Home » Astronomi, Berita

Jorga Ibrahim Kembali ke Matematika Alam Semesta

31 May 2001 119 views No Comment

Menakjubkan, indah, dan penuh rahasia, namun tak mudah mempelajarinya. Itulah ungkapan ringkas yang mungkin bisa melukiskan alam semesta-yang maha luas, jauh tak terperi tepiannya, dan gelap dalam kehampaan. Namun, jangan lupakan pula fakta lain, yakni tentang betapa bergeloranya isi alam semesta.

Selain ada bintang baru lahir, ada bintang lainnya meledak dengan dahsyat sebagai supernova, meninggalkan sisa berupa bintang hantu-atau black hole-yang massa jenisnya besar tak terbayangkan, yang konon membuat satu sendok teh materi bintang hantu ini beratnya setara dengan Kota New York dengan seluruh pencakar langitnya.

Itulah uraian warung kopi yang mengasyikkan tentang alam semesta. Tetapi, selain itu tak sedikit pula pertanyaan yang tak sembarangan orang bisa menjawabnya, karena pertanyaan itu sungguh mendalam: mulai dari kapan lahirnya, bagaimana akhir riwayatnya, bagaimana bentuknya? Lebih filosofis dari itu: apakah hanya ada satu alam semesta atau banyak? Siapa pencipta alam semesta dan bagaimana Ia menciptakannya?

Setelah pada abad-abad lalu lebih merupakan bidang spekulatif, kosmologi abad ke-20 bertransformasi menjadi bidang kajian ilmiah yang mengombinasikan penguasaan ilmu astronomi, matematika, dan fisika, serta ilmu dan teknologi pendukung lainnya.

75129_penghargaan_achmad_bakrie___jorga_ibrahim_663_382Kosmologi berkembang menjadi seperti sekarang atas jasa ilmuwan terkemuka dunia. Sejarahnya bertaburan nama-nama besar yang memberi sumbangan berarti bagi kemajuan ilmu ini. Sekadar menyebut beberapa, ada Edwin Hubble, De Sitter, Albert Einstein, George Gamow, Fred Hoyle, Martin Rees, dan Alan Guth. Lalu dalam perkembangan selanjutnya, muncul pula tokoh yang banyak menerapkan teori fisika dan matematika canggih, seperti Roger Penrose dan-tentu saja-Stephen Hawking.
***
LAIN di dunia, lain pula di Indonesia. Sebagaimana jagat astronomi yang sering disebut sebagai lingkungan The Happy Few, jagat kosmologi dihuni komunitas lebih kecil lagi.

Dalam jagat yang kecil itulah orang mengenal nama Jorga Ibrahim (65). Meski sosok Jorga secara formal berada di Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung, tetapi ia juga punya identitas sebagai matematikawan. Dan dengan matematika, Jorga Ibrahim berusaha memahami kosmologi secara lebih mendalam.

Pengabdian pada matematika murni yang bertautan dengan kosmologi ini tercermin antara lain dari tema disertasi doktornya, yakni bentuk-bentuk geometri diferensial yang oleh Dr Iratius Radiman, junior Jorga di ITB, disebut sebagai bidang pokok guna menelusuri alam semesta.

Setelah menyelesaikan studi S-3 di Perancis, dalam periode tahun 1976-1984, Jorga Ibrahim masih melakukan sejumlah penelitian selaku peneliti senior di College de France, lembaga yang hanya boleh dimasuki oleh anggota-anggota Academie des Sciences Paris. Sebelum kosmologi, Jorga memang terlebih dulu terpesona pada matematika. Itu sebabnya setelah tamat SMA III Bagian B di Bandung tahun 1956 ia lalu masuk ke Jurusan Matematika dan Astronomi Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia.

Saat ia lulus di bawah bimbingan Prof The Pik Sin tahun 1960, FIPIA-UI sudah berubah menjadi Fakultas Matematika dan Ilmu Alam (FMIPA) ITB. Setelah itu, Jorga terus memilih bidang astronomi teoretis dan lulus tahun 1963.

Pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka, 10 Maret 1936 ini mengejar lebih lanjut rasa ingin tahunya di bidang matematika dengan belajar lebih lanjut di University of Kentucky, Lexington, AS, dan lulus Master of Science dalam matematika murni.

Bila pencapaian studi akademik tertinggi adalah dengan meraih gelar doktor, Jorga harus sabar menunggunya beberapa waktu. Sebabnya adalah ada seorang gadis yang juga seorang dokter-Sri Setiasih yang akrab dipanggil Aas-telah menunggunya di Indonesia.

