Home » Artikel

“Ingenieus” Artinya Berakal Tajam

13 December 2000 1,049 views No Comment

Pelatihan tahap kedua calon petanding Olimpiade Matematika Internasional ke-42 yang akan berlangsung di Washington DC antara tanggal 1-13 Juli 2001 baru saja dilaksanakan di kampus Divisi Pelatihan (Divlat) PT Telkom, Gegerkalong (GGK) Bandung.

Ada 28 peserta telah terjaring melalui uji baku nasional terhadap kira-kira 30-40 orang yang dianggap merupakan siswa yang terbaik kemampuan matematikanya di setiap provinsi. Siswa yang terpilih berasal dari Jawa Barat (Bandung, Sukabumi, Tangerang), DKI Jakarta, Jawa Tengah (Surakarta), DIY (Gunungkidul, Yogyakarta), Jawa Timur (Jombang, Malang, Nganjuk, Surabaya), Bali (Denpasar), Sumatera Selatan (Palembang), Kalimantan Timur (Samarinda), dan Sulawesi Selatan (Makassar). Itulah peta Matematika Indonesia tahun 2000. Selama pelatihan itu, saya mengisikan butir-butir pengetahuan yang ada dalam silabus matematika peringkat lanjut (A-level) sekolah menengah persiapan ke perguruan tinggi sistem Inggris dan Daratan Eropa tetapi tidak ada dalam silabus SMU kita, yaitu di antaranya operasi signa dan pi, sekuens dan deret, fungsi polinom, kombinatorik, dan persamaan-persamaan yang jawabannya harus merupakan bilangan asli, atau yang lebih dikenal sebagai persamaan diofantin (diophantus dari Iskandariah-matematikawan Yunani Purba). Bahan pelatihan ini juga saya berikan di kuliah Pra-Kalkulus program studi statistika (STK) dan ilmu komputer (Ilkom) tingkat persiapan bersama (TPB) IPB, dan TPB STT Telkom sebagai mata kuliah pilihan. Pengalaman mengajar di dalam semester yang sama di tiga tempat itulah yang membuat saya dapat merasakan apa bedanya memberikan pelajaran kepada khalayak yang sangat terpilih, yang terdiri atas siswa SMU terbaik yang berumur antara 15-17 tahun, dengan menyampaikan kuliah kepada mahasiswa TPB berumur 18 tahun ke atas, yang juga telah terpilih melalui seleksi ke perguruan tinggi, namun pada tekanan seleksi yang lebih longgar.
***

CALON peserta olimpiade itu termasuk kelompok pemuncak 25 persen terbaik dalam angkatannya yang dipilih atas dasar kemampuan memahami proses, sedangkan yang masuk ke TPB ada juga yang termasuk kelompok pemuncak 50 persen terbaik atas dasar keterangan yang diberikan uji pilih ganda (UPG). Beda kedua, yang digarap di GGK semuanya pencinta matematika, sedangkan yang masuk ke TPB meski program studinya adalah statistika, ilmu komputer, atau teknik elektro, yang memerlukan penguasaan matematika yang sangat kuat, belum tentu mencintai matematika.

