Home » Artikel

Jepang Memang Rawan Gempa

4 May 2011 909 views No Comment

GEMPA yang mengguncang Jepang, Jumat (11/3) siang, memang cukup mengejutkan. Gempa berkekuatan 8,9 skala Richter itu menyebabkan  ribuan orang tewas, kebakaran, dan tsunami tinggi di sepanjang pantai timur negara itu.
Selama ini, Jepang memang dikenal sebagai daerah rawan gempa. Tahun lalu tak kurang dari  dua kali gempa besar melanda Jepang. Sebelumnya, gempa mengguncang pulau kecil Okoshiri yang menyebabkan tsunami dan kebakaran serta menewaskan 242 jiwa.

Dengan rentetan gempa yang hampir terjadi setiap tahun, Jepang mempunyai pengalaman cukup dan telah mempersiapkan diri dengan baik . Akan tetapi gempa yang mengguncang bagian timur laut Jepang kali ini membuktikan, upaya manusia tak dapat menghilangkan sama sekali dampak kekuatan gempa. Kota Kobe, Kyoto, Osaka, dan beberapa kota lain dilaporkan rusak parah. Kebakaran pun terjadi di beberapa pelabuhan, antara lain Kobe.

Jalan layang tak hanya putus, tetapi roboh ke samping. Itu menandakan gelombang gempa datang dari arah yang tegak pada rentangan jalan. Jalan-jalan yang ditopang tiang beton itu tak mampu melayani gerakan horizontal gelombang gempa. Padahal, Jepang sangat menguasai teknologi tersebut untuk bangunan-bangunan tinggi.

Jalan layang merupakan titik lemah dalam konstruksi antigempa, seperti terjadi pada gempa di Loma Prieta di San Francisco, AS, tahun 1989. Itu dapat dimaklumi karena teknologi jalan layang belum dikenal pada abad lalu. Banyak gempa besar yang menghancurkan hampir seluruh kota itu tak memberikan pengalaman untuk menguji jalan layang yang belum ada waktu itu.

Demikian juga gempa yang melanda Tokyo, yang dikenal sebagai gempa bumi Kanto tahun 1923 dengan kekuatan 7,9 skala Richter dan menewaskan lebih dari 140.000 orang.

Jepang yang mempunyai sejarah panjang dalam pencatatan gempa bumi, setidaknya 400 tahun, telah menimba banyak pengalaman dalam menghadapi gempa bumi. Latihan menghadapi bahaya gempa dilakukan secara teratur. Begitu pula sistem penanggulangan.

Ahli-ahli gempa bumi Jepang merupakan aset internasional yang amat menonjol. Profesor Rikitake, salah seorang ahli, telah mengingatkan gempa bumi Kanto sudah siap mengguncang Tokyo antara tahun 1991 dan 2011 dengan tingkat probabilitas 40%. Seperti umumnya gempa di Jepang, kedalamannya kurang dari 33 km dan dengan 6 skala Richter, ujar Rikitake, akan menyebabkan tingkat kerusakan 7 MMI atau gedung-gedung pun runtuh.
Prakiraan Intensif Penelitian gempa bumi di Jepang, termasuk prakiraannya, dilakukan secara intensif. Pemerintah Jepang menyediakan dana sekitar 4.000 yen atau kurang lebih Rp 75 triliun untuk berbagai riset bencana alam tahun 2010. Jumlah itu merupakan 5% dari total bujet pemerintah.

Sementara itu, 10 wilayah telah diketahui sebagai daerah amat rawan. Karena itu, penelitian dan pengamatan dilakukan di daerah tersebut secara intensif. Daerah-daerah itu meliputi Tokai, Kanto selatan, Hokkaido timur, Akita dan Yamagata, Miyagi dan Fukushima, Nigata-Nigato, Gifu, Nagoya-Kyoto-Osaka-Kobe, Shimone, serta Iyomada- Hyauganada.

Beberapa ahli Jepang  telah mengingatkan pula akan seismic gap (suatu segmen dari zona sesar aktif yang tak mengalami gempa bumi utama selama suatu interval waktu, ketika segmen-segmen lain mengalami gempa tersebut) yang terjadi di bagian tengah Jepang, yaitu daerah Kyoto-Osaka-Kobe. Daerah itu telah lama tak menghasilkan getaran seismik, yang berarti sedang mengalami proses penumpukan energi.

Kerawanan di zona seismik Jepang muncul karena perbenturan Lempeng Teknotnik Filipina bersama Lempeng Pasifik, yang frontal terhadap Lempeng Asia di kepulauan Jepang. Hampir seluruh untaian kepulauan Jepang dari Hokkaido di utara, Honsyu di tengah, dan Kyushu di selatan terletak di zona perbenturan atau zona penunjaman (subduksi) itu.

Di bagian tengah-tengah Jepang, kulit bumi diganggu pula oleh patahan melintang yang disebabkan oleh perbedaan kecepatan pergerakan lempeng-lempeng kerak bumi tersebut. Dengan gempa berkekuatan 7,2 skala Richter dengan kedalaman yang kurang dari 30 km, sudah dapat diperkirakan kerusakan akan mencapai skala lebih dari 7 MMI atau kehancuran cukup berat. Dengan magnitudo (kekuatan gempa) seperti itu, diperkirakan energi yang dilepas dapat mencapai lebih dari 10 pangkat 22 erg atau 10 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.
Konstruksi Jalan Dari kerusakan yang menimpa berbagai kota di wilayah itu, satu hal yang dapat ditarik sebagai pengalaman: masih terdapat kelemahan dalam konstruksi jalan layang, jalan kereta api, dan bangunan lama. Latihan yang selama ini dilakukan, khususnya setiap 1 September, belum cukup untuk menghadapi keadaan darurat. Terlebih kali ini gempa bumi datang pada siang hari, ketika penduduk sedang beraktivitas di tempat kerja. Bahkan kabarnya sidang parlemen pun bubar akibat guncangan hebat akibat gempa bumi kali ini.

Bagaimanapun selain prihatin atas musibah pada awal bulan lalu, umat manusia dengan segala penguasaan teknologi dan kesiapsiagaan belum dapat menepis ancaman bencana gempa bumi. Selain itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan, khususnya di wilayah timur Indonesia, karena jalur gempa Pasifik tampaknya aktif kembali dan dapat pula mengubah keseimbangan di tempat lain. (51)

Amien Nugroho, pengamat teknologi, tinggal di Yogyakarta

Sumber: Suara Merdeka, 4 April 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.