Home » Artikel, kesehatan

Lintah, Bisa Jadi Sumber Devisa

8 November 2016 75 views No Comment

Ketika Prof Dr Emil Salim memberikan pengantar diskusi untuk menyambut penerbitan buku mengenai hewan komodo di Universitas Gadjah Mada, ia mengungkapkan bahwa lintah bisa bermanfaat bagi dunia kedokteran dan perekonomian, karena tiap tahun saja, Madagaskar berhasil mengekspor zat anti pembeku darah dari lintah senilai 200 juta dollar AS (Kompas, 1/12).

Lintah sebenarnya sudah lama kita kenal sebagai hewan yang mempunyai zat anti pembeku darah. Kalau lintah tersebut menempel pada kulit kita (maupun hewan), maka ia akan menghisap darah. Setelah kenyang, tubuhnya bisa dua kali lebih besar dari semula serta bisa tahan beberapa bulan tidak menghisap lagi karena darah yang tetap cair dalam tubuhnya itu dipakai sebagai makanannya.

Adanya zat anti pembeku darah pada lintah sudah diketahui sejak tahun 1884. Cuma pada waktu itu belum diketahui zat apa sebenarnya yang berperan dalam pencegahan pembekuan darah.

Beberapa penelitian kemudian dikembangkan untuk menemukan lintah yang banyak mengandung zat antipembeku darah. Di antara 500 spesies lintah yang diketahui (sebagian besar tidak parasit), hanya lintah yang namanya Hirudo medicinalis banyak dimanfaatkan untuk tujuan komersial. Zat antipembeku darah pada lintah itu disebut hirudin, suatu nama yang adakaitannya dengan nama kelas lintah yaitu Hirudinea.

Panjang lintah yang dewasa bervariasi. Salah satu spesies lintah ada yang panjangnya 1 cm, namun ada pula spesies lain yang panjangnya 2-5 cm. Kebanyakan spesies, termasuk Hirudo medicinalis yang hidup di Eropa, panjangnya dapat mencapai 20 cm. Kalau Hirudo medicinalis ini, menghisap darah, beratnya bisa mencapai 2-5 kali berat semula serta bisa bertahan hingga satu setengah tahun tidak makan lagi.

Manfaat
Hirudin adalah polipeptida (protein rantai pendek) yang tersusun dari 65 asam amino dan memiliki tiga ikatan disulfida. Peranannya sebagai zat antipembeku darah karena menghambat (inhibitor) kerja thrombin (yaitu enzim protease) yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Perubahan fibrinogen menjadi fibrin inilah yang menyebabkan darah membeku. Tetapi untungnya thrombin pada darah kita dalam keadaan nonaktif, yang akan aktif dalam keadaan tertentu. Untuk mencegah thrombin bekerja (pada keadaan yang tidak kita inginkan) maka perlu ditambahkan inhibitor yaitu hirudin ini. Dari percobaan yang pernah dilakukan terhadap beberapa sukarelawan menunjukkan bahwa hirudin ini efektif bagi berbagai macam penyakit trombosis (penyumbatan pembuluh darah).

Kebutuhan hirudin tiap tahunnya begitu banyak. Pemasoknya antara lain Madagaskar dan suatu perusahaan besar di Inggris. Selain berupa hirudin, ada juga penjualan yang berupa lintah masih hidup. Perusahaan Mavad di Hongaria menjual lintah Hirudo medicinalis seharga 55 dollar AS per kg lintah (lintah yang tidak banyak makanan dalam tubuhnya, harga penjualan tahun 1985)

Lintah yang masih hidup ini pernah dimanfaatkan oleh dokter di AS yang merawat pasien penderita penggumpalan darah di bagian belakang telinga. Kalau dioperasi, bisa membahayakan jaringan yang lain. Oleh karena itu dokter tersebut minta bantuan perusahaan peternakan lintah di Inggris untuk mengirim lintah yang sedang lapar. Lintah ini ternyata bekerja dengan baik, sehingga pasien tersebut tidak dioperasi.

Beli hidup
Penelitian mengenai lintah ini sederhana. Hirudo medicinalis yang masih hidup dapat dibeli disebuah perusahaan di Perancis. Untuk tujuan penelitian, lintah ini kemudian diletakkan dalam akuarium berisi air, dan diberi natrium klorida (garam dapur), kalsium klorida, magnesium klorida, kalium klorida pada konsentrasi tertentu. Tak lupa dilakukan aerasi agar terjadi penambahan oksigen dalam air.

lintahMasih dalam tingkat penelitian, maka lintah itu diberi makanan berupa darah kelinci yang telah diberi sitrat Makanan ini diletakkan di akuarium yang berbeda, namun masih bisa dijangkau oleh lintah.

