Home » Artikel, Featured, Headline

Laboratorium Alam Bernama Siberut

6 May 2010 3,707 views No Comment

Dari Enggano di bagian Selatan hingga Simaleu di ujung Utara, suatu rangkaian pulau-pulau kecil berderet sejajar dengan pantai barat pulau Sumatra, masing-masing memiliki daya pukaunya sendiri. Yang paling mempesona para ilmuwan, konservasionis, turis, dan naturalis, cukong kayu adalah pusat rangkaian, Siberut, Sipora, dan Pagai. Dan pusat dari pusat pesona tersebut adalah pulau Siberut. Sementara pulau-pulau lain telah mengalami degradasi habitat dan budaya, Siberut relatif utuh, dan menampakkan cirinya yang paling khas: pulau muda yang terpisah dari daratan Sumatra sejak masa pleistocene awal.

Dengan daratan seluas 448.3 km², Siberut adalah pulau terbesar dari empat gugusan pulau yang membentuk kepulauan Mentawai. Letaknya sekitar 150 km pantai barat Sumatra Barat. Pulau ini dapat ditempuh semalam dengan menggunakan kapal penyeberangan sederhana. Walaupun tidak jauh dari pantai barat Sumatra Barat, pulau ini telah dipisahkan oleh air laut semenjak kira-kira setengah juta sampai satu juta tahun lampau.

Proses pemisahan dari daratan Sumatra memberikan—dalam bahasa konservasionis terkenal, Jeffry McNeely,—‘splendid isolation’ bagi Siberut. Situasi ini menjadikan Siberut merupakan kepulauan laut penting sejak masa pleistocene. Dari sudut pandang biogeografi, isolasi dengan pengaruh yang terbatas dari daratan utama menyebabkan flora dan fauna di pulau Siberut telah berevolusi dan berko-evolusi terpisah dari kejadian evolusi daratan utama Sunda Besar. Proses isolasi dan tiadanya kolonisasi flora dan fauna dari Sumatra mendorong terbentuknya endemisitas tinggi dan keunikan ekologi luar biasa.

Keunikan ekologi dan tingginya keanekaragaman hayati Siberut terbukti dengan bentuk faunanya yang lebih primitif dan kuno dibanding dengan Sumatra. Di pulau ini, 65% mammalia endemik 58% diantaranya endemik pada tingkat marga, 15% endemik untuk tumbuhan, dan 10% endemik untuk kelas burung. Yang paling luar biasa dari proses evolusi Siberut adalah evolusi primatanya, yang 100% endemik. Empat primata itu adalah Bilou (Hylobates klossii), Bokkoi (Macaca siberu), Simakobu (Simias concolor) yang masuk daftar salah satu 25 primata paling terancam di dunia, dan Joja (Presbytys potenziani). Diluar jenis-jenis yang terkenal itu, paling tidak 29 mamalia darat dan 4 spesies mamalia laut diketahui, 116 jenis burung, 1 buaya, 2 kura-kura, 3 penyu, 34 ular, 22 kadal, 16 kodok, dan 2 Caeciians telah tercatat. Jumlah total flora di pulau ini belum diketahui tetapi sekitar 846 spesies, 390 genus dan 131 famili dari pohon, semak dan herba, liana serta epifit dapat didokumentasikan.

Isolasi geografi tidak hanya mempengaruhi evolusi sumber daya hayati secara ekologis, tetapi juga membuat masyarakat Mentawai, yang merupakan penduduk asli Siberut, mampu melestarikan kebudayaan neolitik mereka yang khas. Antropolog Belanda Manon Osseweijer dan Gerard Persoon menulis dalam artikel di edisi khusus pulau-pulau kecil barat Sumatra di dalam jurnal Indonesia and Malay World tahun 2002 tentang keberhasilan Orang Mentawai dalam mempertahankan tradisi mereka dibandingkan orang Enggano, Nias dan Simaleu. Dikatakan keduanya, orang Mentawai, dengan cara yang rumit, dapat dikatakan berhasil ‘menghindari’ pengaruh Megalith yang berhasil menyerang Nias, kebudayaan besar semacam Hinduisme, Budhisme, gelombang missionaris, corak yang dibawah oleh agama Islam, dan bahkan penetrasi VOC dan kolonialisme Belanda.

