Home » Profil Ilmuwan

Ilmuwan Muda UGM Raih Dua Award Prestisius di Negeri Sakura

18 July 2010 1,164 views No Comment

Dipuji karena Risetnya dan Peduli pada Kehidupan Sosial

Baru dua tahun Muhammad Agung Bramantya di Jepang. Tapi, dosen teknik mesin Fakultas Teknik UGM itu sudah menyabet penghargaan sains dan teknologi berkelas internasional di Jepang.

DUA award yang diraih sekaligus oleh Bramantya itu adalah Young Engineer Award 2009 dari Japan Society of Applied Electromagnetics and Mechanics (JSAEM) serta Fujiwara Award dari Universitas Keio. Young Engineer Award adalah penghargaan tahunan bagi para engineers dan scientist dari JSAEM. Tipe penghargaan itu sangat spesifik terkait dengan bidang keilmuan applied electromagnetic and mechanics.

”Saya diberi penghargaan tersebut berdasar makalah ilmiah saya yang dipublikasikan oleh lembaga tersebut di Journal of the Japan Society of Applied Electromagnetic and Mechanics vol 17/2009. Judulnya, Ultrasonic Study on the Clustering Structures of Magnetorheological Fluids under a Uniform Magnetic Field,” jelas Bramantya.

Sementara itu, Fujiwara Award adalah penghargaan tahunan bergengsi di lingkungan civitas academica Universitas Keio. Penghargaan tersebut diberikan kepada mahasiswa yang dinilai bagus dalam kehidupan sosial sekaligus berhasil mempersembahkan riset atau studi yang sukses.

Di antara tujuh penerima penghargaan Fujiwara Award, Bramantya menjadi satu-satunya orang asing. Menurut dia, sang supervisor (sensei) lah yang mengajukan dirinya. Peneliti 29 tahun itu dinilai memenuhi syarat sebagai nomine Fujiwara Award dengan bekal sekitar sepuluh publikasi ilmiah nasional dan internasional, penghargaan best poster di Jerman, serta keaktifan sosial di AUN/Seed-Net & International Student Society di Universitas Keio. ”Ini kali pertama orang dari luar Jepang berhasil memperoleh penghargaan tersebut,” ujar Bramantya.

Kandidat doktor dari Universitas Keio itu berfokus pada kajian fundamental tentang struktur dalam pada fluida magnet-reologi dengan metode gelombang ultrasonik. Fluida yang tengah diteliti Bramantya adalah fluida yang sifat-sifat fisisnya bisa diatur oleh kondisi luar, dalam hal ini medan elektromagnet.

Aspek kebaruan penelitian tersebut terdapat pada penggunaan analisis gelombang elektromagnetik. Di mana metode-metode sebelumnya berupa analisis visualisasi optik, analisis cahaya, analisis simulasi, dan analisis numerik. ”Keunggulan metode ini adalah fleksibilitas penggunaan gelombang ultrasonik di lapangan dan akurasi yang lebih tinggi,” kata Bramantya.

Aplikasi dasar fluida magnet-reologi adalah pada alat-alat peredam guncangan. Misalnya, mobil sport, kendaraan militer, helikopter, peredam gempa dan angin di gedung serta jembatan, serta lutut bionik. Juga, pada finishing permukaan yang memerlukan akurasi tinggi semisal permukaan lensa teleskop Hubble serta bidang robotik dan militer.

Meski prestasi di mancanegara sudah berada di tangan, dan pintu untuk meraih keuntungan finansial sangat terbuka lebar di Jepang, Bramantya tak ingin seperti kacang lupa kulit. Suami Dora Viala Fudholi itu berkewajiban moral untuk mengusung penelitiannya tersebut ke tanah air. Dia akan kembali ke almamaternya.

Semasa berkuliah, Bramantya merupakan lulusan tercepat UGM karena menuntaskan pendidikan dalam tujuh semester. Kecerdasan itu pula yang membuat dia kerap diganjar beasiswa. Pendidikan S-2 hingga S-3 ditempuh Bramantya tanpa bayar. Dia bisa studi di Jepang sejak 2008 berkat guyuran dana Japan International Cooperation Agency (JICA). Begitu juga studi pascasarjana di Universitas Malaya, Malaysia. Ketika itu studinya juga didanai JICA.

Selama menimba ilmu di Negeri Sakura, Bramantya mendapatkan banyak pengalaman dan hal baru. Salah satunya, pengalaman tentang betapa Jepang begitu memanjakan para periset. Tak hanya urusan fasilitas. Di Jepang kerja sama tim begitu dijunjung tinggi. Penelitian sudah biasa dikerjakan secara berkelompok. ”Momen penting dalam proses penelitian saya terjadi ketika ada sinergi ide dan keahlian dari anggota riset,” kata Bram.

Menurut dia, ketika riset menemui jalan buntu, para senpai (alumnus atau senior) bisa dihubungi untuk berbagi saran. Misalnya, saat mendesain test-cell khusus ultrasonik untuk meneliti fluida pintar. Parameter yang harus diperhatikan sangat kompleks.

Awalnya Bram memiliki konsep desain sendiri, tapi hasilnya tidak bagus setelah uji coba berulang kali. Jalan riset yang mulai buntu itu lantas terbuka kembali setelah Bram berembuk dengan anggota riset lainnya selama sebulan.

”Ada dua hal lain yang terasa betul sangat ditekankan di sini. Yaitu, disiplin dan kerja keras,” kata Bram. ”Coba saja perhatikan mereka. Terminologi yang muncul, misalnya, kaizen (perbaikan terus-menerus sekecil apa pun dan JIT alias just in time, Red).” (ign/c13/ami)

Sumber: Jawa Pos, 18 Juli 2010

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.