Aktivitas hirudin dapat diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer sinar tampak. Sebagai substratnya adalah senyawa sintetik turunan dari p-nitroanilida. Substrat ini kemudian diberi diberi thrombin (enzim), kalau ditambah hirudin sebagai inhibitornya. Penentuan aktivitas ini menjadi bagian yang penting, karena harga jual ekstrak kasar hirudin bergantung pada nilai aktivitasnya.

Pada tahun 1987, Mark T Yates dan timnya dari Merrel Dow Research Institute, Ohio, AS mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai teknik pemurnian hirudin secara cepat dan sederhana (alatnya mahal tapi proses pemurniannya sederhana) dengan menggunakan alat HPLC (high performance liquid chromatography). Dengan menggunakan alat ini, spektrum hirudin akan tampak setelah 32 menit (waktu retensi).

Dari ragi
Ada beberapa jenis varian hirudin ini, antara lain varian 1 (HV 1) dan varian 2 (HV 2). Klasifikasi antara varian yang satu dan varian yang lain sampai kini belum jelas, namun perbedaan varian 1,dan 2 sudah diketahui. Varian 1 memiliki asam amino valin-valin sedangkan varian 2 mempunyai asam amino isoleusin di posisi amino ujung (N-terminal).

Perbedaan varian tersebut diteliti oleh Baskova dan timnya pada tahun 1983. Varian 1 terdapat pada bagian tubuh sedangkan varian 2 dijumpai pada bagian kepala lintah. Di antara kedua varian ini, varian 2 dilaporkan mempunyai aktivitas antitrombin yang besar (aktivitas hirudinnya besar). Itulah sebabnya varian 2 ingin diproduksi melalui teknologi rekombinan DNA.

Perkembangan teknologi rekombinan DNA memang sangat luar biasa. Produk apa saja yang berupa protein dan harganya mahal, seolah olah tidak terlepas dari incaran para peneliti. Melalui teknologi ini, bakteri maupun ragi yang tadinya tidak memproduksi protein tertentu, akhirnya bisa disuruh menghasilkan protein yang kita inginkan.

Salah satu contoh misalnya ragi Saccharomyces cereviseae, berhasil memproduksi protein (namanya thaumatin) yang manisnya sekitar 1. 600 kali daripada gula tebu (pada konsentrasi 10 persen). Padahal thaumatin ini aslinya terdapat pada buah dari tanaman Thaumaticus danielli yang hidup di Afrika bagian barat.

Demikian pula halnya dengan hirudin ini. Upaya untuk memproduksi hirudin dari bakteri dan ragi pernah dicoba. Pada tahun 1986, L Stefani dan timnya dari perusahaan Transgene SA di Perancis berhasil memproduksi hirudin dari bakteri Escherichia coli. Sayangnya jumlah hirudin yang diperoleh rendah, sekitar 0,1 persen dari total protein yang diekskresi bakteri. Jadi tidak layak dikembangkan.

Usaha berikutnya dilakukan oleh S Bernard dan timnya (dari perusahaan yang sama, 1988) dengan menggunakan ragi Saccharomyces cereviseae. Dari hasil penelitiannya ditemukan, ragi ini berhasil memproduksi hirudin sebanyak 1 persen dari total protein yang diekskresi. Menurut mereka, hasil yang telah dicapai ini sudah layak dikembangkan dalam skala komersial.

Adanya kemungkinan memproduksi hirudin dari ragi di masa mendatang, tentunya tidak perlu dirisaukan benar. Mengapa? Karena masih ada beberapa kendala yang harus dikuasai dalam teknologi rekombinan itu, mengingat hirudin yang dihasilkan ini mengandung tambahan asam amino metiomin pada N-terminal. Tambahan asam amino ini mengakibatkan aktivitas hirudin berkurang lima kali daripada hirudin varian 2 yang diisolasi dari lintah.

Di samping itu, pengalaman menunjukkan bahwa munculnya vaksin hepatitis B dari ragi (melalui teknologi rekornbinan DNA) toh tidak mematikan produksi vaksin hepatitis B konvensional. Yang terjadi hanya persaingan promosi.

Mencari peluang
Kalau begitu, kita perlu mencari potensi lintah lain yang ada di Indonesia, barangkali kandungan hirudinnya banyak dan keaktifannya tinggi. Peneliti di Indonesia yang berkiprah dibidang perlintahan masih bisa dihitung dengan jari. Usaha untuk mengembangbiakkan lintah sawah di akuarium sudah berhasil, namun persoalan yang tersisa adalah lintah yang baru lahir itu sebaiknya diberi makan apa.

Seandainya lintah yang ada di Indonesia banyak mengandung hirudin, maka suatu peluang untuk meningkatkan devisa dari sektor nonmigas akan terbentang di hadapan kita, yang tentunya berkaitan pula dengan tersedianya kesempatan kerja.

Nah, tunggu apa lagi? Siapa yang akan menabur,dialah yang akan menuai.

Markus G. Subiyakto, dosen Biokimia, Jurusan Kimia, FMIPA-UI

Sumber: Kompas, Rabu, 27 Desember 1989

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.