Reimar Schefold, antropolog yang hidup lama dan mempelajari cara hidup klan Sakuddei di pantai Barat Siberut menyebutkan penduduk Siberut merupakan suku bangsa yang paling kuno, dengan adat istiadat yang pernah menjadi paling umum di kebanyakan suku bangsa di seluruh Indonesia. Para ahli antropologi menggolongkan suku ini ke dalam rumpun “proto-malay”, yang mempunyai kebudayaan neolitik dengan sedikit pengaruh dari zaman perunggu.

Kebudayaan orang Mentawai mencerminkan hubungan yang unik dengan alam. Masyarakat asli di Siberut berpandangan hutan bukan saja bermakna ekonomi untuk mendapatkan makanan dan pendapatan. Hutan berkait dengan sistem religius yang dikenal dengan kepercayaan Arat Sabulungan. Dalam kepercayaan ini setiap benda di alam memiliki roh (tai), jiwa (simagre) dan kekuatan (bajau). Sangat penting bagi masyarakat untuk menjaga keharmonisan unsur-unsur tersebut. Keharmonisan ini dipertahankan melalui upacara (lia, punen), pemberlakuan restriksi perilaku individu, dan sistem tabu (pantangan) pada saat berburu, memancing, memungut hasil hutan, dan beternak.

Dikalangan ilmuwan biologi, Siberut setara dengan pentingnya Galapagos di lepas pantai Peru bagi teori evolusi post-Darwin dan senilai dengan Madagaskar bagi ahli primata. Siberut juga sangat penting bagi laboratorium alam untuk menguji dan mengembangkan teori biogeografi pulau (island biogeography) yang dicetuskan Wilson dan MacArthur yang sekarang menjadi landasan bagi konservasi. Sifatnya yang unik dan mengandung hewan dan tumbuhan endemik membuat  pulau ini dikategorikan sebagai satu ‘hotspot area’ di kawasan Sunda Besar. Kekhasan budaya dan keanekaragaman hayati ini mendapat pengakuan secara internasional. Sejak 1981, UNESCO menetapkan Siberut sebagai sebagai cagar biosfer (Biosphere Reserve).

Pulau Misterius
Bagi beberapa kalangan, Siberut sangat terkenal. Peselancar dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang di awal Maret hingga Oktober untuk menikmati ombak terbaik di luar Hawaii. Iklan-iklan berisi penjualan pulau-pulau kecil yang murah marak di website untuk investor yang mengincar ratusan pulau kecil lepas pantai dan menjadikannya calypso modern. Bagi penggemar tato, orang Mentawai, dengan cara yang berlebihan, diyakini sebagai pemilik tato tertua di dunia. Dan bagi sebagian orang awam di Indonesia, Siberut tetap bertahan dengan citra sebagai homeland orang Mentawai, salah satu ‘suku terasing’ nan eksotis dengan cawat, tato, rokok, dan bunga-bunga ditubuhnya.

Di dunia maya atau di acara televisi populer, Siberut sangat ikonik dengan eksotisisme: tari-tarian tradisional, upacara-upacara ritual, atau pesta babi. Diluar itu, Siberut juga menjadi sangat terkenal dengan proyek-proyek konservasi alam semenjak tahun 1980-an. Tetapi jika kita ingin mendalami Siberut secara lebih serius, tidak banyak referensi yang tersedia. Jika kita menisik ilmuwan-ilmuwan alam maupun sosial yang menulis tentang Siberut, nama-nama itu tidak berubah dari tahun 1970-an: Schefold, Persoon, Whitten. Peneliti Indonesia tidak banyak dalam bibliografi tentang Siberut. Bidang-bidang yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan alam tidak banyak menyebut Siberut sebagai lapangan riset.

Keterkenalan Siberut adalah sebuah paradoks. Popularitasnya sebagai pulau yang cantik, ikonik dan atraktif tidak mendorong pendalaman dan ketertarikan ilmiah terhadapnya, Bahkan sebaliknya dapat dikatakan mengabaikan potensi Siberut sebagai laboratorium ilmu pengetahuan alam yang luar biasa kaya. Meskipun sejarah ekologinya sangat terkenal, tidak banyak orang tertarik (apalagi orang Indonesia sendiri!) untuk datang tidak dengan alasan turisme dan tertarik dengan semangat tinggi menjelajahi setiap jengkal Siberut untuk ilmu pengetahuan.

