masih tersimpan di Negeri Belanda Terpisah ribuan kilometer dari Wilayah pengembaraan pemiliknya di Jawa. Entah, sampai kapan manusia purba termaksud harus terasingkan di negeri orang, ribuan tahun sesudah kematiannya.

TEUKU Jacob, mantan Rektor UGM 1982-1986 ini merupakan rombongan pertama pelajar Aceh yang dikirim ke luar daerah, untuk menuntut ilmu seusai pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Ada dua pilihan kuliah bagi mereka, di Universitas Indonesia Jakarta atau UGM Yogyakarta. Jacob memutuskan masuk ke UGM dengan alasan, ”. ..di Jakarta masa itu sebagian dosennya masih orang Belanda, saya pilih UGM karena semua dosennya orang Indonesia dan semangat republikennya…”

Pertalian Aceh-Yogyakarta, kedua-duanya sebuah daerah istimewa, teramat nyata. Hanya di kedua wilayah ini RI masih sanggup bertahan ketika Belanda berkali-kali menyerbu.Tidak mengherankan mengapa jiwa republiken membakar anak Aceh tersebut untuk belajar di Yogyakarta.

Banyak fakultas tersedia di UGM, Jacob memiIih kedokteran. Ini semata-mata mengikuti nasehat ayahnya, Teuku Sulaiman, seorang pamong praja. ”Profesi yang selalu bermanfaat bagi masyarakat, baik di masa perang dan damai, adalah kedokteran.” Meski berijazah dokter (dan bahkan pernah dua kali masa jabatan menjadi dekan fakultas kedokteran), Jacob memutuskan tak membuka praktek.

Bahwa pilihan hidupnya jatuh ke disiplin paleoantropologi cukup menarik. Di fakultas kedokteran Jacob semula menjabat asisten anatomi. Kenyataannya, dia sebenarnya tak tahan melihat darah. Situasi tersebut mendorongnya tak bisa lain, menekuni tulang belulang manusia.

Baginya, daya pikat asal-usul manusia makin bermakna waktu mengikuti kuliah Prof Dr Montague Cobb di AS, ”Ia bisa membikin sepotong tulang Jadi hidup karena kepandaiannya berceritera,” komentarnya. Sejak itu dia berjanji tak bakal beralih minat. Ini ikut mangantarkannya berkuliah di Rijkuniversiteit, Utrecht serta menulis disertasi (1970) dalam bimbingan Prof Dr von Koenigswald. Antropolog terkenal penyingkap misteri kehidupan manusia purba di Wilayah Sangiran, utara Solo (Jateng).

WALAU mahaguru antropologi ragawi, minat Jacob sama sekali tak terbatas dalam disiplin ilmunya sendiri. Waktu kuliah dia sudah menglelola Majalah Gadjah Mada dan bahkan memimpin Ikatan Wartawan Mahasiswa se-Indonesia. Ketika menjabat rektor, anak bungsu dari tiga bersaudara yang sekarang hidup berbahagia dengan Nuraini serta membuahkan putri semata wayang ini bergagasan, pelajar jangan dikotak-kotakkan dalam berbagai jurusan, ”Sekali mereka masuk kotak tertentu, mereka selamanya bakal terperangkap. Sedangkan selalu ada kemungkinan prestasinya bisa jauh menonjol di bidang lain jika tak terkotakkan.”

Gagasan maju tidak selamanya sesuai buah pikiran yang hidup di masa tertentu.Ide-ide brilyan tak selalu bisa diterima pada masa yang sezaman. Seperti juga tekadnya mengajak semakin banyak mahasiswa menggeluti bidang paIeoantropologi, sering menemui hambatan di luar kemauannya. Apalagi ada godaan suasana luar yang menjanjikan segala kenyamanan. Siapa masih mau mengikutinya, bersusah payah tanpa imbalan memadai mencari jejak-jejak manusia purba jauh di pelosok. Menggali perbukitan sepi hanya untuk bisa menemukan tulang-tulang membatu.

Kepuasan seseorang tak bisa diperdebatkan. Untung masih ada yang rela bekerja cermat, tekun menyingkap misteri tempo dulu. Tetapi melihat Indonesia wilayah tempat tinggal penghuni pertama bumi ini, apakah harus kita biarkan misteri mereka tetap tak tersingkapkan tuntas?

Sumber: Kompas, 13 September 1989

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.