Home » Artikel

Magister Manajemen Ilmiah atau Profesional?

31 March 1997 986 views No Comment

PENDIDIKAN dengan program Master of Business Administration (MBA), yang namanya sekarang berdasarkan undang-undang harus diganti dengan Magister Manajemen (MM) telah sangat menjamur di Indonesia. Pendidikan MBA berasal dari Amerika Serikat. Kita menyaksikan, bahwa banyak sarjana dari ilmu pengetahuan yang non-business administration atau nonmanajemen bekerja di perusahaan-perusahaan. Mereka adalah insinyur, sarjana hukum, sosiolog, politikolog, psikolog, dan sebagainya.

Sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliknya, biasanya mereka bekerja di bagian-bagian teknis yang bersangkutan dari sebuah perusahaan. Namun dari mereka ada saja yang cerdas, dan mempunyai bakat manajerial. Maka lambat laun naiklah pangkat mereka. Tidak sedikit yang menduduki jabatan general manager (GM) atau lebih tinggi. Pada tingkat ini, ilmu pengetahuan yang dibutuhkan semakin tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh dari sekolah. Di sekolah mereka belajar hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu manajemen, atau business administration atau ekonomi perusahaan.

Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang manajemen. Kenyataan bahwa mereka bisa naik pangkat sampai menjadi GM sudah menunjukkan bahwa dia mampu tumbuh dalam pekerjaannya. Pertumbuhan ini disertai dengan terakumulasinya pengetahuan tentang manajemen yang dipungut dari praktek sebagai manajer selama bertahun-tahun. Namun demikian, mereka toh merasa ada sesuatu yang kurang. Mereka merasa bahwa secara formal tidak pernah belajar ilmu manajemen, yang demikian kompleksnya. Maka ada kebutuhan dari mereka untuk belajar lagi secara formal. Tetapi usia mereka sudah antara 30 dan 40 tahun. Waktu juga sudah menjadi sangat berharga, karena untuk belajar lagi harus meninggalkan pekerjaan dengan tingkat gaji yang demikian tingginya. Opportunity cost sangat tinggi.

Dunia pendidikan manajemen di AS menciptakan untuk mereka sebuah program studi yang disebut program MBA, karena gelar yang diberikan adalah Master of Business Administration. Maka sekolah-sekolah MBA yang mengajar ilmu manajemen justru dimasuki oleh para sarjana dengan gelar bachelor yang non-business administration atau nonmanajemen. Orang yang bergelar Bachelor in Business Administration atau Bechelor in Management tidak mempunyai kebutuhan untuk sekolah lagi di sekolah-sekolah MBA. Memang ada saja dari mereka yang belajar lagi di sekolah MBA. Ini tidak dilarang. Tetapi jumlahnya sangat minimal. Lebih dari 90 persen mahasiswa MBA di sekolah-sekolah MBA yang baik adalah para sarjana yang disiplinnya non-business administration dan nonmanajemen. Ditinjau dari sudut penyenjangan pendidikan, kini timbul masalah. Kita tahu, bahwa gelar Bachelor di AS adalah gelar yang diraih setelah belajar empat tahun sejak lulus dari SMU. Di Indonesia namanya strata 1. Kalau ingin lebih tinggi atribut akademisnya, harus meraih gelar Master. Ini adalah pendidikan 2 tahun lagi setelah Bachelor. Disebut strata 2 atau S-2. Lebih tinggi dari ini adalah gelor Doktor yang disebut strata 3 atau S-3.