Diantara pulau-pulau lain, Siberut masih menampilkan keadaan yang relatif masih utuh. Sementara pulau-pulau lain di gugusan itu telah kehilangan hutan dan dianggap kehilangan ciri kebudayaan lokalnya, Siberut masih mempertahankan hutan hujan tropisnya dan praktek-praktek budaya lokal yang hanya sedikit saja mengalami distraksi. Secara fisik, Siberut adalah pulau yang unik dalam setiap jengkal sumber dayanya. Tanahnya sangat muda muda, terbentuk dari proses sedimentasi dan didominasi oleh serpihan batu, endapan lumpur dan tanah liat berkapur dengan usia geologi yang sangat baru. Keadaan tanah yang lunak dan tidak mengandung batu-batuan, sebagai akibat erosi, wujud permukaan pulau sangat banyak menampilkan retakan dengan tebing-tebing curam dan punggung-punggung bukit terjal. Di sela-selanya bertaburan sungai kecil yang berhulu di celah sempit bukit dan mengalir menuju sungai besar.

Siberut merupakan laboratorium alam yang belum banyak dieksplorasi. Meskipun banyak naturalis dan ahli ekologi telah mengawali terungkapnya kekayaan alam Siberut—dimulai oleh Kloss dan tim risetnya pada awal abad 20—Siberut seperti raksasa yang sedang tidur. Apa yang telah dirintis Kloss dengan timnya mengoleksi spesimen mammalia, burung-burung, reptilia, amfibi, serangga dan tumbuh-tumbuhan kelak kemudian diteruskan oleh pasangan Tony dan Jane Whitten di paruh akhir 1970-an yang meneliti siamang kerdil.

Akan tetapi sumber-sumber pengetahuan ilmu geologi, biologi, ilmu tanah, dan ilmu-ilmu lain masih tersembunyi bersama bentang alam Siberut tempat berkembangnya ekosistem-ekosistem yang beragam dan hutan hujan yang kaya jenis yang belum digali. Meskipun para ahli biologi tropis telah mengklasifikasikan tipe hutan tropis asli di pulau Siberut yakni hutan hujan tropis dataran rendah (lowland tropical rain forest) dan rawa bakau (mangrove forest), isi di dalamnya belum banyak dijelajahi.

Suku Misterius
Penduduk pulau Siberut hingga sekarang sama misteriusnya seperti halnya bentang alamnya. Belum terdapat kesepakatan ilmiah dan cukup bukti empirik yang jelas mengenai asal-usul masyarakat asli di pulau Siberut. Dari manakah mereka berasal? Kapan dan bagaimana migrasi mereka? Beberapa penelitan terbaru, termasuk tim arkeologi Prancis dan UNESCO yang melakukan penelitian marathon sepanjang 4 tahun tidak memberi sebuah kesimpulan memuaskan. Mereka hanya memberi hipotesis bahwa masyarakat Mentawai di pulau ini berasal dari kelompok etnik terdekat yang lebih besar. Bahkan para peneliti itu tidak pernah dapat menemukan pemukiman pertama orang Mentawai di Siberut! Hingga sekarang, mereka masih kebingungan dengan arkeologi orang Mentawai

Perdebatan tentang siapa orang Mentawai telah mengemuka sepanjang setengah abad dengan hasil yang tidak memuaskan. Van Bukeering 60 tahun lalu mengajukan hipotesis manusia pertama di Siberut berasal dari Sumatra melalui Nias. Investigasinya memberi sugesti hubungan yang dekat secara ras antara orang Mentawai dengan suku Batak di Sumatra Utara. Hipotesis ini mematahkan kemungkinan pendapat bahwa suku ini tersebar dari pecahan kelompok-kelompok yang sekarang mendiami pulau-pulau kecil di Samudra Pasifik yang memiliki keserupaan secara budaya dengan suku Mentawai.

Bagi orang Siberut sendiri, mereka menciptakan mitos tentang asal muasalnya. Mitos ini hampir mirip dengan hikayat Sangkuriang bagi orang Sunda. Dahulu kala, seorang perempuan dari kerajaan terdekat, dibuang bersama anjingnya dan terdampar di Simatalu, bagian barat Siberut yang sangat sulit dilayari karena berhadapan dengan ombak samudra hindia yang ganas. Si perempuan ini sedang hamil. Di Simatalu, dia melahirkan anak laki-laki. Ketika besar, anak laki-laki ini disuruh ibunya untuk mencari istri. Setelah berkeliling ke seluruh pulau, si anak kemudian bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan itu tak lain adalah ibunya sendiri. Dari keduanyalah, diyakini, orang Mentawai berasal.

