Home » Artikel

Keamanan Pangan Global

11 June 2011 1,153 views No Comment

BEBERAPA hari terakhir ini masyarakat Eropa dan Amerika Serikat dilanda kecemasan terkait merebaknya wabah keracunan makanan terkontaminasi bakteri Escherichia coli (E Coli). Halaman muka berbagai media yang terbit di Eropa dan Amerika Serikat hampir semuanya mengangkat permasalahan ini.

The New York Time edisi 5 Juni 2011 pada halaman muka memuat judul berita ’Deadly E Coli Outbreak Linked to German Sproutsî.  Pada hari yang sama Majalah Time juga menurunkan berita berjudul ’E coli Outbreak Caused by German Sproutsî.

Majalah itu menuliskan, hingga 5 Juni lalu keracunan E coli telah mengakibatkan sedikitnya 22 warga Eropa meninggal dan 2.200 orang lainnya sakit karena telah terinfeksi. Penulis buku Poisoned: The True Story of the Deadly E Coli Outbreak That Changed the Way Americans Eat, Jeff Benedict, dalam sebuah artikelnya di majalah Time baru-baru ini menyatakan bahwa peristiwa ini memecahkan rekor wabah serupa yang pernah terjadi tahun 1993. Kala itu kontaminasi E coli menyebabkan 4 orang meninggal dan 750 anak menderita sakit.

Wabah tersebut telah menimbulkan kecemasan luar biasa. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan telah memerintahkan untuk menyetop impor sayur-sayuran dari negara-negara Eropa, khususnya Jerman, hingga ada penjelasan yang layak tentang bagaimana wabah itu bisa menyebar.  Berbagai macam sayuran dari Jerman seperti tauge, brokoli, bawang putih, lobak, dan buncis, dituding sebagai penyebab merebaknya wabah E coli kali ini.
Dari hasil penelitian terhadap bermacam-macam jenis tauge dan kol yang berasal dari sebuah pertanian organik di wilayah Uelzen yang terletak antara Hamburg dan Hannover terbukti sayuran tersebut terkait dengan lima orang yang terinfeksi E coli di 5 wilayah Jerman yang berbeda.

Panas Tinggi

Peristiwa keracunan makanan yang disebabkan oleh E coli ini membuka mata dan pemikiran kita akan arti pentingnya menjaga keamanan pangan.  Kejadian ini sekaligus menunjukkan betapa rentannya keamanan pangan global. Kondisi di negara-negara Eropa yang notabene kondisinya relatif lebih maju dari segi teknologi maupun pola hidup, masih bisa mengalami keracunan pangan massal seperti ini.  Apalagi di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang penguasaan teknologi dan budaya hidup higienis masyarakatnya relatif kurang baik ketimbang masyarakat Eropa.

Dunia seperti tersentak oleh peristiwa yang terjadi di Eropa sebab selama ini bakteri tersebut yang ditemukan oleh Theodor Escherich pada 1885 ini dikenal tidak berbahaya.  Bahkan menjadi salah satu tulang punggung di bidang bioteknologi karena semua rekayasa genetika selalu melibatkan bakteri itu yang memiliki genetik sederhana.
Sudah sepantasnya pemerintah dan semua elemen masyarakat mewaspadai kejadian luar biasa (KLB) yang melanda Eropa dan Amerika ini.  Ke depan masalah keamanan pangan yang terkait dengan kontaminasi mikroorganisme seperti bakteri ini diperkirakan makin banyak ditemui seiring dengan fenomena pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim dan munculnya strain baru mikroorganisme penyebab penyakit.

Ada beberapa upaya antisipasi yang dapat dilakukan masyarakat agar terhindar dari wabah E coli.  Upaya utama adalah meningkatkan budaya hidup serta perilaku bersih dan sehat.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan 5 hal untuk menjaga keamanan pangan, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dari makanan matang, memasak makanan sampai matang, menjaga makanan pada suhu aman, dan menggunakan air bersih untuk mencuci bahan pangan.

Bakteri E coli umumnya hidup pada rentang 20-40 derajat Celsius dan optimal pertumbuhannya pada 37 derajat Celsius. Cara terbaik untuk terhindar dari kontaminasi bakteri itu adalah dengan memasak semua makanan yang kita konsumsi hingga masak betul. Panas yang tinggi ini akan mematikan bakteri dan mikroorganisme berbahaya lainnya yang ada pada bahan pangan yang kita olah.

Hindarkan mengonsumsi makanan mentah seperti mentimun, tauge, salad, lobak, dan buncis.  Binatang piaraan juga dapat terinfeksi bakteri tersebut, yang ditandai dengan perilaku tidak seperti biasanya.  Jika tinja atau kencing hewan piaraan Anda berdarah, segera bawa ke dokter hewan.  (10)

Toto Subandriyo, alumnus Jurusan Teknologi Industri Pertanian IPB, bidang keahlian Bioindustri. Menjabat Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Tegal

Sumber: Suara Merdeka, 11 Juni 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.