Setelah menikah dengan dokter pujaannya dan dari perkawinan itu pasangan ini mendapat seorang putri, Tina, dan seorang putra, Ezra, Jorga berangkat ke Perancis dan menuntaskan studi S-3 di Universite Paris VI, di Jurusan Matematika Murni (Mathematiques Pures) di bawah Prof Andre Lichnerowicz. Karena bakat dan kecerdasannya, dalam tempo singkat, tahun 1974, Jorga mendapatkan gelar tertinggi dalam sistem pendidikan Perancis, yakni Docteur d’Etat En Sciences dengan disertasi berjudul Tenseurs Holomorphes sur Une Variete Kahlerienne (Tensor Holomorf pada Varietas Kahlerian) yang manfaatnya bagi studi kosmologi telah disinggung di atas.
***
PERJALANAN hidup tak selalu sinkron dengan inklinasi akademis. Selain masih terus menjadi dosen dan membimbing mahasiswa, Jorga juga mendapat tanggung jawab pekerjaan administratif, baik di Jurusan Astronomi maupun di ITB. Ia ikut mencetuskan Tahun Antariksa Nasional bersama Unesco tahun 1986 dan ikut mempelopori program kerja sama Indonesia-Jepang (JSPS).

Salah satu tugas yang ia jalankan dengan sangat berhasil adalah selaku Ketua Tim Seleksi Departemen P dan K (waktu itu) dalam kerja sama kebudayaan Perancis-Indonesia dalam periode 1979-1983. Banyak ilmuwan muda Indonesia yang merasakan manfaat program ini. Dari segi kuantitas saja, ada 300 staf ITB yang mengikuti progam ini, selain 3.000 staf muda lain di seluruh Indonesia yang ikut merasakan manfaat ilmiah dan kultural program tersebut.

Gema program itu sendiri seperti dinyatakan Dr Radiman belum sirna sampai sekarang, karena gelombang sekunder terus bermunculan untuk melestarikan program tersebut dalam level pribadi maupun lembaga.

Dalam menjalankan peran tersebut, Jorga-meski bukan pejabat eselon satu-diterima sebagai pribadi yang dihormati lingkungan asli Perancis, diwujudkan antara lain dengan diberikannya medali Officier de l’Ordre National du Merite dari mendiang Presiden Francois Mitterrand tahun 1985.

Putra sulung dari pasangan R Ibrahim dan R Siti Ibrahim ini, di tengah kesibukannya dalam tugas administratif birokratis, tak pernah kehilangan minatnya pada musik klasik, malah dulu sempat menjadi pemain flute musik klasik Barat.
***
SABTU 19 Mei lalu, pada usia 65 tahun, Jorga Ibrahim yang dalam kariernya pernah menjadi Rektor Institut Teknologi Indonesia (ITI) di Serpong ini, mengakhiri pengabdian formal di institut yang telah membesarkannya. Tetapi, sebagaimana diharapkan Dr Cynthia Radiman, Dekan FMIPA ITB, Jorga tidak serta-merta mengakhiri pengabdiannya dalam bidang kosmologi. Prof Dr Bambang Hidayat, astronom senior yang membangun dunia astronomi bersama Jorga Ibrahim selama empat dekade, juga berkeinginan agar mereka dapat mewariskan semacam mazhab pemikiran bagi generasi muda astronom Indonesia.

Pada hari Sabtu itu, mundurnya Jorga dari aktivitas administratif, ditandai sebuah seminar kecil yang sangat berbobot. Selain kesan dan kenangan atas Jorga Ibrahim yang dikenal luas sebagai pribadi yang dermawan dan tak pernah keberatan menerima mahasiswa untuk konsultasi-akademis maupun pribadi di-rumahnya, seminar juga disemarakkan dengan serangkaian presentasi matematika dan fisika, dan tentu saja kosmologi.

Kerumitan berpikir Jorga Ibrahim ternyata diimbangi dengan kehangatan pribadi. Ini, menurut Dr Radiman, selaras pula dengan pernyataan ahli matematika Perancis Blaise Pascal, bahwa Le coeur a ses raisons, que la raison ne connait point, yang artinya “Hati manusia memiliki peri perasaan, yang pikiran sama sekali tidak mampu menjangkaunya. (Ninok Leksono)

Sumber: Kompas, Kamis, 31 Mei 2001

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.