Menurut teman saya, orang Mentawai yang sedang menyelesaikan Ph.D Antropologi di Leiden University, legenda itu mengaburkan asal-usul orang Mentawai. Dengan jujur, dia mengakui bahwa ada ketidakjelasan tentang asal-muasal leluhurnya sendiri. Dengan belajar antropologi, dia terobsesi untuk menjelaskan leluhur orang Mentawai yang masih kabur. Dengan mengumpulkan sejarah lisan mengenai kepemilikan tanah dan genealogi (tiboi polak), dia merasakan adanya kebingungan (atau kemesteriusan?) asal muasal orang Mentawai.

Struktur sosial orang Mentawai sangat berbeda dengan kebanyakan kelompok Austronesia yang ada dari Aceh hingga Merauke. Biasanya, stereotip kita terhadap penduduk pedalaman adalah sebuah kelompok kecil yang dikepalai oleh seorang kepala suku dengan adat-adat atau aturan yang kuat dan berpusat pada kepala suku tersebut. di Mentawai, itu tidak demikian. Organisasi sosial masyarakat di Siberut merupakan warisan struktur politik egaliter dari jaman Neolithic. Secara tradisional suku Mentawai mengelompok menurut garis keturunan patrilineal yang disebut Uma. Kata Uma juga merujuk pada bentuk rumah besar yang dihuni oleh anggota kelompok tersebut. Setiap Uma terdiri dari 30-80 individu yang hidup dalam pemukiman kecil di sepanjang sungai.

Setiap Uma, lazimnya terdiri atas 5-10 keluarga monogami yang disebut sebagai Lalep. Ukuran dan jumlah populasi tiap Uma stabil dalam jangka waktu tertentu. Dalam Uma berlangsung sistem eksogami dimana perempuan tidak memiliki hak atas keturunan. Jika suami meninggal, ia kembali menjadi anggota Uma ayahnya, sementara anak-anaknya menjadi anggota Uma suami. Uma juga merupakan unit kepemilikan tanah. Implikasinya, hanya anggota Uma yang  bersangkutanlah yang memiliki hak penuh untuk memiliki dan mengolah tanah milik Uma.

Uma mewakili sebuah struktur yang egaliter tanpa ada bentuk tekanan dari hierarki politik atau pola kepemimpinan teroganisir. Secara politik, mereka tak pernah membentuk unit politik. Oleh karena itu tidak ditemukan pemimpin politik. Dalam kata lain, tidak ada kepala suku. Semua anggota Uma dewasa mempunyai hak yang sama dan setara dalam semua urusan yang berkaitan dengan Uma, baik sesama anggota dalam Uma maupun sesama Uma. Otonomi politik ini membuat sering terjadi konflik antar anggota Uma. Konflik lazimnya diakhiri dengan perpecahan Uma. Jika konflik terjadi, sebagian anggota menyingkir ke lembah-lembah lain, mendirikan Uma baru, dan memproklamirkan nama Uma-nya berdasarkan atas nama lokasi—lembah, sungai, gunung, kayu dominan—dimana ia tinggal.

Struktur sosial yang tanpa pemimpin (a-chepalus), kelihatan anomali dibandingkan dengan kelompon Austronesian lain di Indonesia yang menekankan pentingnya figur pemimpin sosial. Akan tetapi barangkali itu hanya salah satu dari kemisteriusan lain bagi orang Mentawai. Linguistik, model pakaian, dan juga mode of production orang Mentawai tidak memiliki kemiripan dengan etnis tetangganya seperti Nias, Batak, Minangkabau atau Melayu. Kenapa orang Mentawai tidak menggunakan api dalam berladang? Mengapa mereka tidak mengembangkan sereal (padi, gandum, jewawut) dan biji-bijian (jagung, kacang-kacangan) dan mengandalkan rezim umbi-umbian (keladi, pisang, ubi) dalam pertanian sebagai bahan makanan pokok mereka.

