Home » Artikel

Inovasi dan Pertumbuhan

19 October 2011 880 views No Comment

Sistem inovasi nasional terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional. Korelasi antara inovasi dan pertumbuhan ekonomi telah dikenalkan pada awal abad 20 oleh ekonom Austria yaitu Josef Schumpeter.

Sedangkan, menurut Porter (1990),daya saing nasional tergantung dari kapasitas industrinya untuk melakukan inovasi dan membuat sesuatu lebih baik. Inovasi adalah proses interaksi kreatif yang melibatkan kolaborasi banyak pihak dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dari mulai pemasok, kompetitor, sampai pengguna/pasar World Economic Forum (WEF) setiap tahun memublikasikan ranking di Global Competitiveness Report.

Salah satu alat ukur utama dalam menentukan daya saing nasional adalah kapasitas teknologi dan Inovasi. Dari Global Competitiveness Index (GCI) 2010-2011,untuk seluruh indeks,Indonesia menempati rankingke-44 dunia dari 139 negara,sedangkan untuk indeks pilar inovasi,Indonesia menempati rankingke-36.

Sistem Inovasi Nasional

Salah satu pilar utama inovasi adalah research and development (R&D). Sayangnya, anggaran R&D Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara industri masih ketinggalan jauh.Tahun 2008 anggaran R&D Indonesia adalah 0,04% dari PDB,sedangkan Singapura 2% dari PDB (Zuhal,2008).Sebagai perbandingan dengan negara lain, berdasarkan data 2003, anggaran R&D terhadap PDB adalah Korea (2,63%), Jerman (2,52%),AS(2,68%),danJepang (3,15%). Aktivitas R&D negara industri baru Asia,porsi paling besar dilakukan oleh swasta/ industri.Sebagai contoh Korea dan Taiwan.

Komposisi R&D Korea pada 2004 adalah industri (76,7%),institusi publik dan pemerintah (13,4%), dan universitas (9,9%). R&D industri Korea didominasi oleh para chaebol seperti Samsung, LG, Daewoo, dan Hyundai. Mereka tidak hanya membangun pusat R&D di negaranya, tetapi juga di negara lain seperti Jepang, Rusia,AS, Inggris, Prancis, dan Belanda. Sedangkan Taiwan, dari data 1996; total dana R&D yang digunakan, swasta memberikan kontribusi 57,5% dan pemerintah 42,5%. Dana R&D tersebut untuk porsi riset teknologi terapan sebesar 85% lebih, sedangkan kurang dari 15% untuk riset dasar.

Besarnya anggaran R&D terkait erat dengan jumlah paten yang dihasilkan. Berdasarkan data dari US Patent 2010, jumlah paten yang didaftarkan oleh beberapa negara Asia adalah Jepang (46.978),Korea (12.508),Taiwan (9.635),China (3.303), Singapura (633), Malaysia (224), dan Indonesia hanya (6). Rendahnya jumlah paten yang didaftarkan Indonesia menunjukkan aktivitas R&D yang dilakukan industri Indonesia masih sangat rendah dan porsi riset teknologi terapan juga masih rendah.

Persaingan Antarnegara
Negara industri memproteksi dan meningkatkan kemampuan teknologi industrinya agar tetap bersaing di dalam negeri maupun di pasar global. Daya saing industri akan meningkatkan daya saing nasionalnya untuk menjaga pertumbuhan ekonominya.Fakta membuktikan bahwa persaingan teknologi adalah persaingan antarnegara agar industrinya tetap eksis.Jin Kim & Chan Kim (2006),dalam Newly Industrialising Economies and International Competitiveness, memaparkan fakta tersebut.

Jepang dalam meningkatkan kemampuan teknologi dan menjaga daya saing industrinya tidak terlepas dari keterlibatan sang aktor ekonomi yaitu Kementerian Industri danPerdagangan Internasional (MITI).MITI memberikan bantuan dana R&D kepada industrinya, dan hasilnya produk Jepang membanjiri pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS). Antara 1986-1987, dalam menghadapi perang dagang dengan Jepang, Pemerintah AS mengalokasikan USD 100 juta untuk subsidi konsorsium Semiconductor Manufacturing Technology (SEMATECH) yang terdiri atas konsorsium perusahaan komputer,manufaktur chip,dan semikonduktor.

SEMATECH didirikan salah satunya untuk meraih kembali supremasi AS di industri memori chip. Sementara Eropa, untuk membendung dominasi teknologi AS dan Jepang, pada 1985 meluncurkan program European Strategic Program for Research on InformationTechnology(ESPRIT) untuk pengembangan industri IT dan elektronika di mana pemerintah Uni Eropa terlibat dalam aktivitas R&D. Menghadapi gempuran produk high definition TV (HDTV) Jepang di pasar Eropa, Philips,Thomson,dan Bosch melakukan R&D dengan dana bantuan 30-50% dari Uni Eropa melalui European Research Coordination Agency(EUREKA).

Uni Eropa juga menginvestasikan USD 4,65 miliar selama delapan tahun (1988–1995) di Siemens, Thomson,dan Philips melalui Joint European Sub-Micron Silicon Initiative (JESSI) untuk pengembangan teknologi baru semikonduktor. Korea sebagai negara industri baru Asia tidak mau ketinggalan. Pada 1991 pemerintah Korea Selatan mendirikan komite HAN (Highly Advanced National) Project yang terdiri atas tujuh anggota industri, pemerintah, institusi pendukung, dan universitas untuk membantu dalam pengembangan HDTV,64M,dan 256M DRAM.

Hasilnya LG dan Samsung bisa bersaing dengan produk Eropa, Jepang,dan AS. Bagaimana dengan kita? Kita harus merevitalisasi dan membangun lembaga riset terapan, menambah anggaran R&D, memberikan insentif kepada industri, koordinasi riset supaya tidak tumpang tindih, dan koordinasi riset antarkementeriandengankolaborasiindustri- perguruan tinggi. Jika tidak, lima tahun kemudian akan tertinggal semakin jauh.

MUDI KASMUDI, Praktisi Industri dan Pertambangan

Sumber: Koran Sindo, 19 Oktober 2011

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.