Sekarang ada si A yang insinyur. Jadi gelarnya berjenjang S-1. Dia lantas belajar lagi di sekolah MM dan meraih gelar MM, yang berjanjang S-2 dalam bidang manajemen. Si B bergelar SE dalam bidang manajemen. Jadi dia sudah bergelut dengan berbagai ilmu manajemen selama empat tahun. Karena dia ingin gelar tingkat S-2, dia harus sekolah di mana ? Hanya ada satu pilihan, yaitu di sekolah MM yang sama dengan si A yang insinyur tadi. Dia selesai dan bergelar MM. Apakah ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh A dan dimiliki oleh B dalam ilmu manajemen sama? Kalau dianggap sama berarti bahwa B, yang enam tahun lamanya bergelut dengan ilmu manejemen, ilmu manajemen yang dikuasainya sama dengan A yang empat tahun belajar teknik dan dua tahun belajar manajemen. Masuk akalkah?Jawabnya banyak hubungannya dengan kurikulum program pendidikan MM. Kalau kurikulum dibuat lebih mendalam dari kurikulum pendidikan S-1 dalam bidang manajemen, maka si B mendapat nilai tambah dengan bersekolah di program MM. Tetapi kalau begitu, apakah si A yang insinyur tidak kedodoran? Kalau kurikulum di program MM dibuat supaya memberikan pendidikan formal kepada si A yang seorang insinyur, lantas si B yang sudah pernah bergulat 4 tahun lamanya dengan segala macam prinsip-prinsip ilmu manajemen mendapat tambahan pengetahuan apa?Bagaimana di AS, negara cikal bakal sekolah MBA? Sekolah MBA di sana sangat banyak. Kalau kita mengacu pada 10 yang terbaik, mereka mengatakan bahwa pengetahuan, kecerdasan dan bakat semua mahasiswanya demikian tingginya, sehingga memang dapat menyerap pengetahuan manajemen yang mendalam dalam program pendidikan yang lamanya dua tahun saja. Pada 10 sekolah MBA terbaik, yang melamar menjadi mahasiswa MBA memang dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Tetapi mereka semuanya yang lulusnya S-1 dengan predikat cum laude. Lantas karena kecerdasannya yang luar biasa itu, selama bekerja, mereka memang menangkap banyak sekali konsep dan peristilahan manajemen. Maka sekolah yang penuh dua tahun itu, ditambah dengan kemampuan membacanya di malam hari yang sangat cepat, ditambah dengan kecerdasannya, dan kemampuannya menyerap apa-apa yang dialaminya dalam praktek sampai mencapai jenjang GM, memang sudah mencukupi untuk belajar MBA secara beneran dan mendalam. Tetap saja timbul pertanyaan, bagaimana dengan seorang Bachelor in Business Administration yang juga dari sekolah terbaik, yang lulusnya juga selalu cum laude, yang juga sangat cerdas, dan juga mempunyai pengalaman kerja sampai mencapai pangkat GM? Adakah gunanya buat mereka sekolah lagi di sekolah MBA? Saya berbincang-bincang dengan orang yang demikian. Dia mengatakan bahwa setelah dia berbicara dengan admission office, dia mendapat banyak sekali pembebasan, sehingga banyak waktunya dipakai untuk main golf. Dia masih tetap mendapatkan nilai lebih, tetapi hanya sedikit. Nilai lebih terbesar yang dirasakan adalah gelar kesarjanaan formalnya, yang sekarang Master atau S-2. Secara material, sangat sedikit yang bisa dia pelajari di sekolah MBA.

Saya perlu menjelaskan bahwa di 10 sekolah MBA terbaik di AS, sosok para mahasiswanya adalah lulusan S-1 dalam bidang apa saja dengan cum laude. Mereka lalu bekerja di perusahaan dengan karir yang gemilang, sehingga mencapai pangkat GM. Di sekolah MBA, selama dua tahun penuh mereka digenjot dengan perkuliahan dan diskusi kasus yang sangat interaktif dan intensif. Malam harinya harus menyerap sendiri berbagai konsep dari buku-buku teks, sehingga selama dua tahun, lama tidurnya rata-rata jauh di bawah yang dibutuhkan.

Pertanyaan mendasar tetap saja bercokol, yaitu bagaimana membedakan antara mereka yang ingin mendapat pendidikan S-2 untuk bekerja, dengan mereka yang ingin mendapatkan gelar S-2 sebagai persyaratan untuk menulis disertasi guna meraih gelar doktor? Di beberapa perguruan tinggi dibedakan antara professional MBA dan scientific MBA. Terkadang yang scientific MBA bahkan menggunakan titel yang lain, yaitu Master of Science in Management, atau M.Sc. Dengan sendirinya yang professional MBA tidak boleh meraih Ph.D. dalam business administration, walaupun dia mempunyai S-2. Di Murdoch University di Perth, pembedaan antara professional dan scientific tidak hanya pada jenjang S-2, tetapi juga diteruskan sampai jenjang S-3 atau doktor. Di sana ada DBA atau Doctor in Business Administration, yang adalah doktor profesional. Kalau ingin mendapatkan gelar doktor dalam bidang business administration, tetapi yang scientific, karena maksudnya ingin menjadi profesor, namanya tetap saja Ph.D. atau Doctor of Philosophy.

Bagaimana di Indonesia? Rasanya masih perlu banyak pembenahan. Saya sendiri cenderung bahwa diadakan pembedaan yang tegas antara MM profesional, dan MM ilmiah. Yang MM profesional tidak dianggap sebagai gelar keilmuan S-2 yang membuka jalan untuk gelar doktor. Apakah akan mau diadakan doktor manajemen profesional seperti halnya dengan Murdoch University, bukanlah pertimbangan yang prinsipiil lagi. Semuanya tergantung pada pemerintah, karena perguruan tinggi di Indonesia harus tunduk pada peraturan dan pengaturan yang ketat oleh pemerintah.*

ANALISIS KWIK KIAN GIE

Sumber: Kompas, Senin, 31 Maret 1997

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.