Dari perbedaan-perbedaan ini muncul banyak pertanyaan, bagaimana mereka mengembangkan budaya yang khas? Fakor apa saja yang mempengaruhinya? Bagaimana asal-usul kehidupan orang Mentawai?

Laboratorium Alam Yang Terancam
Dalam sebuah laporan jurnal Oryx bertarikh 1979, McNeely menulis tentang kemungkinan Siberut sebagai contoh keanekaragaman hayati dan manusia yang bisa hidup bersama secara harmonis, seperti surga. Hal ini diyakini dapat dilakukan karena kebudayaan orang Mentawai dipandang mencerminkan hubungan yang unik dengan alam. Salah satu tema sentral dalam kehidupan orang Mentawai (Schefold 1991; 132). Tujuan kehidupan, bagi orang Mentawai adalah hidup selaras. Hampir setiap aktifitas manusia Mentawai [membuat rumah, membikin sampan, kelahiran anak, pembelian barang berharga, dll] selalu diikuti dengan upacara. Setiap aktifitas berhubungan dengan lingkungan dan benda harus membuat roh-roh senang. Upacara adalah tindakan menyenangkan roh karena berisi tarian, mantra-mantra dan sesajian kepada benda-benda dan rohnya. Dengan begitu, pengetahuan ini, sekurang-kurangnya bagi McNeely, dapat digunakan sebagai landasan etika konservasi modern.

Wanda Ave dan Satyawan Sunito berusaha membuktikannya dengan mempelajari pengetahuan orang Mentawai terhadap tumbuhan liar dan domestikasi sebagai obat dan praktek pengobatan. Laporan kedua penulis itu diterbitkan World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 1990. Laporan itu memberi impresi yang kuat tentan orang Mentawai yang memiliki hubungan sangat dekat dan harmonis dengan alam. Laporan itu menyebutkan adanya Sikerei, dukun bagi orang sakit yang mengetahui jenis pertelaan tumbuhan secara tradisional. Sebanyak 233 jenis dari 69 famili tumbuhan telah diketahui dan dimanfaatkan untuk menyembuhkan 129 jenis penyakit. Pengetahuan tumbuhan obat ini dianggap paling tinggi dan lengkap dibandingkan masyarakat asli lain di Indonesia.

Studi tentang tumbuhan obat ini, tidak banyak mendapat gema. Hampir tidak ada pengikut lain yang tertarik untuk mengkaji interaksi antara manusia Siberut dan ekologinya. Bolehlah dapat dikatakan sebagai pengecualian adalah studi saya sendiri tentang perladangan tradisional orang Mentawai. Pada awalnya, saya mungkin seoptimis McNeely tentang idealita hubungan-hubungan yang harmonis tersebut. Cara orang Mentawai berladang sangat menguntungkan bagi konservasi. Tanpa pengeringan menggunakan api dan rezim pertanian umbi-umbian menjadi faktor kenapa proses regenerasi hutan dari ladang menjadi lebih cepat. Hal ini menyebabkan hutan Siberut merupakan mosaik ladang-ladang tua yang produktif yang bercampur dengan hutan sekunder bekas ladang serta hutan primer perbukitan.

Akan tetapi perubahan-perubahan sosial, kebijakan negara, masuknya modal dan investasi menyebabkan Siberut juga sangat cepat berubah. Hal ini menyurutkan optimisme saya kelak di kemudian hari. Sebenarnya, Persoon telah mengatakan dalam artikelnya 2002 di jurnal Antropologi Indonesia, bahwa etika keselarasan orang Mentawai adalah sesuatu yang berbeda dengan cita-cita etika konservasi modern. Fungsi dari hubungan religius barangkali tidak secara otomatis berakibat pada penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan dari perspektif ekologi. Harmoni secara spiritual dengan alam di Siberut bisa jadi berdasarkan oleh pengetahuan yang berbeda dan gagasan yang berbeda,  dan bukannya berdasarkan konsep dasar konservasi. Pengetahuan dan ide keselarasan akan efektif dalam lingkungan mikro yang terisolir dan mengandalkan kebutuhan sendiri (subsisten dan self sufficient). Pengetahuan tradisional itu akan mengalami dinamika, bergeser dan berubah ketika menghadapi perubahan-perubahan yang lebih besar.

