Home » Berita

Krisis Jepang Setara Chernobyl

13 April 2011 698 views No Comment

Pemerintah Jepang menaikkan derajat kecelakaan di PLTN Fukushima Daiichi ke tingkat maksimum pada Skala Kejadian Nuklir Internasional. Ini berarti krisis nuklir Jepang sama gawatnya dengan tragedi Chernobyl, kecelakaan nuklir terburuk di masa damai.

Otoritas nuklir Jepang memutuskan menaikkan skala bahaya insiden nuklir dari 5 menjadi 7, setelah mempelajari hasil pemantauan kebocoran radiasi terbaru di sekitar kompleks PLTN tersebut. PLTN Fukushima Daiichi mengalami kebocoran radiasi setelah guncangan gempa dan terjangan tsunami, 11 Maret lalu, merusak sistem pendingin reaktor dan mematikan generator diesel yang seharusnya menjadi catu daya cadangan bagi sirkulasi air pendingin.

”(Sebelumnya) kami berusaha menahan keputusan ini sampai kami mendapatkan data yang bisa diandalkan. Keputusan akhirnya kami ambil setelah melihat dan memeriksa silang dua data yang diperoleh dengan cara berbeda,” tutur juru bicara Badan Keselamatan Nuklir dan Industri Jepang (NISA) Hidehiko Nishiyama, Selasa (12/4).

Dua otoritas nuklir Jepang, yakni NISA dan Dewan Keamanan Nuklir Jepang (NSC), mengukur radiasi dua material radioaktif, yakni iodin-131 dan cesium-137, dengan metode masing-masing. Hasil pengukuran menunjukkan, jumlah radiasi total dari iodin-131 sejak krisis terjadi sebulan lalu telah mencapai 500.000 terabecquerel, atau 500.000 triliun becquerel.

Jumlah itu melampaui batas minimum syarat ditetapkannya level 7 pada International Nuclear and Radiological Event Scale (INES), yang hanya berkisar pada puluhan ribu terabecquerel. Namun, jumlah itu masih jauh di bawah radiasi yang dilepaskan setelah ledakan reaktor nuklir di Chernobyl tahun 1986, yang mencapai 5,2 juta terabecquerel.

Meski demikian, Hironobu Unesaki, pakar nuklir dari Institut Reaktor Riset Universitas Kyoto, mengatakan, perubahan status itu tidak langsung berarti kesehatan dan keselamatan warga dalam bahaya.

”Berdasarkan data pengukuran (radiasi), semua masih terkendali. Tidak berarti kebocoran radiasi dalam jumlah besar akan terus terjadi,” tuturnya.

Teror gempa susulan

Sementara itu, gempa susulan yang terus-menerus terjadi dalam beberapa hari ini mulai membuat warga Jepang merasa terteror. ”Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali gempa susulan terjadi sejak Senin sore. Setiap 3-10 menit terjadi gempa. Ini mulai membuat frustrasi,” tutur Miyako Yoshida, warga Kodaira City di sebelah barat Tokyo.

Lebih dari 400 gempa susulan yang berkekuatan lebih dari 5,0 skala Richter terjadi sejak gempa pertama pada 11 Maret. Selasa sore, gempa berkekuatan 6,3 skala Richter kembali mengguncang Fukushima dan sekitarnya.(AP/AFP/Reuters/DHF)

Sumber: Kompas, 13 April 2011

—–

Keterangan foto:  Salah satu bangunan di dekat saluran pembuangan air Reaktor Unit 1 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi terbakar seperti terekam dalam gambar yang dirilis Tokyo Electric Power Co, Selasa (12/4). Api muncul pada Selasa pagi, tetapi segera dipadamkan oleh petugas. Jepang menaikkan derajat kecelakaan nuklir ke level 7, tingkat terparah dalam Skala Kejadian Nuklir Internasional.

——————–

Kebocoran Pembangkit Nuklir Fukushima Kian Parah

Badan Keamanan Nuklir dan Industri Jepang (NISA) kemarin mengeluarkan maklumat bahwa penyebaran zat radioaktif yang berasal dari kebocoran Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi kian meluas. “Kami menaikkan tingkat keparahan dari level 5 ke level 7,” kata juru bicara NISA, Hidehiko Nishiyama, di televisi.

Menurut Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA), tingkat 7 berarti penyebaran zat radioaktif bisa berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Menurut Hidehiko, pihaknya menaksir paparan zat radioaktif telah mencapai level 370 ribu hingga 630 ribu terabecquerels atau sekitar 10 persen dari total radiasi pada musibah Chernobyl di Ukraina—5,2 juta terabecquerels.

“Tapi situasinya sama sekali berbeda dari Chernobyl,” ujar Hidehiko. Sebab, “Inti reaktor tidak meledak,” katanya. Hidehiko mewanti-wanti bahwa mereka masih terus-menerus memantau kebocoran secara seksama.

Sekretaris Kabinet Yukio Edano pun segera menyampaikan permohonan maaf kepada rakyatnya. “Kepada rakyat, warga yang tinggal di sekitar kompleks Fukushima, dan masyarakat internasional, kami menyesalkan terjadinya musibah ini,” tuturnya. “Prioritas utama kami sampai saat ini adalah menjaga agar insiden kebocoran itu tak berdampak buruk pada kesehatan.” Pemerintah Jepang pun telah memperluas zona aman radiasi menjadi 40 kilometer.

Kendati begitu, kata Lam Ching-wan, ahli patologi kimia dari University of Hong Kong, level 7 tetap tak bisa disebut aman. “Jujur saja, ini buruk sekali,” katanya seraya menambahkan bahwa taksiran total itu dihitung dari sejak pertama kali pembangkit Fukushima mengeluarkan zat radioaktif. “Itu artinya tanah, ekosistem, air, pangan, dan masyarakat terkena radiasi.”

Senin lalu Jepang kembali diguncang gempa berkekuatan 7,1 pada skala Richter yang menewaskan tiga orang dan memicu alarm tsunami. Selain itu, para pekerja yang tengah berupaya memperbaiki pembangkit Fukushima Daiichi terpaksa dievakuasi. Sistem pendingin PLTN itu hancur akibat gempa dan tsunami yang menghantam Jepang bulan lalu.

Para pekerja kini tengah berupaya mengendalikan suhu sejumlah reaktor nuklir di PLTN tersebut. Selain merusak pembangkit, gempa dan tsunami menyebabkan lebih dari 28 ribu orang tewas atau hilang dan 150 ribu lainnya tinggal di pengungsian. AP | REUTERS | KYODO | ANDREE PRIYANTO

Sumber: Koran Tempo, 13 April 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.