Di Amerika Serikat, mahasiswa S-1 yang mengikuti program studi itu harus selalu memiliki huruf-mutu rata-rata sekurang-kurangnya B untuk semua kuliah matematika di dalam kurikulum. Alasannya, karena matematika diperlukan sebagai bahasa penajaman berpikir dan sebagai bahasa pembantu pemecahan masalah sehingga seorang lulusan S-1 bidang keteknikan, memiliki kecerdasan dan akal yang tajam dalam menemukan penyelesaian terhadap suatu masalah. Orang seperti itu dalam bahasa Belanda disebut ingenieus dan dalam bahasa Inggris ingenious. Itu sebabnya sarjana teknik dalam bidang rekayasa maupun dalam bidang pertanian di negeri Belanda diberi gelar “ir” dan disebut ingenieur dan di Indonesia dibaca “insinyur”. Karena itu, penyandang gelar “insinyur” harus cerdas serta berakal tajam. Hal itu di Rusia dan Jerman diatur oleh sistem pendidikannya. Sekolah dasar hanya berlangsung selama empat tahun. Setelah itu ada pemilahan ke sekolah kejuruan dan sekolah persiapan akademik. Sejak kelas lima yang setara dengan kelas 1 sekolah menengah umum, pelajaran di jalur akademik sudah membentuk sikap akademik. Di Inggris hal itu diungkapkan kembali dengan adanya dua jenis ijazah sekolah menengah, yaitu O-level (O-ordinary) dan A-level (A-advanced). Tingkat A ini hanya diikuti pemuncak 25 persen siswa setiap angkatan, setelah mengikuti pelajaran selama tujuh tahun di sekolah menengah. Tingkat O dapat ditempuh hanya dalam enam tahun dan penyalurannya ke jalur pendidikan kejuruan.
***

PARA calon peserta olimpiade matematika kita dapat disetarakan dengan bahan peringkat A sedangkan yang masuk ke TPB tercampur dengan kelompok peringkat O, sehingga hasil ujian matematika, misalnya, selalu berpuncak ganda. Bagaimana kesimpulan ini dapat saya rasakan? Selama mengajar di TPB, baik di IPB maupun di STT Telkom di kelas saya hanya sebagian yang berupaya menangkap isi kuliah dengan tekun. Setelah jam pertama, biasanya ada yang lari keluar dari kelas sewaktu saya menulis di papan tulis. Kalau saya bertanya dan meminta seseorang melanjutkan perbincangan di depan papan tulis, tidak ada yang mau secara sukarela.

Di GGK, kalau saya lemparkan suatu masalah matematika untuk dicari penyelesaiannya, para peserta langsung mengelompok tiga sampai empat orang per kelompok dan mencoba mencari penyelesaiannya. Kalau disuruh menerangkan ke depan, yang ingin maju berebut.

Pada suatu ketika saya suruh seorang peserta membaca suatu teori yang belum diajarkan, dari jurnal matematika Kanada Crux Mathematicorum. Setelah membaca kira-kira 10 menit, dia maju ke depan, menerangkan apa yang telah dibacanya termasuk menyelesaikan soal yang berkenaan dengan apa yang dibacanya. Saya tuliskan pada ketika itu juga di papan tulis. Pernah pula saya rancang soal di dalam kelas sewaktu siswa sedang mengerjakan suatu soal lain. Saya perlukan 15 menit untuk menyusun soal itu dan seorang siswa menjawabnya dalam waktu lima menit. Seperti membuat satai bandeng saja, mempersiapkannya satu hari, makannya selesai dalam lima menit. Ketertinggalan kita di jalur pendidikan tinggi salah satu alasannya adalah karena kita membolehkan orang yang tidak ingenieus menjadi mahasiswa. Semua upaya mengajar diarahkan kepada kelompok tertinggal, bukan kepada kelompok berkecerdasan tinggi. Kalau kita tidak mau jadi pecundang lagi, semua yang akan masuk ke SMU jalur akademik seharusnya hanya lulusan kelompok pemuncak 25 persen terbaik dari setiap kabupaten.

Di SMU yang jumlahnya dapat diciutkan, diberlakukan melulu kurikulum jalur ke perguruan tinggi (PT) agar akhirnya PT mendapatkan mahasiswa yang siap belajar. Sejalan dengan itu, sekolah menengah kejuruan yang mengajarkan kejuruan secara kutak-katik dan bukan hanya secara lisan, justru diperbanyak dan berlangsung selama lima tahun untuk menyediakan tenaga kerja pada peringkat ahli madya, menggantikan program D-3 di universitas. (Andi Hakim Nasoetion, guru besar Statistika Institut Pertanian Bogor)

tulisan ini diambil dari Kompas, Rabu, 13 Desember 2000

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.