Perubahan besar di Siberut disponsori oleh negara. Usaha eksploitasi yang menguntungkan birokrasi terpusat di Jakarta dan pengusaha elit Indonesia telah mengincar pulau Siberut sejak tahun 1970an. Penebangan kayu skala besar dimulai tahun 1972 ketika pemerintah memberikan ijin kepada 4 perusahaan di Jakarta. Antara 1972?1993, 3 dari 4 perusahaan tersebut telah memanen total 130,650 ha hutan dengan jumlah produksi 746,155 m3 kayu. Dalam banyak kasus, penebangan kayu ini memberikan dampak buruk bagi Siberut. Kawasan hutan yang terdegradasi bertambah dan tidak diimbangi dengan usaha menghutankan kembali selain masalah ekonomi sosial.

Penebangan kayu berhenti pada tahun 1993-1999. Akan tetapi Sejak tahun 2000, dua perusahaan kayu mendapatkan konsesi penebangan di Siberut. PT Koperasi Andalas Mandiri (KAM),  mendapatkan konsesi seluas 45,650 ha dan PT Salaki Summa Sejahtera (SSS), mendapatkan jatah penebangan hutan 45,000 ha. Dalam kurun waktu 5 tahun sejak otonomi, Pemerintah Daerah Kepulauan Mentawai menggenjot pendapatan dan juga korupsi pejabat melalui penerbitan ijin pemanfaatan kayu (IPK). Disebabkan oleh masalah internal, ongkos operasional yang mahal, fluktuasi harga kayu dunia, perlawanan masyarakat serta peraturan baru dari Departemen Kehutanan, PT KAM dan ijin IPK tidak lagi mengambil kayu dari hutan Siberut.

Menghadapi rezim ekploitasi, para pembawa harapan McNeely berusaha mewujudkan dengan cara melindungi Siberut dari kerusakan ekosistem. Siberut, sejak tahun 1980-an telah diperjuangkan untuk dilindungi. Keberhasilan usaha ini naik turun, seperti dataran Siberut itu sendiri yang bergelombang. Di satu masa pulau ini terbebas dari eksploitasi kayu. Tetapi ditahun-tahun berikutnya, pulau ini habis diberikan kepada perusahaan kayu. Sekarang, separuh dari pulau Siberut ditunjuk sebagai taman nasional. Para aktivis konservasi tak lelah berhenti untuk terus berjuang untuk mengeluarkan rezim eksploitasi ini.

Orang Siberut sendiri bukanlah se-romantis dan se-ideal yang diangankan kebanyakan aktivis perkotaan. Mereka bukanlah orang Mentawai yang ditemui para etnolog sebelum kemerdekaan atau di tahun 1960-an. Mereka juga telah bersinggungan dengan rezim eksploitatif, dan kebanyakan dari mereka juga sangat eksploitatif. Mereka juga telah mengenal dunia yang terus berubah dan tidak menentu ini. Ditopang oleh perubahan sosial dan juga perubahan cara pandang terhadap alam dan lingkungan, sebagian besar mereka juga lebih menyukai menjual hutannya demi uang. Menjual tanahnya untuk dapat menikmati kehidupan kota besar. Beberapa diantaranya bahkan sangat sinis terhadap ide konservasi pulau Siberut.

Saya kira pulau Siberut tidak bisa terhindar dari kecenderungan yang terjadi di negeri ini. Lingkungan lambat laun mengalami degradasi. Hutan akan menghilang. Dan juga penduduknya menjadi jauh lebih miskin dan kehidupannya tergantung dengan harga tukar produk hutan mereka di pasaran global dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Siberut tentu saja lebih riskan karena ekositem kepulauan mudanya rentan dari kerusakan. Kalau diijinkan, dengan sedikit mengeluh, saya bisa mengatkan sayang sekali harta yang terpendam di dalamnya tidak banyak terungkap oleh ilmu pengetahuan. Laboratorium alam yang terbentuk melalui sejarah geologi jutaaan tahun ini berpeluang hilang dalam beberapa puluh tahun mendatang. Di Indonesia, keunikan Siberut tidak banyak mendapat apresiasi dari ahli geologi, biologi, antropologi, arkeologi dan ilmu-ilmu yang dianggap sebagai pemegang kunci masa depan manusia.

Dengan segenap keyakinan, saya merasa akan menjadi generasi terakhir yang menjadi saksi mata bagi keunikan dan kemesteriusan pulau Siberut.  (Darmanto)

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.